Rabu, 07 November 2012

Cinta Palsu


Ketika di akun facebook-nya ProFauna Indonesia mem-posting sebuah poster bergambar burung dalam sangkar dengan tulisan “mencintai mestinya tidak dikurung”, muncul banyak tanggapan. Semuanya sih berpendapat seragam, sepakat bahwa seharusnya burung dan satwa liar itu memang hidup di habitatnya, bukan dalam sangkar. Saya tertarik dengan komentar Alex, satu orang yang berkomentar di postingan ProFauna itu, dia bilang, “kalau mencintai satwa liar tapi dengan cara mengurungnya dalam sangkar itu berarti cinta palsu”.

Cinta palsu menjadi kalimat yang pas untuk mengambarkan fenomena orang yang mengaku pecinta satwa liar namun kemudian malah mengurungnya di sangkar. Satwa liar itu diberi makan dan minum lebih dari cukup, sangkarnya juga indah bukan kepalang. Tiap pagi satwa itu dimandikan, meskipun yang punya satwa justru belum mandi. Bahkan mungkin dia juga tidak peduli apakah istrinya sudah mandi atau belum, yang penting satwanya sudah mandi duluan.

Ketika kita mencintai seseorang, tentunya kita ingin memberikan yang terbaik buat orang itu. Kita ingin memberikan kebahagiaan buat orang itu. Kalau atas nama cinta, tetapi kita justru “menyiksa” atau mengeksploitasi orang itu, sangat pantas kalau itu dilabeli cinta palsu. Bahkan ‘alamat palsu’ seperti lagunya Ayu Ting Ting, karena cintanya salah alamat.

Kalau kita mencintai seseorang, kemudian kita selalu memberi makan, minum dan rumah mewah buat orang yang kita cintai, namun orang itu sama sekali tidak boleh ke luar rumah, apakah seperti itu namanya cinta? Bukankah kebutuhan orang (mahluk hidup) itu bukan sekedar soal makan dan minum? Apalah artinya makan dan minum yang enak dan melimpah, namun tidak punya kebebasan? Yah bisa-bisa orang itu jadi obesitas (kegemukan) dan penuh penyakit dong, soalnya hari-harinya hanya diisi dengan makan dan minum....

Apalagi satwa liar yang terbiasa hidup di alam bebas, tentunya akan sangat tersiksa jika terkurung dalam sangkar, semewah apapun sangkar itu. Satwa liar butuh mengekspresikan perilaku alaminya, butuh kawin, dan butuh berinteraksi dengan satwa lain. Satwa liar di alam juga punya ‘tugas” yang diamanahkan oleh Sang Pencipta untuk turut menjaga keseimbangan alam ini. Emangnya apa saja sih tugas satwa liar itu?

Kalau kita rinci satu per satu tugas satwa liar di alam, akan perlu beribu-ribu atau berjuta-juta halaman untuk mengupasnya. Saya ambil contoh beberapa saja, terutama satwa burung. Burung cendet dan sikatan itu di alam memangsa serangga, ini artinya tugasnya adalah mengontrol populasi serangga. Nah kalau si cendet dan sikatan itu populasinya berkurang akibat ditangkapi, terus siapa yang bertugas memakan serangga-serangga itu? Masih ingat kasus meledaknya hama belalang di Sumatera beberapa tahun silam akibat semakin berkurangnya burung-burung pemakan serangga? Nah kalau sudah seperti itu, siapa yang rugi? Ya manusia alias kita yang jadi rugi.

Burung kacamata atau burung madu punya peran membantu dalam penyerbukan bunga. Tanpa penyerbukan itu bunga itu susah jadi buah. Nah kalau burung-burung yang membantu penyerbukan itu semuanya sudah pindah ke dalam sangkar di rumah kita, siapa yang akan melakukan penyerbukan bunga-bunga itu? Emangnya mau kita menggantikan tugas burung-burung itu?

Burung hantu itu kegemarannya makan tikus. Mereka sengaja diciptakan Tuhan untuk membantu mengontol populasi tikus. Khan jadi berabe ketika burung hantu di alam sudah berkurang akibat ditangkapi untuk diperdagangkan, terus siapa dong yang akan makan tikus-tikus di sawah dan ladang itu? Anda mau menggantikan tugas burung hantu itu?
Dari tiga contoh tugas burung di alam itu, sangatlah jelas dan gamblang bahwa setaip satwa liar di alam itu punya tugas dan fungsi. Fungsinya di alam akan menjadi hilang, ketika satwa liar itu kita rampas kebebasannya dan mengurungnya dalam sangkar di rumah kira. Mengurung satwa liar atas nama cinta adalah sebuah bentuk egoisme manusia.

Kalau kita benar-benar pecinta sejati satwa liar, seharusnya kita memberikan kebebasan buat satwa liar itu. Kalau kita mengaku cinta, tapi justru mengurungnya dalam sangkar atas nama hobby, itu berarti cinta palsu alias cinta gombal!