Selasa, 19 Juni 2012

Coban Putri, Asyik untuk Fun Trekking



Sudah menjadi kebiasaan di keluarga kami untuk minimal sebulan sekali kami sekeluarga trekking alias jalan-jalan ke alam. Ini bukan sekedar rekreasi yang menyegarkan pikiran, tapi juga menjadi sarana mengenalkan alam ke anak-anak kami sejak mereka masih bayi. Ya sejak usia 5 bulan mereka sudah kami ajak ke alam, tentu saja dengan digendong pada waktu mereka masih bayi.

Kali ini kami mau trekking ke air terjun Coban Putri yang berada di Desa Tlekung, Batu. Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah kami. Jam di tangan menunjukan pukul 14.00 ketika mobil kami mulai berangkat meninggalkan Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC). Tak sampai 30 menit kami sudah sampai di ujung desa Tlekung. Mobil kami pakir di bawah bayang-bayang pohon dan kamipun siap jalan kaki.

Nada dan Kya, dua anak kami, sudah penuh semangat untuk jalan-jalan ke alam di sore itu. Saya melirik jam dan waktu menunjukan pukul 14.30. Kami mulai berjalan dengan santai. Jalannya berupa tanah kering selebar sekitar 2 meter. Di sebelah kiri jalan terlihat hutan pinus yang banyak tumbang karena diterjang angin puting beliung beberapa waktu yang lalu.

Sepanjang jalan, kami mengenalkan berbagai jenis tanaman yang kami jumpai ke kedua anak kami. Ada pinus, alpukat, nangka, durian, kaliandra, dan lainnya. Kedua anak kami penuh semangat saling menebak nama pohon itu. Banyak salahnya sih, namun paling tidak mereka telah belajar dan melihat langsung pohonnya, bukan sekedar membaca di buku. Ini yang terpenting, belajar dari pengalaman praktis, bukan sekedar teori saja.

Jalanan yang kami lalui tidak terlalu menanjak. Jadi asyik sekali untuk jalan-jalan santai, khususnya bagi anak-anak, karena tidak menguras energi. Setelah 30 menit berjalan santai, mulai terlihat air terjun Coban Putri. Air terjunnya tidaklah tinggi, namun menyejukan karena berada di tempat yang cukup sepi. Kya, anak saya yang paling kecil, langsung teriak kesenangan begitu melihat air terjun itu. Dia teriak, “ayo pak segera ke air terjunnya!”

Begitu sampai di air terjun, Kya langsung lepas sepatu dan masuk ke dalam air. “Wuihh dingin airnya!”, teriak Kya dengan cerianya. Kami membiarkan anak kami main di air sungai itu. Biar mereka belajar dan mengenal langsung alam. Ketika banyak orangtua di kota yang melarang anaknya mandi di sungai, kami justru menyarakan anak kami merasakan sensasi mandi di sungai (yang bersih tentunya). Mumpung juga masih ada air sungai yang jernih.

Puas main di sungai dan menyantap makanan kecil yang kami bawa, akhirnya kami memutuskan balik pulang, biar tidak kesorean. Maklum kami berangkat trekking juga sudah menjelang sore. Kami balik ke mobil juga dengan jalan kaki dengan jalur yang sama waktu kami berangkat. Kalau tidak kesorean, sebetulnya ada jalur trekking yang melingkar yang tembus Coban Rais.

Meskipun sore itu kami trekking pendek, namun kami semua senang. Jalur ke coban Putri ini sangat cocok untuk fun trekking dengan anak-anak, karena tidak terlalu jauh, namun ada banyak yang bisa kita lihat. Ada ladang, hutan pinus, sungai dan air terjun Coban Putri.

Jumat, 08 Juni 2012

Hilangnya Welas Asih



Di tengah hari saya mendapat telpon dari Asep, dia bilang kalau monyet di Sukun Malang yang dianggap meresahkan warga sudah tertangkap dan akan dievakuasi ke fasilitas ProFauna. Mendengar kabar itu saya bergegas meluncur ke PWRC (ProFauna’s Wildlife Rescue Center) yang berada di samping P-WEC untuk melihat monyet tersebut.

Begitu saya sampai di PWRC dan melihat monyet yang tertangap itu, hati saya miris. Monyet itu tubuhnya berdarah karena ditembus peluru. Kakinya pincang karena seperti bekas dihajar dengan benda keras. Wajah dan mata monyet itu bercerita tentang penderitaan dan sakit. Yang lebih menyedihkan lagi, monyet itu tidak bisa berjalan. Dia harus menyeret tubuhnya yang kurus itu untuk berpindah tempat.

Saya marah, sedih dan muak melihat kondisi monyet yang malang itu. Saya muak dengan manusia yang mengaku beradab dan beragama, tetapi perilakunya begitu keji terhadap binatang. Kenapa kita sudah kehilangan welas asih, cinta kasih, terhadap sesama mahluk hidup? Monyet itu jelas tidak bersalah. Bukan kemauan dia untuk berada di tengah rimba perkotaan. Yang salah dan tolol adalah orang yang telah menangkap monyet itu dari hutan, kemudian diperdagangkan dan berakhir di kandang sempit di perkotaan.

Ketika monyet itu terlepas atau mungkin sengaja dilepas karena pemiliknya sudah malas mengurusnya, kemudian monyet itu dianggap meresahkan. Monyet itu kemudian dianggap berbahaya. Padahal monyet itu hanya butuh makan dan tempat. Dia bukan mahluk monster yang akan dengan agresif menyerang dan memangsa manusia! Dia hanya mahkluk kecil yang butuh welas asih, bukan peluru dan pentungan!

Dalam ajaran agama apapun sudah sangat jelas kita diajarkan untuk menyayangi alam dan mahluk hidup lainnya. Di Islam sudah sangat jelas, umatnya dilarang untuk menyakiti apalagi menyiksa binatang. Mengadu binatang saja itu dosa. Terus kenapa monyet itu masuk ke PWRC dengan bersimbah darah dan kaki pincang? Apakah itu sebagai pertanda lunturnya welas asih yang selama berabad-abad menjadi ciri mulia bangsa Indonesia?

Saya selalu tidak setuju dengan pemeliharaan satwa liar, jenis apapun (baik itu dilindungi maupun jenis yang tidak dilindungi UU), di rumah kita. Banyak kasus orang membeli satwa liar itu waktu masih kecil atau remaja yang terlihat lucu. Begitu beranjak dewasa, apalagi tua, satwa itu menjadi tidak menarik lagi. Akibatnya ada satwa yang kemduian dibunuh, bahkan ada monyet tua yang kemudian dicincang dan dhsantap dagingnya. Atau ada yang kemudian satwanya dilepas atau dibiarkan terlepas, yang kemudian menjadi masalah bagi warga lainnya.

Kalau kita masih punya rasa welas asih dan kalau kita masih percaya bahwa Tuhanlah yang menciptakan mahluk hidup itu, sudah sepatutnya kita menghargai ciptaanNya itu dengan cara tidak menyakitinya. Kita dan monyet punya rumah yang berbeda. Rumah monyet di hutan, kita di kampung atau kota. Kalau kemudian kita merusak rumah monyet , jangan kemudian jadi murka ketika ada monyet yang nyelongong ke rumah kita! Dan janganlah membawa monyet untuk tinggal di rumah kita.

Jumat, 01 Juni 2012

Senangnya Belanja Tanpa Kantong Plastik


Di suatu hari yang cerah saya menemani dua anak saya untuk membeli baju di sebuah mall ternama di Kota Malang. Hal yang membuat semangat saya menemani kedua anak saya itu adalah dari rumah kami sudah menyiapkan tas belanja sebagai pengganti kantong plastik atau tas kresek yang biasa diberikan oleh penjual. Anak saya yang dulunya ‘malu’ jika belanja dengan membawa tas sendiri, kini sepertinya sudah mulai enjoy setelah terus menerusi saya cekokin tentang bahaya sampah plastik.

Dengan riang kamipun berangkat untuk shopping. Setelah capek menemani memilih-milih baju, akhirnya kami pergi ke kasir. Sang kasir menghitung berapa uang yang harus saya keluarkan untuk menebus baju-baju itu, dan petugas di sampingnya mulai mengeluarkan tas kresek ukuran besar untuk tempat baju-baju itu. Saya bilang, “maaf mbak tidak usah pake kantong plastik, kami sudah membawa tas sendiri”. Awalnya kasir itu memandang heran, tapi dia berujar, “wah terima kasih pak, kalau banyak pembeli seperti bapak, kami bisa hemat plastik dong…”. Saya hanya tersenyum mendengar celetukan sang kasir itu.

Nada, anak saya yang tertua, langsung memindahkan barang belanjaan ke tas yang kami bawa. Kamipun meningggalkan mall itu dengan tersenyum, karena kami sudah mencoba berbuat mengurangi sampah plastik. Paling tidak hari itu kami bisa menghemat 5 kantong plastik yang biasanya diberikan oleh penjual. Semua belanjaan kami sudah masuk dalam tas yang bisa dipakai berulang kali. Saya senang dan bangga, karena anak-anak saya mulai memahami artinya “berbuat kecil untuk alam”.