Jumat, 15 Juli 2016

LEOPARD Hiking Club

LEOPARD Hiking Club adalah komunitas penggemar jalan-jalan di alam alias trekking yang ada di Malang. Jalan-jalan ini bukan berarti mendaki gunung, namun adalah menikmati alam sambil jalan kaki. Lokasinya beragam, bisa di perkebunan, pantai, hutan, perbukitan, dan lain sebagainya.

LEOPARD bukan sekedar komunitas trekking, namun juga mempunyai kepedulian tinggi terhadap konservasi alam. Salah satu peraturan penting jika mau gabung LEOPARD adalah tidak boleh membuang sampah di alam ketika melakukan kegiatan trekking. Semua sampah plastik atau bahkan putung rokok harus dibawa pulang.

Komunitas LEOPARD ini terbuka untuk umum, untuk siapa saja yang hobby trekking di alam, namun juga peduli lingkungan. Trekking-nya bersifat fun, jadi tidak ekstrim. Ini bukan komunitas pendakian gunung yang sering masyarakat menyebutnya dengan nama Pecinta Alam (PA).

Kalau komunitas PA biasanya target dari pendakian itu adalah mencapai puncak gunung tertentu, sementara LEOPARD bukan seperti itu. Jalan-jalan ala LEOPARD lebih santai, tetap olah raga namun dengan menyenangkan.

Yang tertarik gabung LEOPARD Hiking Club silahkan hubungi nomor HP 081331831702. Tidak ada biaya pendaftarannya alias gratis!


Kamis, 14 Juli 2016

Kawah Wurung, Bikin Hati Tidak Murung

Jika mau berwisata ke Kawah Ijen di Banyuwangi yang terkenal itu, tidak ada salahnya jika juga berkunjung ke Kawah Wurung yang tidak jauh dari Kawah Ijen. Kawah Wurung memang belum setenar Kawah Ijen yang sudah mendunia, namun keindahan alamnya setidaknya bisa membuat hati yang murung menjadi ceria kembali.

Kawah Wurung adalah obyek wisata alam yang relatif baru dibuka untuk wisatawan. Lokasinya berada di Desa Jampit, Kecamatan Sempol, Kabupaten Bondowoso. Jika hendak menuju Kawah Ijen dari arah Kota Bondowoso, maka sebelum Paltuding yang jadi titik awal pendakian ke Kawah Ijen itu lokasi Kawah Wurung sebelum Paltuding. Ada papan petunjuk arah belok kanan.

Dari papan petunjuk arah itu, jalanan menuju Kawah Wurung berupa tanah. Jalannya cukup lebar, sehingga bisa dilalui mobil, bahkan oleh mobil sebesar Isuzu Elf. Hanya saja di beberapa titik, terutama ketika mendekati Kawah Wurung itu jalannya rusak parah, penuh dengan batu lepas, sehingga mobil yang bukan 4 X 4 harus extra hati-hati.

Keindahan alam Kawah Wurung yang berada di ketinggian sekitar 1500 dpl itu adalah berupa perbukitan dan padang rumput di dataran tinggi. Kalau anda pernah ke Gunung Bromo dari arah Tumpang, Malang, maka seperti itulah pemandangan alam di Kawah Wurung.

Bedanya dengan Bromo, udara di Kawah Wurung tidak sedingin di Bromo. Udaranya terasa sejuk, tidak dingin mengggigit, sehingga terasa nyaman. Karena udaranya tidak terlalu dingin itulah membuat kita betah berjam-jam duduk di atas rerumputan sambil menikmati keindahan alam dan menyeruput teh panas.

Hal lain yang membedakan dengan Bromo, tiket masuk ke Kawah Wurung terhitung murah meriah, hanya Rp 5000. Coba bandingkan dengan tiket masuk kawasan Bromo yang sudah menginjak angka diatas Rp 30.000.

Di sekitar Kawah Wurung ada juga beberapa penginapan. Kalau saya merekomendasikan di Catimor homestay yang berjarak sekitar 7 km dari Kawah Wuruh. Penginapan yang dibangun sejak zaman Belanda itu suasananya tenang dengan udara yang sejuk. Harganya juga relatif terjangkau, mulai dari Rp 150.000 per kamar.

Tentang Catimor Homestay, silahkan lihat catatan saya di link berikut: http://roseknursahid.blogspot.co.id/2015/02/catimor-home-stay-tempat-singgah.html

Pada bulan Juli 2016, saya dan keluarga berpetualang ke Kawah Wurung dan sekitarnya. Karena jalannya banyak medan offroad, kami memutuskan membawa sepeda motor trail saja. Dari Kota Malang, motor trail itu kami naikan ke atas mobil doble cabin kesayangan menuju Catimor. Dari Catimor kami memulai family adventure dengan menunggang kuda besi, ini dia beberapa fotonya:


Kamis, 09 Juni 2016

Coban Parangtejo, Air Terjun yang Tidak Tersembunyi Lagi

Tahun 2000-an pertama kalinya saya berkunjung ke Coban Parangtejo yang berada di Kecamatan Dau, Kabupten Malang. Waktu itu, jalannya masih tanah dan untuk menuju lokasi Coban yang air terjun itu harus ekstra hati-hatu karena jalannya rawan longsor. Lokasinya yang ‘nyempil’ alias agak terpencil itu membuat Parangtejo tidak banyak dikenal orang, bahkan oleh mayarakat yang ada di Kecamatan Dau.

Bulan Mei 2016, saya memandu tim Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC) untuk survey ke Coban Parangtejo. Dari P-WEC, air terjun ini berjarak sekitar 7 km dan ditempuh selama 30 menit dengan kendaraan bermotor.

Sepanjang jalan dari P-WEC menuju Coban Parangtejo itu kami meintasi perkebunan jeruk. Ini sangat cocok yang gemar agrowisata, karena bisa langsung petik jeruk di kebun, tentunya setelah membayar.

Jalan menuju coban Parangtejo dari arah P-WEC itu jalanan aspal mulus. Hanya ada jalan tanah sekitar 500 meter sebelum sampai lokasi parkiran Coban Parangtejo.

Dari lokasi parkir yang tidak ada penjaganya (hati-hati dengan helm anda jika membawa sepeda motor), dilanjutkan jalan kaki selama 20 menit menuju lokasi air terjun. Jalanannya sempit, dengan sebelah kiri jurang menganga dan sebelah kanan lereng bukit yang ditanami aneka sayur oleh petani.

Jalan single track menuju air terjun tidaklah terlalu curam turunannya, sehinga pada waktu baliknya tidaklah terlalu menguras energi. Sepanjang jalan disuguhi pemandangan lereng curam yang ‘dipaksa’ ditanami sayur padahal ini rawan longsor. Seharusnya lereng curam tu ditanami tanaman kayu keras yang bisa menghambat proses longsor selain juga akan tampak lebih indah sebagai sebuah daerah tujuan wisata alam.

Setelah dua puluh menit jalan santai, kami akhirnya tiba di depan Coban Parangtejo. Tobi, staf P-WEC yang ikut spontan berteriak, “wow keren sekali air terjunnya!”.

Coban Parangtejo ini cocok untuk anda yang hobi fun rekking dan wisata alam. Lokasinya yang dulu sulit terjangkau dan tersembunyi, kini sudah bisa diakses oleh kendaraan jenis apapun. Tetapi jika di musim hujan, di 500 meter terakhir sebelum tempat parkir itu jalannya masih tanah, jadi sangat licin untuk kendaraan bermotor.


Untuk anda yang berasal dari luar kota Malang, jika ragu, bisa juga minta pandu tim P-WEC (www.p-wec.org), sekalian paket agrowisata petik jeruknya. Apalagi di P-WEC juga sudah menyediakan penginapan yang pas di kantong para petualang.

Selasa, 31 Mei 2016

Alam Sekitar P-WEC, Surganya Penggemar Trekking

Sejak dulu hingga sekarang hobby saya adalah jalan-jalan ke alam alias trekking. Sudah banyak tempat yang saya jelajahi mulai dari hutan di pegunungan Arfak, Papua, hinga belantara Gunung Leuser di Aceh. Meskipun sekarang harus jalan lebih 'ngoyoh' dibandingkan 20 tahun yang lalu, tapi tetap saja ini menjadi salah satu hobby utama saya selain motoadventure dan kegiatan konservasi alam.

Meskipun saya sudah berkeliling ke banyak tempat di Indonesia, ketika saya harus berdiam di Malang, maka jalur favorit saya dan keluaga untuk memuaskan dahaga akan jalan-jalan ke alam adalah seputar P-WEC (www.p-wec.org).

Kenapa seputar P-WEC menjadi favorit kami? Karena jalur trekking-nya beragam, mulai dari pertanian, perkebunan jeruk, perbukitan, gunung, hutan pinus, hutan alami, sungai hingga air terjun. Yang lebih asyik lagi, jalurnya tidaklah terlalu ekstrim, sehingga seringkali anak-anak saya juga turut serta.

Ini beberapa foto jalur trekking seputar P-WEC:



Kamis, 19 Mei 2016

Karena Kata Peduli Saja Tidak Cukup

Soal pelestarian hutan, tidak cukup kita hanya mengucapkan kata peduli. Karena kalau sekedar terucap di bibir, ada banyak jutaan orang bisa. Atau kalau sekedar menulis kata, "aku peduli hutan Indonesia, ayo kita lestarikan" di status Facebook atau media sosial lainnya, banyak juga orang yang bisa. Anak saya juga bisa.

Akan menjadi langkah yang hebat ketika kata peduli itu naik tingkat menjadi sebuah aksi. Ahh saya susah ikut melakukan aksi langsung dalam menyelamatkan hutan, karena saya sibuk kerja, kuliah padat, tidak ada waktu, dan sederet alasan lainnya.

Kalau tidak bisa aksi langsung, di atas "kepedulian" itu ada tahapan lain lagi, yaitu berdonasi. Mungkin anda akan menjawab, "ah saya tidak punya uang untuk donasi".

Betulkah anda tidak punya uang? Berapa ratus ribu uang yang anda habiskan untuk sekedar jajan atau hang out? Atau berapa banyak duit yang anda keluarkan untuk hobby anda katakanlah shoping? Saya juga yakin anda menghabiskan lebih dari Rp 100.000 per bulan untuk mengisi pulsa demi memuaskan 'nafsu" eksis di media sosial.

Atau untuk anda yang merokok, berapa ratus ribu tiap bulan anda 'bakar" uang anda?

Masih mau bilang bahwa anda tidak punya uang?

Semua itu bersifat relatif. Yang terpenting adalah niat untuk donasi, karena kalau tidak niat maka angka Rp 100.000 pun akan terasa berat, akan terasa seperti Rp 10 juta.

Ketika bicara tentang donasi, jangan diasumsikan ini harus bernilai jutaan rupiah. Bukan, tapi bisa saja mulai dari Rp 100 ribu. Yang terpenting anda tulus dan ikhlas.

Ok, sekarang sudah mau donasi? Syukurlah, mulailah dari donasi untuk Hutan Lindung Wehea di Kalimantan Timur, karena saya sedang menggalang dana untuk memastikan ada Ranger yang menjaga hutan itu.

Cara donasinya mudah, tinggal klik link ini dan ikuti intruksi yang ada: https://kitabisa.com/hutanwehea

Terima kasih, anda sudah pada level yang lebih tinggi, tidak sekedar peduli saja!

Kamis, 08 Oktober 2015

Maaf Kami Tidak Terima Dana dari Perusahaan Sawit

Ketika di media mencuat ada organisasi konservasi yang bergerak dibidang pelestarian orangutan yang menerima dana $500.000 dari perusahaan sawit Kulim Berhad asal Malaysia, saya yang termasuk kena getahnya. Bukan terkena cipratan duitnya, namun kebanjiran email yang menanyakan apakah PROFAUNA juga mendapatkan dana itu, karena mereka tahu PROFAUNA juga bekerja pada isu pelestarian hutan di Kalimantan Timur.

Saya tegaskan bahwa PROFAUNA tidak mendapatkan dana tersebut, jangankan hanya $500.000, dikasih $ 5 juta pun, pasti kita akan tolak mentah-mentah. Sejak tahun 1994 hingga sekarang, PROFAUNA memegang teguh prinsipnya, bahwa kami tidak akan menerima dana dari perusahaan yang mengeksploitasi alam. Salah satu kategori eksploitator alam itu ya perusahaan sawit.

Jelas dan gamblang, anak SD pun tahu bahwa salah satu penyebab semakin berkurangnya hutan di Indonesia adalah ekspansi besar-besaran perusahaan sawit. Perkebunan sawit begitu rakus menggerus hutan Indonesia. Menangis hati saya ketika tahun 2014 keliling Kalimantan untuk menyaksikan deforestasi yang begitu cepat. Yang dulunya hutan rimba, kini luas terbentang perkebunan sawit, termasuk perusahaan dari Malaysia.

Jadi aneh dan munafik, kalau bekerja untuk konservasi hutan dan juga ornagutan, namun menerima dana dari perusahaan sawit. Bisa saja berkilah, ahh perusahaan itu tidak membuka hutan yang jadi habitat orangutan kog. Loh kalau kita bicara satwa liar itu bicara tentang ekosistem, bukan hanya sekedar bicara tentang spesies.

Belum lagi bicara soal etika. Apakah etis, mengaku bekerja untuk konservasi, koar koar bekerja untuk orangutan, tetapi menerima dana dari perusahaan sawit yang jelas itu penyebab berkurangnya luasan hutan kita? Menurut saya itu tidak etis, ini terkesan sangat oportunis.

Sahabat dan ribuan saudaraku yang di PROFAUNA, sebagai pendiri PROFAUNA saya tidak akan rela kalau suatu ketika PROFAUNA menerima dana dari perusahaan yang merusak alam. Hukumnya itu haram di PROFAUNA! Lebih baik punya uang hanya Rp 500 ribu tetapi bahagia, daripada bergelimang uang Rp 5 milyar, tetapi menodai diri sendiri, mengotori prinsip organisasi dan menyakiti hati masyarakat yang mendukung.


Jangan kau gadaikan hati, prinsip dan idealismemu! Masih banyak cara untuk mencari uang, tanpa mengorbankan hati. Maju terus untuk sahabat dan saudaraku yang bekerja untuk hutan dan satwa liar yang tetap bekerja dengan hati nurani.

Jumat, 21 Agustus 2015

Ini Cara Kami Mencintai Indonesia


Ketika lagu Indonesia Raya berkumandang di lereng Gunung Kawi diringi hembusan angin, ada perasaan haru campur bangga. Kami berdiri tegak memberi hormat kepada sang merah putih yang berkibar di ujung bambu yang kami tancapkan. Pagi itu tanggal 17 Agustus 2015, tepat tujuh puluh tahun negeri ini merdeka.

Upacara bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya di acara PROFAUNA Camp 2015 itu bukan gaya-gayaan atau sekedar seremoni tanpa makna. Itu simbol secara fisik bahwa kami begitu mencintai Indonesia, tanah air tempat kami lahir dan besar. Tempat dimana PROFAUNA lahir dua puluh tahun silam.

Simbol secara fisik yang bisa diwujudkan dengan upacara itu akan menjadi tanpa makna kalau tidak diikuti dengan perasaan dan tindakan nyata terhadap ibu Pertiwi yang dianugrahi beragam suku, budaya dan kekayaan hayati. Kami di PROFAUNA mewujudkan kecintaan kami terhadap Indonesia dengan berjuang membantu upaya kelestarian hutan dan satwa liar.

Kalau kami tidak cinta, ngapain harus susah payah selama 20 tahun berkutat membantu lestarinya alam Indonesia. Apalagi 15 tahun silam itu isu yang kami pilih, yaitu isu satwa liar, tidaklah popular seperti sekarang ini. Sebagian orang mungkin mencibir apa yang telah kami lakukan. Cibiran, “masih banyak orang miskin, kog ngurusin binatang”…, sudah biasa terngiang di telinga kami waktu itu.

Ketika PROFAUNA menunjukan bahwa kami juga bekerja untuk melestarikan hutan bersama masyarakat adat, pasti ada suara minor. “Ah itu karena ada proyek yang dananya gede, makanya mereka bikin proyek untuk hutan”, kata orang yang memang mentalnya mental proyek.

Orang yang tidak tahu PROFAUNA hanya kulitya saja, pasti akan bicara ‘nyinyir’. Pikir mereka PROFAUNA itu organisasi yang kaya raya, organisasi yang cari proyek atau organisasi yang jualan proposal.

Pandangan mereka itu akan runtuh, ketika mereka masuk ke dalam PROFAUNA atau ikut bekerja di PROFAUNA. Sebagian besar staf PROFAUNA itu bekerja secara suka rela alias tidak dibayar! Saudaraku yang ada di PROFAUNA Jawa Barat seperti Bu titin, Rinda dan Radius itu cari uangnya di tempat lain, tapi mengabdinya di PROFAUNA.

Kintan yang mewakili PROFAUNA di Jakarta atau Eka di PROFAUNA Maluku Utara juga tidak mencari uang di PROFAUNA. Mereka semuanya bekerja tanpa bayaran! Mereka bekerja untuk alam bukan karena gajinya besar, tapi karena peduli.

Bahkan staf yang di kantor pusat PROFAUNA-pun juga hanya menerima uang insentif untuk membantu biaya komunikasi dan transportasi. Dengan kecerdasaan seorang Asti yang bekerja di markas besar PROFAUNA, dia bisa saja kerja yang gajinya besar ketika dia lulus sarjana. Tapi dia memilih mengabdi dulu di PROFAUNA.

Saya, mereka dan ribuan supporter PROFAUNA di seluruh negeri ini mau melakukan itu karena kecintaan kami terhadap alam. Kecintaan kami terhadap satwa liar dan hutan. Kecintaan kami terhadap Indonesia. Kalau tidak cinta, kami sudah ‘cerai” dari dulu.

Kami tulus melakukan itu. Makanya kami, begitu sedih ketika ada seorang supporter PROFAUNA yang kebetulan profesinya seorang guru itu mundur jadi supporter PROFAUNA gara-gara “doktrin” yang salah soal nasionalisme. Ketika guru itu mengikuti sebuah diklat kebangsaan, seorang instruktur yang seorang tentara bilang, “hati-hati dengan LSM, karena itu ‘musuh’ negara”.

Waduuh, jaman sekarng masih saja ada doktrin yang salah kaprah seperti itu! Namun kemudian guru itu sepertinya jadi ragu dan mungkin takut dicap sebagai anggota LSM yang musuh Negara. Diapun mundur secara teratur dari barisan PROFAUNA, dan lebih parah lagi berusaha mempengaruhi muridnya juga untuk menjauh dari PROFAUNA, meskipun dia ternyata tidak seratus persen berhasil mempengaruhi muridnya.

Untungnya PROFAUNA itu organisasi besar. Satu orang mundur, seribu orang maju. Satu orang oportunis hilang, seribu orang idealis datang.

Di PROFAUNA Camp 2015 saya bilang dengan tegas di depan peserta, “PROFAUNA itu organisasi yang punya prinsip, misi dan tujuan yang jelas untuk membantu pelestarian hutan dan satwa liar. PROFAUNA itu ada karena cinta Indonesia. Kalau kalian setuju dengan prinsip kami, silahkan gabung, kalau ternyata tidak cocok, jangan ngrecokin, silahkan keluar saja”.
Selamat ulang tahun Indonesia, lestari alamku. Merdeka!