Minggu, 22 April 2012

Seberapa “Hijau”kah Anda?

Setiap tanggal 22 April banyak orang yang peduli lingkungan memperingati hari itu sebagai hari bumi. Berbagai kegiatan diadakan, mulai dari stop kendaraan bermotor masuk kampus, penghijauan, seminar hingga demonstrasi. Ini bagus untuk mengingatkan kita untuk lebih peduli kepada bu

mi yang menjadi satu-satunya planet yang dihuni manusia. Namun apakah kepedulian terhadap bumi atau alam itu hanya terbatas pada tanggal 22 April saja?

Idealnya hari bumi itu dilakukan sehari-hari, bukan hanya tanggal 22 April. Itu karena setiap hari kita masih berpijak di atas muka bumi. Jika keseharian kita sudah bergaya hidup yang ramah lingkungan, ini jauh lebih bermakna daripada gegap gempita perayaan hari bumi yang hanya dilakukan sehari saja. Untuk mengetahui seberapa jauh kepedulian anda terhadap bumi atau pelestarian alam, coba jawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini;

1. Anda sedang jalan-jalan, kdmudian mau membuang bungkus permen, sementara di tempat tersebut tidak ada tempat sampah, apa yang anda lakukan?
a. Membuang bungkus permen begitu saja
b. Mencoba mencari tempat sampah, namun karena tidak ketemu maka dibuang meskipun tidak di tempat sampah
c. Mengantongi bungkus permen tersebut dan akan dibuang jika ketemu tempat sampah

2. Anda akan membeli buah-buahan, bagaimana biasanya anda membelinya?
a. Membeli buah impor karena lebih bagus kualitasnya dan harga juga tidak beda
b. Membeli buah apapun, baik itu impor ataupun lokal, tanpa pertimbangan apapun
c. Selalu memilih buah lokal

3. Anda mau membeli kerupuk untuk pelengkap makan malam anda, apa yang anda lakukan?
a. Berangkat ke warung/toko, toh nanti sudah akan diberi plastik kresek oleh penjual
b. Membeli kerupuk yang minim bungkus plastik
c. Membawa tempat kerupuk dari rumah

4. Jika tempat kerja atau sekolah anda hanya berjarak sekitar 1 km, bagaimana anda menuju ke tempat tersebut?
a. Naik kendaraan motor pribadi, karena ini efesein dan tidak bikin capek
b. Kadang naik kendaraan motor, kadang jalan kaki/naik sepeda pancal
c. Naik kendaraan umum
d. Selalu jalan kaki atau naik sepeda pancal, kecuali ada hal darurat

5. Anda akan berbelanja baju 3 buah atau lebih di sebuah mall, apa tindakan anda untuk bungkus baju tersebut?
a. Menerima baju tersebut dalam 3 kantong plastic kresek yang berbeda, karena lebih keren dan “untung” karena dapat 3 tas plastic secara gratis
b. Meminta ketiga baju tersebut dimasukan dalam satu kantung plastik
c. Membawa sendiri kantong belanja dari rumah

6. Waktu anda akan membeli produk tertentu, apakah faktor produk tersebut ramah lingkungan menjadi pertimbangan anda dalam membeli?
a. Tidak, yang penting harga cocok dan pas dengan kebutuhan
b. Ya, namun jika harganya terlalu mahal maka saya akan membeli produk lain yang lebih murah
c. Ya, meskipun lebih mahal saya akan tetap membelinya karena itu lebih ramah lingkungan

7. Apakah anda memakai kertas di kedua sisinya (bolak-balik) untuk beberapa pekerjaan anda?
a. Tidak, karena terlihat tidak bagus dan kurang bergengsi
b. Kadang-kadang
c. Ya

8. Apakah anda memelihara satwa liar di rumah sebagai satwa peliharaan dengan alasan karena cinta satw`?
a. Ya
b. Ya, tetapi hanya untuk jenis satwa liar yang tidak dilindungi
c. Tidak

9. Apakah anda pernah menyumbang dana ke organisasi sosial yang bergerak dibidang pelestarian alam?
a. Tidak pernah
b. Pernah
c. Sering

10. Sebuah organisasi sosial mengajak masyarakat untuk menulis surat atau petisi terhadap sebuah kasus eksploitasi alam, apa yang anda lakukan?
a. Tidak mengikuti ajakan tersebut, karena hal ini tidak penting
b. Ikut prihatin, namun tidak ikut menulis karena alasan sibuk
c. Mengikuti ajakan tersebut dengan menulis surat/petisi
d. Mengikuti ajakan tersebut dan menyebarkan ke teman/saudara untuk ikut mendukung juga kampanye tersebut

Jika anda sudah menjawabnya, hitung nilai anda dengan ketentuan kalau pilihan jawaban anda A itu nilainya 5, B = 10, C = 15 dan D = 25. Setelah itu silahkan dijumlah total perolehan nilai anda, dan lihat hasilnya di bawah ini;

Jika total nilai anda:

50 – 95, artinya maaf ternyata kesadaran anda terhadap pelestarian alam itu masih rendah
100 – 115, artinya kesadaran anda terhadap pelestarian alam cukup baik
120 – 130, artinya kesadaran anda terhadap pelestarian alam itu sudah baik
135 ke atas, artinya selamat anda adalah seorang aktivis lingkungan sejati!

Rabu, 11 April 2012

Berilmu Tapi Tidak Peduli.....


Di suatu kesempatan saya bertemu dengan seorang teman yang mengajar di sebuah universitas ternama. Titel teman saya itu sudah doktor, sudah pintar dan berilmu tentunya, khan doktor. Kalau doktor tidak berilmu pasti itu doktor palsu atau mungkin doktor hasil membeli titel yang dikeluarkan oleh universitas antah berantah.
Layaknya teman, kami ngobrol ngalor ngidul di sebuah cafe yang ada di sebuah kampus.

Tak lama kemudian datang dua orang lagi yang ikut nimbrung. Dua orang ini juga bergelar doktor, malah lulusan Jepang. Wah top, syukurlah semakin banyak doktor di negeri saya ini. Hebatnya lagi para doktor yang ngobrol sama saya itu mengambil topik yang berhubungan dengan lingkungan. Diskusi kamipun semakin hangat, membahas aneka topik terkini terkait dengan isu alam di tanah air.

Seorang doktor yang kepalanya sudah terlihat botak, meskipun usianya tidak terpaut jauh dengan saya, itu dengan berapi-api ngomong, “hutan kita ini semakin berkurang tiap hari, ini adalah sebuah bencana yang kita tanam yang siap meledak suatu ketika!” Teman saya turut menimpali, “ya itu mengenaskan, apalagi berkurangnya hutan itu juga mempengaruhi keanekaragaman hayati, ada banyak spesies yang turut punah”.

Teman saya dan temannya teman saya itu saling beragumen soal masalah kelestarian hutan dan isinya. Berbagai teori ekologi dikemukakan. Beberapa hasil penelitian yang diterbitkan di jurnal ilmiah juga dikutip. Pendapat para ahli dunia juga dibahas dan dikritisi. Saya hanya menyimak dan sekali-kali menimpalinya. Maklum ini diskusi kelas doktor, jelas saya harus menyimak dong,karena yang ngomong adalah orang yang berilmu, lulusan luar negeri pula.

Tiba-tiba salah seorang dari 3 orang doktor itu bertanya ke saya, “kalau menurut Mas Rosek gimana dengan situasi hutan Indonesia yang semakin tidak karuan ini. Mestinya mas Rosek dan ProFauna khan bisa protes ke pemerintah”. Teman saya sambil menghisap dalam-dalam rokoknya ikut menambahi, “sangat sayang kalau hutan dan spesies unik yang ada di dalamnya itu hilang, ini khan teramat merugikan buat negara dan masyarakat”. Sambil membuang putung rokok di bawah meja, teman saya itu ngomong lagi, “dunia ilmu pengetahuan juga akan dirugikan jika plasma nutfah yang ada di hutan itu hilang”.

Saya terdiam. Ketiga doktor itu memandang penasaran ke saya, koq ditanya malah diam seribu bahasa. “He jangan ngelamun, apa komentarmu?” kata teman saya sambil telapak tangannya digerak-gerakan di depan mata saya. Akhirnya saya ngomong, “memang soal hutan dan isinya itu rumit, dan kita tidak bisa sekedar menyalahkan pemerintah saja. Justru yang juga harus disalahkan itu adalah kaum pendidik, termasuk sampeyan yang sudah bergelar doktor!”

Ketiga orang doktor di depan saya itu bengong, tapi saya terus nyerocos. “Dunia pendidikan patut turut bertanggung jawab atas degradasi hutan dan keanekaragaman hayati. Memang tentang hutan, spesies, ekologi dan tetek bengeknya itu diajarkan di sekolah dan kampus. Tapi itu terbats hanya pada pengenalan dan ilmu saja. Ilmu bahwa ada keseimbangan ekologi, ada peristawa makan memakan, ada peristiwa suksesi ekologi, ada interekasi spesies dan sebagainya. Tetapi satu hal yang justru tidak disentuh ketika kita belajar soal ekologi yaitu soal penanaman etika atau moral. Ini sangat jarang ditekankan, padahal soal etika inilah yang bisa menjadi pengerem soal “ketamakan” manusia akan alam.

Justru yang terjadi kemudian para doktor itu mencetak sarjana biologi atau kehutanan yang memang mahir ketika bicara teori. Para sarjana itu punya ilmu mumpuni kalau bicara soal ekologi atau konservasi alam. Namun sayangnya mereka yang berilmu ini justru punya etika yang rendah alias punya kepedulian yang minim bila bicara soal aksi untuk menyelamatkan alam. Sebaliknya mereka berbondong-bondong kalau perlu nyogok untuk bisa bekerja di perusahaan yang justru merusak hutan. Atau mereka dengan bangga menjadi konsultan perusahaan yang nyata-nyata merusak alam. Mereka tidak malu melakukan itu, tapi justru bangga karena mereka telah jadi orang “sukses”, dengan tolak ukur melimpahnya rupiah.

Kemudian, berapa banyak sih dotor atau dosen di Indonesia yang punya ilmu mumpuni soal ekologi itu mau turut berpatisipasi dalam penyelamatan alam? Jumlahnya bisa dihitung dengan jari dalam satu propinsi. Saya berulang kali mencoba mengajak para orang berilmu itu untuk berpartisipasi dalam upaya konservasi alam, paling tidak dengan menyumbangkan ide atau gagasan. Saya tidak mengajak para doktor itu untuk ikut turut ke jalan melakukan protes atas maraknya illegal logging misalnya, saya hanya minta mereka peduli dengan membuat opini atau tulisan yang pro konservasi. Itupun sulitnya, sesulit ketika zaman mahasiswa waktu mau mencari dosen untuk konsultasi penelitian.

Susahnya minta ampun mengajak para “empunya” kampus itu untuk terlibat dalam upaya konservasi alam. Alasannya selalu satu yaitu sibuk! Hemm kalau kita bicara soal sibuk, semua orang juga punya kesibukan masing-masing. Mungkin para doktor itu memang sibuk mengejarkan aneka proyek bernilai ratusan juta rupiah atau milyaran, walaupun atas nama proyek akhirnya mahasiswanya jadi terlantar. Dosennya lebih sering di luar mengerjakan proyek, daripada di kampus untuk mengajar.

Kalaupun para doktor itu enggan itu “terlibat” dalam penyelamatan alam secara lansgung, paling tidak mereka bisa memainkan peran di lingkup kampusnya. Peran itu adalah menanamkan dan mengajarkan etika terhadap alam kepada mahasiswanya. Mahasiswa jangan hanya dijejali dengan ‘ilmu” saja, tapi juga perlu dipoles “moral”nya, karena ini sangat penting untuk membentuk ketika mereka nanti lulus. Apakah mereka menjadi sarjana “pro konservasi” atau sarjana “pro eksploitasi”.

Mahasiswa jangan hanya dipaksa untuk lulus cepat dengan nilai tinggi, padahal setelah lulus juga banyak yang jadi pengangguran.Mahasiswa jangan hanya disuapi teori-teori belaka, namun perlu ke lapangan untuk mengetahui kondisi nyata tentang alam kita yang semakin carut marut. Mahasiswa jangan hanya dininabobokan dengan proyek dosen yang menggiurkan, yang membuat mahasiswa jadi manja dan tidak kreatif.

Terus apakah bapak-bapak atau ibu-ibu yang berilmu tinggi itu sudah punya etika terhadap alam? Hemmm masih jauh dari harapan. Doktor teman saya itu masih enak aja dengan tanpa rasa bersalah membuang putung rokoknya sembarangan. Doktor yang satunya itu mengkoleksi burung berkicau yang sebagian besar hasil tangkapan dari hutan. Doktor yang satunya lagi malah dengan bangga menjadi konsultan sebuah perusahaan yang nyata-nyata mempunyai kontribusi besar terhadap kerusakan alam. Dimana letak kepeduliannya terhadap pelestarian alam?

Sambil memandang tajam ketiga doktor yang terbengong-bengong dengan cerocosan saya, saya ngomong lagi, “mudah bagi ProFauna itu melakukan protes ke pemerintah soal kerusakan hutan atau degradasi keragaman hati.Kami juga bisa edukasi masyarakat soal ini dengan masuk ke kampung atau sekolah. Kami juga bisa sebarkan himbauan ini ke ribuan supporter ProFauna di seluruh dunia. ProFauna juga amatg mudah untuk menggelar demonstrasi misalnya. Nah terus apa yang bisa bapak lakukan sebagai orang yang berilmu untuk membantu ProFauna?”

Ketiga doktor itu terdiam, terus tertawa sambil menepuk-nepuk pundak saya. “Pasti kami akan siap bantu dan mungkin bisa bekerja sama dengan universitas kami”, kata teman saya. Saya tersenyum dengan omongan para doktor itu. Waktu berlalu dan sudah 3 tahun sejak pertemuan saya dengan doktor itu. Hasilnya, mereka sudah tidak pernah nongol di depan saya, bahkan sudah tidak pernah sms saya lagi.