Selasa, 25 Desember 2012

Gotong Royong di 18 tahun ProFauna

Dini hari jam 2 saya terbangun dari tidur nyenyak di Petungsewu Wildlife Education Center (PWEC) setelah kecapekan “dihajar” rapat tahunan staf ProFauna Indonesia selama 3 hari. Saya keluar kamar menghirup segarnya udara pegunungan dan melangkahkan kaki jalan-jalan keliling P-WEC dengan ditemani bintang-bintang yang bertaburan dengan begitu indahnya. Udara dingin menembus sela-sela jaket dan memaksa saya untuk memasukan tangan ke dalam saku jaket untuk mencari kehangatan.

Ketika kaki saya menginjak aspal di belakang Gedung Kijang, saya tertegun melihat pangggung yang sudah berdiri dengan banner besar bertuliskan “One spirit, 18th ProFauna”. Di sekitar panggung yang ada di dekat pohon beringin itu juga ada beberapa boots untuk foto. Sangat menarik sekali. Yangmembuat saya tertegun bukan sekedar keindahan panggung itu, tapi semangat orang-orang yang telah mendirikan pangung dan menyiopkan acara spesial pada tanggal 23 Desember 2012 itu. Ya,pada tanggal itu usia ProFauna tepat 18 tahun!


Perayaan ulang tahun ProFauna yang ke-18 itu sangatlah spesial, karena 100% acaranya dirancang, didanai dan dijalankan oleh Supporter ProFauna yang ada di Jawa Timur. Untuk mendanai perayaan itu, supporter ProFauna jualan mug bergambar satwa dengan logo ProFauna. Penjualan mug itu laris manis, dan dahsyatnya banyak supporter yang membeli atau tepatnya menyumbang di atas harga jual. Mug yang dijual seharga Rp 30 ribu itu malah dibeli dengan harga dengan tambahan angka nol di belakangnhya, jadi Rp 300 ribu. Banyak juga supporter yang membeli mug lebih dari 1 buah. Dalam waktu singkat, mug sudah ludes. Padahal promosi penjualan mug itu hanya lewat facebook, SMS an BBM.

Supporter ProFauna yang lain juga ramai-ramai menyumbang untuk perayaan HUT ProFauna itu. Ada yang menyumbang beras, teh, kue dan juga menyumbang peralatan band. Banyak juga yang menyumbang atraksi hiburan, mulai dari tari, puisi, tembang dan lagu rock. Yang mengagumkan, Mas Yoes dari Sidoarjo menyumbangkan 3 buah lukisan karyanya untuk dilelang di acara ulang tahun ProFauna itu. Mantapnya, lelang lukisan itu sukes melebihi harapan. Lukian bergambar orangutan ditebus oleh Supandi, kemudian lukisan bergambar penyu diborong oleh Daniel Stephanus, salah satu advisory board ProFauna. Sedangkan lukisan bergambar kukang berhasil dimenangkan oleh Nyomi, supporter ProFauna asal Sidoarjo.


Mengikuti rangkaian acara Hut ProFauna ke-18 yang dihadiri sekitar 100 orang aktivis ProFauna itu benar-benar membuat saya terharu. Begitu besar dan tulus dukungan supporter ProFauna. Tanpa dibayar, mereka bekerja keras untuk menyukseskan acara ulang tahun yang diadakan dengan bayang-bayang turunnya hujan itu. Syukurlah ternyata alam turut mendukung ProFauna, mulai pagi hingga sore ternyata terang benderang, sehingga acara ulang tahun berlangsung dengan meriah. Supporter ProFauna yang gaek, yang umurnya diatas 35 tahun pada jingkrak-jingkrak mengikuti irama rock tahun 90-an yang menggelora. Sementara supporter ProFauna yang muda-muda pada bengong melihat aksi “senior” mereka itu.

Suksesnya acara ulang tahun ProFauna itu menunjukan semakin solid dan kuatnya dukungan supporter ProFauna. Inilah yang membedakan ProFauna dengan kebanyakan organisasi lingkungan lainnya yang ada di Indonesia. ProFauna tumbuh kuat dan menyebar ke seluruh pelosok negeri berkat dukungan supporter ProFauna yang bekerja tanpa dibayar, malah mereka harus membayar untuk jadi supporter ProFauna. Ini benar-benar dahsyat! Terima kasih untuk supporter ProFauna dimanapun anda berada, I love you!

Selasa, 11 Desember 2012

Undangan Syukuran Hut Profauna Indonesia Ke-18 | ProFauna Indonesia

Ayo untuk Supporter ProFauna Indonesia yang ada di Jawa Timur atau yang pada tanggal 23 Desember 2012 lagi ada di Jatim, ramai-ramai hadir di acara syukuran HUT ProFauna ke-18 yang akan diadakan di Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC) Malang. Acara ini diadakan oleh, dari dan untuk supporter ProFauna! Acaranya akan seru karena penuh dengan hiburan, mulai dari tari, band dan juga atraksi tim Green Warrior.

Lebih lanjut tentang undangannya, lihat di link bawah ini:
Undangan Syukuran Hut Profauna Indonesia Ke-18 | ProFauna Indonesia

Rabu, 07 November 2012

Cinta Palsu


Ketika di akun facebook-nya ProFauna Indonesia mem-posting sebuah poster bergambar burung dalam sangkar dengan tulisan “mencintai mestinya tidak dikurung”, muncul banyak tanggapan. Semuanya sih berpendapat seragam, sepakat bahwa seharusnya burung dan satwa liar itu memang hidup di habitatnya, bukan dalam sangkar. Saya tertarik dengan komentar Alex, satu orang yang berkomentar di postingan ProFauna itu, dia bilang, “kalau mencintai satwa liar tapi dengan cara mengurungnya dalam sangkar itu berarti cinta palsu”.

Cinta palsu menjadi kalimat yang pas untuk mengambarkan fenomena orang yang mengaku pecinta satwa liar namun kemudian malah mengurungnya di sangkar. Satwa liar itu diberi makan dan minum lebih dari cukup, sangkarnya juga indah bukan kepalang. Tiap pagi satwa itu dimandikan, meskipun yang punya satwa justru belum mandi. Bahkan mungkin dia juga tidak peduli apakah istrinya sudah mandi atau belum, yang penting satwanya sudah mandi duluan.

Ketika kita mencintai seseorang, tentunya kita ingin memberikan yang terbaik buat orang itu. Kita ingin memberikan kebahagiaan buat orang itu. Kalau atas nama cinta, tetapi kita justru “menyiksa” atau mengeksploitasi orang itu, sangat pantas kalau itu dilabeli cinta palsu. Bahkan ‘alamat palsu’ seperti lagunya Ayu Ting Ting, karena cintanya salah alamat.

Kalau kita mencintai seseorang, kemudian kita selalu memberi makan, minum dan rumah mewah buat orang yang kita cintai, namun orang itu sama sekali tidak boleh ke luar rumah, apakah seperti itu namanya cinta? Bukankah kebutuhan orang (mahluk hidup) itu bukan sekedar soal makan dan minum? Apalah artinya makan dan minum yang enak dan melimpah, namun tidak punya kebebasan? Yah bisa-bisa orang itu jadi obesitas (kegemukan) dan penuh penyakit dong, soalnya hari-harinya hanya diisi dengan makan dan minum....

Apalagi satwa liar yang terbiasa hidup di alam bebas, tentunya akan sangat tersiksa jika terkurung dalam sangkar, semewah apapun sangkar itu. Satwa liar butuh mengekspresikan perilaku alaminya, butuh kawin, dan butuh berinteraksi dengan satwa lain. Satwa liar di alam juga punya ‘tugas” yang diamanahkan oleh Sang Pencipta untuk turut menjaga keseimbangan alam ini. Emangnya apa saja sih tugas satwa liar itu?

Kalau kita rinci satu per satu tugas satwa liar di alam, akan perlu beribu-ribu atau berjuta-juta halaman untuk mengupasnya. Saya ambil contoh beberapa saja, terutama satwa burung. Burung cendet dan sikatan itu di alam memangsa serangga, ini artinya tugasnya adalah mengontrol populasi serangga. Nah kalau si cendet dan sikatan itu populasinya berkurang akibat ditangkapi, terus siapa yang bertugas memakan serangga-serangga itu? Masih ingat kasus meledaknya hama belalang di Sumatera beberapa tahun silam akibat semakin berkurangnya burung-burung pemakan serangga? Nah kalau sudah seperti itu, siapa yang rugi? Ya manusia alias kita yang jadi rugi.

Burung kacamata atau burung madu punya peran membantu dalam penyerbukan bunga. Tanpa penyerbukan itu bunga itu susah jadi buah. Nah kalau burung-burung yang membantu penyerbukan itu semuanya sudah pindah ke dalam sangkar di rumah kita, siapa yang akan melakukan penyerbukan bunga-bunga itu? Emangnya mau kita menggantikan tugas burung-burung itu?

Burung hantu itu kegemarannya makan tikus. Mereka sengaja diciptakan Tuhan untuk membantu mengontol populasi tikus. Khan jadi berabe ketika burung hantu di alam sudah berkurang akibat ditangkapi untuk diperdagangkan, terus siapa dong yang akan makan tikus-tikus di sawah dan ladang itu? Anda mau menggantikan tugas burung hantu itu?
Dari tiga contoh tugas burung di alam itu, sangatlah jelas dan gamblang bahwa setaip satwa liar di alam itu punya tugas dan fungsi. Fungsinya di alam akan menjadi hilang, ketika satwa liar itu kita rampas kebebasannya dan mengurungnya dalam sangkar di rumah kira. Mengurung satwa liar atas nama cinta adalah sebuah bentuk egoisme manusia.

Kalau kita benar-benar pecinta sejati satwa liar, seharusnya kita memberikan kebebasan buat satwa liar itu. Kalau kita mengaku cinta, tapi justru mengurungnya dalam sangkar atas nama hobby, itu berarti cinta palsu alias cinta gombal!

Senin, 29 Oktober 2012

Jalur Gunung Bromo-Pananjakan Ditutup


Jalur dari Gunung Bromo menuju Pananjakan untuk sementara ditutup total karena ada perbaikan jalan. Ditutupnya jalan itu kami ketahui ketika kami berkunjung ke Pananjakan pada tanggal 26 Oktober 2012. Menutut keterangan petugas, jalan akan dibuka lagi pada pertengahan November 2012. Jadi bagi anda yang akan ke Penanjakan dari arah lautan pasir Gunung Bromo, sementara harus ditunda dulu keinginan tersebut. Namun jika dari arah Wonokitri dan Nongkojajar (Pasuruan), masih bisa menuju Pananjakan.

Pananjakan selama ini dikenal sebagai lokai favorit bagi wisatawan untuk melihat pemandangan indah Gunung Bromo. Dari Pananjakan akan terlihat dengan jelas Gunung Bromo, Semeru dan Batok. Apalagi jika cuacanya cerah, pemandangan yang amazing!

Senin, 15 Oktober 2012

Tentang Penyu Perancak Bali | ProFauna Indonesia

Saya senang sekali akhirnya ProFauna Indonesia menangani program konservasi penyu di Pantai Perancak Bali bersama masyarakat lokal "Kurma Asih". Pendekatan yang dilakukan ProFauna sangat menarik karena pendekatan dengan masyarakat lokal dan pengembangan eko wisata. Harapannya sih, penyu di Perancak akan tetap lestari, sementara masyarakat lokal juga turut senang karena pengembangan eko wisata. Semoga sukses!

Lebih lanjut coba aja cek link di bawah ini:

Tentang Penyu Perancak Bali | ProFauna Indonesia

Kamis, 11 Oktober 2012

Tentang Primata Indonesia | ProFauna Indonesia

Indonesia ternyata kaya banget akan monyet dan kera yang biasa disebut primata, sekitar 40 jenis hidup di negeri kita. Namun sayangnya banyak primata yang terancam punah akibat kehilangan rumahnya dan juga diburu untuk diperdagangkan. Hemmm sayang sekali ya, padahal primata ini boleh dibilang adalah "saudara" terdekat manusia. Info lebih lanjut tentang primata Indonesia, silahkan lihat di website ProFauna di bawah ini:
Tentang Primata Indonesia | ProFauna Indonesia

Minggu, 30 September 2012

Segarnya Mandi di Sungai

Ketika kebanyakan orangtua (yang hidup di kota) itu melarang anaknya mandi di sungai, saya justru menganjurkan anak saya untuk mandi di sungai. Mandi di sungai punya sensasi yang berbeda. Gemericik air dan kicauan burung benar-benar sebuah musik indah dalam menemani mandi. Mandinya jadi semakin lama, malas untuk mentas. Mandi di sungai juga membuat anak-anak saya lebih dekat dengan alam. Energi positif dari alam diserap lewat sejuknya air dan udara di sungai itu,

Tentunya anak saya mandi tidak di sungai yang kotor yang penuh dengan sampah dan limbah. Kami terbiasa mandi di sungai yang mata airnya berasal dari Gunung Malang, di wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur. Beruntung rumah kami berada di desa yang untuk menuju sungai itu hanya butuh waktu 30 menit dengan naik motor trail. Sedikitnya dua bulan sekali kami sekeluarga main ke sungai itu dan anak-anak saya begitu ceria langsung nyebur ke sungai yang airnya begitu jernih.

Daripada mandi di kolam renang yang belum tentu airnya bersih, kami lebih suka mandi di sungai. Selain gratis, mandi di sungai juga semakin membuat kami mencintai alam. Anak-anak saya juga begitu bebas mengekspresikan keceriaannya di sungai itu bersama capung-capung yang banyak berkeliaran di sungai. Banyaknya capung itu pertanda sungainya masih bersih, bebas dari polusi.


Ketika melihat begitu cerianya anak-anak saya mandi di sungai yang berada di tengah hutan pinus itu, dalam hati saya berfikir, sampai kapan anak-anak saya bisa menikmati mandi di sungai yang bersih? Dari tahun ke tahun hutan di sungai itu semakin tergerus oleh lahan pertanian. Sungainya juga semakin menyempit. Akankah 20 tahun lagi masih ada sungai yang jernih itu? Atau kemudian hanya jadi selokan belaka seperti yang terjadi di kota-kota? Aduh semoga tidak demikian!

Tiga puluh tahun yang lalu, sungai di dekat kantor pusat ProFauna Indonesia itu juga besar dan bersih. Orang masih mandi di ungai itu. Kini sungai itu sudah tidak pantas lagi disebut sungai, karena lebarnya sudah tidak lebih dari 1,5 meter. Ini lebih tepat disebut selokan. Atau lebih tepatnya selokan yang kotor dan penuh sampah!

Semua orang itu paham bahwa air itu sumber kehidupan. Tanpa air, susah rasanya manusia bisa hidup dengan normal. Banyak orang juga tahu kalau air itu erat kaitannya dengan hutan. Tanpa ada hutan, sumber-sumber air yang kebanyakan di hutan dan gunung itu juga akan hilang. Tapi kenapa tidak banyak orang yang peduli soal kelestarian hutan ya? Hutan terus digerus untuk pertanian, pertambangan dan perkebunan. Betul-betul menyedihkan.

“Ayo pak masuk air!”, teriakan Kya, anak saya membuyarkan lamunan saya tentang masa depan sungai dan hutan. Segera saya ikut terjun ke sungai, bermain-main dengan anak saya, mumpung masih ada sungai yang jernih yang bisa kami nikmati. Byurrrr!

Kamis, 13 September 2012

Penginapan di Bandealit, Taman Nasional Merubetiri


Jika anda ingin berpetualang ke Bandealit, Taman Nasional Merubetiri, namun enggan camping, jangan kuaitr karena kini di Bandealit ada penginapan yang lumayan asyik. Penginapan yang berada di tepi pantai itu dikelola oleh pihak Taman Nasional Merubetiri dengan tarif Rp 200.000 per kamar. Penginapan dengan nama Wisma Soneratia itu berada di sebelah kiri dari Pantai Bandealit yang biasa dikunjungi wisatawan umum.

Meskipun berada di pantai yang sering dikunjungi wisatawan dikala liburan, namun Wisma Soneratia itu sepi karena lokasinya tidak berada di pantai utama, namun berada di sebelah kiri. Jadi sebelum loket parkir kendaraan bermotor yang ada di Pantai Bandealit, itu belok kiri. Kira-kira sekitar 500 meter akan tampak Wisma Soneratia yang lokasinya dikelilingi pohon.

Namun jangan berharap pelayanan yang mewah jika anda nginap di Wisma Soneratia, maklum khan memang di hutan. Dengan membayar Rp 200.000 per kamar, anda akan mendapat fasilitas tempat tidur double bad pulus bantalnya. Kamar mandi juga berada di dalam kamar, namun airnya hanya mengalir di sore hari saja. Dan jangan kaget kalau airnya tampak kotor, tapi tidak asin kog, lumayan segar untuk membunuh rasa gerah.
Penerangan listrik juga ada, cuma hanya menyala di sore hari hingga pukul 11 malam. Setelah itu ya gelap gulita. Tapi justru asyik, karena kesan alamnya begitu kental. Apalagi kalau mau keluar kamar, bisa melihat indahnya bintang yang berkelap-kelip. Indah sekali.

Jika anda mau menginap di wisma ini, harus siap-siap membawa makanan, karena pihak pengelola wisma tidak menyediakan makanan dan minuman. Soal kebersihan, lumayan bersih, mungkin karena masih baru. Faktor lain yang membuat kawasan sekitar wisma itu bersih juga karena di tempat tidak dikunjungi wisatawan secara massal. mUngkin ceritanya akan jadi lain, kalau wisatawan yang tidak menginap di wisma itu diperbolehkan juga masuk, hemmm pasti akan jadi penuh sampah plastik! Semoga saja itu tidak terjadi.

Plus untuk Wisma Soneratia:

- Berada di lokasi yang asri, di tepi Pantai Bandealit
- Tempatnya sepi, cocok yang butuh ketenangan
- Konsepnya menyatu dengan alam

Negatif untuk Wisma Soneratia:

- Tidak menyediakan makanan dan minuman
- Tidak ada petugas yang menjaga
- Air kamar mandi kotor

Terbentuk Supporter ProFauna Chapter Kediri dan Surabaya | ProFauna Indonesia

Selamat atas terbentuknya Supporter ProFauna Chapter Kediri dan Surabaya! Semoga ini menjadi wadah koordinasi yang baik bagi supporter ProFauna yang ada di Kota Kediri dan juga Surabaya.
Terbentuk Supporter ProFauna Chapter Kediri dan Surabaya | ProFauna Indonesia

Jumat, 31 Agustus 2012

Mengunjungi Supporter ProFauna di Perkebunan Kayumas, Situbondo

Ketika kami menyusun jadwal liburan hari raya Idul Fitri, kami langsung memasukan Perkebunan Kayumas, Situbondo sebagai salah satu tempat yang wajib dikunjungi. Kebetulan letak perkebunan Kayumas itu masih dalam satu jalur dengan perjalanan kami ke Bali. Jadi klop dengan agenda perjalanan kami selama 5 hari berkunjung ke beberapa daerah di Jawa Timur dan Bali dengan menggunakan motor trail.

Mengapa kami harus berkunjung ke perkebunan Kayumas? Alasan utamanya hanya satu, kami ingin silahturahmi ke Maman, seorang supporter ProFauna Indonesia yang bekerja di perkebunan Kayumas. Maman selama ini aktif membantu ProFauna, baik memberikan donasi ataupun menyebarkan informasi terkait perlindungan satwa liar. Maman jadi Supporter ProFauna sejak dia masih menjadi mahasiswa hingga kini menjadi sinder di Kayumas.

Selepas dari Bali kami langsung meluncur ke Perkebunan Kayumas melewati Taman Nasional Naluran. Untuk menuju arah Kayumas ini, kami melewati Kota Asembagus, Kabupaten Situbondo. Jarak dari Asembagus ke Kayumas sekitar 40 km dengan jalan yang separuhnya offroad. Butuh kendaraan 4WD atau motor trail agar perjalanan anda nyaman dan aman. Untungnya kami bawa motor trail, jadi ya enjoy saja melibas jalanan offroad ke Perkebunan Kayumas.


Tempat kerja yang merangkap jadi tempat tinggal Maman itu berada di “pedalaman” dari Perkebunan kopi Kayumas. Letaknya paling ujung, di jalur menuju Kawah Ijen. Nama tempatnya adalah Plampang. Jalan dari pabrik pengelolaan kopi Kayumas menju Plampang itu benar-benar full offroad. Tapi asyik, karena melewati hutan yang masih cukup terjaga. Sepanjang jalan juga ada banyak satwa liar yang bisa ditemui seperti lutung, monyet, jelarang, elang dan berbagai jenis burung.

Semalam kami menginap di rumah dinas Maman yang bersahaja namun bersih. Maman menyambut kami dengan penuh keramahan. Untuk makanpun kami tidak perlu susah-susah mencarinya, karena semuanya sudah disediakan oleh Maman yang lulusan Universitas Jember itu. Kami merasa senang punya sahabat seperti Maman yang penuh dedikasi.


Meskipun bekerja di sebuah perkebunan yang cukup terpencil, semangat ProFauna terus dibawa Maman dalam kesehariannya. Maman menerapkan aturan dilarang berburu semua jenis satwa liar di perkebunannya. Tak heran di Plampang ada banyak papan informasi tentang pelarangan perburuan satwa liar. Diapun mengedukasi pekerja perkebunan untuk tidak memelihara burung sebagai satwa peliharaan. Bahkan Maman pernah membeli anakan burung merak yang ditangkap oleh pekerjanya dan meminta burung merak itu dilepas lagi ke hutan. Hemm sungguh perbuatan mulia.

Meski di Plampang hanya sehari semalam, namun kami senang tinggal di desa kecil di tengah perkebunan itu. Udaranya yang dingin semakin membuat suasana menjadi damai. Plampang yang berada di ketinggian 1300 meter dari permukaan laut itu mempesona kami, bukan hanya indahnya pemandangan namun juga karena keramahan dan kebaikan hati Maman.


Kepedulian terhadap alam memang seharusnya dilakukan dalam keseharian, seperti yang dilakukan oleh Maman. Kepedulian itu bukan hanya terbatas pada seminar, workshop atau celotehan di jejaring sosial saja, namun benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan Maman telah memberi contoh nyata soal itu. Kami bangga Maman menjadi bagian dari ProFauna Indonesia!

Terima kasih untuk Maman, suatu ketika kami akan berkunjung lagi! Apalagi sepertinya ada banyak Supporter ProFauna Indonesia lainnya yang juga ingin berkunjung ke Plampang untuk mengamati berbagai jenis burung liar yang hidup di hutan sekitar Plampang. Sampai ketemu lagi!

Selasa, 28 Agustus 2012

Berpetualang ke Pantai Perancak Bali, Bertemu Supporter ProFauna yang Peduli Penyu

Hari Kedua


Jam 5 pagi kami sudah terjaga dari tidur nyenyak di Pantai Bandealit, Taman Nasional Merubetiri. Cuaca cerah sekali dan burung-burung liar ramai bernyanyi menyambut mentari. Kami bangun pagi-pagi, soalnya hari ini kami akan melanjutkan perjalanan lagi ke Bali dengan motor trail. Barang-barang segera kami kemas dan dinaikan ke atas motor Kawasaki KLX 250 yang setia membawa kami berpetualang di liburan idul fitri itu.

Ternyata acara packing barang dan bongkar tenda memakan waktu yang lumayan lama, maklum ada banyak barang yang kami bawa dalam petualangan selama 5 hari itu. Jam di tangan menunjukan pukul 09.20 ketika kami beranjak meninggalkan Pantai Bandealit yang indah. Jalanan full offroad, kombinasi antara batu dan tanah. Beberapa kali kami berjumpa dengan penduduk desa yang menyapa kami dengan ramah.

Jalan yang kami lalui menanjak tajam dengan batu lepas dan lubang kanan kiri. Kamipun mengendarai motor dengan tehnik berdiri untuk menjaga kesimbangan dan mengurangi goncangan tubuh. Tiba-tiba Made yang ada di belakang saya teriak, “sepertinya ban motor saya bocor!”. Saya berhenti dan mengeceknya, celaka memang ban belakang motor Made terlihat kempes pes, sama sekali tidak ada anginnya. Padahal posisi kami waktu itu sudah di jalur offoad di tengah hutan! Ternyata bannya bocor ditembus paku karatan yang mungkin tertancap pada waktu kami melalui kampung nelayan di Pantai Bandealit.


Jika motor terus dipaksa dinaiki pasti tidak mungkin, bisa-bisa peleknya hancur karena jalannya berupa batu yang menonjol tidak karuan. Akhirnya kami memutuskan untuk membongkar ban motor dan membawanya ke kampung nelayan terdekat. Beruntung ada pengunjung yang lewat yang membantu kami membongkar ban motor. Pengunjung itu kaget ketika tahu bahwa salah satu pengendara motor trail itu adalah seorang perempuan!

Setelah dibongkar, ban motor yang bocor itu kami naikan ke KLX 250 dan membawanya ke kampung yang jaraknya 8 km dengan jalan offroad! Untungnya di kampung itu ada tukang tambal ban, kalau tidak ada bisa runyam nasib kami. Ban dalam yang bocor kami ganti dengan yang baru, karena takut bocor lagi di tengah jalan berbatu yang masih panjang. Ban yang bocor tetap kami tambal namun disimpan sebagai cadangan. Hemm semoga saja ban motor kami tidak ada yang bocor lagi!

Setelah ganti ban dalam, bergegas saya memacu motor menemui istri saya yang nungguin motor di tepi jalan di tengah hutan. Kata istri saya, ada banyak orang lewat yang heran, kog ada perempuan sendirian di tepi hutan dengan bawa motor trail tanpa ban!
Usai memasang ban, kami langsung memacu motor melewati jalanan offroad. Setelah 30 menit memacu motor di jalur offroad, kami mulai memasuki jalur di tengah perkebunan Glantangan. Jalurnya yang sepi membuat kami bisa memacu motor, target kami adalah jangan sampai kemalaman sampai di pelabuhan Ketapang Banyuwangi.

Jam menunjukan angka 13.25 ketika kami mulai memasuki daerah Pakusari Jember. Kami memutuskan untuk berhenti di sebuah warung yang jual mie pangsit, sekalian mengisi perut yang sudah keroncongan. Setelah setengah jam beristirahat, kami melanjutkan perjalanan kea rah Banyuwangi.

Jalur dari Jember ke Banyuwangi berupa jalur aspal yang meliuk-liuk menyisiri Gunung Kumitir. Jalannya mulus, cuma penuh dengan kelokan tajam. Kami memacu motor lumayan kencang, walaupun kadang-kadang harus ekstra hati-hati di tikungan karena motor kami membawa beban barang yang berat di bagian belakang. Jadi kalau keasyikan rebah di tikungan tajam, bisa jadi akan benar-benar rebah mencium aspal Kumitir.

Pukul 14.40 kami sampai di pasar Kalibaru yang sudah masuk wilayah Kabupaten Banyuwangi. Setelah istirahat sejenak sambil melumasi rantai motor, kami melanjutkan perjalanan ke arah pelabuhan Ketapang Banyuwangi. Jalanan yang kami lalui berupa aspal mulus. Jalur ini lumayan membuat kami bosan, karena monoton dan lalu lintasnya lumayan padat oleh pemudik.


Tepat pukul 16.30 kami akhirnya tiba di Pelabuhan penyeberangan Ketapang. Untungnya begitu kami melewati loket pembayaran, kami langsung dipersilahkan naik ke kapal. Ternyata kami penumpang terakhir di kapal itu. Begitu kami memarkir motor di dek kapal, beberapa orang lagi-lagi kaget ketika tahu salah satu dari kami adalah perempuan, karena ketika pakai helm adventure full face dan jaket, memang tidak kelihatan kalau Made itu perempuan.

Penyebarangan dari Ketapang ke Gilimanuk Bali berjalan dengan lancar, hanya membutuhkan waktu 45 menit. Pukul 18.15 waktu setempat (waktu di Bali lebih cepat satu jam dibandingkan waktu tanah Jawa), kami sudah mendarat di pulau dewata. Hari sudah mulai beranjak gelap. Kamipun langsung memacu motor ke arah Negara lewat tepi Taman Nasional Bali Barat.

Jalan aspal dari pelabuhan Gilimanuk ke Negara terbilang mulus dan lebar. Kami memacu motor dengan kencang hiingga kecepatan 110 km/jam. Hari semakin gelap dan kami juga mulai kecapekan, maklum seharian membawa motor dan separuhnya adalah jalur offroad. Akhirnya kami memutuskan untuk menginap di sebuah hotel di Desa Penyaringan, Kabupaten Jembrana. Badan dan otak kami sudah letih, sudah waktunya istirahat daripada celaka di jalan.

Hari ketiga

Pagi-pagi, sekitar pukul 07.00 kami sudah berangkat meninggalkan hotel untuk berpetualang di daerah Penyaringan sambil mengunjungi saudaranya Made yang memang punya keturunan Bali. Jalur yang kami lalui pemandangannya indah sekali, sawah hijau terbentang luas dengan suasana pedesaan yang asri. Kami tidak menjumpai satupun wisatawan asing di daerah ini, jadi terasa sekali suasana desa tradisionalnya.

Usai menikmati indahnya alam pedesaan di Penyaringan, kami meluncur ke SMP Medoyan untuk menemui seorang guru yang peduli akan lingkungan. Guru yang juga Supporter ProFauna itu bernama I Nengah Yasa Tenaya. Dia selama bertahun-tahun menanamkan nilai-nilai pelestarian lingkungan ke anak didiknya. Aksi nyata dari Yasa itu membuat dia dianugrahi penghargaan oleh pemerintah pusat beberapa waktu yang lalu.


Yasa menyambut kami dengan penuh kehangatan. Kami bicara panjang lebar soal lingkungan dan masalah penyu yang ada di Pantai Perancak. Dua orang guru juga ikut diskusi dengan kami. Terus terang kami kagum dengan semangat guru-guru itu yang mau peduli soal lingkungan, apalagi aktivitas mereka itu sama sekali tidak dibayar.
Setelah panjang lebar diskusi dengan guru-guru yang mendukung sekali program ProFauna itu, kami meluncur kembali ke hotel untuk bertemu dengan Jatmiko dari ProFauna Bali. Kemudian kami bersama-sama meluncur ke pantai Perancak untuk melihat program penyu. Jalan menuju ke Pantai Perancak juga membuat adem mata karena melalui sawah hijau yang terbentang luas sepanjang mata memandang.


Kedatangan kami di Pantai Perancak disambut dengan ramah oleh masayarakat lokal yang mengelola penyu. Mereka banyak berdiskusi dengan kami tentang pengelolaan penyu sambil menyeruput kopi hitam yang dihidangkan. Ngobrol di tepi pantai Perancak yang sepi itu membuat kami kerasan karena kami selalu suka dengan pantai yang tenang, bersih dan tidak terlalu ramai.

Puas menikmati asrinya Pantai Perancak, kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan kembali ke tanah Jawa. Langit menguning ketika kami mulai meninggalkan Perancak menuju pelabuhan penyebrangan Gilimanuk. Masih ada satu tempat lagi yang akan kami kunjungi dalam petualangan 5 hari ini, tempat itu adalah Perkebunan Kayumas di dekat kawah Ijen. (bersambung).

Untuk catatan perjalanan yang bagian 1, bisa dilihat dilink berikut: http://roseknursahid.blogspot.com/2012/08/berpetualang-ke-bandealit-taman.html

Senin, 27 Agustus 2012

Berpetualang ke Bandealit, Taman Nasional Merubetiri

Liburan Idul Fitri kali ini kami isi dengan mengunjungi Taman Nasional Merubetiri dan pulau dewata, Bali. Dalam petualangan kali ini, saya dan istri memutuskan untuk menempuhnya dengan motor trail, mengingat jalur yang akan kami lalui itu sebagai adalah jalur offroad. Kamipun membuat jadwal perjalanan dan menghubungi Supporter ProFauna yang akan kami kunjungi di daerah yang akan kami lewati. Kami hitung waktunya, ternyata perjalanan ini membutuhkan waktu seditnya 5 hari. Hemm pasti asyik melakukan perjalanan selama 5 hari di atas motor trail sambil menikmati keindahan alam! Berikut catatan perjalanannya yang betul-betul mengesankan kami.

Hari pertama.


Jam di tangan menunjukan pukul 07.55 ketika kami sampai di gerbang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Pagi yang cerah namun dingin. Kami memacu motor dengan santai, meliuk-liuk di jalanan semen di kawasan taman nasional itu. Tak lama kemudian kami sampai di Jemplang, pertigaan yang menuju Gunung Bromo. Jika belok kiri akan turun ke arah padang pasir bromo, jika lurus ke arah Gunung Semeru. Setelah berhenti sejenak untuk mengambil foto pemandangan yang begitu indah, kami melanjutkan perjalanan menuju arah Semeru.

Tiga puluh menit kemudian kami sampai di hutan Ireng-Ireng. Hutannya masih bagus dan terlihat ada banyak anggrek liar. Kami berhenti sejenak di tepi sungai untuk istirahat setelah melewati jalanan aspal yang penuh lubang dan hancur di sana sini. Harus ekstra hati-hati melewati jalur Ireng-Ireng ini karena aspal sudah terkelupas dan banyak kerikil berserakan.

Puas menghirup udara segar di hutan Ireng-Ireng kami kembali memacu motor ke arah Kabupaten Lumajang. Pukul 09.00 kami memasuki Desa Senduro yang sudah masuk wilayah Kabupaten Lumajang. Jalanan berikutnya berupa aspal, namun harus hati-hati karena di beberapa titik aspalnya berlubang sehingga sering kendaraan bermotor tiba-tiba melakukan manuver menghindari lubang. Hampir saja saya menabrak sebuah sepeda motor di depan saya yang tiba-tiba belok kanan karena menghindari sebuah lubang.

Sekitar 15 menit kemudian kami sudah melewati Kota Lumajang dan mulai memasuki jalanan aspal menuju Jember yang menjemukan. Saya bilang menjemukan karena jalannya berupa aspal lurus yang seperti tidak habisnya. Di jalan ini kami bisa memacu motor di kecepatan 80 hingga 115 km/jam.

Matahari semakin tinggi dan panas mulai menyengat tubuh. Kami terus memacu motor di tengah padatnya rombongan pemudik. Jam 12.00 kami mulai memasuki Kota Jember. Setelah terminal bus Jember, kami ambil jalur belok kanan menuju arah Jenggawah. Di Jenggawah, kami istirahat sejanak sambil menyantap makan siang di warung pinggir jalan. Enak sekali menunya, tahu sama sambal pedas, ditambah segarnya air kelapa muda.


Tepat pukul 13.00 kami berangkat meninggalkan Jengawah menuju arah Pantai Bandealit. Kami memlih jalur lewat perkebunan Glantangan, tidak lewat umum yaitu jalur Ambulu. Sengaja kami milih lewat Glantangan, karena jalurnya lebih asyik, lebih banyak jalur offroad-nya. Sementara kalau lewat Ambulu itu jalurnya aspal dan ramai dengan wisatawan yang akan pergi ke Pantai Watu Ulo dan Tanjung Papuma. Maklum waktu itu masih suasana liburan hari raya, jadi jalanan padat dengan wisatawan lokal.

Memasuki perkebunan Glantangan, jalur berupa aspal rusak dengan selingan tanah. Sepanjang jalan ada banyak pohon karet yang bikin adem. Kami memacu motor agak kencang, karena jalanan sepi. Sekali-kali kami tanya ke penduduk tentang arah menuju Bandealit, karena ini baru pertama kalinya kami lewat jalur Glantangan.


Tidak sampai satu jam kemudian kami memasuki jalur offroad. Jalurnya penuh dengan batu, tanah dan lubang. Yang bikin asyik adalah kanan kiri berupa hutan yang masih bagus. Beberapa kali kami melihat sekelompok lutung yang bertengger di pepohonan dan elang yang melintas di atas kepala kami. Untung kami bawa motor trail, jadi bisa melewati jalur ini dengan santai, coba membawa motor biasa pasti akan nangis di tengah hutan!

Ketika jam di tangan menunjukan pukul 15.00 kami sampai di Pantai Bandealit, taman nasional Merubetiri. Kami coba ke kantor resort KSDA, namun sayangnya kantornya sudah kosong melompong, tidak ada petugas yang berjaga. Seharusnya taman nasional itu selalu ada petugas yang piket, karena ini adalah kawasan konservasi alam yang patut dijaga.

Meskipun berada di dalam taman nasional, Pantai Bandealit juga dikenal sebagai tujuan wisata. Untuk masuk ke pantai ini dikenakan tarif parkir kendaraan bermotor sebesar Rp 2000. Pantainya sebutulnya indah, namun sayang kotor oleh sampah plastik yang berserakan. Membuat tidak sedap dipandang mata, selain tentu saja mencemari lingkungan juga.

Akhirnya kami memutuskan tidak jadi menginap di Pantai Bandealit, namun belok arah kiri ke bagian pantai yang lebih sepi. Di tempat yang kami pilih ini benar-benar nyaman, sepi, alami dan banyak sekali burung liar. Tenang dan nyaman sekali. Malam itu kami habiskan waktu dengan menginap di Bandealit sambil menikmati bintang-bintang yang begitu cerah memancar di langit. Kami berujar, “indah sekali alam ciptaan Tuhan ini”. (Bersambung).

Catatan tentang jalur umum menuju Bandealit:
- Surabaya ke Jember 200 km, sekitar 5 jam
- Jember ke Tempurejo/Ambulu 25 km, sekitar 1 jam
- Tempurejo/Ambulu ke Andongrejo 20 km, sekitar 0,5 jam
- Andongrejo ke Bandealit 14 km, sekitar1 jam (Khusus jalur ini direkomendasikan menggunakan mobil 4WD atau motor trail.

Senin, 13 Agustus 2012

Siapakah Donatur Utama ProFauna?

Tanpa mengurangi rasa format terhadap donatur lainnya, ketika saya ditanya siapakah donatur utama ProFauna Indonesia, maka saya akan menjawab dengan mantap, “Supporter ProFauna!”. Ya para relawan yang tergabung dalam Supporter ProFauna itulah yang sejatinya donatur utama ProFauna Indonesia. Kenapa mereka dikatakan sebagai donatur utama? Coba lihat empat contoh kasus di bawah ini.

Pertama, ketika pada bulan Juli 2012 Mas Yoes, seorang supporter ProFauna di Sidoarjo mencanangkan niatnya untuk menggali dana buat ProFauna dengan cara menawarkan jasa sketsa wajah, maka dalam hitungan menit ada banyak Supporter ProFauna yang merespon ide Mas Yoes itu lewat jejaring social facebook. Tak lama kemudian terkumpulah duit sebanyak Rp 3 juta yang 100% didonasikan untuk ProFauna. Mas Yoes menggali dana untuk ProFauna dengan caranya, dengan keahliannya, dan 100% dia itu tidak dibayar!

Kedua, ketika P-WEC dan ProFauna program edukasi tentang alam dan santunan untuk anak-anak desa yang kurang mampu, Supporter ProFauna Indonesia ramai-ramai bergerak ngumpulkan duit. Dalam hitungan beberapa hari terkumpul dana sebesar Rp 5 juta. Tidak cukup menyumbang dana, beberapa supporter seperti Asti, Pimpim dan Eva juga terjun langsung ikut menjadi fasilitator dalam kegiatan edukasi untuk anak-anak yang dilaksanakan pas bulan ramadhan itu. Wow dahsyat!

Ketiga, ketika di awal bulan Agustus 2012 ProFauna meluncurkan produk kaos terbaru seri “extinct” lewat facebook, dalam hitungan dua hari kaos seharga Rp 70.000 itu ludes diserbu Supporter ProFauna. Akibatnya supporter yang lain “protes” karena tidak kebagian ikut donasi dengan cara membeli kaos itu. Akhirnya kamipun berjanji untuk mencetak ulang kaos itu. Hemm luar biasa, ada orang yang haus memberikan donasi untuk sebuah upaya pelestarian satwa liar. Kalau donasi atas nama agama sih itu sudah biasa, saya tidaklah heran.

Contoh kasus terakhir, setiap ProFauna mengumumkan ProFauna akan melakukan demonstrasi, kami tidak pernah kesulitan mendapatkan massa. Supporter ProFauna selalu ada untuk demo ProFauna, dan yang jelas mereka itu tidak dibayar sama sekali alias mereka itu sukarelawan. Nah coba hitung, berapa duit tuh yang harus dikeluarkan oleh ProFauna jika harus membayar setiap orang yang ikut demo ProFauna? Jadi Supporter ProFauna yang telah itu demo itu secara tidak langsung adalah donatur ProFauna juga!


Ribuan supporter ProFauna yang tersebar luas, bukan hanya di Indoensia tapi juga di berbagai negara itu memainkan peran penting dalam setiap kegiatan ProFauna. Tanpa mereka, ProFauna akan terseok-seok. ProFauna memang unik, untuk ukuran organisasi alam di Indonesia, karena justru kekuatan utamanya adalah di supporter. Supporter ProFauna bukan sekedar donatur, tetapi juga juru kampanye, marketing dan pasukan di lapangan! Benar-benar dahsyat!

Terima kasih untuk anda yang telah bergabung menjadi Supporter ProFauna!

Kamis, 09 Agustus 2012

Hotel Murah dan Nyaman di Sanur Bali



Jika anda berwisata ke Bali dan ingin tinggal di daerah Sanur yang terkenal itu, cobalah menginap di Pondok Narita. Tempatnya bersih, sejuk dan relatif murah. Meskipun tempatnya di dekat Pantai Sanur, suasana di Pondok Narita itu sejuk karena ada banyak pepohonan. Setiap kamar punya taman dan teras tersendiri, jadi suasananya seperti di rumah sendiri.

Jika ingin pergi ke Pantai Sanur, cukup jalan kaki saja. Karena di belakang Pondok Narita itu sudah pantai Sanur. Meskipun berada di salah satu jalan utama di Sanur yaitu Jalan Danau Tamblingan, tapi suasana di Pondok Narita tidaklah bising, karena lokasinya agak masuk sekitar 100 meter. Dijamin tidur anda akan pulas, tanpa terganggu suara kendaraan bermotor.

Harga kamar di Pondok Narita itu Rp 200.000 per kamar yang bisa diisi dua orang. Kamar mandi ada di dalam dan dilengkapi dengan AC. Hanya saja bagi anda yang ingin nonton TV, di dalam kamar tidak disediakan TV. Tapi bagi saya TV di sebuah hotel tidaklah penting, karena ngapain jauh-jauh berwisata ke suatu daerah kalau hanya nonton TV di dalam kamar hotel!

Di Pondok Narita juga tidak menyediakan makan pagi. Tapi jangan kuatir di sekitar Pondok Narita ada banyak warung dan restoran yang menjual aneka makanan, mulai dari makanan Eropa, China hingga Indonesia. Kalau mau murah juga bisa makan nasi kuning yang banyak dijual murah meriah di sepanjang jalan Danau Tamblingan.

Pondok Narita
Jl. Danau Tamblingan 81 Sanur Bali
Tel. (0361) 284315, 7899331, Email: ritagiftshop_bali@yahoo.com

Selasa, 24 Juli 2012

Prof. David Pinault, Kepedulian Tanpa Batas Usia


Awal Ramadhan ini ProFauna Indonesia mendapat tamu istimewa yang datang jauh-jauh dari USA, tamu itu adalah Profesor David Pinault. David saya bilang tamu istimewa karena dia adalah salah satu advisory board ProFauna dan juga seorang yang punya ilmu mumpuni soal kajian hubungan antara agama dan alam. Itu sebuah bidang kajian yang terbilang langka. David yang mengajar di Universitas Santa Clara itu sejak lama mendukung ProFauna Indonesia, bahkan beliau dengan penuh suka cita menjadi salah satu advisory board.

Ini adalah kunjungan David ke ProFauna Indonesia yang ketiga kalinya. David yang sudah berusia lanjut itu hampir setiap tahun meluangkan waktu dan tenaganya untuk menjadi sukarelawan di berbagai organisasi alam seperti halnya ProFauna. Sekitar 6 tahun yang lalu David juga menjadi relawan di pusat karantina satwa yang dikelola oleh ProFauna. Sangat langka ada professor yang mau jadi relawan di organisasi sosial, apalagi untuk professor yang ada di Indonesia. Ini yang membuat saya kagum akan kepedulian Prof David. Seorang professor yang mau turun ke lapangan dan bekerja fisik!

Setiap saya ketemu dengan David Pinault, saya selalu menangkap semangat yang menggebu dari diri sang professor itu. Diskusi kami selalu berlangsung hangat dan kadang diselingi tertawa terbahak-bahak. Sama sekali tidak ada kesan “jaim” alias jaga imej dari diri seorang David Pinault. Dia bisa bercanda dan tertawa lepas. Dia juga tidak malu bertanya terhadap suatu permasalahan kepada orang yang titel akademiknya jauh lebih rendah. Sama sekali tidak ada kesan ‘sok tahu’ dan ‘menggurui’ dari diri David.

Yang menakjubkan adalah di usia yang tidak muda lagi itu Prof David masih rajin keliling ke berbagai negara untuk memperkaya ilmunya. Setiap berkunjung ke suatu tempat, dia selalu mencari tempat dimana dia bisa menjadi relawan untuk berbuat sesuatu bagi alam dan satwa. Dia keranjingan untuk menjadi relawan. Sebuah keranjingan yang begitu mulia. Sementara ada banyak orang yang lanjut usia yang sudah dekat dengan liang kubur malah asyik keranjingan main perempuan!

Saya bersyukur mengenal Profesor David Pinault dan beliau bersedia menjadi bagian dari ProFauna, sebuah organisasi yang tidak pernah menawarkan pundi-pundi uang ke pendukungnya. Saya bedoa semoga saya akan tetap peduli dan mau berbuat bagi sesama dan mahlum hidup lainnya, hingga tua nanti. Tidak ada alasan tua untuk sebuah kepedulian!

Jumat, 13 Juli 2012

Asyiknya Camping di P-WEC



Ketika liburan sekolah tiba, seperti biasa keponakan-keponakan saya akan request untuk liburan bersama kea lam. Ini sudah jadi tradisi keluarga kami, setiap tahun pasti mengadakan family gathering di tempat-tempat yang masih alami. Tahun ini kami memutuskan untuk camping di P-WEC. Lho koq camping di P-WEC? Ya kami ingin mencoba merasakan camping eksklusif yang ditawarkan oleh P-WEC (coba lihat di www.p-wec.org), karena kalau camping di hutan itu sih kami sudah biasa.

Semua keponakan dan adik saya sudah tidak sabar untuk berangkat ke P-WEC. Sejak pagi mereka sudah berkumpul di rumah ibu saya. Begitu saya datang ke rumah ibu, keponakan saya terlihat gembira. “Ayo om segera berangkat, kita udah sejak pagi nih nunggu”, seru salah satu keponakan saya. Tak banyak cakap, langsung kami berangkat menuju P-WEC.

Tiga puluh menit kemudian kami sudah sampai di P-WEC. Kami langsung menuju lokasi camping di areal arboretum mini dan disambut ramah dengan tim P-WEC yang sudah siap sedia. Terlihat ada 4 tenda dome yang sudah berdiri tegak di atas batu bata ukuran sekitar 3 X 3 meter. Anak saya langsung membuka tendanya dan teriak, “wah asyik nih tendanya ada kasurnya!” Teriakan anak saya itu mengundang ponakan saya untuk ramai-tramai menyerbu ke dalam tenda. Mereka teriak kegirangan dan loncat-loncat di dalam tenda.

Camping yang ditawarkan P-WEC memang asyik sekali, sangat cocok untuk anak-anak kota yang ingin merasakan sensasi camping di alam yang nyaman dan aman. Gimana gak nyaman, karena di dalam tenda sudah dilengkapi dengan kasur, bantal dan selimut! Wow ini benar-benar camping “termewah” yang pernah kami lakukan. Kami yang terbiasa camping di hutan dengan hanya berasalan matras, kini bisa merasakan kenyamanan dan tidur pulas di atas kasur empuk yang ada di dalam tenda.

Di malam hari kami membuat api unggun dan merasakan nikmatnya singkong bakar. Dua orang volunteer P-WEC asal Inggris dan Perancis turut bercanda dengan kami di sekitar api unggun. Hemm benar-benar camping yang nyaman!

Jika anda ingin mengajak keluarga anda camping di P-WEC ini, coba hubungi P-WEC DI (0341) 7066769, 7040564, Hp 085646629704 atau kunjungi websitenya di www.p-wec.org

Minggu, 01 Juli 2012

Tiga Hari Bersama Green Warrior

Sudah lama saya memimpikan adanya special force di tubuh ProFauna. Ini bukan seperti pasukan khusus di tentara yang dilatih untuk menjadi mesin pembunuh yang sempurna atau seperti pasukan khusus yang siap menangkal serangan teroris. Bukan seperti itu. Namun adalah tim yang punya kemampuan, komitmen dan keberanian khusus untuk berjuang demi kelestarian alam. Syukurlah, mimpi saya itu mulai terwujud ketika ProFauna membentuk tim GREEN WARRIOR di tahun 2012!

GREEN WARRIOR memang khusus. Paling tidak ada 3 hal yang masuk kategori kenapa dibilang khusus. Pertama, anggota GREEN WARRIOR terbuka khusus hanya untuk supporter ProFauna, jadi orang lain tidak bisa gabung. Kedua, anggota yang terpilih harus punya keberanian, loyaltas dan ketangguhan yang khusus, alias diatas rata-rata. Sehingga tak salah jika slogan tim GREEN WARRIOR itu adalah BLT, bukan Bantuan Langsung tunai, namun kepanjangan dari Brave, Loyal and Tough. Kekhususan yang ketiga adalah, anggota GREEN WARRIOR itu bersifat relawan, tidak dibayar! Nah ini khan yang susah, orang berjuang dengan penuh resiko, namun tidak ada duitnya. Apa mungkin? Hal ini menjadi mungkin kalau di ProFauna yang prinsip sukarelawan memang begitu kuat!


Di akhir juni 2012, saya selama 3 hari bersama calon anggota GREEN WARRIOR dala sebuah pelatihan yang dalam. Ini tiga hari yang melelahkan, paling tidak buat calon anggota GREEN WARRIOR. Bagaimana tidak melelahkan, karena sejak pagi hingga malam, mereka “dihajar” di P-WEC. Mereka dilatih tentang tehnik kampanye, bukan kampanye biasa, namun kampanye luar biasa yang banyak beresiko tinggi. Mereka juga dilatih panjat memanjat, karena ini akan berguna untuk kampanye dan juga evakuasi satwa korban bencana alam. Setelah “dihajar” dengan latihan memanjat, mereka masih “dihajar” lagi dengan tehnik bela diri praktis.

Lho koq ada latihan beladirinya? Apakah ProFauna akan bertempur ? Kalau bertempur itu konotasinya adalah kekerasan fisik, tentu saja tidak, karena melakukan kekerasan dalam kegiatannya adalah haram hukumnya di ProFauna. Tim GREEN WARRIOR dilatih juga bela diri karena untuk membela diri atau menyelamatkan diri dari tindakan-tindakan kekerasan dari “lawan”. Lho siapa lawan ProFauna itu? Lawan ProFauna adalah orang-orang yang diuntungkan dari bisnis illegal eksploitasi alam dan oknum di tubuh pemerintah yang korupsi dengan menjual secara illegal sumber dalam alam.

Dengan tugas yang berat yang diemban tim GREEN WARRIOR, menjadi sebuah keharusan mereka untuk menjadi tim yang tangguh. Tidak ada kata cengeng, pengecut dan mellow di ProFauna, apalagi di tim GREEN WARRIOR. Ibarat musik, tim GREEN WARRIOR itu beraliran heavy metal atau bahkan death metal, bukan lagu yang mendayu-dayu dan penuh linangan air mata.

Selama tiga hari bersama tim GREEN WARRIOR saya bisa merasakan gelora semangat yang luar biasa. Saya bisa menyerap energi yang bisa meledak dahsyat ketika dikelola dengan baik. Saya bisa merasakan ketulusan dan pengorbanan. Ya memang harus tulus karena ini memang tidak dibayar, bahkan dituntut untuk berkorban untuk sebuah cita-cita yang mulia.

Saya merasa bangga dan terharu bisa berbagi dengan tim GREEN WARRIOR angkatan pertama. Tiga hari yang dahsyat. Dan semoga ini menjadi sebuah awal yang baik bagi ProFauna untuk melakukan kampanye perlindungan hutan dan satwa liar dengan lebih dahsyat lagi! Maju ProFauna!

Selasa, 19 Juni 2012

Coban Putri, Asyik untuk Fun Trekking



Sudah menjadi kebiasaan di keluarga kami untuk minimal sebulan sekali kami sekeluarga trekking alias jalan-jalan ke alam. Ini bukan sekedar rekreasi yang menyegarkan pikiran, tapi juga menjadi sarana mengenalkan alam ke anak-anak kami sejak mereka masih bayi. Ya sejak usia 5 bulan mereka sudah kami ajak ke alam, tentu saja dengan digendong pada waktu mereka masih bayi.

Kali ini kami mau trekking ke air terjun Coban Putri yang berada di Desa Tlekung, Batu. Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah kami. Jam di tangan menunjukan pukul 14.00 ketika mobil kami mulai berangkat meninggalkan Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC). Tak sampai 30 menit kami sudah sampai di ujung desa Tlekung. Mobil kami pakir di bawah bayang-bayang pohon dan kamipun siap jalan kaki.

Nada dan Kya, dua anak kami, sudah penuh semangat untuk jalan-jalan ke alam di sore itu. Saya melirik jam dan waktu menunjukan pukul 14.30. Kami mulai berjalan dengan santai. Jalannya berupa tanah kering selebar sekitar 2 meter. Di sebelah kiri jalan terlihat hutan pinus yang banyak tumbang karena diterjang angin puting beliung beberapa waktu yang lalu.

Sepanjang jalan, kami mengenalkan berbagai jenis tanaman yang kami jumpai ke kedua anak kami. Ada pinus, alpukat, nangka, durian, kaliandra, dan lainnya. Kedua anak kami penuh semangat saling menebak nama pohon itu. Banyak salahnya sih, namun paling tidak mereka telah belajar dan melihat langsung pohonnya, bukan sekedar membaca di buku. Ini yang terpenting, belajar dari pengalaman praktis, bukan sekedar teori saja.

Jalanan yang kami lalui tidak terlalu menanjak. Jadi asyik sekali untuk jalan-jalan santai, khususnya bagi anak-anak, karena tidak menguras energi. Setelah 30 menit berjalan santai, mulai terlihat air terjun Coban Putri. Air terjunnya tidaklah tinggi, namun menyejukan karena berada di tempat yang cukup sepi. Kya, anak saya yang paling kecil, langsung teriak kesenangan begitu melihat air terjun itu. Dia teriak, “ayo pak segera ke air terjunnya!”

Begitu sampai di air terjun, Kya langsung lepas sepatu dan masuk ke dalam air. “Wuihh dingin airnya!”, teriak Kya dengan cerianya. Kami membiarkan anak kami main di air sungai itu. Biar mereka belajar dan mengenal langsung alam. Ketika banyak orangtua di kota yang melarang anaknya mandi di sungai, kami justru menyarakan anak kami merasakan sensasi mandi di sungai (yang bersih tentunya). Mumpung juga masih ada air sungai yang jernih.

Puas main di sungai dan menyantap makanan kecil yang kami bawa, akhirnya kami memutuskan balik pulang, biar tidak kesorean. Maklum kami berangkat trekking juga sudah menjelang sore. Kami balik ke mobil juga dengan jalan kaki dengan jalur yang sama waktu kami berangkat. Kalau tidak kesorean, sebetulnya ada jalur trekking yang melingkar yang tembus Coban Rais.

Meskipun sore itu kami trekking pendek, namun kami semua senang. Jalur ke coban Putri ini sangat cocok untuk fun trekking dengan anak-anak, karena tidak terlalu jauh, namun ada banyak yang bisa kita lihat. Ada ladang, hutan pinus, sungai dan air terjun Coban Putri.

Jumat, 08 Juni 2012

Hilangnya Welas Asih



Di tengah hari saya mendapat telpon dari Asep, dia bilang kalau monyet di Sukun Malang yang dianggap meresahkan warga sudah tertangkap dan akan dievakuasi ke fasilitas ProFauna. Mendengar kabar itu saya bergegas meluncur ke PWRC (ProFauna’s Wildlife Rescue Center) yang berada di samping P-WEC untuk melihat monyet tersebut.

Begitu saya sampai di PWRC dan melihat monyet yang tertangap itu, hati saya miris. Monyet itu tubuhnya berdarah karena ditembus peluru. Kakinya pincang karena seperti bekas dihajar dengan benda keras. Wajah dan mata monyet itu bercerita tentang penderitaan dan sakit. Yang lebih menyedihkan lagi, monyet itu tidak bisa berjalan. Dia harus menyeret tubuhnya yang kurus itu untuk berpindah tempat.

Saya marah, sedih dan muak melihat kondisi monyet yang malang itu. Saya muak dengan manusia yang mengaku beradab dan beragama, tetapi perilakunya begitu keji terhadap binatang. Kenapa kita sudah kehilangan welas asih, cinta kasih, terhadap sesama mahluk hidup? Monyet itu jelas tidak bersalah. Bukan kemauan dia untuk berada di tengah rimba perkotaan. Yang salah dan tolol adalah orang yang telah menangkap monyet itu dari hutan, kemudian diperdagangkan dan berakhir di kandang sempit di perkotaan.

Ketika monyet itu terlepas atau mungkin sengaja dilepas karena pemiliknya sudah malas mengurusnya, kemudian monyet itu dianggap meresahkan. Monyet itu kemudian dianggap berbahaya. Padahal monyet itu hanya butuh makan dan tempat. Dia bukan mahluk monster yang akan dengan agresif menyerang dan memangsa manusia! Dia hanya mahkluk kecil yang butuh welas asih, bukan peluru dan pentungan!

Dalam ajaran agama apapun sudah sangat jelas kita diajarkan untuk menyayangi alam dan mahluk hidup lainnya. Di Islam sudah sangat jelas, umatnya dilarang untuk menyakiti apalagi menyiksa binatang. Mengadu binatang saja itu dosa. Terus kenapa monyet itu masuk ke PWRC dengan bersimbah darah dan kaki pincang? Apakah itu sebagai pertanda lunturnya welas asih yang selama berabad-abad menjadi ciri mulia bangsa Indonesia?

Saya selalu tidak setuju dengan pemeliharaan satwa liar, jenis apapun (baik itu dilindungi maupun jenis yang tidak dilindungi UU), di rumah kita. Banyak kasus orang membeli satwa liar itu waktu masih kecil atau remaja yang terlihat lucu. Begitu beranjak dewasa, apalagi tua, satwa itu menjadi tidak menarik lagi. Akibatnya ada satwa yang kemduian dibunuh, bahkan ada monyet tua yang kemudian dicincang dan dhsantap dagingnya. Atau ada yang kemudian satwanya dilepas atau dibiarkan terlepas, yang kemudian menjadi masalah bagi warga lainnya.

Kalau kita masih punya rasa welas asih dan kalau kita masih percaya bahwa Tuhanlah yang menciptakan mahluk hidup itu, sudah sepatutnya kita menghargai ciptaanNya itu dengan cara tidak menyakitinya. Kita dan monyet punya rumah yang berbeda. Rumah monyet di hutan, kita di kampung atau kota. Kalau kemudian kita merusak rumah monyet , jangan kemudian jadi murka ketika ada monyet yang nyelongong ke rumah kita! Dan janganlah membawa monyet untuk tinggal di rumah kita.

Jumat, 01 Juni 2012

Senangnya Belanja Tanpa Kantong Plastik


Di suatu hari yang cerah saya menemani dua anak saya untuk membeli baju di sebuah mall ternama di Kota Malang. Hal yang membuat semangat saya menemani kedua anak saya itu adalah dari rumah kami sudah menyiapkan tas belanja sebagai pengganti kantong plastik atau tas kresek yang biasa diberikan oleh penjual. Anak saya yang dulunya ‘malu’ jika belanja dengan membawa tas sendiri, kini sepertinya sudah mulai enjoy setelah terus menerusi saya cekokin tentang bahaya sampah plastik.

Dengan riang kamipun berangkat untuk shopping. Setelah capek menemani memilih-milih baju, akhirnya kami pergi ke kasir. Sang kasir menghitung berapa uang yang harus saya keluarkan untuk menebus baju-baju itu, dan petugas di sampingnya mulai mengeluarkan tas kresek ukuran besar untuk tempat baju-baju itu. Saya bilang, “maaf mbak tidak usah pake kantong plastik, kami sudah membawa tas sendiri”. Awalnya kasir itu memandang heran, tapi dia berujar, “wah terima kasih pak, kalau banyak pembeli seperti bapak, kami bisa hemat plastik dong…”. Saya hanya tersenyum mendengar celetukan sang kasir itu.

Nada, anak saya yang tertua, langsung memindahkan barang belanjaan ke tas yang kami bawa. Kamipun meningggalkan mall itu dengan tersenyum, karena kami sudah mencoba berbuat mengurangi sampah plastik. Paling tidak hari itu kami bisa menghemat 5 kantong plastik yang biasanya diberikan oleh penjual. Semua belanjaan kami sudah masuk dalam tas yang bisa dipakai berulang kali. Saya senang dan bangga, karena anak-anak saya mulai memahami artinya “berbuat kecil untuk alam”.

Selasa, 29 Mei 2012

Indahnya Gunung Kelud yang Minim Sampah


Sudah lama saya ingin ke Gunung Kelud, satu-satunya tempat wisata alam di Jawa Timur yang malah belum pernah saya kunjungi. Kesempatan berkunjung ke Gunung Kelud akhirnya terwujud ketika saya bersama teman-teman komunitas motor melakukan petualangan ke gunung yang lagi diperebutkan oleh Kabupaten Kediri dan Blitar itu. Kami memilih perjalanan lewat Ngantang, Kabupaten Malang dengan kombinasi jalan aspal dan offroad yang lewat perkebunan Satak.

Begitu kami memasuki jalan aspal sekitar 5 km dari Gunung Kelud, saya sudah kagum dengan jalan aspalnya yang mulus dan cukup lebar. Sangat jarang tempat wisata alam yang jalannya mulus seperti ke arah Gunung Kelud ini. Begitu sampai di pelataran parkir Gunung Kelud, saya semakin kagum, bukan sekedar karena keindahan alamnya, namun karena di tempat wisata ini sangat minim sampah plastik!

Sejauh ini saya melihat tempat wisata alam selalu dipenuhi dengan sampah plastik, mulai dari bungkus makanan hingga botol minuman kemasan. Sudah jamak ada s sampah plasktik di tempat wisata alam di negeri saya tercinta ini. Hemmm tapi ternyata di Gunung Kelud tidak ada banyak sampah plastik. Bahkan di lahan parkir motor terlihat bersih. Sangat sedap dipandang mata, apalagi dikombinasikan dengan pemandangan alamnya yang indah. Semakin terasa nyaman.

Saya bertanya-tanya dalam hati, kenapa tempat wisata di Gunung Kelud bisa bersih dari sampah? Apakah kesadarannya pengunjungnya sudah sedemikian tingginya, sehingga mereka merasa “haram” membuang sampah sembarangan? Rasa penasaran di benak kepala saya terjawab ketika saya melihat ada petugas yang secara rutin keliling untuk mengambil sampah! Luar biasa, ini baru pengelolaan wisata alam yang benar!

Pengelola wajib menjaga kebersihan dan keindahan alam, karena kalau mengandalkan kesadaran pengunjung saja pasti akan sangat sulit. Soalnya seperti sudah menjadi kebiasan kebanyakan orang bahwa membuang sampah plastik disembarang tempat itu bukanlah aib. Padahal bagi saya membuang sampah semabrangan itu adalah salah satu ciri perliku yang tidak beradab.

Terganggu Suara Musik

Urusan sampah, Gunung Kelud patut diacungi jempol. Tempatnya memang bersih karena ada petugas yang selalu keliling untuk memunggut sampah yang dibuang oleh pengunjung yang tidak punya etika. Namun sayangnya keindahan Gunung Kelud itu “ternodai” dengan hentakan musik yang mengalun keras lewat sound system yang sepertinya sengaja dipasang oleh pengelola. Udara Gunung Kelud yang sejuk dan asrinya pemandangan seperti tercabik-cabik dengan suara keras musik itu. Ini sangat mengganggu sekali.

Kenapa kebanyakan tempat wisata alam (di Jawa) itu selalu ada suara musik yang keras? Bukankah kita pergi ke alam karena memang mau menikmati keindahan, keasrian dan ‘kesunyian’ alam? Kalau untuk mendengarkan musik atau sekedar berjoget, mending dilakukan saja di cafĂ© atau di dalam kamar. Tidak perlu jauh-jauh pergi ke gunung.

Akan asyik sekali jika di tempat wisata alam yang kita dengar adalah suara kicauan burung yang terbang bebas di alam, gemercik air sungai yang menyejukan hati atau hembusan angin yang bikin hati damai. Tapi sayangnya di banyak tempat wiasta alam seperti yang di Gunung Kelud itu justru kami ‘dipaksa’ untuk mendengar musik modern, bukan orkesta alam yang dimainkan oleh burung, angin, air dan binatang liar. Saya merindukan tempat wisata alam yang bersih seperti Gunung Kelud, tetapi tanpa musik!

Minggu, 22 April 2012

Seberapa “Hijau”kah Anda?

Setiap tanggal 22 April banyak orang yang peduli lingkungan memperingati hari itu sebagai hari bumi. Berbagai kegiatan diadakan, mulai dari stop kendaraan bermotor masuk kampus, penghijauan, seminar hingga demonstrasi. Ini bagus untuk mengingatkan kita untuk lebih peduli kepada bu

mi yang menjadi satu-satunya planet yang dihuni manusia. Namun apakah kepedulian terhadap bumi atau alam itu hanya terbatas pada tanggal 22 April saja?

Idealnya hari bumi itu dilakukan sehari-hari, bukan hanya tanggal 22 April. Itu karena setiap hari kita masih berpijak di atas muka bumi. Jika keseharian kita sudah bergaya hidup yang ramah lingkungan, ini jauh lebih bermakna daripada gegap gempita perayaan hari bumi yang hanya dilakukan sehari saja. Untuk mengetahui seberapa jauh kepedulian anda terhadap bumi atau pelestarian alam, coba jawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini;

1. Anda sedang jalan-jalan, kdmudian mau membuang bungkus permen, sementara di tempat tersebut tidak ada tempat sampah, apa yang anda lakukan?
a. Membuang bungkus permen begitu saja
b. Mencoba mencari tempat sampah, namun karena tidak ketemu maka dibuang meskipun tidak di tempat sampah
c. Mengantongi bungkus permen tersebut dan akan dibuang jika ketemu tempat sampah

2. Anda akan membeli buah-buahan, bagaimana biasanya anda membelinya?
a. Membeli buah impor karena lebih bagus kualitasnya dan harga juga tidak beda
b. Membeli buah apapun, baik itu impor ataupun lokal, tanpa pertimbangan apapun
c. Selalu memilih buah lokal

3. Anda mau membeli kerupuk untuk pelengkap makan malam anda, apa yang anda lakukan?
a. Berangkat ke warung/toko, toh nanti sudah akan diberi plastik kresek oleh penjual
b. Membeli kerupuk yang minim bungkus plastik
c. Membawa tempat kerupuk dari rumah

4. Jika tempat kerja atau sekolah anda hanya berjarak sekitar 1 km, bagaimana anda menuju ke tempat tersebut?
a. Naik kendaraan motor pribadi, karena ini efesein dan tidak bikin capek
b. Kadang naik kendaraan motor, kadang jalan kaki/naik sepeda pancal
c. Naik kendaraan umum
d. Selalu jalan kaki atau naik sepeda pancal, kecuali ada hal darurat

5. Anda akan berbelanja baju 3 buah atau lebih di sebuah mall, apa tindakan anda untuk bungkus baju tersebut?
a. Menerima baju tersebut dalam 3 kantong plastic kresek yang berbeda, karena lebih keren dan “untung” karena dapat 3 tas plastic secara gratis
b. Meminta ketiga baju tersebut dimasukan dalam satu kantung plastik
c. Membawa sendiri kantong belanja dari rumah

6. Waktu anda akan membeli produk tertentu, apakah faktor produk tersebut ramah lingkungan menjadi pertimbangan anda dalam membeli?
a. Tidak, yang penting harga cocok dan pas dengan kebutuhan
b. Ya, namun jika harganya terlalu mahal maka saya akan membeli produk lain yang lebih murah
c. Ya, meskipun lebih mahal saya akan tetap membelinya karena itu lebih ramah lingkungan

7. Apakah anda memakai kertas di kedua sisinya (bolak-balik) untuk beberapa pekerjaan anda?
a. Tidak, karena terlihat tidak bagus dan kurang bergengsi
b. Kadang-kadang
c. Ya

8. Apakah anda memelihara satwa liar di rumah sebagai satwa peliharaan dengan alasan karena cinta satw`?
a. Ya
b. Ya, tetapi hanya untuk jenis satwa liar yang tidak dilindungi
c. Tidak

9. Apakah anda pernah menyumbang dana ke organisasi sosial yang bergerak dibidang pelestarian alam?
a. Tidak pernah
b. Pernah
c. Sering

10. Sebuah organisasi sosial mengajak masyarakat untuk menulis surat atau petisi terhadap sebuah kasus eksploitasi alam, apa yang anda lakukan?
a. Tidak mengikuti ajakan tersebut, karena hal ini tidak penting
b. Ikut prihatin, namun tidak ikut menulis karena alasan sibuk
c. Mengikuti ajakan tersebut dengan menulis surat/petisi
d. Mengikuti ajakan tersebut dan menyebarkan ke teman/saudara untuk ikut mendukung juga kampanye tersebut

Jika anda sudah menjawabnya, hitung nilai anda dengan ketentuan kalau pilihan jawaban anda A itu nilainya 5, B = 10, C = 15 dan D = 25. Setelah itu silahkan dijumlah total perolehan nilai anda, dan lihat hasilnya di bawah ini;

Jika total nilai anda:

50 – 95, artinya maaf ternyata kesadaran anda terhadap pelestarian alam itu masih rendah
100 – 115, artinya kesadaran anda terhadap pelestarian alam cukup baik
120 – 130, artinya kesadaran anda terhadap pelestarian alam itu sudah baik
135 ke atas, artinya selamat anda adalah seorang aktivis lingkungan sejati!

Rabu, 11 April 2012

Berilmu Tapi Tidak Peduli.....


Di suatu kesempatan saya bertemu dengan seorang teman yang mengajar di sebuah universitas ternama. Titel teman saya itu sudah doktor, sudah pintar dan berilmu tentunya, khan doktor. Kalau doktor tidak berilmu pasti itu doktor palsu atau mungkin doktor hasil membeli titel yang dikeluarkan oleh universitas antah berantah.
Layaknya teman, kami ngobrol ngalor ngidul di sebuah cafe yang ada di sebuah kampus.

Tak lama kemudian datang dua orang lagi yang ikut nimbrung. Dua orang ini juga bergelar doktor, malah lulusan Jepang. Wah top, syukurlah semakin banyak doktor di negeri saya ini. Hebatnya lagi para doktor yang ngobrol sama saya itu mengambil topik yang berhubungan dengan lingkungan. Diskusi kamipun semakin hangat, membahas aneka topik terkini terkait dengan isu alam di tanah air.

Seorang doktor yang kepalanya sudah terlihat botak, meskipun usianya tidak terpaut jauh dengan saya, itu dengan berapi-api ngomong, “hutan kita ini semakin berkurang tiap hari, ini adalah sebuah bencana yang kita tanam yang siap meledak suatu ketika!” Teman saya turut menimpali, “ya itu mengenaskan, apalagi berkurangnya hutan itu juga mempengaruhi keanekaragaman hayati, ada banyak spesies yang turut punah”.

Teman saya dan temannya teman saya itu saling beragumen soal masalah kelestarian hutan dan isinya. Berbagai teori ekologi dikemukakan. Beberapa hasil penelitian yang diterbitkan di jurnal ilmiah juga dikutip. Pendapat para ahli dunia juga dibahas dan dikritisi. Saya hanya menyimak dan sekali-kali menimpalinya. Maklum ini diskusi kelas doktor, jelas saya harus menyimak dong,karena yang ngomong adalah orang yang berilmu, lulusan luar negeri pula.

Tiba-tiba salah seorang dari 3 orang doktor itu bertanya ke saya, “kalau menurut Mas Rosek gimana dengan situasi hutan Indonesia yang semakin tidak karuan ini. Mestinya mas Rosek dan ProFauna khan bisa protes ke pemerintah”. Teman saya sambil menghisap dalam-dalam rokoknya ikut menambahi, “sangat sayang kalau hutan dan spesies unik yang ada di dalamnya itu hilang, ini khan teramat merugikan buat negara dan masyarakat”. Sambil membuang putung rokok di bawah meja, teman saya itu ngomong lagi, “dunia ilmu pengetahuan juga akan dirugikan jika plasma nutfah yang ada di hutan itu hilang”.

Saya terdiam. Ketiga doktor itu memandang penasaran ke saya, koq ditanya malah diam seribu bahasa. “He jangan ngelamun, apa komentarmu?” kata teman saya sambil telapak tangannya digerak-gerakan di depan mata saya. Akhirnya saya ngomong, “memang soal hutan dan isinya itu rumit, dan kita tidak bisa sekedar menyalahkan pemerintah saja. Justru yang juga harus disalahkan itu adalah kaum pendidik, termasuk sampeyan yang sudah bergelar doktor!”

Ketiga orang doktor di depan saya itu bengong, tapi saya terus nyerocos. “Dunia pendidikan patut turut bertanggung jawab atas degradasi hutan dan keanekaragaman hayati. Memang tentang hutan, spesies, ekologi dan tetek bengeknya itu diajarkan di sekolah dan kampus. Tapi itu terbats hanya pada pengenalan dan ilmu saja. Ilmu bahwa ada keseimbangan ekologi, ada peristawa makan memakan, ada peristiwa suksesi ekologi, ada interekasi spesies dan sebagainya. Tetapi satu hal yang justru tidak disentuh ketika kita belajar soal ekologi yaitu soal penanaman etika atau moral. Ini sangat jarang ditekankan, padahal soal etika inilah yang bisa menjadi pengerem soal “ketamakan” manusia akan alam.

Justru yang terjadi kemudian para doktor itu mencetak sarjana biologi atau kehutanan yang memang mahir ketika bicara teori. Para sarjana itu punya ilmu mumpuni kalau bicara soal ekologi atau konservasi alam. Namun sayangnya mereka yang berilmu ini justru punya etika yang rendah alias punya kepedulian yang minim bila bicara soal aksi untuk menyelamatkan alam. Sebaliknya mereka berbondong-bondong kalau perlu nyogok untuk bisa bekerja di perusahaan yang justru merusak hutan. Atau mereka dengan bangga menjadi konsultan perusahaan yang nyata-nyata merusak alam. Mereka tidak malu melakukan itu, tapi justru bangga karena mereka telah jadi orang “sukses”, dengan tolak ukur melimpahnya rupiah.

Kemudian, berapa banyak sih dotor atau dosen di Indonesia yang punya ilmu mumpuni soal ekologi itu mau turut berpatisipasi dalam penyelamatan alam? Jumlahnya bisa dihitung dengan jari dalam satu propinsi. Saya berulang kali mencoba mengajak para orang berilmu itu untuk berpartisipasi dalam upaya konservasi alam, paling tidak dengan menyumbangkan ide atau gagasan. Saya tidak mengajak para doktor itu untuk ikut turut ke jalan melakukan protes atas maraknya illegal logging misalnya, saya hanya minta mereka peduli dengan membuat opini atau tulisan yang pro konservasi. Itupun sulitnya, sesulit ketika zaman mahasiswa waktu mau mencari dosen untuk konsultasi penelitian.

Susahnya minta ampun mengajak para “empunya” kampus itu untuk terlibat dalam upaya konservasi alam. Alasannya selalu satu yaitu sibuk! Hemm kalau kita bicara soal sibuk, semua orang juga punya kesibukan masing-masing. Mungkin para doktor itu memang sibuk mengejarkan aneka proyek bernilai ratusan juta rupiah atau milyaran, walaupun atas nama proyek akhirnya mahasiswanya jadi terlantar. Dosennya lebih sering di luar mengerjakan proyek, daripada di kampus untuk mengajar.

Kalaupun para doktor itu enggan itu “terlibat” dalam penyelamatan alam secara lansgung, paling tidak mereka bisa memainkan peran di lingkup kampusnya. Peran itu adalah menanamkan dan mengajarkan etika terhadap alam kepada mahasiswanya. Mahasiswa jangan hanya dijejali dengan ‘ilmu” saja, tapi juga perlu dipoles “moral”nya, karena ini sangat penting untuk membentuk ketika mereka nanti lulus. Apakah mereka menjadi sarjana “pro konservasi” atau sarjana “pro eksploitasi”.

Mahasiswa jangan hanya dipaksa untuk lulus cepat dengan nilai tinggi, padahal setelah lulus juga banyak yang jadi pengangguran.Mahasiswa jangan hanya disuapi teori-teori belaka, namun perlu ke lapangan untuk mengetahui kondisi nyata tentang alam kita yang semakin carut marut. Mahasiswa jangan hanya dininabobokan dengan proyek dosen yang menggiurkan, yang membuat mahasiswa jadi manja dan tidak kreatif.

Terus apakah bapak-bapak atau ibu-ibu yang berilmu tinggi itu sudah punya etika terhadap alam? Hemmm masih jauh dari harapan. Doktor teman saya itu masih enak aja dengan tanpa rasa bersalah membuang putung rokoknya sembarangan. Doktor yang satunya itu mengkoleksi burung berkicau yang sebagian besar hasil tangkapan dari hutan. Doktor yang satunya lagi malah dengan bangga menjadi konsultan sebuah perusahaan yang nyata-nyata mempunyai kontribusi besar terhadap kerusakan alam. Dimana letak kepeduliannya terhadap pelestarian alam?

Sambil memandang tajam ketiga doktor yang terbengong-bengong dengan cerocosan saya, saya ngomong lagi, “mudah bagi ProFauna itu melakukan protes ke pemerintah soal kerusakan hutan atau degradasi keragaman hati.Kami juga bisa edukasi masyarakat soal ini dengan masuk ke kampung atau sekolah. Kami juga bisa sebarkan himbauan ini ke ribuan supporter ProFauna di seluruh dunia. ProFauna juga amatg mudah untuk menggelar demonstrasi misalnya. Nah terus apa yang bisa bapak lakukan sebagai orang yang berilmu untuk membantu ProFauna?”

Ketiga doktor itu terdiam, terus tertawa sambil menepuk-nepuk pundak saya. “Pasti kami akan siap bantu dan mungkin bisa bekerja sama dengan universitas kami”, kata teman saya. Saya tersenyum dengan omongan para doktor itu. Waktu berlalu dan sudah 3 tahun sejak pertemuan saya dengan doktor itu. Hasilnya, mereka sudah tidak pernah nongol di depan saya, bahkan sudah tidak pernah sms saya lagi.

Selasa, 27 Maret 2012

Tips Memilih Sepatu Trekking



Jalan-jalan ke alam atau yang sering disebut trekking itu memang mengasyikan. Bukan saja kita bisa menikmati indahnya alam ciptaan Sang Maha Kuasa, namun ini juga menyehatkan. Menyehatkan karena tubuh kita bergerak, mulai dari kaki, tangan hingga badan, dan juga sehat karena kita menghirup udara segar di alam.

Olah raga trekking itu boleh dibilang olah raga yang murah meriah dan mudah. Semua orang bisa melakukannya, asal punya kemauan. Satu-satunya peralatan yang relative mahal itu hanyalah sepatu. Bisa saja kita trekking dengan sepatu apapun, namun jika anda memperhatikan faktor kenyamanan dan keamanan, maka perlu memilih sepatu trekking yang pas untuk anda. Salah pilih sepatu, kaki malah bisa lecet atau keseleo. Maunya jalan-jalan menikmati alam, ehh malah tersiksa gara-gara sepatu yang tidak layak untuk trekking.

Sepatu trekking yang baik, paling tidak mempunyai lima syarat, antara lain:
• Melindungi kaki
• Memberikan kenyamanan dalam perjalanan
• Menyerap keringat kaki
• Tahan lama
• Cepat kering jika basah

Berikut tips-tips memilih sepatu trekking yang nyaman dan aman sebagai teman setia perjalanan anda di alam bebas:

Ukuran dan Pola. Pilih sepatu yan sesuai dengan pola kaki anda, karena ada kaki yang polanya melebar di ujungnya dan ada juga menyempit. Mungkin ukuran sepatunya boleh sama, tetapi pola ujungnya bisa berbeda dan ini akan berpengaruh terhadap kenyamanan. Jangan beli sepatu yang ukurannya ‘press’ dengan kaki, beli yang agak longgar, tetapi jangan sampai kedodoran. Ingat anda nanti akan pakai kaos kaki, jadi akan lebih baik jika beli sepatu itu dicoba dengan memakai kaos kaki.

Bahan Sepatu. Pilih bahan sepatu yang bisa menyerap keringat, tahan air dan kuat. Sepatu karet itu bukan untuk trekking, karena tidak ada pori-pori yang bisa menyerap keringat. Sepatu karet juga bisa membuat kaki anda lecet bahkan melepuh! Bahan sepatu yang tahan air namun bisa bernafas itu seperti gor-tex atau sympatex. Sepatu campuran kulit dan nylon juga cukup baik, karena biasanya ringan. Sepatu olah raga (sport) itu juga bukan sepatu trekking, memang terasa ringan, namun sepatu jenis ini tidak melindungi dengan baik kaki anda ketika trekking di alam bebas. Sol sepatu olah raga juga cenderung licin ketika dipakai di tanah hutan.

Tinggi dan berat sepatu. Pilihnya sepatu trekking yang ringan bobotnya, karena ini akan enak untuk berjalan dan hemat energy. Idealnya sepatu trekking itu tingginya menutupi mata kaki, karena ini lebih aman dari ranting, duri atau batu. Namun sepatu trekking yang tinggi cenderung agak berat dibandingkan yang pendek. Kalau trekking anda kebanyakan hanya trekking pendek, misalnya hanya setngah hari, dan medan yang dilalui juga tidak berat, maka sepatu trekking yang pendek akan sangat enak dipakai. Namun jika anda trekking-nya jauh atau lebih dari sehari, dengan medan yang berat (di dalam hutan), maka lebih baik jika ketinggian sepatunya itu di atas mata kaki.

Jika anda lebih banyak trekking di gunung atau di tempat yang dingin, lebih baik anda beli sepatu trekking yang tingginya menutupi mata kaki, karena ini akan membantu menghangatkan kaki.

Sol sepatu. Pilih sepatu yang solnya bergerigi dengan bahan karet campuran karena ini punya daya cengkeram yang baik di tanah.

Jika anda sudah membeli sepatu trekking idaman, jangan langsung dipakai di jalur trekking! Coba dulu pakai di seputar rumah anda untuk adaptasi. Sebelum dipakai, coba dibuat jongkok dan jinjit berulang kali. Jika sepatunya dari bahan kulit, coba kulitnya dibasahi bagian luarnya dan pakai jalan-jalan ringan hingga kering. Jika kaki anda sudah adaptasi dengan sepatu baru itu, maka silahkan melahap jalur trekking sepuasnya. Selamat ber-trekking-ria!

Selasa, 20 Maret 2012

Mungkinkan Pesta Pernikahan Tanpa Sampah Plastik?


Bulan Maret ini bulan orang punya hajat, baik itu kawinan atau sunatan. Sayapun harus menyisihkan waktu untuk menghadiri undangan kawinan beberapa sahabat, kolega dan juga karyawan yang kerja di P-WEC. Layaknya sebuah hajatan yang mengundang orang banyak, pasti ramai dan banyak kuenya. Saya selalu bersemangat menghadiri hajatan terutama di kampung, karena biasanya masih menemukan makanan tradisional khas pedesaan semacam kripik rengginang, tape ketan, kue bikang, tetel dan lain-lain.

Makanan tradisional itu memang masih disajikan di hajatan yang saya hadiri. Tapi ada yang berbeda dengan kemasannya. Sekarang semuanya dibungkus dengan plastik. Kue bolu dibungkus plastik. Kerupuk dibungkus plastik. Setiap kue bikang kegemaran saya itu dibawahnya dikasih plastik sebagai pemanis. Lemper yang biasanya dibungkus daun pisang itu kini juga dibungkus palstik yang motifnya mirip daun pisang. Minuman yang disajikanpun adalah minuman gelas plastik.

Ketika saya menengok ke bawah, hiiii banyak sekali sampah plastik bekas pembungkus makanan yang berserakan. Menjadi tidak sedap dipandang dan menghilangkan selera makan saya. Memang sangat jarang empunya hajat itu menyediakan tempat sampah, jadi sampah plastik ya dibuang begitu saja di lantai. Karena musim hujan, sampah plastik yang masih mengandung sisa-sisa makanan itu juga jadi santapan lalat-lalat yang turut berpesta.

Ketika saya meninggalkan lokasi hajatan, istri saya dikasih oleh-oleh kue yang dibungkus tas kresek. Aduhh jadi serba plastik nih. Mana lemper yang lezat yang dulu dibungkus daun pisang yang membuat cita rasanya jadi beda? Kenapa sekarang semuanya harus serba plastik? Industri plastik ternyata sudah “menjajah” hingga kawinan di pedesaaan bahkan dusun di tepi hutan. Memang menggunakan plastik lebih praktis, hemmm tapi ini tidak baik untuk alam. Plastik butuh waktu ratusan tahun untuk hancur.

Katakanlah ada 1000 undangan yang hadir di sebuah hajatan kawinan, dan semuanya diberi oleh-oleh kue yang dibungkus tas kresek, maka setidaknya ada 1000 tas kresek, tapi yang pasti lebih dari itu. Kemudian ada berapa ribu kue yang disajikan yang dibungkus plastik? Dalam satu desa saja dalam sebulan ada sedikitnya 5 orang yang punya hajat. Kalau masing-masing dihadiri 1000 orang berarti ada 5000 orang yang memperoleh “hadiah” tas kresek. Dan ada puluhan ribu bungkus plastik untuk mengemas kue yang disajikan.

Persoalannya adalah dikemanakan nasib puluhan ribu plastik bekas pembungkus kue itu? Ada yang dibuang begitu saja di belakang rumah atau di jalanan. Ada yang dibuang di sungai. Ada juga yang dibakar. Ada juga yang tidak jelas juntrungannya.
Saya bicara ke Suwarno, staf P-WEC, yang ikut menghadiri sebuah hajatan kawinan bersama saya. Suwarno yang masih bujang itu saya tantang, “ayo bisa ngak nanti kalau kamu menikah itu tidak ada sampah plastiknya?” Suwarno hanya manggut-manggut saja, tidak ada komentar. Semoga saja tantangan saya itu diterima dan dibuktikan bahwa dia bisa punya hajat yang mengundang banyak orang tapi tanpa sampah plastik, atau setidaknya minim sampah plastik.

Saya juga ngomong ke Suwarno, mestinya di hajatan kawinan itu ada tempat sampahnya. Juga ada orang yang bertugas memunggut sampah yang berceceran di lantai. Jangan hanya ada petugas khusus yang menerima uang dari undangan saja, tapi perlu ada petugas yang bertanggung jawab untuk kebersihan TKP (Tempat Kejadian Pernikahan).

Tapi bisa ngak ya semua itu dilakukan? Saya tidak bisa menjawabnya karena waktu saya nikah itu sama sekali tidak ada pesta resepsi, jadi ya tidak ada sampah plastiknya. Semoga staf P-WEC atau ProFauna yang masih bujang yang berniat mengadakan pesta pernikahan itu bisa mewujudkan mimpi saya, mimpi akan pesta kawinan yang minim sampah plastik. Mimpi akan “green wedding”.

Senin, 19 Maret 2012

Jangan Malu untuk Peduli Lingkungan


Jam makan malam tiba. Sambal pedas campur ikan asin kesukaan saya sudah terhidang di atas meja, hemm lezat sekali kelihatannya. Upps tapi ada yang kurang, mana kerupuknya? Sayapun memanggil Nada, anak saya, untuk membeli kerupuk di warung sebelah. Nada saya kasih uang dan toples (wadah kerupuk) kosong, saya bilang, “tolong beli kerupuk dan ini wadah kerupuknya”.

Anak saya yang beranjak gede itu protes, “wah malu pak, masak beli kerupuk bawa toples, khan nanti sama penjualnya udah dikasih kresek?”. Setelah sedikit berdebat, akhirnya anak saya itu berangkat juga ke warung. Tapi tidak sampai 10 detik, dia udah balik. “Malu pak kalau beli bawa tempat ini, udah saya pakai plastik kersek bekas aja ya, jadi tidak perlu penjualnya ngasih tas kresek baru”, rengek Nada. Ok deh tercapai kata sepakat. Nadapun berangkat beli kerupuk, sayapun bisa menyantap sambal ikan asin plus kerupuk yang sedappppp.

Masalah beli kerupuk itu mengganjal hati saya. Ternyata untuk berbuat baik bagi lingkungan, dengan mengurangi plastik, itu susahnya minta ampun. Kita sudah terdoktrin selama bertahun-tahun bahwa belanja itu yang keren ya dibungkus kantong plastik. Apalagi tas plastiknya ada merk toko atau mall-nya, jadi kelihatan kalau habis belanja gitu.

Padahal plastik itu butuh ratusan tahun untuk hancur secara alami. Ada jutaan ton kantong plastik yang terbuang jadi sampah setiap harinya, dan itu sebagian besar itu dari aktivitas belanja. Baik itu belanja tempe, tahu, ikan asin, sepatu, baju atau makanan ringan. Semuanya dibungkus plastik. Bahkan lontong yang dijual tukang baksopun kini dibungkus plastik, tidak lagi pakai daun pisang. Ngeri banget makan lontong yang dibungkus plastik, berapa banyak tuh racun yang turut kita makan bersama lontong?

Setelah kasus belanja kerupuk itu, keesokan harinya saya ngobrol santai dengan istri dan dua anak saya. Saya bicara soal sampah plastik. Saya kasih pengertian kepada kedua anak saya akan bahayanya sampah plastik, makanya kenapa kita mengurangi penggunaan kantong plastik. Untungnya kedua anak saya itu bisa mengerti, dan nanti siap beli kerupuk lagi tanpa tas kresek, cukup bawa wadah sendiri. Ini baru anak manis!

Peduli terhadap lingkungan itu mudah tapi susah. Lho koq gitu? Ya mudah karena sebetulnya bisa kita lakukan dengan cara sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti tidak membuang sampah sembarangan atau mengurangi tas kresek. Yang bikin susah itu adalah melawan “kebiasaan umum” yang menganggap buang sampah sembarangan itu adalah hal biasa. Yang menganggap memakai kantong plastik berlapis-lapis itu malah keren. Yang berpikiran buang putung rokok di jalanan itu bukan hal yang tabu.
Perilaku “menyimpang” di masyarakat yang kemudian diamini oleh massa itu yang sulit untuk dihadapi. Sehingga ketika kita mau berbuat baik dengan belanja tanpa tas kresek, justru ini dianggap aneh dan “menyimpang”. Padahal ini baik, cuma karena ini masih menjadi perilaku minoritas, maka sesuatu yang baik itu dianggap aneh bin ajaib.

Jangan malu untuk berbuat yang baik untuk alam yang kita tempati ini. Jangan malu untuk peduli. Justru yang malu-maluin itu adalah orang yang tidak peduli. Mungkin anda ditertawakan atau dicibir karena dianggap sok peduli, namun kalau bukan mulai dari diri sendiri yang peduli, sampai kapan masyarakat dan pemerintah akan peduli? Karena masyarakat itu adalah kumpulan dari individu-individu. Kalau banyak individu yang peduli akan lingkungan maka akan terbentuk masyarakat yang peduli. Makanya, jangan malu jadi orang yang peduli terhadap kelestarian lingkungan, justru anda patut bangga!

Senin, 27 Februari 2012

Darah Segar ProFauna Bali


Awal tahun 2012 ini ProFauna Bali betul-betul ‘menggebrak’ alias tancap gas dengan seabrek kegiatan. Akhir Februari ini saya ikut merasakan gebrakan ProFauna Bali waktu mereka melakukan kampanye menentang perdagangan penyu di Bali. Kampanyenya unik dan mengundang banyak perhatian kawan-kawan wartawan. Hasil positifnya, sehari setelah aktivis ProFauna demo, BKSDA Departemen Kehutanan langsung menyita cinderamata yang mengandung sisik penyu yang dijual di Tanjung Benoa, Bali.

Saya senang bukan kepalang melihat dan merasakan ‘sepak terjang’ ProFauna Bali yang kini dikoordinir sahabat lama saya, Wita yang dokter hewan itu. Saya merasakan semangat yang luar biasa di ProFauna Bali yang pernah saya rasakan di awal-awal ProFauna aktif di Bali sepuluh tahun silam.

Saya melihat semakin aktifnya ProFauna Bali ini karena faktor ‘darah segar’ yang disuntikan di tubuh ProFauna Bali. Darah segar itu adalah Wita, Jatmiko, dan supporter ProFauna Bali yang baru masuk awal tahun ini. Wita memang bukan orang baru di ProFauna, karena dia sudah gabung di ProFauna sejak 12 tahun yang lalu. Namun Wita membawa angin semangat baru karena dia orangnya yang aktif, penuh semangat dan tidak takut untuk mencoba sesuatu.

Darah segar lainnya adalah rombongan Supporter ProFauna Bali yang mendaftar di awal tahun 2012 ini. Mereka kebanyakan adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan dan Biologi, Universitas Udayana yang tentunya lebih punya banyak waktu untuk bisa membantu ProFauna secara fisik. Maklum selama ini Supporter ProFauna yang ada di Bali itu adalah kaum pekerja yang susah untuk ikut terlibat dalam kegiatan ProFauna semacam demo atau kampanye. Nah masuknya pasukan mahasiswa di tubuh ProFauna Bali ini betul-betul menjadi ‘darah segar’ buat proFauna. Ada Deny, Sasha, Anggar dan lainnya.

Semoga ‘darah-darah segar’ di ProFauna Bali semakin bertambah dan mengalir dengan deras. Ayo semangat untuk aktivis ProFauna di Bali!