Selasa, 24 Juli 2012

Prof. David Pinault, Kepedulian Tanpa Batas Usia


Awal Ramadhan ini ProFauna Indonesia mendapat tamu istimewa yang datang jauh-jauh dari USA, tamu itu adalah Profesor David Pinault. David saya bilang tamu istimewa karena dia adalah salah satu advisory board ProFauna dan juga seorang yang punya ilmu mumpuni soal kajian hubungan antara agama dan alam. Itu sebuah bidang kajian yang terbilang langka. David yang mengajar di Universitas Santa Clara itu sejak lama mendukung ProFauna Indonesia, bahkan beliau dengan penuh suka cita menjadi salah satu advisory board.

Ini adalah kunjungan David ke ProFauna Indonesia yang ketiga kalinya. David yang sudah berusia lanjut itu hampir setiap tahun meluangkan waktu dan tenaganya untuk menjadi sukarelawan di berbagai organisasi alam seperti halnya ProFauna. Sekitar 6 tahun yang lalu David juga menjadi relawan di pusat karantina satwa yang dikelola oleh ProFauna. Sangat langka ada professor yang mau jadi relawan di organisasi sosial, apalagi untuk professor yang ada di Indonesia. Ini yang membuat saya kagum akan kepedulian Prof David. Seorang professor yang mau turun ke lapangan dan bekerja fisik!

Setiap saya ketemu dengan David Pinault, saya selalu menangkap semangat yang menggebu dari diri sang professor itu. Diskusi kami selalu berlangsung hangat dan kadang diselingi tertawa terbahak-bahak. Sama sekali tidak ada kesan “jaim” alias jaga imej dari diri seorang David Pinault. Dia bisa bercanda dan tertawa lepas. Dia juga tidak malu bertanya terhadap suatu permasalahan kepada orang yang titel akademiknya jauh lebih rendah. Sama sekali tidak ada kesan ‘sok tahu’ dan ‘menggurui’ dari diri David.

Yang menakjubkan adalah di usia yang tidak muda lagi itu Prof David masih rajin keliling ke berbagai negara untuk memperkaya ilmunya. Setiap berkunjung ke suatu tempat, dia selalu mencari tempat dimana dia bisa menjadi relawan untuk berbuat sesuatu bagi alam dan satwa. Dia keranjingan untuk menjadi relawan. Sebuah keranjingan yang begitu mulia. Sementara ada banyak orang yang lanjut usia yang sudah dekat dengan liang kubur malah asyik keranjingan main perempuan!

Saya bersyukur mengenal Profesor David Pinault dan beliau bersedia menjadi bagian dari ProFauna, sebuah organisasi yang tidak pernah menawarkan pundi-pundi uang ke pendukungnya. Saya bedoa semoga saya akan tetap peduli dan mau berbuat bagi sesama dan mahlum hidup lainnya, hingga tua nanti. Tidak ada alasan tua untuk sebuah kepedulian!

Jumat, 13 Juli 2012

Asyiknya Camping di P-WEC



Ketika liburan sekolah tiba, seperti biasa keponakan-keponakan saya akan request untuk liburan bersama kea lam. Ini sudah jadi tradisi keluarga kami, setiap tahun pasti mengadakan family gathering di tempat-tempat yang masih alami. Tahun ini kami memutuskan untuk camping di P-WEC. Lho koq camping di P-WEC? Ya kami ingin mencoba merasakan camping eksklusif yang ditawarkan oleh P-WEC (coba lihat di www.p-wec.org), karena kalau camping di hutan itu sih kami sudah biasa.

Semua keponakan dan adik saya sudah tidak sabar untuk berangkat ke P-WEC. Sejak pagi mereka sudah berkumpul di rumah ibu saya. Begitu saya datang ke rumah ibu, keponakan saya terlihat gembira. “Ayo om segera berangkat, kita udah sejak pagi nih nunggu”, seru salah satu keponakan saya. Tak banyak cakap, langsung kami berangkat menuju P-WEC.

Tiga puluh menit kemudian kami sudah sampai di P-WEC. Kami langsung menuju lokasi camping di areal arboretum mini dan disambut ramah dengan tim P-WEC yang sudah siap sedia. Terlihat ada 4 tenda dome yang sudah berdiri tegak di atas batu bata ukuran sekitar 3 X 3 meter. Anak saya langsung membuka tendanya dan teriak, “wah asyik nih tendanya ada kasurnya!” Teriakan anak saya itu mengundang ponakan saya untuk ramai-tramai menyerbu ke dalam tenda. Mereka teriak kegirangan dan loncat-loncat di dalam tenda.

Camping yang ditawarkan P-WEC memang asyik sekali, sangat cocok untuk anak-anak kota yang ingin merasakan sensasi camping di alam yang nyaman dan aman. Gimana gak nyaman, karena di dalam tenda sudah dilengkapi dengan kasur, bantal dan selimut! Wow ini benar-benar camping “termewah” yang pernah kami lakukan. Kami yang terbiasa camping di hutan dengan hanya berasalan matras, kini bisa merasakan kenyamanan dan tidur pulas di atas kasur empuk yang ada di dalam tenda.

Di malam hari kami membuat api unggun dan merasakan nikmatnya singkong bakar. Dua orang volunteer P-WEC asal Inggris dan Perancis turut bercanda dengan kami di sekitar api unggun. Hemm benar-benar camping yang nyaman!

Jika anda ingin mengajak keluarga anda camping di P-WEC ini, coba hubungi P-WEC DI (0341) 7066769, 7040564, Hp 085646629704 atau kunjungi websitenya di www.p-wec.org

Minggu, 01 Juli 2012

Tiga Hari Bersama Green Warrior

Sudah lama saya memimpikan adanya special force di tubuh ProFauna. Ini bukan seperti pasukan khusus di tentara yang dilatih untuk menjadi mesin pembunuh yang sempurna atau seperti pasukan khusus yang siap menangkal serangan teroris. Bukan seperti itu. Namun adalah tim yang punya kemampuan, komitmen dan keberanian khusus untuk berjuang demi kelestarian alam. Syukurlah, mimpi saya itu mulai terwujud ketika ProFauna membentuk tim GREEN WARRIOR di tahun 2012!

GREEN WARRIOR memang khusus. Paling tidak ada 3 hal yang masuk kategori kenapa dibilang khusus. Pertama, anggota GREEN WARRIOR terbuka khusus hanya untuk supporter ProFauna, jadi orang lain tidak bisa gabung. Kedua, anggota yang terpilih harus punya keberanian, loyaltas dan ketangguhan yang khusus, alias diatas rata-rata. Sehingga tak salah jika slogan tim GREEN WARRIOR itu adalah BLT, bukan Bantuan Langsung tunai, namun kepanjangan dari Brave, Loyal and Tough. Kekhususan yang ketiga adalah, anggota GREEN WARRIOR itu bersifat relawan, tidak dibayar! Nah ini khan yang susah, orang berjuang dengan penuh resiko, namun tidak ada duitnya. Apa mungkin? Hal ini menjadi mungkin kalau di ProFauna yang prinsip sukarelawan memang begitu kuat!


Di akhir juni 2012, saya selama 3 hari bersama calon anggota GREEN WARRIOR dala sebuah pelatihan yang dalam. Ini tiga hari yang melelahkan, paling tidak buat calon anggota GREEN WARRIOR. Bagaimana tidak melelahkan, karena sejak pagi hingga malam, mereka “dihajar” di P-WEC. Mereka dilatih tentang tehnik kampanye, bukan kampanye biasa, namun kampanye luar biasa yang banyak beresiko tinggi. Mereka juga dilatih panjat memanjat, karena ini akan berguna untuk kampanye dan juga evakuasi satwa korban bencana alam. Setelah “dihajar” dengan latihan memanjat, mereka masih “dihajar” lagi dengan tehnik bela diri praktis.

Lho koq ada latihan beladirinya? Apakah ProFauna akan bertempur ? Kalau bertempur itu konotasinya adalah kekerasan fisik, tentu saja tidak, karena melakukan kekerasan dalam kegiatannya adalah haram hukumnya di ProFauna. Tim GREEN WARRIOR dilatih juga bela diri karena untuk membela diri atau menyelamatkan diri dari tindakan-tindakan kekerasan dari “lawan”. Lho siapa lawan ProFauna itu? Lawan ProFauna adalah orang-orang yang diuntungkan dari bisnis illegal eksploitasi alam dan oknum di tubuh pemerintah yang korupsi dengan menjual secara illegal sumber dalam alam.

Dengan tugas yang berat yang diemban tim GREEN WARRIOR, menjadi sebuah keharusan mereka untuk menjadi tim yang tangguh. Tidak ada kata cengeng, pengecut dan mellow di ProFauna, apalagi di tim GREEN WARRIOR. Ibarat musik, tim GREEN WARRIOR itu beraliran heavy metal atau bahkan death metal, bukan lagu yang mendayu-dayu dan penuh linangan air mata.

Selama tiga hari bersama tim GREEN WARRIOR saya bisa merasakan gelora semangat yang luar biasa. Saya bisa menyerap energi yang bisa meledak dahsyat ketika dikelola dengan baik. Saya bisa merasakan ketulusan dan pengorbanan. Ya memang harus tulus karena ini memang tidak dibayar, bahkan dituntut untuk berkorban untuk sebuah cita-cita yang mulia.

Saya merasa bangga dan terharu bisa berbagi dengan tim GREEN WARRIOR angkatan pertama. Tiga hari yang dahsyat. Dan semoga ini menjadi sebuah awal yang baik bagi ProFauna untuk melakukan kampanye perlindungan hutan dan satwa liar dengan lebih dahsyat lagi! Maju ProFauna!