Minggu, 30 September 2012

Segarnya Mandi di Sungai

Ketika kebanyakan orangtua (yang hidup di kota) itu melarang anaknya mandi di sungai, saya justru menganjurkan anak saya untuk mandi di sungai. Mandi di sungai punya sensasi yang berbeda. Gemericik air dan kicauan burung benar-benar sebuah musik indah dalam menemani mandi. Mandinya jadi semakin lama, malas untuk mentas. Mandi di sungai juga membuat anak-anak saya lebih dekat dengan alam. Energi positif dari alam diserap lewat sejuknya air dan udara di sungai itu,

Tentunya anak saya mandi tidak di sungai yang kotor yang penuh dengan sampah dan limbah. Kami terbiasa mandi di sungai yang mata airnya berasal dari Gunung Malang, di wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur. Beruntung rumah kami berada di desa yang untuk menuju sungai itu hanya butuh waktu 30 menit dengan naik motor trail. Sedikitnya dua bulan sekali kami sekeluarga main ke sungai itu dan anak-anak saya begitu ceria langsung nyebur ke sungai yang airnya begitu jernih.

Daripada mandi di kolam renang yang belum tentu airnya bersih, kami lebih suka mandi di sungai. Selain gratis, mandi di sungai juga semakin membuat kami mencintai alam. Anak-anak saya juga begitu bebas mengekspresikan keceriaannya di sungai itu bersama capung-capung yang banyak berkeliaran di sungai. Banyaknya capung itu pertanda sungainya masih bersih, bebas dari polusi.


Ketika melihat begitu cerianya anak-anak saya mandi di sungai yang berada di tengah hutan pinus itu, dalam hati saya berfikir, sampai kapan anak-anak saya bisa menikmati mandi di sungai yang bersih? Dari tahun ke tahun hutan di sungai itu semakin tergerus oleh lahan pertanian. Sungainya juga semakin menyempit. Akankah 20 tahun lagi masih ada sungai yang jernih itu? Atau kemudian hanya jadi selokan belaka seperti yang terjadi di kota-kota? Aduh semoga tidak demikian!

Tiga puluh tahun yang lalu, sungai di dekat kantor pusat ProFauna Indonesia itu juga besar dan bersih. Orang masih mandi di ungai itu. Kini sungai itu sudah tidak pantas lagi disebut sungai, karena lebarnya sudah tidak lebih dari 1,5 meter. Ini lebih tepat disebut selokan. Atau lebih tepatnya selokan yang kotor dan penuh sampah!

Semua orang itu paham bahwa air itu sumber kehidupan. Tanpa air, susah rasanya manusia bisa hidup dengan normal. Banyak orang juga tahu kalau air itu erat kaitannya dengan hutan. Tanpa ada hutan, sumber-sumber air yang kebanyakan di hutan dan gunung itu juga akan hilang. Tapi kenapa tidak banyak orang yang peduli soal kelestarian hutan ya? Hutan terus digerus untuk pertanian, pertambangan dan perkebunan. Betul-betul menyedihkan.

“Ayo pak masuk air!”, teriakan Kya, anak saya membuyarkan lamunan saya tentang masa depan sungai dan hutan. Segera saya ikut terjun ke sungai, bermain-main dengan anak saya, mumpung masih ada sungai yang jernih yang bisa kami nikmati. Byurrrr!

Kamis, 13 September 2012

Penginapan di Bandealit, Taman Nasional Merubetiri


Jika anda ingin berpetualang ke Bandealit, Taman Nasional Merubetiri, namun enggan camping, jangan kuaitr karena kini di Bandealit ada penginapan yang lumayan asyik. Penginapan yang berada di tepi pantai itu dikelola oleh pihak Taman Nasional Merubetiri dengan tarif Rp 200.000 per kamar. Penginapan dengan nama Wisma Soneratia itu berada di sebelah kiri dari Pantai Bandealit yang biasa dikunjungi wisatawan umum.

Meskipun berada di pantai yang sering dikunjungi wisatawan dikala liburan, namun Wisma Soneratia itu sepi karena lokasinya tidak berada di pantai utama, namun berada di sebelah kiri. Jadi sebelum loket parkir kendaraan bermotor yang ada di Pantai Bandealit, itu belok kiri. Kira-kira sekitar 500 meter akan tampak Wisma Soneratia yang lokasinya dikelilingi pohon.

Namun jangan berharap pelayanan yang mewah jika anda nginap di Wisma Soneratia, maklum khan memang di hutan. Dengan membayar Rp 200.000 per kamar, anda akan mendapat fasilitas tempat tidur double bad pulus bantalnya. Kamar mandi juga berada di dalam kamar, namun airnya hanya mengalir di sore hari saja. Dan jangan kaget kalau airnya tampak kotor, tapi tidak asin kog, lumayan segar untuk membunuh rasa gerah.
Penerangan listrik juga ada, cuma hanya menyala di sore hari hingga pukul 11 malam. Setelah itu ya gelap gulita. Tapi justru asyik, karena kesan alamnya begitu kental. Apalagi kalau mau keluar kamar, bisa melihat indahnya bintang yang berkelap-kelip. Indah sekali.

Jika anda mau menginap di wisma ini, harus siap-siap membawa makanan, karena pihak pengelola wisma tidak menyediakan makanan dan minuman. Soal kebersihan, lumayan bersih, mungkin karena masih baru. Faktor lain yang membuat kawasan sekitar wisma itu bersih juga karena di tempat tidak dikunjungi wisatawan secara massal. mUngkin ceritanya akan jadi lain, kalau wisatawan yang tidak menginap di wisma itu diperbolehkan juga masuk, hemmm pasti akan jadi penuh sampah plastik! Semoga saja itu tidak terjadi.

Plus untuk Wisma Soneratia:

- Berada di lokasi yang asri, di tepi Pantai Bandealit
- Tempatnya sepi, cocok yang butuh ketenangan
- Konsepnya menyatu dengan alam

Negatif untuk Wisma Soneratia:

- Tidak menyediakan makanan dan minuman
- Tidak ada petugas yang menjaga
- Air kamar mandi kotor

Terbentuk Supporter ProFauna Chapter Kediri dan Surabaya | ProFauna Indonesia

Selamat atas terbentuknya Supporter ProFauna Chapter Kediri dan Surabaya! Semoga ini menjadi wadah koordinasi yang baik bagi supporter ProFauna yang ada di Kota Kediri dan juga Surabaya.
Terbentuk Supporter ProFauna Chapter Kediri dan Surabaya | ProFauna Indonesia