Senin, 27 Februari 2012

Darah Segar ProFauna Bali


Awal tahun 2012 ini ProFauna Bali betul-betul ‘menggebrak’ alias tancap gas dengan seabrek kegiatan. Akhir Februari ini saya ikut merasakan gebrakan ProFauna Bali waktu mereka melakukan kampanye menentang perdagangan penyu di Bali. Kampanyenya unik dan mengundang banyak perhatian kawan-kawan wartawan. Hasil positifnya, sehari setelah aktivis ProFauna demo, BKSDA Departemen Kehutanan langsung menyita cinderamata yang mengandung sisik penyu yang dijual di Tanjung Benoa, Bali.

Saya senang bukan kepalang melihat dan merasakan ‘sepak terjang’ ProFauna Bali yang kini dikoordinir sahabat lama saya, Wita yang dokter hewan itu. Saya merasakan semangat yang luar biasa di ProFauna Bali yang pernah saya rasakan di awal-awal ProFauna aktif di Bali sepuluh tahun silam.

Saya melihat semakin aktifnya ProFauna Bali ini karena faktor ‘darah segar’ yang disuntikan di tubuh ProFauna Bali. Darah segar itu adalah Wita, Jatmiko, dan supporter ProFauna Bali yang baru masuk awal tahun ini. Wita memang bukan orang baru di ProFauna, karena dia sudah gabung di ProFauna sejak 12 tahun yang lalu. Namun Wita membawa angin semangat baru karena dia orangnya yang aktif, penuh semangat dan tidak takut untuk mencoba sesuatu.

Darah segar lainnya adalah rombongan Supporter ProFauna Bali yang mendaftar di awal tahun 2012 ini. Mereka kebanyakan adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan dan Biologi, Universitas Udayana yang tentunya lebih punya banyak waktu untuk bisa membantu ProFauna secara fisik. Maklum selama ini Supporter ProFauna yang ada di Bali itu adalah kaum pekerja yang susah untuk ikut terlibat dalam kegiatan ProFauna semacam demo atau kampanye. Nah masuknya pasukan mahasiswa di tubuh ProFauna Bali ini betul-betul menjadi ‘darah segar’ buat proFauna. Ada Deny, Sasha, Anggar dan lainnya.

Semoga ‘darah-darah segar’ di ProFauna Bali semakin bertambah dan mengalir dengan deras. Ayo semangat untuk aktivis ProFauna di Bali!

Minggu, 12 Februari 2012

Aktivis Lingkungan Sejati


Setiap ada pertemuan dengan aktivis ProFauna saya merasa senang, karena selalu saja ada hal baru yang memompa semangat saya untuk terus berbuat bagi kelestarian alam. Saya selalu mendapatkan inspirasi dan suntikan motivasi. Hal itu kembali saya rasakan ketika menghadiri pertemuan Supporter ProFauna Indonesia se-Jawa Timur yang diadakan pada tanggal 12 Februari 2012 di Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC), Malang.

Pertemuan Supporter ProFauna ini terbilang spesial, karena yang diundang hanyalah Supporter ProFauna yang profesinya pekerja alias yang statusnya bukan mahasiswa atau pelajar. Dari database menunjukan ternyata Supporter ProFauna itu yang profesinya mahasiawa hanya 40%, selebihnya adalah kelompok pekerja dengan latar belakang beragam. Mulai dari guru, dosen, seniman, wartawan, PNS, politikus, usahawan, karyawan hingga polisi, semuanya ada di ProFauna.

Kalau Supporter ProFauna yang statusnya mahasiswa sih itu lebih mudah untukmengumpulkannya, soalnya waktu mereka lebih bisa “diatur”, termasuk diatur untuk membolos kuliah. Nah yang profesinya pekerja ini yang sangat sulit untuk dikumpulkan dalam satu tempat, dalam satu waktu. Soalnya kesibukannya begitu beragam, belum lagi urusan keluarga.

Makanya saya senang sekali di pertemuan hari Minggu itu lumayan banyak Supporter ProFauna di Jawa Timur yang hadir. Paling tidak mewakili 4 kota yang berbeda yaitu Probolinggo, Sidoarjo, Malang dan Kediri. Yang datangpun beragam profesinya, ada guru, dosen, illustrator, wartawan, wiraswasta, marketing, wartawan hingga sinder di perkebunan.

Pertemuan yang dirancang santai dan lebih banyak sharing ini berlangsung gayeng, meskipun agak molor waktunya karena nunggu rombongan dari Sidoarjo yang terjebak macet. Yang bikin saya terharu dan berdecak kagum adalah ketika beberapa Supporter ProFauna berbagi cerita tentang apa yang mereka lakukan untuk membawa ‘spirit’ ProFauna di lingkungan kerja mereka.

Maman, seorang sinder (asisten manajer) di sebuah perkebunan di Jawa Timur, menuturkan kalau di perkebunan dia membuat peraturan untuk melarang perburuan satwa liar di area perkebunannya. Maman yang tubuhnya kecil itu juga memasang sejumlah papan pelarangan perburuan dengan biayanya sendiri. Dia juga secara perlahan mengedukasi masyarakat sekitar perkebunan soal pelestarian hutan dan satwa liar.

Hebatnya, Maman melakukan itu dengan biaya sendiri. Dia tidak mendapatkan dana dari ProFauna atau dari lembaga donor manapun. Yang terjadi justru sebaliknya, malah Maman sering menyumbang hasil kebunnya untuk ProFauna. Seperti di pertemuan ini dia menyumbang teh dan kopi yang luar biasa nikmatnya (nikmat bukan karena gratis lho, tapi memang benar-benar mantap tehnya).

Lain lagi cerita dari Kota Sidoarjo. Setidaknya ada dua orang aktivis ProFauna yang menonjol yang berasal dari kota udang itu, mereka adalah sepasang suami istri, Zamroni dan Ida. Keduanya adalah guru yang juga punya lembaga pendidikan kursus bahasa Inggris.

Zamroni dan Ida begitu aktif menanamkan nilai-nilai pelestarian alam ke anak didiknya. Secara rutin mereka membawa siswanya ke alam untuk ‘praktek’. Lokasinya tidak perlu jauh-jauh, cukup ke hutan bakau yang ada di daerah Sidoarjo. Mereka juga sering memutar film konservasi satwa di lingkungan lembaga pendidikannya. Kegiatan mereka yang awalnya dicibir, kini mulai diapresiasi. Hasilnya, secara perlahan semakin banyak siswa dan tenaga pengajar di lembaga pendidikan mereka yang menjadi Supporter ProFauna!

Cara serupa juga dilakukan oleh Daniel, seorang dosen di Universitas Ma Chung Malang. Daniel yang juga salah satu advisory board ProFauna itu secara rutin mengundang ProFauna untuk ‘ceramah’ tentang konservasi alam untuk mahasiswa di kampusnya. Tidak cukup mengundang ProFauna, Daniel juga memberi tempat bagi ProFauna untuk promosi di Ma chung dengan memasang ProFauna Corner, semacam majalah dinding yang bisa dibaca oleh mahasiswanya.

Selain gentol promosi konservasi alam di kampusnya, Daniel juga mengedukasi keluarganya. Istri dan anaknya sejak lama fabung menjadi Supporter ProFauna. Mereka juga sering satu keluarga ikut kegiatan ProFauna. Bahkan Daniel sekali-kali juga ikut turun ke jalan bersama aktivis ProFauna lainnya untuk memprotes eksploitasi satwa liar dan hutan. Jarang lho ada dosen mau turun ke jalan, ikut demo!

Mendengar dan ngobrol dengan Supporter ProFauna seperti Maman, Zamroni, Ida, Daniel dan juga lainnya itu membuat saya ‘merinding’. Mereka telah berbuat dan melakukan sesuatu untuk pelestarian alam dalam tingkat grass root. Kegiatan mereka memang tidak bergaung secara nasional dan juga tidak diliput TV. Namun kegiatan mereka itu begitu efektif.

Lebih dahsyat lagi, mereka melakukan itu dengan penuh ketulusan dan kesadaran, tanpa dibayar. Mereka tidak pernah memikirkan pujian ataupun penghargaan. Ida bilang ke saya, “bagi kami ini adalah ibadah, karena hidup itu tidak hanya mencari uang”. Hemm dahsyat sekali. Merekalah sebetulnya aktivis lingkungan sejati! Aktivis sejati adalah berjuang tanpa pamrih, tapi karena dorongan hati.

Aktivis lingkungan sejati adalah orang yang berbuat untuk pelestarian lingkungan karena bukan alasan adanya tawaran dana dari lembaga donor. Bukan karena adanya dana dari pemerintah. Bukan karena supaya masuk koran dan TV. Dan juga bukan untuk kepentingan politik dan jabatan. Tapi karena mereka peduli dan tulus.

Kadang saya sedih dan muak dengan aktivis oportunis. Dulu punya teman yang gentol bicara soal pelestarian satwa liar dan hutan. Gayanya seperti aktivis top. Eh belakangan saya dengar dia sudah bekerja di perkebunan sawit yang dulu ditentangnya mati-matian!

Ada lagi orang yang dulu pernah gabung di ProFauna. Awalnya terlihat bagus dan semangat. Dua tahun yang lalu kemudian dia keluar dari ProFauna, eh sebulan yang lalu dapat kabar kalau dia dituding ‘menilep’ alias korupsi dana dari sebuah lembaga donor. Memalukan dan memilukan!

Saya kagum dan hormat dengan Supporter ProFauna yang tulus seperti Maman, Zamroni, Ida dan Daniel yang telah berbuat sesuatu dengan nyata. Semoga saja semakin banyak orang-orang seperti mereka ini, karena mereka adalah aktivis lingkungan sejati! Dan saya bangga karena mereka adalah aktivis ProFauna!

Kamis, 09 Februari 2012

Bersama Melanie Subono


Awal Februari 2012 saya menemani Melanie Subono melakukan program kampanye pelestarian satwa liar di Malang. Melanie Subono penyani yang juga aktivis ProFauna itu mengunjungi SMA 10 Malang dan radio Pro 2 FM. Di kedua tempat itu Melanie dengan piwainya ngomong soal alam, hutan dan juga satwa liar.

Saya selalu senang ketika bersama Melanie. Orangnya ramah, kadang ceplas ceplos, tapi terlihat penuh empati. Selain sama-sama peduli akan alam, satu kesamaan saya dan Melanie adalah sama-sama suka musik rock. Obrolan kami jadi nyambung. Di sela-sela ngobrol soal ProFauna, diselipin obrolan tentang rencana konser Judas Priest atau gosipin jadi ngak Metallica konser di Indonesia. Obrolan yang asyik dan hangat.

Melanie selalu cepat dan tanggap menjawab setiap pertanyaan. Melanie juga punya kemampuan untuk “mempengaruhi” orang, tentunya untuk hal yang positif. Saya bisa melihat kecerdasan dalam sosok Melanie Subono. Dia enteng saja menjawab pertanyaan seorang siswa yang bertanya, “kenapa sih kita harus peduli dengan satwa langka?”. Melanie dengan cekatan menjawab, “Gue percaya Tuhan menciptakan setiap mahluk hidup atau sesuatu itu pasti ada fungsinya, dan itu membuat alam jadi seimbang”. Hemm jawaban yang cerdas.

Thanks untuk Melanie atas keramahan, kepedulian dan dukungannya ke ProFauna Indonesia!

Ayo Wisata yang Ramah Lingkungan!


Begitu liburan tiba, ada banyak orang yang juga sibuk menyiapkan liburannya dengan wisata bersama orang tersayang. Hemm pasti menyenangkan, setelah ujian sekolah dan kepenatan bekerja, hari-hari berikutnya diisi dengan berwisata bersama keluarga. Apalagi kalau wisatanya dilakukan di tempat-tempat alami, pasti akan semakin menambah segarnya badan dan jiwa.

Tapi ternyata berwisata juga punya potensi untuk “merusak” alam, meskipun berwisatanya tidak pergi ke alam. Lho koq bisa sih? Bisa dong, karena perilaku kita dalam berwisata juga bisa memperparah kerusakan bumi yang jadi rumah kita. Wah jadi berabe khan, kalau bumi yang merupakan tempat satu-satunya kita berpijak ini jadi rusak?

Agar wisata atau liburan kita tidak semakin memperparah kerusakan bumi/alam, coba deh simak tips-tips berwisata yang ramah lingkungan yang dipublikasdikan oleh Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC), sebuah pusat pendidikan konservasi alam yang ada di Malang. Tips-tips wisata ramah lingkungan tersebut bisa dilihat di link berikut: http://www.p-wec.org/id/go-green/tips-berwisata-ramah-lingkungan

Selamat berwisata yang ramah lingkungan!

Terlalu Manis untuk Dilupakan....


“terlalu manis, untuk dilupakan…….”

Penggalan lirik lagu Slank yang popular itu mengalun merdu dari Kaka diikuti koor ratusan orang yang berjubel di kantor Gubernur Maluku Utara. Gubernur dan tokoh masyarakat Maluku Utara yang hadir juga turut mengangguk-anggukan kepalanya mengikuti irama lagu yang dinyanyikan Slank. Ini bukan sebuah konser musik biasa, karena momen ini memang terlalu manis untuk dilupakan begitu saja seperti lagu yang dinyanyikan Kaka sang vokalis Slank itu.

Di pertengahan April lalu Slank melonggarkan waktunya untuk sambang ke Sofifi di Pulau Halmahera yang berjarak 1 jam dari Ternate dengan motor boat. Kedatangan Slank di ibukota Maluku Utara itu bukan untuk konser musik, melainkan untuk kampanye pelestarian burung nuri dan kakatua bersama ProFauna. Memang dalam kampanye itu Slank sempat menyanyikan 5 lagu, salah satunya “terlalu manis”, namun itu hanyalah sekedar pelengkap. Inti kedatangan Slank adalah untuk memberikan perhatian, empati dan kepedulian tentang burung nuri dan kakatua di Maluku Utara yang semakin terancam punah.

Slank yang merupakan kelompok musik papan atas dan super sibuk itu masih mau datang ke Maluku Utara “hanya” untuk nuri dan kakatua. Bukanlah perkara mudah untuk mengajak Slank ke Maluku di tengah kesibukan mereka. Slank memang sejak tahun 2002 sudah mendukung ProFauna, namun tetap saja Slank adalah sebuah public figure yang seabrek jadwalnya. Perlu waktu lama untuk memadukan jadwal Slank dengan jadwal Gubernur Maluku Utara dan juga Sultan Ternate. Lho koq jadi ribet? Tidaklah ribet sebenarnya jika dibandingkan dengan hasil mulia yang diharapkan dari momen yang terlalu manis untuk dilupakan itu.

Momen manis itu adalah pemberian penghargaan oleh RSPCA, sebuah organisasi perlindungan satwa tertua di dunia asal UK, dan juga oleh ProFauna kepada Gubernur Maluku Utara dan Sultan ternate atas kepedulian mereka untuk melindungi burung endemic Maluku Utara. Mungkin gubernur dan Maluku Utara sudah terbiasa dengan pemberian penghargaan. Hal yang biasa juga bagi gubernur dan sultan mendapatkan penghormatan, termasuk barangkali itu adalah “penghormatan” pura-pura dari kaum oportunis.

Namun penghargaan da penghormatan yang diberikan oleh RSPCA, ProFauna dan Slank itu bukanlah penghormatan biasa. Ini penghormatan serius, tulus dan sarat dengan amanah. Pemberian penghargaan itu jangan dinilai dari secarik kertas yang diberikan, namun secarik kertas itu adalah simbol dari amanah bagi Gubernur Maluku Utara dan Sultan Ternate untuk lebih serius lagi dalam melestarikan burung nuri dan kakatua. Kalau penghargaan itu hanya dianggap sebagai sebuah penghargaan biasa dan bisa saja kemudian setelah gemerlap seremoni secarik kertas penghargaan itu dibuang ke tong sampah, maka acara itu menjadi sia-sia. Menjadi tanpa makna, menjadi garing.

Momen pemberian penghargaan dan kehadiran band super sekaliber Slank di tengah-tengah pejabat dan juga slanker Maluku Utara itu hendaknya menjadi momen yang terlalu manis untuk dilupakan. Sang gubernur, sultan da rakyat Maluku Utara mesti ingat terus akan amanah dibalik pemberian penghagaan itu. Salah satu wujud dari amanah itu adalah pemerintah daerah Maluku Utara perlu segera mengeluarkan peraturan daerah yang melarang penangkapan burung dari alam Maluku Utara untuk kepentingan komersil. Kalau amanah itu dilakukan maka seperti kata Bimbim, drummer Slank, “Maluku Utara dengan kekayaan alam dan burungnya sangatlah indah, ini terlalu manis untuk dilupakan…….”

Rabu, 08 Februari 2012

Jadi Polisi Satwa di Inggris


Ketika saya berkunjung ke UK di bulan September 2010 untuk menerima RSPCA Special Investigation Award, saya sempat mengenyam pengalaman yang luar biasa menjadi “polisi satwa” sehari. Ya, di UK ada semacam polisi yang khusus menangani kasus-kasus yang berkaitan dengan perlakuan buruk atau kekejaman terhadap satwa. Polisi itu bukan sembarang polisi, karena sebenarnya memang mereka bukan polisi resmi yang dibentuk dan dibiayai oleh negara. Polisi satwa itu dibentuk oleh LSM bernama RSPCA yang berdiri sejak tahun 1824. Hemm sudah tua sekali umur RSPCA, sementara pada tahun itu di tanah Jawa masih terjadi perang Diponegoro.

Polisi satwa ala RSPCA itu disebut inspector. Inspector RSPCA berseragam seperti layaknya polisi, cuma unikya ternyata inspector RSPCA ini lebih dulu berseragam dibanding kanpolisi umum yang ada di UK. Meskipun bukan polisi resmi, namun inspector RSPCA punya kewenangan untuk melakukan penyelidikan (inspeksi) dan memberikan peringatan kepada masyarakat yang memperlakukan buruk satwa. Hampir semua orang di UK pasti tahu RSPCA, karena RSPCA dipandang sebagai polisi satwa. Jika mereka melihat ada pelanggaran terhadap satwa maka mereka akan menelpon RSPCA. Hebatnya, inspector RSPCA pasti akan menanggapi keluhan masyarakat tersebut dengan mendatangai TKP (tempat kejadian perkara).

Beruntung saya punya kesempatan ikut inspector RSPCA, meskipun cuma sehari. Dalam sehari menjadi “polisi satwa’ itu saya dan inspector Joynes menangai 2 kasus. Kasus pertama adalah adanya laporan dari masyarakat tentang tetangganya yang membiarkan kudanya terlantar. Sedangkan kasus kedua adalah laporan tentang orang yang memukul anjingnya. Di UK, meskipun itu binatang peliharaan anda sendiri dan anda beli dengan uang sendiri (bukan hasil korupsi), namun jika anda memperlakukan binatang tersebut dengan buruk maka anda mendapatkan sanksi. Luar biasa, hak-hak binatang untuk mendapatkan perlakukan layak saja itu dilindungi oleh undang-undang.

Dalam kasus kuda, kami dengan bermodalkan GPS yang nempel di mobil inspector akhirnya bisa menemukan lokasi TKP. Tidak ada orang di lokasi, yang ada adalah 2 ekor kuda yang terlihat bahagia. Kenapa dipandang bahagia? Karena kuda tersebut sudah diselimuti oleh semacam baju khusus yang membuat kuda tersebut hangat dan juga juga kuda terlihat aktif bergerak, tidak tertekan. Karena tidak ada orang yang bisa dimintai keterangan, maka inspector Joynes mencatat bahwa sementara kuda dianggap dalam kondisi baik-baik saja.

Kasus kedua yang kami tangani adalah kasus orang yang dilaporkan memukul anjing. Ketika kami sampai di sebuah rumah yang dilaporkan ada kasus pemukulan anjing, kami ditemui oleh seorang laki-laki yang tidak terlalu ramah menyambut kehadiran kami. Dia menyangkal telah memukul anjing, karena ternyata anjing peliharaan dia sudah mati (semoga saja bukan mati karena dipukul). Inspector Joynes terus mengorek keterangan dan mencatat pengakuan pemilik anjing tersebut. Laki-laki itu tetap menyangkal telah memukul anjing. Karena tidak cukup bukti (karena anjingnya tidak ada, sehingga tidak bisa diperiksa apakah ada bekas pukulan), maka kami meninggalkan rumah itu.

Kerjaan inspector RSPCA itu berat sekali, karena mereka terus melakukan patroli dan menghadapi berbagai tipe masyarakat. Dalam sehari, seorang inspector bisa menangani 10 kasus satwa. Sebuah pekerjaan yang sibuk dan berdedikasi. Sementara saya sering melihat ada polisi umum di Indonesia yang seharian hanya duduk-duduk saja di kantornya, bahkan ada yang main catur seharian.

Jika inspector RSPCA menemukan bukti kuat adanya kekejaman terhadap satwa, maka inspector tersebut bisa meminta polisi untuk menahan orang tersebut. Jadi Inspector tidak punya kewenangan untu menahan orang, namun dia punya kewenangan untuk melakukan inspeksi dan membawa kasus tersebut ke polisi atau pengadilan.

Selama dua minggu di UK untuk mengikuti serangkaian kegiatan bersama RSPCA termasuk menangani kasus satwa bersama inspector, itu adalah sebuah pengalaman spiritual bagi saya. Sebuah pengalaman yang memperkaya batin dan pikirian saya untuk membantu satwa yang terabaikan. Dalam islam, sebuah agama yang dianut oleh sebagian besar penduduk Indonesia, itu secara jelas dan gamblang dikisahkan tentang perhatian islam terhadap satwa. Dikisahkan. seorang pelacur masuk surga karena semasa hidupnya pernah memberi minum anjing yang kehausan. Begitu mulianya, bahwa menolong satwa ternyata juga mendapatkan p ahala dari Sang Maha Pencipta. Namun herannya, kenapa belum banyak orang di Indonesia yang mengejar pahala itu?

Alangkah damai dan indahnya ketika di negeri saya yang saya cintai itu manusia bisa hidup damai dengan sesama manusia dan juga dengan satwa. Hidup damai dengan alam. Entah kapan itu terjadi di Indonesia, namun paling tidak ProFauna telah merintis hal itu. Soal kapan ada aturan dan ada etika dalam memperlakukan satwa di Indonesia, itu hanya soal waktu. Yang lebih terpenting adalah kita berbuat dan membantu satwa itu dimulai dari sekarang, mulai dari individu. Mulai dari saya dan anda.

Selasa, 07 Februari 2012

Menyusuri Jurang di Lereng Gunung Semeru Bersama Anak Usia 5 Tahun


Jam di tangan menunjukan pukul 08.00 ketika sekelompok orang yang kebanyakan memakai kaos hitam bergambar lutung berjalan perlahan di jalan penuh debu tebal. Mereka terlihat begitu ceria dan penuh semangat menyisiri jalan setapak di lereng Gunung Semeru, Jawa Timur di bulan Oktober 2011. Uniknya, rombongan bukan melulu orang dewasa saja, terlihat ada 3 anak kecil, berusia antara 5 hingga 7 tahun yang turut serta dalam rombongan itu. Anak-anak kecil dengan penuh keriangan turut trekking bersama om-om, tante-tante atau kakak-kakaknya itu.

Mereka adalah rombongan aktivis ProFauna Indonesia, sebuah organisasi terdepan yang bergerak dibidang pelestarian hutan dan satwa liar Indonesia, yang sedang melakukan kampanye pelestarian hutan di Desa Wonokerto yang berbatasan dengan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Usai melakukan kampanye hutan, para aktivis pecinta lingkungan tersebut melakukan trekking ke hutan di lereng Semeru. Jumlah total peserta yang ikut berkisar 30 orang, mulai usia 5 tahunan hingga diatas 40 tahun.

Dalam trekking ke lereng Semeru yang kalau di ProFauna acaranya disebut Back to Nature (BTN) itu ikut dua keluarga yang membawa serta anak-anaknya. Mereka adalah Daniel Stephanus bersama seorang putrinya yang bernama Nana dan Rody Basuki yang membawa dua “buntutnya” dan sang istri tercinta. Meskipun masih ‘imut-imut’, ketiga anak calon aktivis ProFauna itu tak mau kalah dengan orang dewasa. Dengan penuh celoteh (apalagi Nana), mereka mantap berjalan menyisiri jurang dan sungai menuju hutan rimba.

Jalan yang dilalui begitu sempit dan rawan longsor. Kalau tidak hati-hati bisa nyungsep ke jurang sedalam lebih dari 100 meter. Hiii ngeri! Terik matahari turut membakar lemak kami. Daaniel yang bertubuh besar pun, terlihat berulang kali menyeka peluh yang terus menetes dari dahi dan mungkin sekujur tubuhnya he he he.
Tiba-tiba si kecil Nana ngomong, “om Nana capek dan takut jurang, gendong ya om”. Wah gawat, sudah jalannya sempit, panas dan full debu, malah ada yang minta gendong. Melihat keceriaan Nana, jadi tidak tega kalau dia disuruh balik kucing alias tidak melanjutkan perjalanan. Akhirnya Nana saya gendok di leher. Nana senang bukan kepalang dan terus bercelonteh. Sementara Daniel, sang bapak, hanya tersenyum saja dan mungkin dalam hati ngomong, “untung bukan saya yang ngendong…..”

Anak Rody yang terkecil juga nggak mau kalah dengan Nana kalau soal gendong menggendong. Diapun menuntut sang bapak untuk menggendongnya. Rody yang asal Sidoarjo itupun mau tidak mau harus menggendong anaknya menyusuri jalan single track.
Sejam kemudian kami sampai di sebuah tepi sungai, sayangnya airnya warna cokelat akibat longsor di bagian atas. Kami istirahat sejenak sambil bercanda ria. Hemm asyik sekali kebersamaan di ProFauna ini. Mereka punya latar belakang beda-beda, cuma punya satu kesamaan yaitu sama-sama cinta alam. Itu yang membuat mereka seperti sebuah keluarga besar.

Setelah istirahat sejenak kami melanjutkan perjalanan menuju rimba belantara. Kami memutuskan rombongan anak-anak berserta orang tuanya berhenti sampai sungai, soalnya jalan yang akan dilalui akan lebih susah. Betul, ternyata jalan yang kami lalui berikutnya ini penuh dengan tanjakan tajam, bahkan di beberapa titik harus merangkak seperti biawak. Nafas ngos-ngosan dan banjir keringat menjadi pemandangan biasa di semua peserta.

Bayu, salah seorang aktivis ProFauna, terlihat penuh pasrah dalam trekking ini. Soalnya Bayu punya masalah dengan lututnya yang pernah cidera. Akibatnya Bayu harus sering berhenti untuk mengatur nafas dan memegangi lututnya yang sudah bunyi “klotak klotak”. Meskipun pernah cidera, Bayu masih full semangat untuk menuntaskan perjalanan hingga hutan. Salut untuk Bayu!

Setelah sekitar 1,5 jam berkutat dengan jalan menanjak, akhirnya kami sampai di hutan rimba. Pohonnya beasr-besar, walauun sayang di beberapa titik ada pohon yang ditebang oleh tangan-tangan ‘jahat’. Kami semua tersenyum puas bisa sampai hutan dengan perjalanan yang penuh perjuangan itu. Foto bersamapun menjadi agenda yang tidak kami lewatkan.

Hari minggu itu kami puas. Bukan sekedar puas karena bisa smapai hutan rimba, namun karena ada banyak pembelajaran yang bisa kami petik. Pertama adalah soal kebersamaan yang luar biasa di tubuh ProFauna. Kedua, tentang hutan begitu penting buat kehidupan manusia. Ketiga, kami semakin menyadari begitu besarnya kuasa Tuhan yang menciptakan alam ini begitu indah, walaupun sayangnya ternodai dengan ditebangnya beberapa pohon besar yang berusia mungkin ratusan tahun.