Jumat, 31 Agustus 2012

Mengunjungi Supporter ProFauna di Perkebunan Kayumas, Situbondo

Ketika kami menyusun jadwal liburan hari raya Idul Fitri, kami langsung memasukan Perkebunan Kayumas, Situbondo sebagai salah satu tempat yang wajib dikunjungi. Kebetulan letak perkebunan Kayumas itu masih dalam satu jalur dengan perjalanan kami ke Bali. Jadi klop dengan agenda perjalanan kami selama 5 hari berkunjung ke beberapa daerah di Jawa Timur dan Bali dengan menggunakan motor trail.

Mengapa kami harus berkunjung ke perkebunan Kayumas? Alasan utamanya hanya satu, kami ingin silahturahmi ke Maman, seorang supporter ProFauna Indonesia yang bekerja di perkebunan Kayumas. Maman selama ini aktif membantu ProFauna, baik memberikan donasi ataupun menyebarkan informasi terkait perlindungan satwa liar. Maman jadi Supporter ProFauna sejak dia masih menjadi mahasiswa hingga kini menjadi sinder di Kayumas.

Selepas dari Bali kami langsung meluncur ke Perkebunan Kayumas melewati Taman Nasional Naluran. Untuk menuju arah Kayumas ini, kami melewati Kota Asembagus, Kabupaten Situbondo. Jarak dari Asembagus ke Kayumas sekitar 40 km dengan jalan yang separuhnya offroad. Butuh kendaraan 4WD atau motor trail agar perjalanan anda nyaman dan aman. Untungnya kami bawa motor trail, jadi ya enjoy saja melibas jalanan offroad ke Perkebunan Kayumas.


Tempat kerja yang merangkap jadi tempat tinggal Maman itu berada di “pedalaman” dari Perkebunan kopi Kayumas. Letaknya paling ujung, di jalur menuju Kawah Ijen. Nama tempatnya adalah Plampang. Jalan dari pabrik pengelolaan kopi Kayumas menju Plampang itu benar-benar full offroad. Tapi asyik, karena melewati hutan yang masih cukup terjaga. Sepanjang jalan juga ada banyak satwa liar yang bisa ditemui seperti lutung, monyet, jelarang, elang dan berbagai jenis burung.

Semalam kami menginap di rumah dinas Maman yang bersahaja namun bersih. Maman menyambut kami dengan penuh keramahan. Untuk makanpun kami tidak perlu susah-susah mencarinya, karena semuanya sudah disediakan oleh Maman yang lulusan Universitas Jember itu. Kami merasa senang punya sahabat seperti Maman yang penuh dedikasi.


Meskipun bekerja di sebuah perkebunan yang cukup terpencil, semangat ProFauna terus dibawa Maman dalam kesehariannya. Maman menerapkan aturan dilarang berburu semua jenis satwa liar di perkebunannya. Tak heran di Plampang ada banyak papan informasi tentang pelarangan perburuan satwa liar. Diapun mengedukasi pekerja perkebunan untuk tidak memelihara burung sebagai satwa peliharaan. Bahkan Maman pernah membeli anakan burung merak yang ditangkap oleh pekerjanya dan meminta burung merak itu dilepas lagi ke hutan. Hemm sungguh perbuatan mulia.

Meski di Plampang hanya sehari semalam, namun kami senang tinggal di desa kecil di tengah perkebunan itu. Udaranya yang dingin semakin membuat suasana menjadi damai. Plampang yang berada di ketinggian 1300 meter dari permukaan laut itu mempesona kami, bukan hanya indahnya pemandangan namun juga karena keramahan dan kebaikan hati Maman.


Kepedulian terhadap alam memang seharusnya dilakukan dalam keseharian, seperti yang dilakukan oleh Maman. Kepedulian itu bukan hanya terbatas pada seminar, workshop atau celotehan di jejaring sosial saja, namun benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan Maman telah memberi contoh nyata soal itu. Kami bangga Maman menjadi bagian dari ProFauna Indonesia!

Terima kasih untuk Maman, suatu ketika kami akan berkunjung lagi! Apalagi sepertinya ada banyak Supporter ProFauna Indonesia lainnya yang juga ingin berkunjung ke Plampang untuk mengamati berbagai jenis burung liar yang hidup di hutan sekitar Plampang. Sampai ketemu lagi!

Selasa, 28 Agustus 2012

Berpetualang ke Pantai Perancak Bali, Bertemu Supporter ProFauna yang Peduli Penyu

Hari Kedua


Jam 5 pagi kami sudah terjaga dari tidur nyenyak di Pantai Bandealit, Taman Nasional Merubetiri. Cuaca cerah sekali dan burung-burung liar ramai bernyanyi menyambut mentari. Kami bangun pagi-pagi, soalnya hari ini kami akan melanjutkan perjalanan lagi ke Bali dengan motor trail. Barang-barang segera kami kemas dan dinaikan ke atas motor Kawasaki KLX 250 yang setia membawa kami berpetualang di liburan idul fitri itu.

Ternyata acara packing barang dan bongkar tenda memakan waktu yang lumayan lama, maklum ada banyak barang yang kami bawa dalam petualangan selama 5 hari itu. Jam di tangan menunjukan pukul 09.20 ketika kami beranjak meninggalkan Pantai Bandealit yang indah. Jalanan full offroad, kombinasi antara batu dan tanah. Beberapa kali kami berjumpa dengan penduduk desa yang menyapa kami dengan ramah.

Jalan yang kami lalui menanjak tajam dengan batu lepas dan lubang kanan kiri. Kamipun mengendarai motor dengan tehnik berdiri untuk menjaga kesimbangan dan mengurangi goncangan tubuh. Tiba-tiba Made yang ada di belakang saya teriak, “sepertinya ban motor saya bocor!”. Saya berhenti dan mengeceknya, celaka memang ban belakang motor Made terlihat kempes pes, sama sekali tidak ada anginnya. Padahal posisi kami waktu itu sudah di jalur offoad di tengah hutan! Ternyata bannya bocor ditembus paku karatan yang mungkin tertancap pada waktu kami melalui kampung nelayan di Pantai Bandealit.


Jika motor terus dipaksa dinaiki pasti tidak mungkin, bisa-bisa peleknya hancur karena jalannya berupa batu yang menonjol tidak karuan. Akhirnya kami memutuskan untuk membongkar ban motor dan membawanya ke kampung nelayan terdekat. Beruntung ada pengunjung yang lewat yang membantu kami membongkar ban motor. Pengunjung itu kaget ketika tahu bahwa salah satu pengendara motor trail itu adalah seorang perempuan!

Setelah dibongkar, ban motor yang bocor itu kami naikan ke KLX 250 dan membawanya ke kampung yang jaraknya 8 km dengan jalan offroad! Untungnya di kampung itu ada tukang tambal ban, kalau tidak ada bisa runyam nasib kami. Ban dalam yang bocor kami ganti dengan yang baru, karena takut bocor lagi di tengah jalan berbatu yang masih panjang. Ban yang bocor tetap kami tambal namun disimpan sebagai cadangan. Hemm semoga saja ban motor kami tidak ada yang bocor lagi!

Setelah ganti ban dalam, bergegas saya memacu motor menemui istri saya yang nungguin motor di tepi jalan di tengah hutan. Kata istri saya, ada banyak orang lewat yang heran, kog ada perempuan sendirian di tepi hutan dengan bawa motor trail tanpa ban!
Usai memasang ban, kami langsung memacu motor melewati jalanan offroad. Setelah 30 menit memacu motor di jalur offroad, kami mulai memasuki jalur di tengah perkebunan Glantangan. Jalurnya yang sepi membuat kami bisa memacu motor, target kami adalah jangan sampai kemalaman sampai di pelabuhan Ketapang Banyuwangi.

Jam menunjukan angka 13.25 ketika kami mulai memasuki daerah Pakusari Jember. Kami memutuskan untuk berhenti di sebuah warung yang jual mie pangsit, sekalian mengisi perut yang sudah keroncongan. Setelah setengah jam beristirahat, kami melanjutkan perjalanan kea rah Banyuwangi.

Jalur dari Jember ke Banyuwangi berupa jalur aspal yang meliuk-liuk menyisiri Gunung Kumitir. Jalannya mulus, cuma penuh dengan kelokan tajam. Kami memacu motor lumayan kencang, walaupun kadang-kadang harus ekstra hati-hati di tikungan karena motor kami membawa beban barang yang berat di bagian belakang. Jadi kalau keasyikan rebah di tikungan tajam, bisa jadi akan benar-benar rebah mencium aspal Kumitir.

Pukul 14.40 kami sampai di pasar Kalibaru yang sudah masuk wilayah Kabupaten Banyuwangi. Setelah istirahat sejenak sambil melumasi rantai motor, kami melanjutkan perjalanan ke arah pelabuhan Ketapang Banyuwangi. Jalanan yang kami lalui berupa aspal mulus. Jalur ini lumayan membuat kami bosan, karena monoton dan lalu lintasnya lumayan padat oleh pemudik.


Tepat pukul 16.30 kami akhirnya tiba di Pelabuhan penyeberangan Ketapang. Untungnya begitu kami melewati loket pembayaran, kami langsung dipersilahkan naik ke kapal. Ternyata kami penumpang terakhir di kapal itu. Begitu kami memarkir motor di dek kapal, beberapa orang lagi-lagi kaget ketika tahu salah satu dari kami adalah perempuan, karena ketika pakai helm adventure full face dan jaket, memang tidak kelihatan kalau Made itu perempuan.

Penyebarangan dari Ketapang ke Gilimanuk Bali berjalan dengan lancar, hanya membutuhkan waktu 45 menit. Pukul 18.15 waktu setempat (waktu di Bali lebih cepat satu jam dibandingkan waktu tanah Jawa), kami sudah mendarat di pulau dewata. Hari sudah mulai beranjak gelap. Kamipun langsung memacu motor ke arah Negara lewat tepi Taman Nasional Bali Barat.

Jalan aspal dari pelabuhan Gilimanuk ke Negara terbilang mulus dan lebar. Kami memacu motor dengan kencang hiingga kecepatan 110 km/jam. Hari semakin gelap dan kami juga mulai kecapekan, maklum seharian membawa motor dan separuhnya adalah jalur offroad. Akhirnya kami memutuskan untuk menginap di sebuah hotel di Desa Penyaringan, Kabupaten Jembrana. Badan dan otak kami sudah letih, sudah waktunya istirahat daripada celaka di jalan.

Hari ketiga

Pagi-pagi, sekitar pukul 07.00 kami sudah berangkat meninggalkan hotel untuk berpetualang di daerah Penyaringan sambil mengunjungi saudaranya Made yang memang punya keturunan Bali. Jalur yang kami lalui pemandangannya indah sekali, sawah hijau terbentang luas dengan suasana pedesaan yang asri. Kami tidak menjumpai satupun wisatawan asing di daerah ini, jadi terasa sekali suasana desa tradisionalnya.

Usai menikmati indahnya alam pedesaan di Penyaringan, kami meluncur ke SMP Medoyan untuk menemui seorang guru yang peduli akan lingkungan. Guru yang juga Supporter ProFauna itu bernama I Nengah Yasa Tenaya. Dia selama bertahun-tahun menanamkan nilai-nilai pelestarian lingkungan ke anak didiknya. Aksi nyata dari Yasa itu membuat dia dianugrahi penghargaan oleh pemerintah pusat beberapa waktu yang lalu.


Yasa menyambut kami dengan penuh kehangatan. Kami bicara panjang lebar soal lingkungan dan masalah penyu yang ada di Pantai Perancak. Dua orang guru juga ikut diskusi dengan kami. Terus terang kami kagum dengan semangat guru-guru itu yang mau peduli soal lingkungan, apalagi aktivitas mereka itu sama sekali tidak dibayar.
Setelah panjang lebar diskusi dengan guru-guru yang mendukung sekali program ProFauna itu, kami meluncur kembali ke hotel untuk bertemu dengan Jatmiko dari ProFauna Bali. Kemudian kami bersama-sama meluncur ke pantai Perancak untuk melihat program penyu. Jalan menuju ke Pantai Perancak juga membuat adem mata karena melalui sawah hijau yang terbentang luas sepanjang mata memandang.


Kedatangan kami di Pantai Perancak disambut dengan ramah oleh masayarakat lokal yang mengelola penyu. Mereka banyak berdiskusi dengan kami tentang pengelolaan penyu sambil menyeruput kopi hitam yang dihidangkan. Ngobrol di tepi pantai Perancak yang sepi itu membuat kami kerasan karena kami selalu suka dengan pantai yang tenang, bersih dan tidak terlalu ramai.

Puas menikmati asrinya Pantai Perancak, kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan kembali ke tanah Jawa. Langit menguning ketika kami mulai meninggalkan Perancak menuju pelabuhan penyebrangan Gilimanuk. Masih ada satu tempat lagi yang akan kami kunjungi dalam petualangan 5 hari ini, tempat itu adalah Perkebunan Kayumas di dekat kawah Ijen. (bersambung).

Untuk catatan perjalanan yang bagian 1, bisa dilihat dilink berikut: http://roseknursahid.blogspot.com/2012/08/berpetualang-ke-bandealit-taman.html

Senin, 27 Agustus 2012

Berpetualang ke Bandealit, Taman Nasional Merubetiri

Liburan Idul Fitri kali ini kami isi dengan mengunjungi Taman Nasional Merubetiri dan pulau dewata, Bali. Dalam petualangan kali ini, saya dan istri memutuskan untuk menempuhnya dengan motor trail, mengingat jalur yang akan kami lalui itu sebagai adalah jalur offroad. Kamipun membuat jadwal perjalanan dan menghubungi Supporter ProFauna yang akan kami kunjungi di daerah yang akan kami lewati. Kami hitung waktunya, ternyata perjalanan ini membutuhkan waktu seditnya 5 hari. Hemm pasti asyik melakukan perjalanan selama 5 hari di atas motor trail sambil menikmati keindahan alam! Berikut catatan perjalanannya yang betul-betul mengesankan kami.

Hari pertama.


Jam di tangan menunjukan pukul 07.55 ketika kami sampai di gerbang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Pagi yang cerah namun dingin. Kami memacu motor dengan santai, meliuk-liuk di jalanan semen di kawasan taman nasional itu. Tak lama kemudian kami sampai di Jemplang, pertigaan yang menuju Gunung Bromo. Jika belok kiri akan turun ke arah padang pasir bromo, jika lurus ke arah Gunung Semeru. Setelah berhenti sejenak untuk mengambil foto pemandangan yang begitu indah, kami melanjutkan perjalanan menuju arah Semeru.

Tiga puluh menit kemudian kami sampai di hutan Ireng-Ireng. Hutannya masih bagus dan terlihat ada banyak anggrek liar. Kami berhenti sejenak di tepi sungai untuk istirahat setelah melewati jalanan aspal yang penuh lubang dan hancur di sana sini. Harus ekstra hati-hati melewati jalur Ireng-Ireng ini karena aspal sudah terkelupas dan banyak kerikil berserakan.

Puas menghirup udara segar di hutan Ireng-Ireng kami kembali memacu motor ke arah Kabupaten Lumajang. Pukul 09.00 kami memasuki Desa Senduro yang sudah masuk wilayah Kabupaten Lumajang. Jalanan berikutnya berupa aspal, namun harus hati-hati karena di beberapa titik aspalnya berlubang sehingga sering kendaraan bermotor tiba-tiba melakukan manuver menghindari lubang. Hampir saja saya menabrak sebuah sepeda motor di depan saya yang tiba-tiba belok kanan karena menghindari sebuah lubang.

Sekitar 15 menit kemudian kami sudah melewati Kota Lumajang dan mulai memasuki jalanan aspal menuju Jember yang menjemukan. Saya bilang menjemukan karena jalannya berupa aspal lurus yang seperti tidak habisnya. Di jalan ini kami bisa memacu motor di kecepatan 80 hingga 115 km/jam.

Matahari semakin tinggi dan panas mulai menyengat tubuh. Kami terus memacu motor di tengah padatnya rombongan pemudik. Jam 12.00 kami mulai memasuki Kota Jember. Setelah terminal bus Jember, kami ambil jalur belok kanan menuju arah Jenggawah. Di Jenggawah, kami istirahat sejanak sambil menyantap makan siang di warung pinggir jalan. Enak sekali menunya, tahu sama sambal pedas, ditambah segarnya air kelapa muda.


Tepat pukul 13.00 kami berangkat meninggalkan Jengawah menuju arah Pantai Bandealit. Kami memlih jalur lewat perkebunan Glantangan, tidak lewat umum yaitu jalur Ambulu. Sengaja kami milih lewat Glantangan, karena jalurnya lebih asyik, lebih banyak jalur offroad-nya. Sementara kalau lewat Ambulu itu jalurnya aspal dan ramai dengan wisatawan yang akan pergi ke Pantai Watu Ulo dan Tanjung Papuma. Maklum waktu itu masih suasana liburan hari raya, jadi jalanan padat dengan wisatawan lokal.

Memasuki perkebunan Glantangan, jalur berupa aspal rusak dengan selingan tanah. Sepanjang jalan ada banyak pohon karet yang bikin adem. Kami memacu motor agak kencang, karena jalanan sepi. Sekali-kali kami tanya ke penduduk tentang arah menuju Bandealit, karena ini baru pertama kalinya kami lewat jalur Glantangan.


Tidak sampai satu jam kemudian kami memasuki jalur offroad. Jalurnya penuh dengan batu, tanah dan lubang. Yang bikin asyik adalah kanan kiri berupa hutan yang masih bagus. Beberapa kali kami melihat sekelompok lutung yang bertengger di pepohonan dan elang yang melintas di atas kepala kami. Untung kami bawa motor trail, jadi bisa melewati jalur ini dengan santai, coba membawa motor biasa pasti akan nangis di tengah hutan!

Ketika jam di tangan menunjukan pukul 15.00 kami sampai di Pantai Bandealit, taman nasional Merubetiri. Kami coba ke kantor resort KSDA, namun sayangnya kantornya sudah kosong melompong, tidak ada petugas yang berjaga. Seharusnya taman nasional itu selalu ada petugas yang piket, karena ini adalah kawasan konservasi alam yang patut dijaga.

Meskipun berada di dalam taman nasional, Pantai Bandealit juga dikenal sebagai tujuan wisata. Untuk masuk ke pantai ini dikenakan tarif parkir kendaraan bermotor sebesar Rp 2000. Pantainya sebutulnya indah, namun sayang kotor oleh sampah plastik yang berserakan. Membuat tidak sedap dipandang mata, selain tentu saja mencemari lingkungan juga.

Akhirnya kami memutuskan tidak jadi menginap di Pantai Bandealit, namun belok arah kiri ke bagian pantai yang lebih sepi. Di tempat yang kami pilih ini benar-benar nyaman, sepi, alami dan banyak sekali burung liar. Tenang dan nyaman sekali. Malam itu kami habiskan waktu dengan menginap di Bandealit sambil menikmati bintang-bintang yang begitu cerah memancar di langit. Kami berujar, “indah sekali alam ciptaan Tuhan ini”. (Bersambung).

Catatan tentang jalur umum menuju Bandealit:
- Surabaya ke Jember 200 km, sekitar 5 jam
- Jember ke Tempurejo/Ambulu 25 km, sekitar 1 jam
- Tempurejo/Ambulu ke Andongrejo 20 km, sekitar 0,5 jam
- Andongrejo ke Bandealit 14 km, sekitar1 jam (Khusus jalur ini direkomendasikan menggunakan mobil 4WD atau motor trail.

Senin, 13 Agustus 2012

Siapakah Donatur Utama ProFauna?

Tanpa mengurangi rasa format terhadap donatur lainnya, ketika saya ditanya siapakah donatur utama ProFauna Indonesia, maka saya akan menjawab dengan mantap, “Supporter ProFauna!”. Ya para relawan yang tergabung dalam Supporter ProFauna itulah yang sejatinya donatur utama ProFauna Indonesia. Kenapa mereka dikatakan sebagai donatur utama? Coba lihat empat contoh kasus di bawah ini.

Pertama, ketika pada bulan Juli 2012 Mas Yoes, seorang supporter ProFauna di Sidoarjo mencanangkan niatnya untuk menggali dana buat ProFauna dengan cara menawarkan jasa sketsa wajah, maka dalam hitungan menit ada banyak Supporter ProFauna yang merespon ide Mas Yoes itu lewat jejaring social facebook. Tak lama kemudian terkumpulah duit sebanyak Rp 3 juta yang 100% didonasikan untuk ProFauna. Mas Yoes menggali dana untuk ProFauna dengan caranya, dengan keahliannya, dan 100% dia itu tidak dibayar!

Kedua, ketika P-WEC dan ProFauna program edukasi tentang alam dan santunan untuk anak-anak desa yang kurang mampu, Supporter ProFauna Indonesia ramai-ramai bergerak ngumpulkan duit. Dalam hitungan beberapa hari terkumpul dana sebesar Rp 5 juta. Tidak cukup menyumbang dana, beberapa supporter seperti Asti, Pimpim dan Eva juga terjun langsung ikut menjadi fasilitator dalam kegiatan edukasi untuk anak-anak yang dilaksanakan pas bulan ramadhan itu. Wow dahsyat!

Ketiga, ketika di awal bulan Agustus 2012 ProFauna meluncurkan produk kaos terbaru seri “extinct” lewat facebook, dalam hitungan dua hari kaos seharga Rp 70.000 itu ludes diserbu Supporter ProFauna. Akibatnya supporter yang lain “protes” karena tidak kebagian ikut donasi dengan cara membeli kaos itu. Akhirnya kamipun berjanji untuk mencetak ulang kaos itu. Hemm luar biasa, ada orang yang haus memberikan donasi untuk sebuah upaya pelestarian satwa liar. Kalau donasi atas nama agama sih itu sudah biasa, saya tidaklah heran.

Contoh kasus terakhir, setiap ProFauna mengumumkan ProFauna akan melakukan demonstrasi, kami tidak pernah kesulitan mendapatkan massa. Supporter ProFauna selalu ada untuk demo ProFauna, dan yang jelas mereka itu tidak dibayar sama sekali alias mereka itu sukarelawan. Nah coba hitung, berapa duit tuh yang harus dikeluarkan oleh ProFauna jika harus membayar setiap orang yang ikut demo ProFauna? Jadi Supporter ProFauna yang telah itu demo itu secara tidak langsung adalah donatur ProFauna juga!


Ribuan supporter ProFauna yang tersebar luas, bukan hanya di Indoensia tapi juga di berbagai negara itu memainkan peran penting dalam setiap kegiatan ProFauna. Tanpa mereka, ProFauna akan terseok-seok. ProFauna memang unik, untuk ukuran organisasi alam di Indonesia, karena justru kekuatan utamanya adalah di supporter. Supporter ProFauna bukan sekedar donatur, tetapi juga juru kampanye, marketing dan pasukan di lapangan! Benar-benar dahsyat!

Terima kasih untuk anda yang telah bergabung menjadi Supporter ProFauna!

Kamis, 09 Agustus 2012

Hotel Murah dan Nyaman di Sanur Bali



Jika anda berwisata ke Bali dan ingin tinggal di daerah Sanur yang terkenal itu, cobalah menginap di Pondok Narita. Tempatnya bersih, sejuk dan relatif murah. Meskipun tempatnya di dekat Pantai Sanur, suasana di Pondok Narita itu sejuk karena ada banyak pepohonan. Setiap kamar punya taman dan teras tersendiri, jadi suasananya seperti di rumah sendiri.

Jika ingin pergi ke Pantai Sanur, cukup jalan kaki saja. Karena di belakang Pondok Narita itu sudah pantai Sanur. Meskipun berada di salah satu jalan utama di Sanur yaitu Jalan Danau Tamblingan, tapi suasana di Pondok Narita tidaklah bising, karena lokasinya agak masuk sekitar 100 meter. Dijamin tidur anda akan pulas, tanpa terganggu suara kendaraan bermotor.

Harga kamar di Pondok Narita itu Rp 200.000 per kamar yang bisa diisi dua orang. Kamar mandi ada di dalam dan dilengkapi dengan AC. Hanya saja bagi anda yang ingin nonton TV, di dalam kamar tidak disediakan TV. Tapi bagi saya TV di sebuah hotel tidaklah penting, karena ngapain jauh-jauh berwisata ke suatu daerah kalau hanya nonton TV di dalam kamar hotel!

Di Pondok Narita juga tidak menyediakan makan pagi. Tapi jangan kuatir di sekitar Pondok Narita ada banyak warung dan restoran yang menjual aneka makanan, mulai dari makanan Eropa, China hingga Indonesia. Kalau mau murah juga bisa makan nasi kuning yang banyak dijual murah meriah di sepanjang jalan Danau Tamblingan.

Pondok Narita
Jl. Danau Tamblingan 81 Sanur Bali
Tel. (0361) 284315, 7899331, Email: ritagiftshop_bali@yahoo.com