Selasa, 03 Oktober 2017

Aktvis Lingkungan Jadi Hobby?

Menjadi aktivis lingkungan itu sebuah pilihan hidup, mumpung masih hidup. Saya sering sampaikan, “hidup itu sekali, buatlah berarti.” Membuat hidup menjadi berarti itu ada banyak caranya, salah satunya dengan menjadi aktivis lingkungan.

Menjadi aktivis lingkungan itu tidak mengenal usia, status perkawinan, gender, pekerjaan atau jabatan. Tidak ada isitilah tua untuk berbuat bagi lingkungan. Seharusnya juga tidak ada ucapan, “maaf saya tidak bisa aktif lagi karena sekarang sudah menikah”. Karena ucapan ‘menyalahkan’ status pernikahan itu justru mendangkalkan makna sebuah pernikahan yang sakral.

Juga semestinya tidak perlu muncul perkataan, “saya sudah tua, jadi tidak bisa aktif lagi”.

Ketika menjadi aktivis lingkungan disekat oleh paradigma salah kaprah bahwa aktivis itu harus muda, aktivis itu hanya ranah gerakan anak muda atau melakukan kegiatan pelesarian lingkungan hanya ketika ada dana, maka jangan heran jika gerakan pelestarian alam akan berjalan di tempat.

Menjadi aktivis lingkungan itu panggilan hati, bukan panggilan uang yang melambai-lambai atau sekedar mengisi waktu karena lagi menganggur alias tidak punya pekerjaan.

Kalau menjadi aktivis lingkungan itu diposisikan sebagai sebuah hobby, seperti halnya orang hobby bersepeda atau hobby naik gunung, maka tidak akan ada sebuah “keterpaksaan” untuk menjadi aktivis.

Hobby itu pasti mengeluarkan duit, untuk sebuah kepuasan hati yang tidak bisa diukur dengan rupiah. Kalau kita hobby naik gunung misalnya, pasti akan keluar uang untuk membeli tas karier yang terbaik, sepatu trekking yang paling nyaman, peralatan masak lapangan, sleeping bag, matras, dan seabrek peralatan gunung lainnya.

Belum lagi jika mau mendaki masih harus keluar biaya untuk transportasi menuju lokasi, membayar tiket masuk, membeli bahan makanan dan mungkin membayar jasa pemandu.

Mengeluarkan biaya dan tenaga untuk sebuah hobby itu kita tidak pernah mengeluh. Tidak pernah hitung-hitungan tentang materi. Tidak pernah terpaksa melakukan itu. Semuanya dilakukan dengan perasaan senang, dengan penuh semangat, tanpa ada paksaan. Kepuasan hatilah yang ingin diraih. Sebuah kepuasan tanpa batas.

Andai menjadi aktivis lingkungan itu menjadi sebuah hobby, maka tidak ada lagi keterpaksaan. Tidak ada lagi hitung-hitungan soal uang yang dikeluarkan. Tidak ada lagi timbang menimbang soal gaji. Tidak ada lagi putus asa hanya karena tidak ada donor. Tidak ada lagi merasa ‘sok tua’ (karena sering menjumpai orang usia 40 tahun itu sudah merasa tuaaaaa sekali)

Saya mempunyai banyak hobby. Saya hobby riding dengan motor trail: pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Papua sudah saya jelajahi dengan motor trail kesayangan. Saya juga hobby trekking meskipun perut sudah tidak rata lagi.

Saya hobby nonton konser musik rock, hampir semua band rock dari luar negeri yang pentas di Indonesia itu saya hadir. Metallica, Iron Maiden, Scorpion, Skid Row, GnR, Aerosmith dan Steelheart adalah deretan musisi rock yang sudah saya tonton live.

Saya hobby wildlife adventure, ini lumayan menghabiskan tabungan juga. Ada banyak tempat yang sudah saya kunjungi untuk memuaskan hobby melihat satwa liar di alam. 

Saya juga hobby fotografi alam, meskipun tidak pernah jadi tukang foto profesional. Tapi saya puas melihat hasil karya foto saya, meskipun mungkin dipandang orang lain itu sebagai karya picisan. Saya tidak peduli, karena saya puas.

Dari sekian banyak hobby yang saya geluti itu, ada satu hobby yang saya sangat bangga sekali, yaitu hobby jadi aktivis lingkungan. Saya bersyukur hobby yang satu ini sudah saya geluti lebih dari 25 tahun. Usia memang terus bertambah dan rambutpun mulai memutih. Tapi semangat untuk jadi aktivis lingkungan tidak pernah memudar seperti warna rambut saya. Tidak ada kata tua untuk jadi aktivis ligkungan!

Senin, 01 Mei 2017

Semangat Sulawesi untuk Konservasi Alam

Dua hari sebelum acara Pelatihan Dasar Konservasi Alam (PDKA) Sulawesi Selatan 2017, Uni, sang ketua pelaksana, kirim pesan lewat WA. Isi pesannya, “pak untuk fee narasumber itu berapa, biar kami siapkan."

Saya jawab, “jangan memikirkan fee narasumber, ini gratis karena kegiatan sosial”

“Oh begitu pak, sambil garuk-gruk kepala,” jawab Uni.

Sejak awal memang PDKA itu dirancang untuk sosial, untuk menyebarluaskan prinsip-prinsip konservasi alam. Kegiatan ini tidak ada sponsor atau donornya. Semua dilaksanakan secara swadaya.

Justru yang luar biasa adalah Uni dan suporter PROFAUNA Chapter Makassar yang menjadi panitia pelaksananya. Dengan dana swadaya, mereka bekerja keras untuk menyukseskan acara yang diadakan di Hutan Bengo-Bengo Kabupaten Maros itu.

Dengan jumlah panitia hanya 3 orang yaitu Uni, Marsudi dan Gusti, boleh dibilang PDKA Sulsel ini terlaksana dengan sangat baik. Peserta juga menampakan rasa kagum dan kepuasannya dengan kinerja panitia yang hanya segelintir itu. Padahal dalam acara sejenis yang biasa diadakan oleh kampus atau pemerintah itu daftar panitianya panjang sekali, bisa-bisa jumlah pantia lebih banyak dibandingkan pesertanya.

“Biasanya pelatihan-pelatihan seperti ini panitia akan sering dapat komplain dari peserta, tapi PDKA ini tanpa komplain sama sekali dan pantia banyak memberikan kejutan yang membuat kami menjadi kagum,” kata Munatsir, salah satu peserta PDKA Susel.

Ketika Uni menyatakan kesiapannya untuk menjadi host PDKA Sulsel dan siap menanggung biaya trasportasi narasumber, saya langsung kontak pak Rustam dan bu Titin. 

Mereka adalah calon narasumber yang berbeda lokasi tempat tinggalnya. Rustam di Samarinda, sedangkan bu Titin di Bandung.

Saya kirim pesan ke kedua narasumber itu, “PROFAUNA akan adakan PDKA Sulsel tanggal 14-16 April, mohon kesediannya untuk menjadi narasumber, tetapi ini tanpa honor karena besifat sosial.”.

Keduanya langsung menjawab, “siap!”

Itulah hebatnya aktivis PROFAUNA, tidak semuanya itu dinilai dengan uang atau materi. Kepedulian kuat dan loyalitas tinggi membuat mereka mau “berkorban” untuk kegiatan PROFAUNA.

Semangat jiwa sosial untuk alam yang dibangun PROFAUNA sejak tahun 1994 itu meresap di banyak aktivis PROFAUNA. Banyak sekali aktivis dan suporter PROFAUNA yang melakukan berbagai kegiatan di berbagai daerah dengan dana sendiri, tanpa ada donor dan tidak tergantung donor.

Ternyata kehadiran kami untuk  berbagai pengalaman di PDKA Sulsel tidaklah sia-sia. Peserta PDKA yang berasal dari kalangan aktivis LSM dan mahasiswa itu penuh antusias dan semangat. Semangat ini terjadi sepanjang hari selama 3 hari.

Saya kagum dengan semangat peserta yang terlihat haus akan informasi terkait konservasi alam itu. Semangat peserta itu semakin menyulut semangat saya, Made, Rustam dan bu Titin untuk memberikan yang terbaik dalam pelatihan yang menyenangkan itu.

Mungkin banyak peserta yang tidak tahu bahwa 3 orang yang jadi panitia itu bekerja keras untuk kelancaran PDKA Sulsel. Ketika yang lain masih tidur di pagi hari, panitia itu membersihkan sendiri ruang pertemuan. Menata lagi meja-meja yang tidak beraturan dan membersihkan sampah-sampah yang tertinggal.

Ketika lampu listrik sempat padam dalam sesi materi ruangan, Uni langsung sigap menyewa genset.

Ketika peserta harus bangun pagi-pagi untuk praktek lapangan, panitia sudah menyediakan sarapan pagi. Meskipun sebelumnya telah diinformasikan peserta akan masak sendiri, ternyata pantia juga menyediakan makanan dalam beberapa sesi.

Wah luar biasa sekali. Saya terenyuh dan kagum.

Melihati semangat peserta dan panitia PDKA Sulsel yang begitu luar biasa, saya melihat ada semangat konsevasi alam yang akan terus menyala di Sulawesi. Apalagi alumni PDKA Susel masih aktif berkomnuikasi lewat grup media sosial.

Terima kasih Uni, Marsudi, Gusti, Rustam, Made, bu Titin dan semua peserta PDKA Sulsel. Sem....sem....semangat...Ihiiii. (Rosek Nursahid, founder PROFAUNA Indonesia)

Rabu, 28 September 2016

Bukan Zamannya Lagi NATO

Pada tahun 2016 ini organisasi Protection of Forest & Fauna (PROFAUNA) Indonesia berusia 22 tahun. Usia yang cukup matang untuk sebuah organisasi lingkungan yang bukan saja mampu bertahan, namun juga berkembang. Ketika ada banyak organisasi lingkungan seangkatan PROFAUNA yang berdiri di era 1990-an mati suri atau bahkan disuntik mati, PROFAUNA justru semakin bertaji.

Kunci sukses PROFAUNA adalah konsistensi dan dukungan kuat dari individu-individu yang menjadi relawan PROFAUNA dalam bentuk suporter atau simpatisan PROFAUNA. Konsistensi PROFAUNA bekerja dibidang perlindungan hutan dan satwa liar, tanpa tergoda iming-iming uang proyek untuk pindah haluan, semakin memperkokoh PROFAUNA di tanah air.

Dengan usia 22 tahun menjadi wajar jika PROFAUNA mempunyai ribuan suporter, tersebar mulai dari Papua hingga Aceh. Bahkan suporter PROFAUNA ini juga merambah ke luar negeri, masuk ke benua Eropa, USA dan Australia.

Sebagai organisasi grassroots, PROFAUNA tidak mengandalkan kekuatan uang. PROFAUNA itu organisasi “miskin” dibandingkan dengan organisasi raksasa asal luar negeri yang masuk ke Indonesia. Andalan PROFAUNA adalah dukungan masyarakat yang tergabung dalam Suporter PROFAUNA.

Pada zaman yang memasuki era digital dan dunia gaib (baca: dunia maya), semakin banyak orang yang lebih asyik dengan perangkat gadget-nya. Media sosial menjadi ajang eksistensi diri. Sekarang kita tak heran melihat pemandangan sekelompok orang yang duduk dalam satu meja, namun tidak saling sapa karena asyik dengan layar Hp-nya masing-masing.

Tertawa sendiri sambil memandangi benda kecil di genggaman tangan juga menjadi pemandangan yang biasa kita temukan di rumah, kampus, kantor atau mall. Ini pemandangan langka di tahun 90-an, bisa-bisa anda dianggap gila karena tertawa ha ha hi hi sendirian.

Kegilaan terhadap media sosial ini berdampak positif dan negatif untuk konservasi alam. Sisi negatifnya, perdagangan satwa langka menjadi kian mudah karena diperjualbelikan secara online dan disebarluaskan lewat media sosial.

Sisi positifnya, isu-isu konservasi alam juga lebih mudah diakses informasinya, termasuk disebarluaskan. Kekejaman terhadap binatang yang tejadi di pelosok Kalimantan timur misalnya, bisa dengan cepat mendunia gara-gara kekuatan media sosial.

Aktivis Dunia Maya

Menyebarluaskan isu konservasi alam, termasuk hutan dan satwa liar lewat media sosial atau dunia maya itu bagus. Teriak-teriak di dunia maya seperti, “sikat habis perusak hutan!”, “tolak sawit yang merusak hutan”, atau “lawan perusakan alam!” itu juga bagus. Paling tidak anda sudah peduli. Dan semoga kepedulian itu tulus, bukan hanya sekedar agar anda tampak keren karena peduli alam.

Namun apakah cukup hanya seperti itu?

Untuk PROFAUNA ke depan, kita akan dorong suporter dan simpatisan PROFAUNA untuk tidak sekedar menjadi aktivis dunia maya. Bukan sekedar aktivis facebook atau twitter. Tetapi menjadi aktivis lingkungan sejati, yang melakukan aksi nyata untuk alam ini.

Aksi nyata itu sebenarnya tidak berat, karena ada banyak tindakan-tindakan kecil yang bisa dilakukan asal punya kemauan. Aktivis lingkungan itu bukan sekedar yang maki-maki atau teriak di media sosial, tapi yang mau terjun ke lapangan dengan tindakan.

Aksi nyata itu beragam, tergantung kita mau mengambil porsi yang mana. Bisa edukasi ke sekolah, pesantren, kelompok pemuda, komunitas atau karang taruna. Edukasi ini murah meriah, tidak perlu buat proposal ke donor untuk melakukan edukasi. Bahkan materi untuk edukasi sudah disediakan oleh PROFAUNA, sehingga anda tinggal meluangkan waktu untuk beraksi dengan edukasi.

Yang punya waktu lebih luang bisa terlibat langsung dalam kegiatan PROFAUNA di lapangan, seperti jadi Ranger. Yang tidak punya waktu, bisa beraksi dengan donasi. Jangan selalu beranggapan untuk donasi itu harus bernilai besar, bukan. Bahkan donasi sebesar Rp 20.000-pun akan sangat berarti bagi PROFAUNA yang punya kode etik tidak boleh menerima dana dari pemerintah itu.

Peduli Saja Tidak Cukup, Butuh Aksi

Dalam beberapa bulan ini PROFAUNA akan menata ulang manajemen suporter dan simpatisannya, karena akan lebih didorong melakukan aksi. Kalau sekedar kata peduli, semua orang juga bisa. Dengan kondisi alam Indonesia yang semakin darurat, itu kita butuh aksi.

Kini bukan saatnya sekedar No Action, Talk Only (NATO) alias omdo (omong doang). Ngomong soal konservasi alam itu boleh dan harus, tetapi akan lebih dahsyat lagi jika omongan itu diikuti dengan tindakan.

Ini yang menjadi spirit PROFAUNA saat ini, semangat beraksi. PROFAUNA memang punya ribuan suporter dan simpatisan, tetapi dari ribuan orang tersebut berapa persen yang telah melakukan aksi untuk PROFAUNA? Aksi untuk alam? Jawabannya adalah tidak banyak.

Bukan berarti PROFAUNA gagal dalam “menyadarkan” Suporternya untuk beraksi. Karena faktanya masih banyak orang yang penuh dedikasi yang beraksi di lapangan tanpa dibayar.
Di Jawa barat ada Bu titin dan bu Rinda, dosen yang terjun jadi aktivis PROFAUNA. Mereka bukan omdo, tapi bertindak. Aksinya pun gak main-main, padahal ini tidak ada duitnya. Mereka melakukan edukasi, kampanye dalam bentuk demo, advokasi dan juga donasi.

Di Maluku utara ada Eka yang bertahun-tahun menjadi perwakilan PROFAUNA tanpa dibayar. Di Kaltim ada Pak Rustam yang bukan sekedar seorang peneliti hutan, namun juga beraksi untuk PROFAUNA melalui edukasi dan advokasi.

Di Jakarta ada Kintan yang aktif di PROFAUNA sejak mahasiswa hingga jadi ibu-ibu. Kintan juga tidak canggung terjun ke lapangan dengan melakukan edukasi dan advokasi kasus-kasus kejahatan satwa liar.

Dan ada banyak lagi aktivis-aktivis PROFAUNA lainnya yang penuh dedikasi berjuang di lapangan yang akan panjang sekali jika saya sebutkan satu per satu di tulisan ini.
Intinya adalah aksi di lapangan tanpa dibayar itu bukan sebuah mimpi. Ini sebuah kenyataan yang bisa kita lakukan, karena ada banyak aktivis PROFAUNA yang telah membuktikannya.

Kini tergantung anda, suporter dan simpatisan PROFAUNA, apakah anda mau melakukan aksi atau sekedar peduli saja? (Rosek Nursahid, Founder PROFAUNA Indonesia).

Jumat, 15 Juli 2016

LEOPARD Hiking Club

LEOPARD Hiking Club adalah komunitas penggemar jalan-jalan di alam alias trekking yang ada di Malang. Jalan-jalan ini bukan berarti mendaki gunung, namun adalah menikmati alam sambil jalan kaki. Lokasinya beragam, bisa di perkebunan, pantai, hutan, perbukitan, dan lain sebagainya.

LEOPARD bukan sekedar komunitas trekking, namun juga mempunyai kepedulian tinggi terhadap konservasi alam. Salah satu peraturan penting jika mau gabung LEOPARD adalah tidak boleh membuang sampah di alam ketika melakukan kegiatan trekking. Semua sampah plastik atau bahkan putung rokok harus dibawa pulang.

Komunitas LEOPARD ini terbuka untuk umum, untuk siapa saja yang hobby trekking di alam, namun juga peduli lingkungan. Trekking-nya bersifat fun, jadi tidak ekstrim. Ini bukan komunitas pendakian gunung yang sering masyarakat menyebutnya dengan nama Pecinta Alam (PA).

Kalau komunitas PA biasanya target dari pendakian itu adalah mencapai puncak gunung tertentu, sementara LEOPARD bukan seperti itu. Jalan-jalan ala LEOPARD lebih santai, tetap olah raga namun dengan menyenangkan.

Yang tertarik gabung LEOPARD Hiking Club silahkan hubungi nomor HP 081331831702. Tidak ada biaya pendaftarannya alias gratis!


Kamis, 14 Juli 2016

Kawah Wurung, Bikin Hati Tidak Murung

Jika mau berwisata ke Kawah Ijen di Banyuwangi yang terkenal itu, tidak ada salahnya jika juga berkunjung ke Kawah Wurung yang tidak jauh dari Kawah Ijen. Kawah Wurung memang belum setenar Kawah Ijen yang sudah mendunia, namun keindahan alamnya setidaknya bisa membuat hati yang murung menjadi ceria kembali.

Kawah Wurung adalah obyek wisata alam yang relatif baru dibuka untuk wisatawan. Lokasinya berada di Desa Jampit, Kecamatan Sempol, Kabupaten Bondowoso. Jika hendak menuju Kawah Ijen dari arah Kota Bondowoso, maka sebelum Paltuding yang jadi titik awal pendakian ke Kawah Ijen itu lokasi Kawah Wurung sebelum Paltuding. Ada papan petunjuk arah belok kanan.

Dari papan petunjuk arah itu, jalanan menuju Kawah Wurung berupa tanah. Jalannya cukup lebar, sehingga bisa dilalui mobil, bahkan oleh mobil sebesar Isuzu Elf. Hanya saja di beberapa titik, terutama ketika mendekati Kawah Wurung itu jalannya rusak parah, penuh dengan batu lepas, sehingga mobil yang bukan 4 X 4 harus extra hati-hati.

Keindahan alam Kawah Wurung yang berada di ketinggian sekitar 1500 dpl itu adalah berupa perbukitan dan padang rumput di dataran tinggi. Kalau anda pernah ke Gunung Bromo dari arah Tumpang, Malang, maka seperti itulah pemandangan alam di Kawah Wurung.

Bedanya dengan Bromo, udara di Kawah Wurung tidak sedingin di Bromo. Udaranya terasa sejuk, tidak dingin mengggigit, sehingga terasa nyaman. Karena udaranya tidak terlalu dingin itulah membuat kita betah berjam-jam duduk di atas rerumputan sambil menikmati keindahan alam dan menyeruput teh panas.

Hal lain yang membedakan dengan Bromo, tiket masuk ke Kawah Wurung terhitung murah meriah, hanya Rp 5000. Coba bandingkan dengan tiket masuk kawasan Bromo yang sudah menginjak angka diatas Rp 30.000.

Di sekitar Kawah Wurung ada juga beberapa penginapan. Kalau saya merekomendasikan di Catimor homestay yang berjarak sekitar 7 km dari Kawah Wuruh. Penginapan yang dibangun sejak zaman Belanda itu suasananya tenang dengan udara yang sejuk. Harganya juga relatif terjangkau, mulai dari Rp 150.000 per kamar.

Tentang Catimor Homestay, silahkan lihat catatan saya di link berikut: http://roseknursahid.blogspot.co.id/2015/02/catimor-home-stay-tempat-singgah.html

Pada bulan Juli 2016, saya dan keluarga berpetualang ke Kawah Wurung dan sekitarnya. Karena jalannya banyak medan offroad, kami memutuskan membawa sepeda motor trail saja. Dari Kota Malang, motor trail itu kami naikan ke atas mobil doble cabin kesayangan menuju Catimor. Dari Catimor kami memulai family adventure dengan menunggang kuda besi, ini dia beberapa fotonya:


Kamis, 09 Juni 2016

Coban Parangtejo, Air Terjun yang Tidak Tersembunyi Lagi

Tahun 2000-an pertama kalinya saya berkunjung ke Coban Parangtejo yang berada di Kecamatan Dau, Kabupten Malang. Waktu itu, jalannya masih tanah dan untuk menuju lokasi Coban yang air terjun itu harus ekstra hati-hatu karena jalannya rawan longsor. Lokasinya yang ‘nyempil’ alias agak terpencil itu membuat Parangtejo tidak banyak dikenal orang, bahkan oleh mayarakat yang ada di Kecamatan Dau.

Bulan Mei 2016, saya memandu tim Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC) untuk survey ke Coban Parangtejo. Dari P-WEC, air terjun ini berjarak sekitar 7 km dan ditempuh selama 30 menit dengan kendaraan bermotor.

Sepanjang jalan dari P-WEC menuju Coban Parangtejo itu kami meintasi perkebunan jeruk. Ini sangat cocok yang gemar agrowisata, karena bisa langsung petik jeruk di kebun, tentunya setelah membayar.

Jalan menuju coban Parangtejo dari arah P-WEC itu jalanan aspal mulus. Hanya ada jalan tanah sekitar 500 meter sebelum sampai lokasi parkiran Coban Parangtejo.

Dari lokasi parkir yang tidak ada penjaganya (hati-hati dengan helm anda jika membawa sepeda motor), dilanjutkan jalan kaki selama 20 menit menuju lokasi air terjun. Jalanannya sempit, dengan sebelah kiri jurang menganga dan sebelah kanan lereng bukit yang ditanami aneka sayur oleh petani.

Jalan single track menuju air terjun tidaklah terlalu curam turunannya, sehinga pada waktu baliknya tidaklah terlalu menguras energi. Sepanjang jalan disuguhi pemandangan lereng curam yang ‘dipaksa’ ditanami sayur padahal ini rawan longsor. Seharusnya lereng curam tu ditanami tanaman kayu keras yang bisa menghambat proses longsor selain juga akan tampak lebih indah sebagai sebuah daerah tujuan wisata alam.

Setelah dua puluh menit jalan santai, kami akhirnya tiba di depan Coban Parangtejo. Tobi, staf P-WEC yang ikut spontan berteriak, “wow keren sekali air terjunnya!”.

Coban Parangtejo ini cocok untuk anda yang hobi fun rekking dan wisata alam. Lokasinya yang dulu sulit terjangkau dan tersembunyi, kini sudah bisa diakses oleh kendaraan jenis apapun. Tetapi jika di musim hujan, di 500 meter terakhir sebelum tempat parkir itu jalannya masih tanah, jadi sangat licin untuk kendaraan bermotor.


Untuk anda yang berasal dari luar kota Malang, jika ragu, bisa juga minta pandu tim P-WEC (www.p-wec.org), sekalian paket agrowisata petik jeruknya. Apalagi di P-WEC juga sudah menyediakan penginapan yang pas di kantong para petualang.

Selasa, 31 Mei 2016

Alam Sekitar P-WEC, Surganya Penggemar Trekking

Sejak dulu hingga sekarang hobby saya adalah jalan-jalan ke alam alias trekking. Sudah banyak tempat yang saya jelajahi mulai dari hutan di pegunungan Arfak, Papua, hinga belantara Gunung Leuser di Aceh. Meskipun sekarang harus jalan lebih 'ngoyoh' dibandingkan 20 tahun yang lalu, tapi tetap saja ini menjadi salah satu hobby utama saya selain motoadventure dan kegiatan konservasi alam.

Meskipun saya sudah berkeliling ke banyak tempat di Indonesia, ketika saya harus berdiam di Malang, maka jalur favorit saya dan keluaga untuk memuaskan dahaga akan jalan-jalan ke alam adalah seputar P-WEC (www.p-wec.org).

Kenapa seputar P-WEC menjadi favorit kami? Karena jalur trekking-nya beragam, mulai dari pertanian, perkebunan jeruk, perbukitan, gunung, hutan pinus, hutan alami, sungai hingga air terjun. Yang lebih asyik lagi, jalurnya tidaklah terlalu ekstrim, sehingga seringkali anak-anak saya juga turut serta.

Ini beberapa foto jalur trekking seputar P-WEC: