Selasa, 27 Maret 2012

Tips Memilih Sepatu Trekking



Jalan-jalan ke alam atau yang sering disebut trekking itu memang mengasyikan. Bukan saja kita bisa menikmati indahnya alam ciptaan Sang Maha Kuasa, namun ini juga menyehatkan. Menyehatkan karena tubuh kita bergerak, mulai dari kaki, tangan hingga badan, dan juga sehat karena kita menghirup udara segar di alam.

Olah raga trekking itu boleh dibilang olah raga yang murah meriah dan mudah. Semua orang bisa melakukannya, asal punya kemauan. Satu-satunya peralatan yang relative mahal itu hanyalah sepatu. Bisa saja kita trekking dengan sepatu apapun, namun jika anda memperhatikan faktor kenyamanan dan keamanan, maka perlu memilih sepatu trekking yang pas untuk anda. Salah pilih sepatu, kaki malah bisa lecet atau keseleo. Maunya jalan-jalan menikmati alam, ehh malah tersiksa gara-gara sepatu yang tidak layak untuk trekking.

Sepatu trekking yang baik, paling tidak mempunyai lima syarat, antara lain:
• Melindungi kaki
• Memberikan kenyamanan dalam perjalanan
• Menyerap keringat kaki
• Tahan lama
• Cepat kering jika basah

Berikut tips-tips memilih sepatu trekking yang nyaman dan aman sebagai teman setia perjalanan anda di alam bebas:

Ukuran dan Pola. Pilih sepatu yan sesuai dengan pola kaki anda, karena ada kaki yang polanya melebar di ujungnya dan ada juga menyempit. Mungkin ukuran sepatunya boleh sama, tetapi pola ujungnya bisa berbeda dan ini akan berpengaruh terhadap kenyamanan. Jangan beli sepatu yang ukurannya ‘press’ dengan kaki, beli yang agak longgar, tetapi jangan sampai kedodoran. Ingat anda nanti akan pakai kaos kaki, jadi akan lebih baik jika beli sepatu itu dicoba dengan memakai kaos kaki.

Bahan Sepatu. Pilih bahan sepatu yang bisa menyerap keringat, tahan air dan kuat. Sepatu karet itu bukan untuk trekking, karena tidak ada pori-pori yang bisa menyerap keringat. Sepatu karet juga bisa membuat kaki anda lecet bahkan melepuh! Bahan sepatu yang tahan air namun bisa bernafas itu seperti gor-tex atau sympatex. Sepatu campuran kulit dan nylon juga cukup baik, karena biasanya ringan. Sepatu olah raga (sport) itu juga bukan sepatu trekking, memang terasa ringan, namun sepatu jenis ini tidak melindungi dengan baik kaki anda ketika trekking di alam bebas. Sol sepatu olah raga juga cenderung licin ketika dipakai di tanah hutan.

Tinggi dan berat sepatu. Pilihnya sepatu trekking yang ringan bobotnya, karena ini akan enak untuk berjalan dan hemat energy. Idealnya sepatu trekking itu tingginya menutupi mata kaki, karena ini lebih aman dari ranting, duri atau batu. Namun sepatu trekking yang tinggi cenderung agak berat dibandingkan yang pendek. Kalau trekking anda kebanyakan hanya trekking pendek, misalnya hanya setngah hari, dan medan yang dilalui juga tidak berat, maka sepatu trekking yang pendek akan sangat enak dipakai. Namun jika anda trekking-nya jauh atau lebih dari sehari, dengan medan yang berat (di dalam hutan), maka lebih baik jika ketinggian sepatunya itu di atas mata kaki.

Jika anda lebih banyak trekking di gunung atau di tempat yang dingin, lebih baik anda beli sepatu trekking yang tingginya menutupi mata kaki, karena ini akan membantu menghangatkan kaki.

Sol sepatu. Pilih sepatu yang solnya bergerigi dengan bahan karet campuran karena ini punya daya cengkeram yang baik di tanah.

Jika anda sudah membeli sepatu trekking idaman, jangan langsung dipakai di jalur trekking! Coba dulu pakai di seputar rumah anda untuk adaptasi. Sebelum dipakai, coba dibuat jongkok dan jinjit berulang kali. Jika sepatunya dari bahan kulit, coba kulitnya dibasahi bagian luarnya dan pakai jalan-jalan ringan hingga kering. Jika kaki anda sudah adaptasi dengan sepatu baru itu, maka silahkan melahap jalur trekking sepuasnya. Selamat ber-trekking-ria!

Selasa, 20 Maret 2012

Mungkinkan Pesta Pernikahan Tanpa Sampah Plastik?


Bulan Maret ini bulan orang punya hajat, baik itu kawinan atau sunatan. Sayapun harus menyisihkan waktu untuk menghadiri undangan kawinan beberapa sahabat, kolega dan juga karyawan yang kerja di P-WEC. Layaknya sebuah hajatan yang mengundang orang banyak, pasti ramai dan banyak kuenya. Saya selalu bersemangat menghadiri hajatan terutama di kampung, karena biasanya masih menemukan makanan tradisional khas pedesaan semacam kripik rengginang, tape ketan, kue bikang, tetel dan lain-lain.

Makanan tradisional itu memang masih disajikan di hajatan yang saya hadiri. Tapi ada yang berbeda dengan kemasannya. Sekarang semuanya dibungkus dengan plastik. Kue bolu dibungkus plastik. Kerupuk dibungkus plastik. Setiap kue bikang kegemaran saya itu dibawahnya dikasih plastik sebagai pemanis. Lemper yang biasanya dibungkus daun pisang itu kini juga dibungkus palstik yang motifnya mirip daun pisang. Minuman yang disajikanpun adalah minuman gelas plastik.

Ketika saya menengok ke bawah, hiiii banyak sekali sampah plastik bekas pembungkus makanan yang berserakan. Menjadi tidak sedap dipandang dan menghilangkan selera makan saya. Memang sangat jarang empunya hajat itu menyediakan tempat sampah, jadi sampah plastik ya dibuang begitu saja di lantai. Karena musim hujan, sampah plastik yang masih mengandung sisa-sisa makanan itu juga jadi santapan lalat-lalat yang turut berpesta.

Ketika saya meninggalkan lokasi hajatan, istri saya dikasih oleh-oleh kue yang dibungkus tas kresek. Aduhh jadi serba plastik nih. Mana lemper yang lezat yang dulu dibungkus daun pisang yang membuat cita rasanya jadi beda? Kenapa sekarang semuanya harus serba plastik? Industri plastik ternyata sudah “menjajah” hingga kawinan di pedesaaan bahkan dusun di tepi hutan. Memang menggunakan plastik lebih praktis, hemmm tapi ini tidak baik untuk alam. Plastik butuh waktu ratusan tahun untuk hancur.

Katakanlah ada 1000 undangan yang hadir di sebuah hajatan kawinan, dan semuanya diberi oleh-oleh kue yang dibungkus tas kresek, maka setidaknya ada 1000 tas kresek, tapi yang pasti lebih dari itu. Kemudian ada berapa ribu kue yang disajikan yang dibungkus plastik? Dalam satu desa saja dalam sebulan ada sedikitnya 5 orang yang punya hajat. Kalau masing-masing dihadiri 1000 orang berarti ada 5000 orang yang memperoleh “hadiah” tas kresek. Dan ada puluhan ribu bungkus plastik untuk mengemas kue yang disajikan.

Persoalannya adalah dikemanakan nasib puluhan ribu plastik bekas pembungkus kue itu? Ada yang dibuang begitu saja di belakang rumah atau di jalanan. Ada yang dibuang di sungai. Ada juga yang dibakar. Ada juga yang tidak jelas juntrungannya.
Saya bicara ke Suwarno, staf P-WEC, yang ikut menghadiri sebuah hajatan kawinan bersama saya. Suwarno yang masih bujang itu saya tantang, “ayo bisa ngak nanti kalau kamu menikah itu tidak ada sampah plastiknya?” Suwarno hanya manggut-manggut saja, tidak ada komentar. Semoga saja tantangan saya itu diterima dan dibuktikan bahwa dia bisa punya hajat yang mengundang banyak orang tapi tanpa sampah plastik, atau setidaknya minim sampah plastik.

Saya juga ngomong ke Suwarno, mestinya di hajatan kawinan itu ada tempat sampahnya. Juga ada orang yang bertugas memunggut sampah yang berceceran di lantai. Jangan hanya ada petugas khusus yang menerima uang dari undangan saja, tapi perlu ada petugas yang bertanggung jawab untuk kebersihan TKP (Tempat Kejadian Pernikahan).

Tapi bisa ngak ya semua itu dilakukan? Saya tidak bisa menjawabnya karena waktu saya nikah itu sama sekali tidak ada pesta resepsi, jadi ya tidak ada sampah plastiknya. Semoga staf P-WEC atau ProFauna yang masih bujang yang berniat mengadakan pesta pernikahan itu bisa mewujudkan mimpi saya, mimpi akan pesta kawinan yang minim sampah plastik. Mimpi akan “green wedding”.

Senin, 19 Maret 2012

Jangan Malu untuk Peduli Lingkungan


Jam makan malam tiba. Sambal pedas campur ikan asin kesukaan saya sudah terhidang di atas meja, hemm lezat sekali kelihatannya. Upps tapi ada yang kurang, mana kerupuknya? Sayapun memanggil Nada, anak saya, untuk membeli kerupuk di warung sebelah. Nada saya kasih uang dan toples (wadah kerupuk) kosong, saya bilang, “tolong beli kerupuk dan ini wadah kerupuknya”.

Anak saya yang beranjak gede itu protes, “wah malu pak, masak beli kerupuk bawa toples, khan nanti sama penjualnya udah dikasih kresek?”. Setelah sedikit berdebat, akhirnya anak saya itu berangkat juga ke warung. Tapi tidak sampai 10 detik, dia udah balik. “Malu pak kalau beli bawa tempat ini, udah saya pakai plastik kersek bekas aja ya, jadi tidak perlu penjualnya ngasih tas kresek baru”, rengek Nada. Ok deh tercapai kata sepakat. Nadapun berangkat beli kerupuk, sayapun bisa menyantap sambal ikan asin plus kerupuk yang sedappppp.

Masalah beli kerupuk itu mengganjal hati saya. Ternyata untuk berbuat baik bagi lingkungan, dengan mengurangi plastik, itu susahnya minta ampun. Kita sudah terdoktrin selama bertahun-tahun bahwa belanja itu yang keren ya dibungkus kantong plastik. Apalagi tas plastiknya ada merk toko atau mall-nya, jadi kelihatan kalau habis belanja gitu.

Padahal plastik itu butuh ratusan tahun untuk hancur secara alami. Ada jutaan ton kantong plastik yang terbuang jadi sampah setiap harinya, dan itu sebagian besar itu dari aktivitas belanja. Baik itu belanja tempe, tahu, ikan asin, sepatu, baju atau makanan ringan. Semuanya dibungkus plastik. Bahkan lontong yang dijual tukang baksopun kini dibungkus plastik, tidak lagi pakai daun pisang. Ngeri banget makan lontong yang dibungkus plastik, berapa banyak tuh racun yang turut kita makan bersama lontong?

Setelah kasus belanja kerupuk itu, keesokan harinya saya ngobrol santai dengan istri dan dua anak saya. Saya bicara soal sampah plastik. Saya kasih pengertian kepada kedua anak saya akan bahayanya sampah plastik, makanya kenapa kita mengurangi penggunaan kantong plastik. Untungnya kedua anak saya itu bisa mengerti, dan nanti siap beli kerupuk lagi tanpa tas kresek, cukup bawa wadah sendiri. Ini baru anak manis!

Peduli terhadap lingkungan itu mudah tapi susah. Lho koq gitu? Ya mudah karena sebetulnya bisa kita lakukan dengan cara sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti tidak membuang sampah sembarangan atau mengurangi tas kresek. Yang bikin susah itu adalah melawan “kebiasaan umum” yang menganggap buang sampah sembarangan itu adalah hal biasa. Yang menganggap memakai kantong plastik berlapis-lapis itu malah keren. Yang berpikiran buang putung rokok di jalanan itu bukan hal yang tabu.
Perilaku “menyimpang” di masyarakat yang kemudian diamini oleh massa itu yang sulit untuk dihadapi. Sehingga ketika kita mau berbuat baik dengan belanja tanpa tas kresek, justru ini dianggap aneh dan “menyimpang”. Padahal ini baik, cuma karena ini masih menjadi perilaku minoritas, maka sesuatu yang baik itu dianggap aneh bin ajaib.

Jangan malu untuk berbuat yang baik untuk alam yang kita tempati ini. Jangan malu untuk peduli. Justru yang malu-maluin itu adalah orang yang tidak peduli. Mungkin anda ditertawakan atau dicibir karena dianggap sok peduli, namun kalau bukan mulai dari diri sendiri yang peduli, sampai kapan masyarakat dan pemerintah akan peduli? Karena masyarakat itu adalah kumpulan dari individu-individu. Kalau banyak individu yang peduli akan lingkungan maka akan terbentuk masyarakat yang peduli. Makanya, jangan malu jadi orang yang peduli terhadap kelestarian lingkungan, justru anda patut bangga!