Kamis, 13 Desember 2018

Hari Gunung itu Bukan tentang Pendakian Gunung



Tidak banyak yang tahu jika tanggal 11 Desember itu diperingati sebagai hari gunung sedunia. Ada juga yang tahu dan mengekspresikan hari gunung sedunia itu dengan mengunggah foto diinya di media sosial.ketika mendaki gunung.

Sejatinya hari gunung sedunia itu bukanlah tentang pendakian ke gunung, tetapi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gunung. Awalnya badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menetapkan tanggal 11 Desember sebagai hari gunung sedunia pada tahun 2003.

Tema yang diusung dalam hari gunung sedunia tahun 2018 adalah Mountains Matter, yang maksudnya bahwa gunung itu berarti atau punya peran. Gunung bukan sekedar tempat wisata pendakian atau gunung bukan sekedar tempat yang bagus untuk swafoto, tetapi gunung punya fungsi jauh lebih besar dari itu.

Saya mencoba bertanya kepada 10 orang anak muda, “apa yang kau ketahui tentang gunung?” Delapan orang menjawab terkait dengan pendakian dan dua orang menjawabnya bahwa gunung itu tempat wisata.

Ketika saya tanya, “Jika kamu saya kasih uang Rp 500 ribu, apa yang akan kamu lakukan terkait dengan gunung?” Semuanya menjawab, akan mendaki dan camping di gunung.

Saya tidak bisa menyalahkan jawaban anak muda itu yang begitu sederhana, gunung = pendakian. Informasi yang beredar di seputar mereka gunung itu memang identik sebagai tempat yang asyik untuk mendaki, berwisata dan berfoto ria..

Mengutip data FAO, badan yang mengurusi pangan di PBB, sebanyak 60 hingga 80% air segar yag ada di bumi itu berasal dari gunung. Artinya, ternyata gunung begitu penting dalam fungsi hidrologis atau fungsi terkait dengan peredaran air.

Dalam perjalanan saya menjelajah alam ke berbagai tempat, saya selalu menemukan fakta bahwa sumber air yang dipakai penduduk itu sebagian besar berasal dari gunung yang hutannya masih bagus.

Sungai Berantas yang  memanjang melintasi berbagai kabupaten di Jawa Timur itu mata airnya berada di pegunungan yang masuk kawasan Taman Hutan Raya R Soerjo. Sebagian masyarakat di Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang itu tergantung dengan mata air yang ada di Gunung Biru yang jaraknya puluhan kilo meter dari desa mereka.

Bahkan air segar yang ada di Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC) yang saya kelola itu sumbernya berasal dari Gunung Malang yang merupakan bagian dari pegunungan Kawi.

Adanya mata air di gunung itu tentunya  tidak terlepas dengan keberadaan hutan yang terjaga. Hutan rimba di gunung itu yang membuat sumber air tidak mengering. Akan menjadi bencana dahsyat ketika hutan mulai menghilang atau beralih fungsi.

Ada tiga alasan utama kenapa saya suka pergi ke gunung. Bukan karena ingin sampai puncaknya kemudian berfoto ria. Karena justru target saya pergi ke gunung itu bukan untuk mencapai puncaknya, tetapi adalah mengunjungi hutannya yang masih bagus. Begitu jalur pendakian saya sampai pada batas hutan terakhir, saya akan berhenti dan camping di hutan itu. Ini adalah alasan pertama saya suka  pergi ke gunung, yaitu menikmati misteri hutannya yang sering diselimuti kabut.

Alasan kedua, saya suka sekali melihat satwa liar yang ada di pegunungan. Jumlah jenisnya memang tidak sebanyak di hutan dataran rendah, tetapi justru ini tantangannya karena melihat satwanya menjadi tidaklah mudah. Tajuk yang tebal, alam berkabut dan udara dingin, menjadi petualangan tersendiri untuk ‘berburu’ satwa liar di pegunungan.

Ketika saya melihat burung pintar di Pegunungan Arfak, Papua, saya tertegun dengan kepintaran burung itu dalam membuat sarang dan menarik hati pasangannya. Hilang sudah penat mendaki hutan rapat di Pegunungan Arfak, terobati dengan keunikan burung namdur ini.

Alasan terakhir kenapa saya suka ke gunung, karena ini olah raga yang menyenangkan. Jalan di tengah hutan dan udara segar telah menjadi candu bagi saya. Sampai sekarangpun sedikitnya sekali dalam sebulan saya selalu pergi ke gunung yang masih lebat hutannya. Gunung Gundul tanpa hutan, tidak membuat saya rindu untuk kembali.

Namun sayangnya, setiap saya mengunjungi lagi gunung yang pernah saya daki itu eksositemnya sudah berubah. Hutan bukannya semakin rimbun dan meluas, tetapi semakin menyusut oleh perladagangan dan pengembangan wisatwa. Jalur trekking bukan semakin sepi, tetapi semakin ramai dengan bonus sampah plastik yang semakin menumpuk. Burung tidak lagi mudah dilihat, tetapi lebih mudah melihat pemburu menenteng senapan dengan pongahnya.

Butuh perhatian dan tindakan dari kita semua untuk menyelamatkan gunung. Gunung perlu hutan dan hutan perlu gunung. Hutan yang baik akan menjamin tetap mengalirnya air dari sumber di gunung. Adanya air akan memastikan adanya kehidupan hingga kota yang jaraknya ribuan kilometer dari gunung. (Rosek Nursahid, adventurer and traveler)

Selasa, 11 Desember 2018

Jangan Takut Jadi Aktivis Lingkungan



Dalam sebuah diskusi kecil di kaki Gunung Kawi dengan belasan orang supporter PROFAUNA Indonesia pada bulan November 2018, saya bercerita sekelumit sejarah PROFAUNA. Cerita ini menjadi penting dituturkan agar generasi kini dan mendatang tahu cerita sebenarnya dibalik perjalanan PROFAUNA yang menjelang seperempat abad.

Sejarah bukan hanya soal agar kita tahu cerita masa lalu, tetapi dari sejarah kita bisa belajar sebuah kemenangan dan juga kegagalan. Dari sejarah kita bisa mendulang segudang ilmu. Dari sejarah pula kita bisa mendapatkan inspirasi cerdas.

Ini sekelumit potongan sejarah PROFAUNA yang semoga membuat kamu yang masih ragu-ragu jadi aktivis atau masih (sementara) jadi akivis setengah-setengah, bisa meningkat derajatnya dengan jadi aktivis lingkungan sejati setelah membaca tulisan saya ini.

Belasan tahun silam, ketika PROFAUNA sedang gencar melakukan kampanye melawan perdagangan daging penyu hijau di pulau dewata, saya mendapat email dari aktivis PROFAUNA. Isinya kira-kira begini, “kalau terjadi sesuatu kepada kami, siapa yang bisa menjamin keselamatan nyawa kami. Apakah mas Rosek bisa menjaminnya?”

Saya mengerutkan kening membaca email itu.

Memang situasi waktu itu lumayan genting, meskipun tidak bisa dibilang gawat darurat. Waktu itu aparat penegak hukum hendak menangkap  pedagang penyu di Tanjung Benoa, Bali. Ini merespon  dari laporan PROFAUNA dan juga beberapa organisasi internasional lainnya.

Ketakutan dari aktivis itu adalah jika polisi benar-benar melakukan operasi penangkapan pedagang penyu itu, ditakutkan berimbas ke kantor PROFAUNA yang ada di Bali. Karena sejak tahun 2000 hingga 2003 itu PROFAUNA begitu masif kampanye menentang perdagangan penyu di Bali.

PROFAUNA-lah yang mengungkap kembali bukti-bukti masih maraknya perdagangan daging penyu di Bali pada tahun 2000, setelah sebelumnya pada tahun 70-an Greenpeace sempat melaporkan soal pembunuhan penyu itu. Artinya pada tahun 2000-an itu jika bicara tentang perdagangan penyu di Bali akan identik dengan PROFAUNA.

Imajinasi yang terlalu liar tentang efek dari operasi itu membuat aktivis PROFAUNA ‘minggat’ dari kantor dan parahnya itu kantor dinyatakan tutup.

Saya heran dengan ketakutan yang belebih itu, sampai-sampai mereka harus “menghilang”.

Saya sampaikan bahwa saya bukanlah Tuhan yang bisa menjamin keselamatan seseorang. Akan melebihi kuasa Sang Pencipta jika saya berani menggaransi keamanan nyawa seseorang.

Urusan hidup dan mati itu hak kuasa penuh Tuhan. Mau jadi akivis atau tidak, kita akan tetap sama-sama mati. Bahkan kita juga tidak bisa memilih bagaimana cara mati.

Mau jadi aktivis pembela lingkungan atau perusak alam yang paling jahat sekalipun juga akan mati. Tapi kita bisa memilih bagaimana kita mengisi hidup ini sebelum ajal menjemput.

Ketika kita memutuskan menjadi aktivis lingkungan, ini adalah sebuah ibadah. Ini adalah sebuah perbuatan mulia, ketika dilakukan dengan tulus, tidak sekedar mengejar fulus.

Menjadi aktvis lingkungan adalah sebuah pilihan.  Pilihan itu jatuh dengan banyak beragam alasan yang bersifat pribadi, yang kadang kala orang lain tidak akan paham atas pilihan itu.

Seperti halnya ketika kita memutuskan menikahi seseorang wanita atau pria, ini adalah pilihan yang sangat subyektif. Apakah cantik itu diterjemahkan selalu wanita yang berkulit putih, badan langsing, dan rambut lurus? Ahh kalau ini khan hasil karya iklan industri kecantikan.

Buktinya, teman saya itu memutuskan menikahi seorang wanita yang begitu dipujanya dan dianggap menawan. Ketka saya dikenalkan dengan istrinya, dalam hati saya menyimpulkan memang “cantik” atau ‘tampan” itu bersifat subyektif.

Istri teman saya itu berbadan tidak langsing (kalau tidak mau disebut gendut).

“Saya dari dulu begitu bergairah dan senang melihat perempuan yang gemuk, dan ini saya dapatkan di istri saya tercinta,” kata teman saya dengan wajah gembira.

Pilihannya tergantung kepada anda (yang masih berdetak jantungnya). Kalau sudah memilih jadi aktivis lingkungan, janganlah jadi penakut, karena anda sudah luar biasa berani dengan pilihan anda untuk menjadi aktivis itu. (Rosek Nursahid, pendiri PROFAUNA Indonesia)

Selasa, 02 Januari 2018

Apa yang Kamu Cari di PROFAUNA?

Bulan Desember 2017 PROFAUNA Indonesia tepat berusia 23 tahun, sebuah usia yang cukup dewasa bagi sebuah organisasi lingkungan. Kedewasaan itu yang juga membuat PROFAUNA melakukan banyak perubahan kebijakan dalam tiga tahun terakhir ini.

Salah satu kebijakan yang banyak berubah adalah terkait Suporter PROFAUNA, sebutan untuk relawan resmi PROFAUNA. Pada era tahun 1994-1999 adalah masa perjuangan PROFAUNA untuk mencari dukungan masyarakat. Waktu itu saya harus keliling dari kampus satu ke kampus lainnya untuk menebar pesona ke mahasiswa agar mau gabung PROFAUNA yang waktu itu masih bernama Konservasi Satwa Bagi Kehidupan.

Tahun 2000-2005 adalah masa puncak penambahan suporter PROFAUNA secara spektakuler. Waktu itu tercatat ada sekitar 500.000 orang yang menjadii Suporter PROFAUNA. Sebuah angka yang fantastis untuk organisasi Indonesia yang bergerak dibidang perlindungan satwa liar dan habitatnya.

Kenapa pada waktu itu begitu banyak yang mendaftar jadi Suporter PROFAUNA? Karena pendaftarannya waktu itu sempat gratis alias tidak membayar. Ternyata di negeri ini, apapun yang bernilai gratis itu akan diserbu peminat.

Memasuki tahun 2005 hingga 2013, untuk menjadi suporter PROFAUNA dikenakan biaya donasi. Mulai dari awlanya Rp 50.000 per tahun, hingga menjadi Rp 100.000. Ini lumayan menjadi filter untuk orang yang mendaftar jadi suporter PROFAUNA.

Pada tahun 2014 PROFAUNA memasuki babak baru. Selain logonya berganti, PROFAUNA juga memutuskan untuk tidak lagi mengejar jumlah atau kuantitas Suporter, namun lebih ke kualitasnya.

Prinsip bahwa lebih baik jumlahnya sedikit, namun berkualitas dan punya loyalitas tinggi menjadi spirit baru dalam pengelolaan Suporter PROFAUNA. Untuk apa punya ribuan suporter namun tidak ada kontribusinya sama sekali ke organisasi?

Dalam diskusi dengan beberapa aktivis PROFAUNA di akhir tahun 2017, saya melontarkan pertanyaan, “kenapa kamu gabung PROFAUNA, apa yang kamu cari?”

Ternyata setelah didiskusikan dan dianalisa, ada beragam alasan seseorang itu gabung jadi Suporter PROFAUNA. Saya rangkum sedikitnya ada 10 alasan yaitu:
  1. Ingin tambah teman
  2. Ingin dapat sertifikat yang bisa dipakai untuk mencari beasiswa kuliah ke luar negeri
  3. Diajak teman/pacar/keluarga alias ikut-ikutan
  4. Tugas kuliah
  5. Ikut trend peduli alam biar keren
  6. Ingin tahu PROFAUNA
  7. Cari peluang kerja
  8. Cari pengalaman
  9. Peduli
  10. Panggilan hati
Jika kamu gabung PROFAUNA karena alasan nomor 1 hingga 4, pastilah tidak akan bertahan lama. Begitu keinginanmu tercapai, kamu akan meninggalkan PROFAUNA begitu saja tanpa ada perasaan apapun.

Ciri orang yang ikut PROFAUNA karena alasan nomor 1 hingga 4 itu adalah mereka setelah mendaftar jadi Suporter PROFAUNA itu akan bersifat pasif. Bahkan menjawab pesan di WA atau email dari PROFAUNA-pun sudah enggan.

Jika kamu gabung PROFAUNA karena alasan nomor 5 hingga 8. Biasanya akan bertahan lebih lama di PROFAUNA. Mereka masih mau aktif dalam jangka waktu tertentu. Tetapi biasanya jika sudah selesai kuliah (untuk yang mahasiswa) atau sudah menikah (untuk yang bujang) itu mereka sudah tidak mau lagi aktif di PROFAUNA. 

Kalau mendaftar karena alasan nomor 9 dan 10 itu biasanya akan bertahan lama sekali, bertahun-tahun. Perubahan status pendidikan, pekerjaan atau pernikahan tidak akan membuat mereka meninggalkan PROFAUNA.

Yang spesial itu memang yang nomor 10. Orang yang masuk golongan nomor 10 ini merasa tidak cukup hanya peduli, tetapi mau ikut melakukan aksi untuk PROFAUNA tanpa pamrih. Aksi itu bisa dalam bentuk menjadi relawan dalam kegiatan PROFAUNA, jadi pengurus PROFAUNA secarasukarela, memberikan donasi atau rajn membeli merchandise PROFAUNA.

Ada dua pertanyaan mendasar untuk mengukur apakah kamu itu masuk kategori nomor 9 dan 10, yaitu:
  1. Kalau kamu punya waktu (bohong besar kalau dalam 1 tahun kamu tidak punya waktu luang), apakah kamu selalu siap membantu secara fisik kegiatan PROFAUNA secara sukarela?
  2. Kalau kamu sudah punya penghasilan tetap, apakah kamu mau memberikan donasi ke PROFAUNA?
Jika dua petanyaan di atas jawabannya adalah TIDAK, maka maaf memang kamu masih masuk dalam ketegori nomor 1 hingga 8. Dan saya yakin tidak lama lagi kamu juga sudah akan melupakan PROFAUNA.

Saya akan lebih bahagia jika punya 1 orang yang punya loyaltas dan kepedulian tinggi, daripada 1000 orang yang hanya sekedar terdaftar tapi tidak pernah memberikan apapun ke organisasi.

Jangan bertanya apa yang diberikan PROFAUNA? Tetapi bertanyalah kepada hati nuranimu, apa yang telah engkau berikan ke PROFAUNA?

Saya lebih bangga punya 10 orang yang berani berjuang, daripada 1000 orang oportunis. 

Saya lebih senang punya 100 orang yang mau berdiri di samping saya untuk berjuang bersama PROFAUNA, dibandingkan 500.000 orang yang hanya peduli di atas kertas belaka.

ROSEK NURSAHID
Pendiri PROFAUNA Indonesia

Selasa, 03 Oktober 2017

Aktvis Lingkungan Jadi Hobby?

Menjadi aktivis lingkungan itu sebuah pilihan hidup, mumpung masih hidup. Saya sering sampaikan, “hidup itu sekali, buatlah berarti.” Membuat hidup menjadi berarti itu ada banyak caranya, salah satunya dengan menjadi aktivis lingkungan.

Menjadi aktivis lingkungan itu tidak mengenal usia, status perkawinan, gender, pekerjaan atau jabatan. Tidak ada isitilah tua untuk berbuat bagi lingkungan. Seharusnya juga tidak ada ucapan, “maaf saya tidak bisa aktif lagi karena sekarang sudah menikah”. Karena ucapan ‘menyalahkan’ status pernikahan itu justru mendangkalkan makna sebuah pernikahan yang sakral.

Juga semestinya tidak perlu muncul perkataan, “saya sudah tua, jadi tidak bisa aktif lagi”.

Ketika menjadi aktivis lingkungan disekat oleh paradigma salah kaprah bahwa aktivis itu harus muda, aktivis itu hanya ranah gerakan anak muda atau melakukan kegiatan pelesarian lingkungan hanya ketika ada dana, maka jangan heran jika gerakan pelestarian alam akan berjalan di tempat.

Menjadi aktivis lingkungan itu panggilan hati, bukan panggilan uang yang melambai-lambai atau sekedar mengisi waktu karena lagi menganggur alias tidak punya pekerjaan.

Kalau menjadi aktivis lingkungan itu diposisikan sebagai sebuah hobby, seperti halnya orang hobby bersepeda atau hobby naik gunung, maka tidak akan ada sebuah “keterpaksaan” untuk menjadi aktivis.

Hobby itu pasti mengeluarkan duit, untuk sebuah kepuasan hati yang tidak bisa diukur dengan rupiah. Kalau kita hobby naik gunung misalnya, pasti akan keluar uang untuk membeli tas karier yang terbaik, sepatu trekking yang paling nyaman, peralatan masak lapangan, sleeping bag, matras, dan seabrek peralatan gunung lainnya.

Belum lagi jika mau mendaki masih harus keluar biaya untuk transportasi menuju lokasi, membayar tiket masuk, membeli bahan makanan dan mungkin membayar jasa pemandu.

Mengeluarkan biaya dan tenaga untuk sebuah hobby itu kita tidak pernah mengeluh. Tidak pernah hitung-hitungan tentang materi. Tidak pernah terpaksa melakukan itu. Semuanya dilakukan dengan perasaan senang, dengan penuh semangat, tanpa ada paksaan. Kepuasan hatilah yang ingin diraih. Sebuah kepuasan tanpa batas.

Andai menjadi aktivis lingkungan itu menjadi sebuah hobby, maka tidak ada lagi keterpaksaan. Tidak ada lagi hitung-hitungan soal uang yang dikeluarkan. Tidak ada lagi timbang menimbang soal gaji. Tidak ada lagi putus asa hanya karena tidak ada donor. Tidak ada lagi merasa ‘sok tua’ (karena sering menjumpai orang usia 40 tahun itu sudah merasa tuaaaaa sekali)

Saya mempunyai banyak hobby. Saya hobby riding dengan motor trail: pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Papua sudah saya jelajahi dengan motor trail kesayangan. Saya juga hobby trekking meskipun perut sudah tidak rata lagi.

Saya hobby nonton konser musik rock, hampir semua band rock dari luar negeri yang pentas di Indonesia itu saya hadir. Metallica, Iron Maiden, Scorpion, Skid Row, GnR, Aerosmith dan Steelheart adalah deretan musisi rock yang sudah saya tonton live.

Saya hobby wildlife adventure, ini lumayan menghabiskan tabungan juga. Ada banyak tempat yang sudah saya kunjungi untuk memuaskan hobby melihat satwa liar di alam. 

Saya juga hobby fotografi alam, meskipun tidak pernah jadi tukang foto profesional. Tapi saya puas melihat hasil karya foto saya, meskipun mungkin dipandang orang lain itu sebagai karya picisan. Saya tidak peduli, karena saya puas.

Dari sekian banyak hobby yang saya geluti itu, ada satu hobby yang saya sangat bangga sekali, yaitu hobby jadi aktivis lingkungan. Saya bersyukur hobby yang satu ini sudah saya geluti lebih dari 25 tahun. Usia memang terus bertambah dan rambutpun mulai memutih. Tapi semangat untuk jadi aktivis lingkungan tidak pernah memudar seperti warna rambut saya. Tidak ada kata tua untuk jadi aktivis ligkungan!

Senin, 01 Mei 2017

Semangat Sulawesi untuk Konservasi Alam

Dua hari sebelum acara Pelatihan Dasar Konservasi Alam (PDKA) Sulawesi Selatan 2017, Uni, sang ketua pelaksana, kirim pesan lewat WA. Isi pesannya, “pak untuk fee narasumber itu berapa, biar kami siapkan."

Saya jawab, “jangan memikirkan fee narasumber, ini gratis karena kegiatan sosial”

“Oh begitu pak, sambil garuk-gruk kepala,” jawab Uni.

Sejak awal memang PDKA itu dirancang untuk sosial, untuk menyebarluaskan prinsip-prinsip konservasi alam. Kegiatan ini tidak ada sponsor atau donornya. Semua dilaksanakan secara swadaya.

Justru yang luar biasa adalah Uni dan suporter PROFAUNA Chapter Makassar yang menjadi panitia pelaksananya. Dengan dana swadaya, mereka bekerja keras untuk menyukseskan acara yang diadakan di Hutan Bengo-Bengo Kabupaten Maros itu.

Dengan jumlah panitia hanya 3 orang yaitu Uni, Marsudi dan Gusti, boleh dibilang PDKA Sulsel ini terlaksana dengan sangat baik. Peserta juga menampakan rasa kagum dan kepuasannya dengan kinerja panitia yang hanya segelintir itu. Padahal dalam acara sejenis yang biasa diadakan oleh kampus atau pemerintah itu daftar panitianya panjang sekali, bisa-bisa jumlah pantia lebih banyak dibandingkan pesertanya.

“Biasanya pelatihan-pelatihan seperti ini panitia akan sering dapat komplain dari peserta, tapi PDKA ini tanpa komplain sama sekali dan pantia banyak memberikan kejutan yang membuat kami menjadi kagum,” kata Munatsir, salah satu peserta PDKA Susel.

Ketika Uni menyatakan kesiapannya untuk menjadi host PDKA Sulsel dan siap menanggung biaya trasportasi narasumber, saya langsung kontak pak Rustam dan bu Titin. 

Mereka adalah calon narasumber yang berbeda lokasi tempat tinggalnya. Rustam di Samarinda, sedangkan bu Titin di Bandung.

Saya kirim pesan ke kedua narasumber itu, “PROFAUNA akan adakan PDKA Sulsel tanggal 14-16 April, mohon kesediannya untuk menjadi narasumber, tetapi ini tanpa honor karena besifat sosial.”.

Keduanya langsung menjawab, “siap!”

Itulah hebatnya aktivis PROFAUNA, tidak semuanya itu dinilai dengan uang atau materi. Kepedulian kuat dan loyalitas tinggi membuat mereka mau “berkorban” untuk kegiatan PROFAUNA.

Semangat jiwa sosial untuk alam yang dibangun PROFAUNA sejak tahun 1994 itu meresap di banyak aktivis PROFAUNA. Banyak sekali aktivis dan suporter PROFAUNA yang melakukan berbagai kegiatan di berbagai daerah dengan dana sendiri, tanpa ada donor dan tidak tergantung donor.

Ternyata kehadiran kami untuk  berbagai pengalaman di PDKA Sulsel tidaklah sia-sia. Peserta PDKA yang berasal dari kalangan aktivis LSM dan mahasiswa itu penuh antusias dan semangat. Semangat ini terjadi sepanjang hari selama 3 hari.

Saya kagum dengan semangat peserta yang terlihat haus akan informasi terkait konservasi alam itu. Semangat peserta itu semakin menyulut semangat saya, Made, Rustam dan bu Titin untuk memberikan yang terbaik dalam pelatihan yang menyenangkan itu.

Mungkin banyak peserta yang tidak tahu bahwa 3 orang yang jadi panitia itu bekerja keras untuk kelancaran PDKA Sulsel. Ketika yang lain masih tidur di pagi hari, panitia itu membersihkan sendiri ruang pertemuan. Menata lagi meja-meja yang tidak beraturan dan membersihkan sampah-sampah yang tertinggal.

Ketika lampu listrik sempat padam dalam sesi materi ruangan, Uni langsung sigap menyewa genset.

Ketika peserta harus bangun pagi-pagi untuk praktek lapangan, panitia sudah menyediakan sarapan pagi. Meskipun sebelumnya telah diinformasikan peserta akan masak sendiri, ternyata pantia juga menyediakan makanan dalam beberapa sesi.

Wah luar biasa sekali. Saya terenyuh dan kagum.

Melihati semangat peserta dan panitia PDKA Sulsel yang begitu luar biasa, saya melihat ada semangat konsevasi alam yang akan terus menyala di Sulawesi. Apalagi alumni PDKA Susel masih aktif berkomnuikasi lewat grup media sosial.

Terima kasih Uni, Marsudi, Gusti, Rustam, Made, bu Titin dan semua peserta PDKA Sulsel. Sem....sem....semangat...Ihiiii. (Rosek Nursahid, founder PROFAUNA Indonesia)

Rabu, 28 September 2016

Bukan Zamannya Lagi NATO

Pada tahun 2016 ini organisasi Protection of Forest & Fauna (PROFAUNA) Indonesia berusia 22 tahun. Usia yang cukup matang untuk sebuah organisasi lingkungan yang bukan saja mampu bertahan, namun juga berkembang. Ketika ada banyak organisasi lingkungan seangkatan PROFAUNA yang berdiri di era 1990-an mati suri atau bahkan disuntik mati, PROFAUNA justru semakin bertaji.

Kunci sukses PROFAUNA adalah konsistensi dan dukungan kuat dari individu-individu yang menjadi relawan PROFAUNA dalam bentuk suporter atau simpatisan PROFAUNA. Konsistensi PROFAUNA bekerja dibidang perlindungan hutan dan satwa liar, tanpa tergoda iming-iming uang proyek untuk pindah haluan, semakin memperkokoh PROFAUNA di tanah air.

Dengan usia 22 tahun menjadi wajar jika PROFAUNA mempunyai ribuan suporter, tersebar mulai dari Papua hingga Aceh. Bahkan suporter PROFAUNA ini juga merambah ke luar negeri, masuk ke benua Eropa, USA dan Australia.

Sebagai organisasi grassroots, PROFAUNA tidak mengandalkan kekuatan uang. PROFAUNA itu organisasi “miskin” dibandingkan dengan organisasi raksasa asal luar negeri yang masuk ke Indonesia. Andalan PROFAUNA adalah dukungan masyarakat yang tergabung dalam Suporter PROFAUNA.

Pada zaman yang memasuki era digital dan dunia gaib (baca: dunia maya), semakin banyak orang yang lebih asyik dengan perangkat gadget-nya. Media sosial menjadi ajang eksistensi diri. Sekarang kita tak heran melihat pemandangan sekelompok orang yang duduk dalam satu meja, namun tidak saling sapa karena asyik dengan layar Hp-nya masing-masing.

Tertawa sendiri sambil memandangi benda kecil di genggaman tangan juga menjadi pemandangan yang biasa kita temukan di rumah, kampus, kantor atau mall. Ini pemandangan langka di tahun 90-an, bisa-bisa anda dianggap gila karena tertawa ha ha hi hi sendirian.

Kegilaan terhadap media sosial ini berdampak positif dan negatif untuk konservasi alam. Sisi negatifnya, perdagangan satwa langka menjadi kian mudah karena diperjualbelikan secara online dan disebarluaskan lewat media sosial.

Sisi positifnya, isu-isu konservasi alam juga lebih mudah diakses informasinya, termasuk disebarluaskan. Kekejaman terhadap binatang yang tejadi di pelosok Kalimantan timur misalnya, bisa dengan cepat mendunia gara-gara kekuatan media sosial.

Aktivis Dunia Maya

Menyebarluaskan isu konservasi alam, termasuk hutan dan satwa liar lewat media sosial atau dunia maya itu bagus. Teriak-teriak di dunia maya seperti, “sikat habis perusak hutan!”, “tolak sawit yang merusak hutan”, atau “lawan perusakan alam!” itu juga bagus. Paling tidak anda sudah peduli. Dan semoga kepedulian itu tulus, bukan hanya sekedar agar anda tampak keren karena peduli alam.

Namun apakah cukup hanya seperti itu?

Untuk PROFAUNA ke depan, kita akan dorong suporter dan simpatisan PROFAUNA untuk tidak sekedar menjadi aktivis dunia maya. Bukan sekedar aktivis facebook atau twitter. Tetapi menjadi aktivis lingkungan sejati, yang melakukan aksi nyata untuk alam ini.

Aksi nyata itu sebenarnya tidak berat, karena ada banyak tindakan-tindakan kecil yang bisa dilakukan asal punya kemauan. Aktivis lingkungan itu bukan sekedar yang maki-maki atau teriak di media sosial, tapi yang mau terjun ke lapangan dengan tindakan.

Aksi nyata itu beragam, tergantung kita mau mengambil porsi yang mana. Bisa edukasi ke sekolah, pesantren, kelompok pemuda, komunitas atau karang taruna. Edukasi ini murah meriah, tidak perlu buat proposal ke donor untuk melakukan edukasi. Bahkan materi untuk edukasi sudah disediakan oleh PROFAUNA, sehingga anda tinggal meluangkan waktu untuk beraksi dengan edukasi.

Yang punya waktu lebih luang bisa terlibat langsung dalam kegiatan PROFAUNA di lapangan, seperti jadi Ranger. Yang tidak punya waktu, bisa beraksi dengan donasi. Jangan selalu beranggapan untuk donasi itu harus bernilai besar, bukan. Bahkan donasi sebesar Rp 20.000-pun akan sangat berarti bagi PROFAUNA yang punya kode etik tidak boleh menerima dana dari pemerintah itu.

Peduli Saja Tidak Cukup, Butuh Aksi

Dalam beberapa bulan ini PROFAUNA akan menata ulang manajemen suporter dan simpatisannya, karena akan lebih didorong melakukan aksi. Kalau sekedar kata peduli, semua orang juga bisa. Dengan kondisi alam Indonesia yang semakin darurat, itu kita butuh aksi.

Kini bukan saatnya sekedar No Action, Talk Only (NATO) alias omdo (omong doang). Ngomong soal konservasi alam itu boleh dan harus, tetapi akan lebih dahsyat lagi jika omongan itu diikuti dengan tindakan.

Ini yang menjadi spirit PROFAUNA saat ini, semangat beraksi. PROFAUNA memang punya ribuan suporter dan simpatisan, tetapi dari ribuan orang tersebut berapa persen yang telah melakukan aksi untuk PROFAUNA? Aksi untuk alam? Jawabannya adalah tidak banyak.

Bukan berarti PROFAUNA gagal dalam “menyadarkan” Suporternya untuk beraksi. Karena faktanya masih banyak orang yang penuh dedikasi yang beraksi di lapangan tanpa dibayar.
Di Jawa barat ada Bu titin dan bu Rinda, dosen yang terjun jadi aktivis PROFAUNA. Mereka bukan omdo, tapi bertindak. Aksinya pun gak main-main, padahal ini tidak ada duitnya. Mereka melakukan edukasi, kampanye dalam bentuk demo, advokasi dan juga donasi.

Di Maluku utara ada Eka yang bertahun-tahun menjadi perwakilan PROFAUNA tanpa dibayar. Di Kaltim ada Pak Rustam yang bukan sekedar seorang peneliti hutan, namun juga beraksi untuk PROFAUNA melalui edukasi dan advokasi.

Di Jakarta ada Kintan yang aktif di PROFAUNA sejak mahasiswa hingga jadi ibu-ibu. Kintan juga tidak canggung terjun ke lapangan dengan melakukan edukasi dan advokasi kasus-kasus kejahatan satwa liar.

Dan ada banyak lagi aktivis-aktivis PROFAUNA lainnya yang penuh dedikasi berjuang di lapangan yang akan panjang sekali jika saya sebutkan satu per satu di tulisan ini.
Intinya adalah aksi di lapangan tanpa dibayar itu bukan sebuah mimpi. Ini sebuah kenyataan yang bisa kita lakukan, karena ada banyak aktivis PROFAUNA yang telah membuktikannya.

Kini tergantung anda, suporter dan simpatisan PROFAUNA, apakah anda mau melakukan aksi atau sekedar peduli saja? (Rosek Nursahid, Founder PROFAUNA Indonesia).

Kamis, 14 Juli 2016

Kawah Wurung, Bikin Hati Tidak Murung

Jika mau berwisata ke Kawah Ijen di Banyuwangi yang terkenal itu, tidak ada salahnya jika juga berkunjung ke Kawah Wurung yang tidak jauh dari Kawah Ijen. Kawah Wurung memang belum setenar Kawah Ijen yang sudah mendunia, namun keindahan alamnya setidaknya bisa membuat hati yang murung menjadi ceria kembali.

Kawah Wurung adalah obyek wisata alam yang relatif baru dibuka untuk wisatawan. Lokasinya berada di Desa Jampit, Kecamatan Sempol, Kabupaten Bondowoso. Jika hendak menuju Kawah Ijen dari arah Kota Bondowoso, maka sebelum Paltuding yang jadi titik awal pendakian ke Kawah Ijen itu lokasi Kawah Wurung sebelum Paltuding. Ada papan petunjuk arah belok kanan.

Dari papan petunjuk arah itu, jalanan menuju Kawah Wurung berupa tanah. Jalannya cukup lebar, sehingga bisa dilalui mobil, bahkan oleh mobil sebesar Isuzu Elf. Hanya saja di beberapa titik, terutama ketika mendekati Kawah Wurung itu jalannya rusak parah, penuh dengan batu lepas, sehingga mobil yang bukan 4 X 4 harus extra hati-hati.

Keindahan alam Kawah Wurung yang berada di ketinggian sekitar 1500 dpl itu adalah berupa perbukitan dan padang rumput di dataran tinggi. Kalau anda pernah ke Gunung Bromo dari arah Tumpang, Malang, maka seperti itulah pemandangan alam di Kawah Wurung.

Bedanya dengan Bromo, udara di Kawah Wurung tidak sedingin di Bromo. Udaranya terasa sejuk, tidak dingin mengggigit, sehingga terasa nyaman. Karena udaranya tidak terlalu dingin itulah membuat kita betah berjam-jam duduk di atas rerumputan sambil menikmati keindahan alam dan menyeruput teh panas.

Hal lain yang membedakan dengan Bromo, tiket masuk ke Kawah Wurung terhitung murah meriah, hanya Rp 5000. Coba bandingkan dengan tiket masuk kawasan Bromo yang sudah menginjak angka diatas Rp 30.000.

Di sekitar Kawah Wurung ada juga beberapa penginapan. Kalau saya merekomendasikan di Catimor homestay yang berjarak sekitar 7 km dari Kawah Wuruh. Penginapan yang dibangun sejak zaman Belanda itu suasananya tenang dengan udara yang sejuk. Harganya juga relatif terjangkau, mulai dari Rp 150.000 per kamar.

Tentang Catimor Homestay, silahkan lihat catatan saya di link berikut: http://roseknursahid.blogspot.co.id/2015/02/catimor-home-stay-tempat-singgah.html

Pada bulan Juli 2016, saya dan keluarga berpetualang ke Kawah Wurung dan sekitarnya. Karena jalannya banyak medan offroad, kami memutuskan membawa sepeda motor trail saja. Dari Kota Malang, motor trail itu kami naikan ke atas mobil doble cabin kesayangan menuju Catimor. Dari Catimor kami memulai family adventure dengan menunggang kuda besi, ini dia beberapa fotonya: