Selasa, 31 Desember 2013

Catatan Akhir Tahun

Saya atas nama ProFauna Indonesia mengucapkan selamat tahun baru 2014! Semoga ditahun 2014 kita semua akan diberi kesehatan dan kesuksesan.

Tahun depan akan menjadi tahun istimewa bagi ProFauna,karena ProFauna menginjak usia 20 tahun. Selama dua dekade, sejak dirikan tahun1994, ProFauna memberikan warna tersendiri bagi pergerakan perlindungan satwaliar di Indonesia. ProFauna yang didukung oleh ribuan supporternya menjadiorganisasi terdepan yang berbicara dan berbuat untuk satwa liar Indonesia.

Karena tahun depan adalah tahun istimewa, ProFauna akan merayakannya denganmeluncurkan beberapa program baru, antara lain kami akan membentuk RangerProFauna untuk melawan perburuan satwa liar di kawasan-kawasan konservasi alam.Selain itu ProFauna juga akan mempopulerkan Hari Primata Indonesia yang akanjatuh setiap tanggal 30 Januari. Di tahun 2014 ProFauna juga akan meluncurkankampanye penyelamatan habitat terakhir orangutan di Kalimantan. Hal yang tidakkalah istimewanya,tahun depan kami akan merayakan secara besar-besaran ulang tahun ProFauna ke-20dengan beragam aktivitas yang akan dirancang oleh supporter ProFauna Indonesia.

ProFauna Indonesia meninggalkan tahun 2013 dengan banyakkesuksesan dalam berbagai kampanye. Salah satu kusuksesan ProFauna di tahun 2013 adalahkami berhasil menyakinkan situs Toko Bagus.com dan Kaskus untuk memblokir iklantentang perdagangan satwa dilindungi di situs mereka. Langkah bijak dariTokobagus dan Kaskus ini sangat membantu dalam meredam perdagangan satwa liarsecara online, karena kini trend perdagangan satwa di Indonesia selaindilakukan secara konvensional di pasar-pasar burung, juga bergeser lewat duniamaya. Berita Kaskus tersebutbisa dilihat dihttp://www.profauna.net/id/kampanye-lainnya/kaskus-sepakat-dengan-profauna-untuk-menghapus-iklan-jual-beli-satwa#.UsJ6JtJdUqM

Pada tahun 2013, ProFauna juga sukses melakukan kempanyeperlindungan orangutan sumatera lewat program “Ride for Orangutan”. Kampanyeini sukses bukan hanya karena diliput oleh banyak media massa, namun juga melibatkan peran aktif dariberbagai komunitas. ProFauna sejak lama percaya bahwa masyarakat harus ikutterlibat aktif dalam penyelamatan satwa liar, karena hal itu akan lebih efektifdampaknya. Salah satu contoh kusuksesan pelibatan masyarakat itu adalah dikampanye Ride for orangutan. Silahkan lihat berita lengkapnya di link berikut:http://www.profauna.net/id/kampanye-primata/ride-for-orangutan/2013/kampanye-ride-for-orangutan-sukses-melibatkan-partisipasi-masyarakat#.UsJ5q9JdUqM

Selain sukses kampanye Ride for Orangutan, di tahun 2013ProFauna juga sukses melakukan kampanye perlindungan penyu di bebagai daerahseperti Jawa, Bali dan Kalimantan Timur. Dampak dari kampanye penyu itu,Kementrian Kelautan dan Perikanan memberikan lampu hijau kepada ProFauna untukmemberikan masukan tentang panduan pengelolaan penyu di indonesia. ProFaunasedang menyiapkan panduan tersebut dan semoga akan menuai keberhasilan di tahunmendatang. Informasi tentang kampanye penyu ProFauna di tahun 2013 itu bisadicek di:http://www.profauna.net/id/kampanye-penyu/profauna-kampanye-penyu-di-jakarta#.UsJ6bNJdUqM

ProFauna indonesia mengucapkan terima kasih atas dukungananda, semoga tahun depan kita bisa berbuat lebih banyak lagi buat satwa liarIndonesia dan habitatnya.Sukses untuk kita semuanya di tahun 2014!

Salam hangat,
Rosek Nursahid
Pendiri ProFauna Indonesia

Selasa, 26 November 2013

Memacu Adrenalin di Atas Pohon Sambil Melihat Tupai Terbang di Bukit Bangkirai

Tidak banyak orang yang tahu kalau di dekat Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) ada atraksi wisata alam yang luar biasa menarik, yang memacu adrenalin karena kita akan jalan-jalan di atas kanopi hutan setinggi 30 meter. Nama tempat itu adalah Bukit Bangkirai yang bisa ditempuh selama 2,5 jam dari Samarinda dengan mobil. Bahkan ketika saya bertanya ke sejumlah masyarakat di Kota Samarinda, banyak dari mereka yang tidak tahu tempat wisata alam itu.

Di bulan November 2013 bersamaan dengan kampanye ProFauna di Samarinda, saya menyempatkan diri berkunjung ke tempat itu setelah sebelumnya diberitahu oleh sahabat saya Rustam Fahmi, yang juga seorang aktivis ProFauna di Kaltim itu. Dari KotaSamarinda itu lewat jalan propinsi menuju arah Balikpapan. Setelah melewati Samboja, ada pertigaan kecil, ambil arah belok ke kanan. Dari pertigaan itu, jalanan banyak kelokan dan jalanan aspal tidaklah terlalu mulus, tapi masih bisa dilalui mobil dengan penggerak roda 2WD.

Bukit Bangkirai yang didominas pohon bangkirai alias meranti itu diresmikan oleh Menteri Kehutanan pada tanggal 14 Maret 1998 dengan luas 510 hektar yang dikelola oleh Inhutani. Bukit Bangkirai menyimpan kekayaan yang lumayan besar, tercatat ada 113 jenis burung, 24 anggrek 3000 jenis jamur dan 13 jenis rotan. Secara keseluruhan tercatat ada 2800 jenis flora dan fauna yang menghuni Bukit Bangkirai itu.

Selain kekayaan flora dan fauna, hal yang paling menarik di Bukit Bangkirai adalah canopy bridge, jembatan di atas kanopi pohon setinggi 30 meter. Jembatan yang mengandalkan kekuatan kawat baja seling itu digantung di pohon bangkirai yang menjulang tinggi. Untuk naik menuju jembatan itu, pengunjung harus ngos-ngosan dulu meniti anak tangga yang melingkari pohon yang jadi tiang utama jembatan.

Awalnya saya agak ragu untuk meniti jembatan yang bergoyang-goyang itu, maklum saya agak kurang suka ketinggian. Namun begitu melihat keindahan alam dari atas jembatan itu, rasa grogi langsung sirna. Saya langsung dengan antuasias membidikan berulang kali kamera saya ke berbagai obyek yang terpampang begitu mempesona di hadapan saya. Terlihat hamparan hijau yang tersusun dari ribuan kanopi pohon.
Dengan posisi saya yang berada di atas kanopi pohon itu saya membatin dalam hati, hemm ini pasti asyik untuk mengamati burung di pagi atau sore hri. Sayang saya waktu itu datangnya sudah siang, jadi tidak banyak burung yang bisa diamati. Menurut petugas Bukit Bangkirai, di tempat ini sangatlah mudah untuk melihat burung enggang dan tupai terbang. Satwa liar lainnya yang ada di Bukit Bangkirai antara lain beruang mau, macan dahan dan rusa.

Beruntung waktu itu saya sempat melihat tupai terbang yang lagi asyik bertengger di salah satu dahan di pohon bangkirai. Indah sekali. Tapi hemmm sayang seribu sayang, saya tidak membawa lensa kamera yang panjang, jadinya saya hanya bisa gigit jari melihat satwa dilindungi itu yang sepertinya sebetulnya menunggu untuk diabadikan di lensa kamera! Menyesal rasanya saya tidak bawa kamera tele panjang!

Bukit Bangkirai dengan atraksi canopy bridge-nya itu luar biasa sekali menariknya, apalagi biaya masuknya murah sekali, hanya Rp 20.000 per orang. Tapi pengunjung di tepat wisata ini sangatlah sedikit, rata-rata hanya 60 orang per bulan. Sebuah angka yang sedikit sekali dibandingkan dengan keelokan alam yang ditawarkan. Saya bergumam, kalau saja ini ada di Jawa, pastilah akan ramai sekali pengunjungnya.

Pengunjung yang hobby trekking di tengah hutan juga akan dimanjakan di bukit ini, karena ada banyak jalur trekking yang sudah diberi tanda, jadi tidak perlu takut tersesat. Untuk yang mau camping juga tersedia camping ground di tengah hutan. Semuanya aman, karena ada petugas yang mengawasinya.

Untuk yang ogah camping, bisa menginap di cottage yang tersedia di pintu masuk Bukit Bangkirai. Ada 5 cottage yang ditawarkan seharga Rp 500.000 per cottage yang berisi dua kamar. Harga yang relatif murah, mengingat lokasinya berada di “pedalaman”. Yang doyan makan, jangan kuatir di kawasan Bukit Bangkirai ini juga tersedia warung makan dan minuman dengan harga yang bersahabat.


Untuk anda yang hoby petualangan, Bukit Bangkirai wajib anda kunjungi jika sedang bepergian ke Balikpapan atau Samarinda. Sayangnya beredar kabar yang kurang sedap, kabarnya izin pengelolaan wisata alam Bukit Bangkirai tidak akan diperpanjang lagi karena akan ada eksplorasi tambang batu bara! Huhh!

Senin, 30 September 2013

Tiga Hari yang Menggairahkan

ProFauna Conference 2013 yang usai digelar tanggal 12-14 September yang lalu meninggalkan kenangan manis dan kemesraan yang enggan berlalu, persis seperti  lirik di lagu ‘kemesraan’ yang dilantunkan band Balance di penutupan acara dua tahunan itu. Selama tiga hari orang-orang hebat dari berbagai daerah kumpul di Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC), Kabupaten Malang, Jawa Timur untuk berbagi pengalaman dan semangat dibidang konservasi alam. Ini menjadi ajang menggali ilmu yang dahsyat karena sang “guru” bukan bicara soal teoritis, tetapi fakta dan realita di lapangan berdasarkan pengalaman panjang bergelut di dunia konservasi alam.

Jadinya acara itu berlangsung dengan penuh gairah, tidak membosankan, seperti jamaknya kuliah-kuliah di kampus yang lebih banyak obral teori, apalagi teorinya itu sudah kuno alias kudet (kurang upate – meminjam istilah anak saya). Karena yang berbicara adalah praktisi yang menjalankan langsung program-program konservasi alam, diskusipun mengalir begitu hangat. Ada Asril dari Medan yang berbicara tentang suka duka bekerja dengan orangutan. Ada Rudy dari Aceh yang berbagi cerita begitu rumitnya bekerja menyelamatkan ekosistem Leuser di Aceh. Ada juga Bayu yang panjang lebar bercerita tentang kampanye penyu di Bali yang penuh dengan rintangan. Masih banyak pembicara lain yang berbagi pengalaman berdasarkan apa yang telah mereka alami, berdasarkan apa yang telah mereka kerjakan di lapangan.

Selama tiga hari mengikuti ProFauna Conference yang dihadiri sekitar 100 orang itu benar-benar menggairahkan saya. Beruntung saya bisa banyak bertemu dengan pejuang-pejuang lingkungan yang hebat, yang bekerja tanpa pamrih. Saya katakan ,mereka itu pejuang, bukan karena mereka telah mendapatkan penghargaan dari pemerintah (yang bagi saya, itu tidaklah penting-penting amat), tetapi karena mereka telah berbuat nyata untuk alam dengan cara mereka. Sebut saja Yasa, seorang guru di Jembrana Bali yang sejak lama berjuang untuk menyebarkan virus konservasi alam di anak didiknya, meskipun seringkali justru pihak sekolah kurang mendukungnya. Atau Zamroni, seorang guru di Sidoarjo, yang juga begitu militannya untuk menyebarkan “ajaran” ProFauna ke generasi muda di Sidoarjo. Semua itu dilakukan dengan dana sendiri, tidak ada sponsornya. Bahkan hebat lagi, malah Zamroni yang rajin kasih sumbangan ke ProFauna!

Saya juga begitu hangat berdiskusi dengan Eka, koordinator supporter ProFauna Chapter Ternate. Eka yang bicara lantang dan penuh semangat itu banyak bercerita tentang situasi terkini di Maluku utara terkait dengan ProFauna dan permasalahan burung paruh bengkok. Saya bersyukur, sejak Eka menjadi koordinator supporter ProFauna di Maluku utara, penambahan supporter jauh lebih cepat. Yang mendaftar jadi suporter ada yang berlkatar belakang dosen, mahasiswa, tokoh Pramuka dan juga aktivis lingkungan. Hemm ini jadi mematahkan kata seseorang yang bilang, “kalau tidak ada saya, pastilah ProFauna di Maluku Utara akan habis”. Ah itu khan pikiran orang sombong, nyatanya penambahan suporter ProFauna di Maluku utara malah begitu pesat. ProFauna itu tidak tergantung satu orang, masih banyak ratusan atau bahkan ribuan supporter ProFauna lainnya yang siap mendukung.

Ada hal yang juga membuat saya terharu namun semakin meningkatkan gairah saya untuk terus berjuang untuk alam Indonesia, yaitu tentang animo suporter ProFauna untuk hadir di ProFauna conference. Dengan dana sendiri (baca: ProFauna tidak mendanai dan juga tidak ada sponsor),suporter ProFauna dari berbagai daerah dan negara hadir dengan berbagai cara. Ada yang naik pesawat, kapal laut, bus, kereta api dan sepeda motor. Patut diacungi jempol buat Pak Mamik, yang rela naik sepeda motor dari Lampung ke Malang untuk menghadiri ProFauna conference! Wow hebat! Ternyata ada banyak jalan menuju Malang, asal ada ketulusan dan komitmen, uang bukanlah menjadi penghambat utama.

Udara dingin di P-WEC terasa hangat karena diselimuti semangat ProFauna, kobaran slogan one spirit benar-benar menghangatkan suasana selama tiga hari itu. Kehadiran aktor Mathias Muchus di tengah-tengah aktivis ProFauna itu semakin membakar api perjuangan.  Saya dan mungkin juga dirasakan oleh banyak supporter lainnya, merasa tiga hari itu cepat sekali berlalu. Ogah rasanya untuk berpisah dari kehangatan persaudaraan yang begitu kental di ProFauna.


Namun setiap pesta pasti berakhir, seperti halnya setiap konser rock pada akhirnya juga akan usai. Demikian juga ProFauna conference 2013, haruslah disudahi di malam minggu 15 September. Sedih memamg harus berpisah dengan sahabat dan saudara seperjuangan. Namun perjuangan masih berlanjut, belum usai. Kita harus kembali ke daerah masing-masing, ke pekerjaaan yang telah menunggu di rumah. Kita masih harus berjuang dengan cara masing-masing, dengan cara yang sederhana, namun bermakna. Perjuangan untuk kelestarian alam itu tidak harus ada duitnya, ada duit atau tidak, yah harus tetap berjuang! Selamat berjuang dan terima kasih telah hadir di ProFauna Conference 2013! I miss you all......

Selasa, 17 September 2013

Mathias Muchus Deklarasikan Pelestarian Hutan | ProFauna Indonesia

Aktor Mathias Muchus menyerukan gerakan pelestarian hutan Indonesia dengan melibatkan segenap komponen masyarakat. Ajakan itu disampaikan Mathias Muchus di acara ProFauna conference yang diadakan di Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC) pada tanggal 12-14 September 2013. Muchus mengatakan bahwa gerakan pelestarian hutan harus dilakukan secara konsisten dan pantang menyerah.

Saya senang sekali bisa bertemu lagi dengan sahabat saya Mathias Muchus yang sejak lama menunjukan kepeduliannya akan pelestarian hutan. Terima kasih telah datang di ProFauna Conference 2013!

Mathias Muchus Deklarasikan Pelestarian Hutan | ProFauna Indonesia

Selasa, 10 September 2013

Asyiknya Bertemu dengan Aktivis ProFauna dari UK

ProFauna Conference 2013 yang diadakan tanggal 12-14 September 2013 di Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC) menjadi sebuah ajang yang menggairahkan buat saya karena bisa bertemu dengan banyak aktivis ProFauna dari berbagai pelosok negeri. Bukan hanya suporter ProFauna dari Indonesia saja yang hadir, tapi juga dari luar negeri. Tercatat yang hadir itu berasal dari 16 propinsi yang ada di Indonesia dan 5 negara antara lain UK, Jerman, Spanyol, USA dan Indonesia sebagai tuan rumah. Ini foto saya bersama Andrew dan Bea yang malah sudah hadir di P-WEC sejak sebulan yang lalu.

Suporter ProFauna dari 15 Propinsi Akan Hadir di ProFauna Conference 2013 | ProFauna Indonesia

Kamis, 22 Agustus 2013

Penghoby Elang Membuat Elang Semakin Terancam Punah

Maraknya komunitas penghobby atau kolektor elang semakin membuat elang terancam punah di alam. Bagaimana tidak terancam punah, karena sebagian besar elang yang dijual itu adahal hasil tangkapan dari alam. Kebanyakan elang diambil dari sarangnya ketika masih anakan, karena untuk menangkap elang yang dewasa di alam itu sangatlah sulit. Anakan elang itu kemudian dipelihara sampai agak besar atau langsung dijual di pasar gelap. Parahnya pasar gelap itu kini semakin "terang benderang", karena pedagang satwa mulai menjual elangnya secara terbuka secara online lewat jejaring sosial.

Beberapa orang mengaku pecinta elang dengan mengkoleksi elang itu. Huhh kalau begini sih itu namanya cinta palsu, karena justru akan membuat elang stress dan terancam punah. Elang sebagai top predator alias pemangsa tertinggi dalam jejaring makanan membutuhkan tempat yang luas untuk mengekspresikan perilakunya sebagai sang pemangsa. Elang tidak hanya butuh makanan dan minum belaka, namun butuh menjalankan fungsinya di alam yang digariskan oleh Sang Pencipta.

Coba baca artikel tentang elang di situs Suara-alam.com berikut ini:
Bahaya, Perdagangan Elang Jadi Tren di Malang | Suara-alam.com

ProFauna Dukung Program Konservasi Penyu di Airkuning, Jembrana | ProFauna Indonesia

Saya turut senang ketika ProFauna memutuskan untuk mendukung program konservasi penyu di Airkuning, Kabupaten Jembrana, Bali, karena program penyu di tempat ini dibangun dengan nol melalui proses yang baik. Proses yang baik itu diawali dengan niat baik yaitu untuk melestarikan penyu, bukan semata-mata untuk mencari duit alias bersifat komersil. Kedua, program ini sejak awal didukung oleh aparat desa, tokoh adat dan tokoh agama setempat, karena sebelum diresmikan program penyu di sosialisasikan terlebih dahulu ke masyarakat.

Adalah Gede Sudita yang mecetuskan program konservasi penyu di Airkuning yang kemudian membentuk kelompok bernama 'Segara Urip'. Karena niat dan proses yang baik itulah kemudian saya mewakili ProFauna menyatakan mendukung program konservasi penyu di Airkuning itu. Semoga ini menjadi program penyu yang benar, bukan program yang babak belur karena keasyikan mencari duit dari "jualan" penyu.

ProFauna Dukung Program Konservasi Penyu di Airkuning, Jembrana | ProFauna Indonesia

Senin, 19 Agustus 2013

Indahnyanya Danau Buyan

Ketika kami berkunjung pertama kalinya ke Danau Buyan di bulan Agustus 2013,saya langsung bergumam, “hemm indah sekali dan tenang”. Meskipun waktu itu di Bali sedang musim liburan, namun di Danau Buyan terlihat sepi sekali. Hanya ada tidak lebih dari 5 orang yang terlihat menikmati alam Danau Buyan. Justru kesenyapan itu yang membuat Danau Buyan terlihat indah di mata saya. Sekeliling danau yang berpagar alami hutan dan kabut yang menyelimuti danau itu semakin membuat kesan indah. Dan ada nuansa magis. Hati terasa damai.
Kicauan burung semakin menambah alaminya Danau Buyan itu. Beberapa burung air terlihat asyik bermain air di tepi danau. Sekali-kali terlihat juga burung kuntul putih yang terbang melintas di atas danau yang cukup luas itu. Kami benar-benar menikmati suasana yang asri dibalut dengan sejuknya udara yang membuat kami betah berlama-lama berada di tepi Danau Buyan.
Danau Buyan berada di kawasan Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada,Kabupaten Buleleng, Bali. Danau ini merupakan satu dari tiga danau kembar yang terbentuk di dalam sebuah kaldera besar. Ia diapit oleh dua danau lainnya, yaitu Danau Tamblingan di sebelah barat dan Danau Beratan di sebelah timur. Danau Buyan adalah yang terbesar dari ketiganya.

Di antara Danau Buyan dan Tamblingan yang terpisahkan oleh hutan sepanjang kurang lebih satu kilometer, terdapat sebuah kanal sempit  yang terhubung langsung dengan Danau Buyan. Oleh masyarakat setempat kanal itu dinamakan Telaga Aya. Untuk anda yang ingin menikmati sisi lain dari keindahan Pulau Bali, silahkan coba kunjungi Danau Buyan.

Minggu, 18 Agustus 2013

Berkunjung ke Danau Tamblingan yang Indah, Namun Sayang tidak Terawat

Beberapa kali saya melintas di jalan yang berada di atas Danau Tamblingan, namun kesempatan untuk turun dan berada di tepi Danaui Tambilingan baru kesampaian beberapa waktu yang lalu. Dari jalan raya yang menghubungkan Bedegul dan Desa Munduk itu kalau mau ke Danau Tamblingan ambil arah ke kiri. Jalannya tidak terlalu lebar dan semakin mendekatai danau itu jalannya semakin rusak. Namun sepeda motor masih bisa melewatinya dengan perlahan.

Danau Tamblingan terletak di lereng sebelah utara Gunung Lesung, kawasan Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng,Bali. Danau ini merupakan satu dari tiga danau kembar yang terbentuk di dalam sebuah kaldera besar. Di sebelah timur berturut-turut terdapat Danau Buyan dan Danau Beratan. Danau ini dikelilingi hutan sehingga udaranya terasa sejuksekali, bahkan cendmerung dingin untuk orang yang terbiasa hidup di dataran rendah seperti misalnya Surabaya atau Jakarta.

Nama Tamblingan berasal dari dua kata dalam Bahasa Bali yaitu Tamba berarti obat, dan Elingang berarti ingat atau kemampuan spiritual. Diceritakan dalam Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul bahwa masyarakat di wilayah itu konon pernah terserang wabah penyakit menular.. Kemudian seseorang yang disucikan turun ke danau kecil di bawah desa untuk mengambil air untuk obat. Berkat doa dan kemampuan spiritualnya air itu kemudian dijadikan obat dan mampu menyembuhkan masyarakat desa. Kata Tamba dan Elingang inilah lama kelamaan menjadi Tamblingan.

Di sekitar Danau Tamblingan banyak terdapat pura, bahkan salah satunya berada persis di tepi danau. Sayangnya pura yang berada di tepi danau itu terlihat kurang terawat dengan baik. Di sekitar pura dan juga danau ada banyak sampah plastik yang membuat tidak sedap pemandangan. Sayang sekali, padahal danau ini begitu indah dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing pemburu keindahan alam. Terbukti pada waktu saya berkunjung kesana, setidaknya ada lebih dari 20 wisatawan asing yang terlihat enjoy menikmati alam danau Tamblingan.

Jika ingin keliling Danau Tambilingan, ada banyak persewaan perahu dayung tradisional. Harga sewa perahu itu Rp 140 ribu untuk maksimum 4 orang. Harga segitu sudah termasuk tukang dayungnya.
Menurut salah satu tukang perahu, air di danau Tamblingan itu tidak pernah kering meskipun di musim kemarau. Ada mata air di hutan yang terus tiada henti mengisi air danau lewat aliran bawah tanah. Namun sayangnya danau ini semakin tahun kian dangkal karena longsoran tanah. Airpun semakin meluas, namun kedalaman danaunya semakin dangkal.


Andai saja lingkungan di sekitar Danau Tamblingan itu ditata lebih baik dan tidak ada sampah plastik yang berserakan, hemmm pasti akan lebih indah dan mampu lebih banyak menyedot wisatawan. Semoga pemerintah setempat menyadari hal ini dan segera menyelamatkan keindahan Danau Tamblingan yang punya potensi besar untuk memberikan pendapatan bagi masyarakat lokal itu.

Jumat, 16 Agustus 2013

Desa Munduk,Wisata Desa yang Asri di Pulau Dewata

Bagi anda yang sudah sering ke Bali dan mulai jenuh dengan tujuan wisata yang semakin hiruk pikuk seperti Kuta atau Sanur, coba kunjungi sisi lain dari Bali yang tidak kalah menawannya. Salah satu lokasi wisata yang indah namun jauh dari kesan ramai dan berjubel itu adalah Desa Munduk yang berada di Singaraja. Di kalangan wisatawan domestik memang desa ini kurang terkenal bahkan ketika kami bertanya ke beberapa orang di Denpasar, mereka tidak banyak mengenal tempat ini. Namun di kalangan wisatawan asing khususnya Eropa, nama Munduk sudah tidaklah asing lagi.

Pada bulan Agustus 2013 saya dan istri berkesempatan mengunjungi Desa Munduk, setelah dapat rekomendasi dari Bayu Sandi, aktivis ProFauna yang bekerja di Bali. Kami berangkat dari Negara menuju arah Pekutatan dengan menggunakan dua sepeda motor khusus untuk petualangan. Dari Pekutatan, kami belok kiri menuju arah Singaraja. Beberapa kali kami berhenti untuk bertanya ke penduduk tentang arah menuju Desa Munduk. Mereka semuanya melayani pertanyaan kami dengan ramah, khas keramahan penduduk desa.

Jalan menuju Desa Munduk itu menanjak dan berkelok-kelok, tapi mulus. Sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan segar berupa perkebunan cengkeh, kopi dan persawahan. Begitu indah dan tenang. Sampai di Desa Pucaksari, kami berhenti untuk makan siang di pertigaan desa yang ada warung sate dan gule kambing. Dari pertigaan desa itu, kami mengambil jalan yang lurus karena lebih dekat, meskipun jalannya lebih menanjak dan penuh dengan kelokan tajam.

Sekitar lima belas menit melewati Desa Pucaksari, akan ada pertigaan lagi yang juga ada warung sate kambingnya. Di pertigaan ini, kami mengambil jalan belok kanan yang menurun. Setelah melewatu pertigaan itu, kami memasuki jalan sepi di tengah hutan yang masih bagus. Jalannya masih berupa aspal yang mulus, namun harus ekstra hati-hati karena jalanan menurun tajam dan berkelok-kelok. Waktu kami lewat jalan di tengah hutan ini, kami hanya berpapasan 3 motor saja. Jalannnya memang sepi, tapi justru ini yang mengasyikan buat kami. Seakan-akan kami sedang tidak berada di Bali yang dikenal dengan penuh sesak wisatawan ketika musim liburan.

Di jalan tengah hutan itu kami juga menjumpai beberapa pura, salah satunya pura Kuntul Bumi. Keberadaan pura-pura di tepi jalan inilah yang mengingatkan kami kalau kami masih berada di pulau dewata. Beberapa kali kami juga berhenti di jalan tengah hutan itu untuk mengamati burung-burung liar yang banyak berkicau dengan riangnya. Hemm betul-betul menyegarkan pikiran.

Selepas dari jalan di tengah hutan, kami memasuki jalanan kampung. Lagi-lagi kami bertanya ke penduduk desa tentang arah ke Desa Munduk. Jalanan menuju Desa Munduk ini masih menanjak dan penuh dengan  kelokan tajam. Udaranya sejuk dan cenderung dingin pada waktu itu.

Tak lama kemudian kami memasuki Desa Munduk yang ternyata benar-benar asri dan indah. Desa ini berupa perbukitan yang berada di ketinggian sekitar 900 meter dari permukaan laut . Tak heran kalau udaranya terasa segar sekali. Pemandangan di Desa Munduk didominasi perkebunan cengkeh dan kopi dengan latar belakang gunung dan perbukitan.

Salah satu obyek wisata yang terkenal di Desa Munduk adalah air terjun Munduk dengan tinggi sekitar 100 m. Obyek wisata alam lain yang terkenal di sekitar Munduk adalah beberapa danau seperti Danau Tamblingan, Bratan dan Buyan. Agak jauh lagi, kita bisa berkunjung ke Bedugul yang terkenal dengan kebun rayanya itu.

Di Desa Munduk juga banyak penginapan dengan harga mulai Rp 200 ribu hingga jutaan. Kebanyakan model penginapannya berupa home stay dan bungalow. Jika mau lebih murah, bisa juga menginap di home stay yang berada luar Desa Munduk. Kami sempat ditawari penduduk untuk menginap di rumahnya dengan harga Rp 100 ribu per kamar.


Wisatawan di Desa Munduk yang berada di Kabupaten Buleleng itu kebanyakan adalah wisatawan asing. Sangat sedikit sekali wisatawan domestik yang berjunjung apalagi tinggal di Desa Munduk yang relatif sepi itu. Untuk anda yang gemar trekking dengan suasana alam yang segar, Desa
Munduk akan memuaskan dahaga anda. Keramahtamahan penduduk desanya juga menambah betah untuk berlama-lama tinggal di desa ini. Apalagi harga makanan di warung-warung di Munduk juga tidak terlalu mahal, tidak jauh beda dengan harga di warung yang ada di Malang. Kami yang memang gemar berpetualang benar-benar terpuaskan dengan keindahan alam Munduk dan danau-danau yang ada di sekitarnya. Selama kami di Munduk juga bertemu dengan beberapa bule yang ternyata tahu tentang ProFauna, semakin menambah senang saja berada di desa ini.

Jumat, 09 Agustus 2013

Lebaran ke Nongkojajar Lewat Gunung Tunggangan

Kebanyakan orang dari arah Kota Malang jika mau ke Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur itu lewat Purwodadi. Resikonya akan terjebak macet di beberapa titik seperti Karanglo, Singosari dan Lawang. Jika ingin menghindari macet, cobalah lewat jalur alternatif menyisiri gunung Tunggangan. Jalurnya sepi dan asyik untuk yang hobi berpetualangan karena bisa menikmati suasana pedesaan dan ladang petani.

Untuk menuju Nongkojajar lewat Tunggangan itu dari Kota Malang menuju arah wisata pemandian Wendit di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Dari Wendit terus menuju arah ke Pasar Pakis, kemudian setelah Pasar Pakis ada pertigaan, ambil arah belok kiri menuju Jabung. Setelah melewatiPasar Jabung, terus ambil jalan lurus ke arah Nongkojajar.

Jalan menuju Nongkojajar lewat Tunggangan itu sudah aspal, walaupun di beberapa titik sudah berlubang, Jalannya menanjak dan cukup berkelok-kelok. Tanjakan paling ekstrim ada di Tunggangan. Harus hati-hati ketika memasuki Gunung Tunggangan, karena selain banyak  kelokan tajam dan menanjak, juga sering ada banyak motor atau mobil yang tersendat-sendat bahkan mogok di daerah itu.

Setelah melewati Tunggangan, terus saja mengikuti jalan aspal menuju arah Nongkojajar. Dari Nongkojajar jika anda ingin terus ke gunung Bromo, tinggal mengikuti jalan besar saja. Jalannya akan terus menanjak hingga sampai di pertigaan menuju Pananjakan dan lautan pasir Gunung Bromo.


Saya dan keluarga sudah berkali-kali ke Nongkojajar lewat Tunggangan ini baik bawa sepeda motor ataupun mobil. Terakhir kesana di musim lebaran tahun ini yang ternyata beberapa jalan yang berlubang itu sudah ditutupi oleh masyarakat dengan kerikil campur tanah. Jalannya lebih enak, meskipun harus tetap ekstra hati-hati. Silahkan coba jalur Tunggangan yang asyik untuk light adventure!

Senin, 05 Agustus 2013

Sponsor Tunggal ProFauna Conference 2013

ProFauna Conference yang diadakan setiap dua tahun sekali itu adalah hajatan besar bagi ProFauna. Gimana tidak gede, karena itu melibatkan ratusan supporter ProFauna dari berbagai daerah dan negara yang meluangkan waktu untuk datang ke Malang yang jadi markas besar ProFauna Indonesia. Mereka selama tiga hari akan berbagi pengalaman, pengetahuan, semangat dan hasrat tentang pelestarian alam. Total dana yang dibutuhkan untuk hajatan itu sekitar Rp 100 juta kalau dihitung pengeluaran untuk konsumsi, penginapan dan transportasi peserta atau pembicara.

Uang Rp 100 juta lumayan gede untuk ukuran ProFauna yang boleh dibilang “miskin” soal dana, namun “kaya” soal aksi. Mencari sponsor untuk mendanai acara seperti konferensi bukanlah pekerjaan mudah, karena itu tidak “seksi” dimata sponsor. Tidak ada nilai komersilnya gitu. Terus dari mana dong ProFauna mendapatkan dana untuk menutupi pengeluaran ProFauna conference itu?

Untungnya kami mendapatkan sponsor tunggal yang mau mendanai semua pengeluaran ProFauna conferensen itu. Sponsor tunggal itu bukan pertama kali ini mendanai ProFauna conference, tapi sudah berulang kali sejak pertama kali ProFauna Conference diadakan tahun 2000. Asyiknya, sponsor tunggal ini tidak menuntut kompensasi apapun. Tidak menuntut ada logo perusahaannya dan juga tidak menuntut adanya publikasi. Hemm anak sekali ya.

Sponsor tunggal ProFauna conference itu adalahSuporter ProFauna! Ya, Suporter ProFauna-lah yang mendanai 100% acara ProFauna conference itu. Tidak seperti acara konferensi lainnya yang biasanya justru peserta setelah selesai acara dikasih amplop berisi uang, justru di ProFauna conference itu peserta “wajib” untuk kasih donasi. Donasinya sih tidak terlalu besar, minimal Rp 100.000 sudah akan dapat fasilitas makan, penginapan dan makalah. Namun hebatnya, meski diberi batasan minimal Rp 100 ribu, namun ternyata banyaksekali Suporter ProFauna yang menyumbang lebih dari nilai minimum itu, bahkan banyak yang menyumbang diatas Rp 1 juta.

Sehari setelah undangan untuk menghadiri ProFauna conference dikirim ke suporter ProFauna yang terpilih, masuk SMS dari Niar yang mengurusi acara itu. Bunyinya, “pak ini ada suporter yang nyumbang Rp 2 juta untuk ProFauna conference”. Wah dahsyat, baru sehari undangan dikirim, langsung ada yang menyumbang diatas Rp 1 juta!

Supporter ProFauna yang datang dari USA, Jerman, Medan, Aceh, Maluku Utara, Sulawesi, Bali, Jakarta, Kalimantan dan lain-lain itu semuanya juga datang dengan biaya transportasi masing-masing. Berapa tuh nilai uangnya kalau dihitung biaya transportasinya. Mereka sukarela dan dengan senang hati membiayai dirinyasendiri untuk menghadiri ProFauna conference. Apa tidak hebat tuh.

Saya bersyukur dan bangga dengan suporter ProFauna yang jadi sponsor tunggal ProFauna conference itu. Ini bukan sekedar soal uang, namun soal komitmen, loyalitas dan kepedulian. Saya hanya bisa berdoa semoga mereka para Suporter ProFauna itu semakin dibuka lebar rejekinya, karena mereka telah beramal. Dalam Islam, sejatinya bahwa membantu mahluk hidup lain termasuk binatang itu adalah juga sebuah amal ibadah. Amin.


Sampai ketemu di ProFauna conference tanggal 12-14 September 2013!

Rabu, 17 Juli 2013

Mengapa Kita Masih Pakai Kertas?

Usai buka puasa bersama keluarga, saya duduk santai di ruang tamu sambil mendengarkan lagu Motley Crue yang tenar di tahun 90-an. Lagi asyik-asyiknya goyang kepala ngikutin irama lagu ‘girls girls girls’, anak saya yang paling bontot tiba-tiba duduk di sebelah saya sambil berujar, “pak khan kertas itu dibuat dari pohon ya, padahal nanamnya lama sekali terus dipotong hanya untuk dipakai kertas gitu, mestinya lebih baik kita tidak pakai kertas”.

Saya tertegun sejenak mendengar kicauan anak saya itu. Belum sempat saya menjawab, dia sudah bertanya lagi, “apa kertas itu harus dibuat dari pohon, apa bisa dibuat dari bahan lain?” Saya jelaskan kalau sebetulnya selain dari kayu (pohon) bisa juga dibuat dari pelepah pisang atau merang (batang padi). Ketika saya masih sekolah SD, masih ingat dulu memakai buku tulis yang bahan kertasnya terbuat dari merang. Kertasnya memang tidak bewarna putih bersih, tapi sedikit buram dan terlihat ada seperti seratnya. Setahu saya sih itu kertas buatan pabrik Leces yang ada di Jawa timur. Sayangnya kertas berbahan merang itu kini sudah tidak ditemukan lagi di pasar.

Mungkin karena warnanya yang tidak putih, membuat kertas merang itu tidak diminati oleh masyarakat. Maklum saat ini masyarakat lagi diserang demam “keputihan”. Hal-hal yang berbau putih itu berarti indah, itu cantik. Kertas harus putih bersih, meskipun mungkin pakai zat kimia pemutih yang jelas tidak ramah lingkungan. Wanita itu dibilang cantik kalau kulitnya putih, makanya banyak produk kecantikan pemutih kulit. Saya belum pernah dengar ada produk kecantkan untuk penghitam kulit. Mobil yang lagi diminati juga warna putih. Harganya juga lebih mahal, padahal mestinya lebih murah, karena warna cat putih itu khan warna dasar. Itulah maunya konsumen yang ditangkap dengan cerdas oleh produsen, meskipun seringkali dengan iklan yang membodohi konsumen.

“Daripada pakai kertas, khan lebih baik pakai laptop aja pak di sekolah”, kata Kya, anak saya yang masih sekolah kelas 4 SD itu. Wah keget juga saya mendengar ide-ide cerdas dari anak saya ini. Kamipun jadi terlibat obrolan santai membahas masalah serius, yaitu ketergantungan kita terhadap kertas. Sementara bahan baku kertas itu masih dari kayu yang ditebang dari perkebunan. Dan untuk membuat perkebunan kayu itu harus membabat hutan alami yang penuh dengan sejuta kekayaan. Hutan alami juga jauh lebih punya peran ekologi (lingkungan hidup) dibanding perkebunan yang hanya terdiri dari satu jenis tumbuhan saja.

Mungkin kita di zaman sekarang ini susah untuk tidak memakai kertas. Tapi paling tidak kita bisa menghemat pemakaiannya. Di kantor ProFauna sudah  sejak lama sekali  kitamengharamkan pemakaian kertas untuk laporan bulanan staf. Semua laporan harus dikirim via email dalam bentuk digital. Kami juga memutuskan mem-pensiun-kan majalah Suara Satwa versi cetak, sebagai gantinya kami luncurkan yang versi online di website ProFauna. Pencetakan brosur juga kami tekan jumlahnya, tetap dicetak dengan jumlah terbatas, tidak lagi menghamburkan-hamburkan brosur yang seringkali tidak efesien. Jika membuka lowongan stafpun kami hanya menerima lamaran via email.

Kantor ProFauna telah mencoba melakukan penghematan kertas dengan cara yangsederhana dan justru ternyata murah meriah. Tapi kantor kami tidaklah banyak. Jumlah staffnya juga tidak sampai ratusan orang. Justru saya bermimpi yang bisa mengambil peran penting dalam penghematan kertas itu adalah kampus dan sekolah!

Kenapa kampus dan sekolah? Karena di lembaga pendidikan inilah letak konsumsi kertas terbesar. Ada ribuan orang yang membeli kertas untuk kepentingan pendidikan mereka. Mulai dari catatan kuliah, membuat laporan hingga membuat skripsi. Celakanya, khan dalam membuat skripsi itu pasti tidak sekali jadi, tapi harus bolak-balik mencetak karena dianggap salah oleh dosen pembimbing. Salah huruf satu saja, bisa bisa-bisa harus mencetak satu halaman atau bahkan berpuluh-puluh halaman.

Andai saja laporan mahasiswa itu bisa dibuat dalam bentuk digital. Jadi mahasiswa cukup menyerahkan laporan dengan flash disc atau bahkan lewat email. Konsultasi skripsi atau tugas akhir juga bisa secara digital. Misalnya ada kesalahan di tulisan itu, sang dosen cukup memberi tanda warna merah dan minta mahasiswanya memperbaikinya. Kalau tidak suka warna merah, bisalah dikasih warna hijau, ungu, pink atau apa saja. Yang penting tidak perlu di-print yang boros kertas dan biaya.

Jika dosen sibuk menggarap proyek di luar kampus, mahasiswa mestinya bisa konsultasi lewat email. Tidak perlu bolak-bolik ke kampus mencari dosen yang tak kunjung tampak batang hidupnya, karena lebih asyik menggarap proyek di luar kampus yang lebih punya cantolan uang dibandingkanmengajar yang seharusnya jadi tanggung jawab utamanya itu. Dengan mahasiswa tidak riwa riwi mencari dosen untuk konsultasi itu juga akan jadi penghematan secara ekologi, karena jejak carbonnya semakin kecil.


Usulan anak saya yang masih usia belum genap 10 tahun itu layak kita dengar. Kenapa kita tidak mengganti kertas dengan versi digital? Untuk merubah kebiasaan kuno ini memang susah, dibutuhkan kerendahan hati dan kebesaran jiwa dari sang guru dan dosen untuk melakukan revolusi hijau di kampus atau sekolah. Revolusi tidak berdarah itu adalah dengan cara penghematan kertas! Semoga ada guru dan dosen yang berjiwa ‘revolusioner” untuk membantu penyelamatan alam ini. Sayang saya bukan dosen dan sayang saya juga belum punya sekolah, jadi tidak bisa membuat revolusi itu.

Kamis, 30 Mei 2013

ProFauna Goes to Campus

Untuk kalian yang mahasiswa kini semakin mudah kalau ingin gabung jadi supporter ProFauna karena sudah ada kontak ProFauna di sejumlah kampus seperti Universitas Brawijaya, Universitas Udayana, Universitas Pajajaran dan lain-lain. Ayo yang ingin jadi bagian dari gerakan global perlindungan satwa liar dan hutan Indonesia segera hubungi kontak ProFauna di kampus! Coba cek daftarnya di link bawah ini.

Kontak ProFauna di Kampus | ProFauna Indonesia

Rabu, 29 Mei 2013

Slank Memang Dahsyat!

20 April 2013, terlihat ramai di markas Slank, di gang Potlot, Jakarta di pagi yang cerah hari itu. Di halaman rumah, terlihat dengan gagah empat motor trail yang didominasi warna oranye. Di belakang motor trail itu terlihat berkerumun pemburu berita yang mengelilingi Slank yang sedang “bercuap-cuap” menjawab pertanyaan yang diajukan awak media. Ya hari itu, Slank melepas keberangkatan tim Ride for Orangutan dari ProFauna yang akan keliling Pulau Sumatera untuk kampanye pelestarian orangutan. Semua personil Slank termasuk tim manajemen seperti Bunda dan Bang Deny terlihat ceria dan bersemangat. Saya yang hadir langsung di TKP juga turut bersemangat dong, apalagi dilepas oleh Slank.

Selain penuh dengan semangat di dada, saya juga bangga sekaligus terharu dengan dukungan Slank itu. Hari itu sebetulnya Slank harus meluncur ke Bandung untuk sebuah konser, namun Slank masih mau meluangkan waktunya untuk membantu ProFauna. Slank membantu ProFauna juga tidak tanggung-tanggung, tapi total. Slank bukan hanya melepas tim ProFauna, namun juga menyediakan semua fasilitas seremoni pelepasan itu. Makanan dan minuman undangan yang hadir itu juga ditanggung oleh manajemen Slank.

Hebatnya lagi yang membuat saya terharu, Slank lewat Pulau Biru Production juga menyumbang sejumlah uang untuk tim Ride for Orangutan! Saya sampai tidak percaya, Slank begitu baik hati dan tulus membantu ProFauna. Yang bikin tim ProFauna semakin ceriah wajahnya, Slank juga kasih bekal beberapa dus ‘kopi slank’, maklum anggota tim ada yang pecandu kopi, jadi langsung ceria ketika dapat sumbangan kopi.

Di acara pelepasan tim Ride for Orangutan itu Slank juga mengumumkan di depan jurnalis yang hadir kalau Slank berencana akan membuat konser amal untuk ProFauna. Rencananya sih konser amal itu akan digelar setelah lebaran tahun ini. Wow dahsyat sekali kalau konser itu benar-benar bisa terealisasi!

Dukungan Slank dalam Ride for Orangutan tidak terhenti hanya di acara seremoni pelepasan tim saja, namun justru yang terpenting adalah dukungan ketika tim berada di Sumatera. Lho apakah Slank ikut keliling Sumatera? Bukan, tapi dukungan Slank terhadap tim selama di Sumatera itu diwakili oleh slanker, sebutan untuk fans berat Slank.

Bunda dan bang Denny menyebarkan info soal kampanye Ride for Orangutan itu ke fans slank yang ada di Sumatera. Bunda dan Bang Denny minta agar slanker turut mendukung kampanye itu. Dan ternyata seruan Bunda itu berdampak luar biasa. Ramai-ramai slanker di Sumatera kontak saya yang menyatakan bahwa mereka siap mendukung kampanye ProFauna di Sumatera. Fans Slankpun ikut di beberapa kampanye ProFauna seperti di Bandarlampung, Padang, Palembang dan Medan. Mereka ikut dengan sukarela, sama sekali tidak ada bayarannya. Dahsyat!

Jujur saja, tanpa slanker di Sumatera beberapa kampanye ProFauna mungkin tidak akan terlalu meriah. Meskipun supporter ProFauna dan juga komunitas otomotif di Sumatera turut mendukung, namun kehadiran slanker memberi warna tersendiri dalam kampanye ProFauna itu. ProFauna juga punya kesempatan berdiskusi dan menyebarkan virus konservasi alam secara langsung ke slanker itu.

Fans Slank di Sumatera begitu antusias mendukung kampanye ProFauna. Kadang-kadang saya dibuat “capek” juga dengan semangat mereka yang membara itu. Saya yang ikut tim pengendara motor itu mulai pagi (dan seringkali dini hari) hingga petang berada di sadle motor, menarik gas motor di jalanan Sumatera yang banyak lubangnya. Begitu sampai di lokasi tempat menginap, biasanya badan udah pegal dan mata mulai meredup. Tapi seringkali di malam harinya slanker “bertamu” untuk ngajak diskusi. Mau tidak mau saya harus melayani kunjungan slanker yang tulus itu. Kehadiran mereka membuat pegal dan kantuk di mata saya menjadi sirna!

Gema kampanye Ride for Orangutan di Sumatera begitu luas masuk ke komunitas motor, kelompok pecinta alam,fans Slank danbahkan ke kalangan birokrat. Ketika kami berada di Lampung, kami diundang oleh Bupati Way Kanan untuk singgah di rumahnya. Kamipun mampir dan tidur di rumah pribadi sang bupati yang ramah itu. Dalam jamuan makan malam di rumah dinas bupati Way Kanan, pak bupati yang gemar menyanyi itu mengatakan, “saya ini slanker, penggemar berat Slank. Saya ingin suatu ketika Slank datang ke Way Kanan!” Wah ternyata pak bupati juga seorang slanker, pantesan dia begitu semangat mendukung ProFauna.

Ada banyak cerita menarik dalam perjalanan kami keliling Sumatera yang semuanya itu tidak terlepas dari peran Slank. Tim kami jadi banyak dikenali masyarakat ketika kami berkunjung ke suatu daerah. Seorang slanker di Bukitlawang, Sumatera utara mentraktir kami minum air kelapa muda, begitu dia tahu kami dari ProFauna. Ketika kami di pelabuhan Tobasa, tiba-tiba ada sopir angkot yang menyapa kami, “hallo ini ProFauna  yang kemarin ada acara ama Slank itu ya, saya slanker nih, kalau ada apa-apa saya siap bantu”.

Slank memang dahsyat. Bukan hanya dahsyat dalam berkarya dibidang musik, namun juga dahsyat dalam soal kepeduliannya terhadap sosial dan alam. Tidak banyak ada artis atau selebritis yang benar-benar tulus peduli seperti Slank itu. Kalau artis dibayar untuk “peran” peduli sih itu banyak, bahkan beberapa diantara mereka sempat kontak saya yang mereka mau dukung ProFauna tapi tanya berapa bayarannya? Wah kalau sudah tanya soal duit, ya langsung saya tendang saja. Lha menyatakan peduli, koq malah minta duit ,mestinya kasih duit dong.

Terima kasih untuk Slank dan juga fans Slank di Sumatera yang telah mendukung kampanye Ride for orangutan! Dukungannya itu benar-benar dahsyat! Saya berdoa dan berharap konser amal Slank bersama ProFauna itu bisa benar-benar terwujud, agar semakin dahsyat lagi!

Kalau mau tahun lebih lanjut tentang Ride for Orangutan, lihat aja di link ini: http://www.profauna.net/id/kampanye-primata/ride-for-orangutan/tentang-ride-for-orangutan#.UaXWDtJHLfI

Kamis, 18 April 2013

Berpetualang ke Pantai Ngantep Malang


Sekitar pukul 12.00 kami meluncur ke Kota Malang untuk menjemput Nada, anak kami yang tertua, di sekolahnya. Kami minta izin ke gurunya agar Nada dapat “dispensasi” pulang lebih awal karena ada acara keluarga. Sekali-kali izin tidak masuk sekolah bolehlah, toh Nada kami jemput jiuga dalam rangka untuk belajar, cuma belajarnya di alam langsung. Setelah urusan ijin anak beres dan disambung dengan mengisi perut sejenak, kami langsung meluncur ke arah Kecamatan Bantur, yang berada di sisi selatan dari Kabupetan Malang. Perjalanan dari Kota Malang ke Bantur lancar jaya, tanpa hambatan berarti.

Setelah dua jam menempuh perjalanan, sekitar jam 14.30 kami mulai memasuki hutan dekat Pantai Kondang Merak. Dari lokasi ini, kami belok ke kiri menuju Pantai Ngantep. Jalanan awalnya berupa tanah yang dilapisi batu karang putih, namun lambat laut mulai offroad. Di beberapa titik ada kubangan lumpur yang cukup dalam. Untungnya kami pakai mobil penggerak roda 4 X 4, jadi rintangan kecil itu bisa dilewati sambil tersenyum.

Setekah 30 menit bergoyang-goyang di atas medan offroad, kami mulai memasuki kawasan Pantai Ngantep. Kedua anak saya langsung bersorak kegirangan, “horee akhirnyanya sampe!”. Pantai Ngantep hari itu terlihat sepi dan bersih. Tidak ada banyak sampah plastik seperti yang biasa dilihat di pantai wisata di Indonesia. Setelah memarkir mobil, saya langsung menuju ke sahabat kami, ibu Tini yang bertugas sebagai pengelola satu-satunya penginapan yang ada di pantai itu. Ibu Tini menyambut kami dengan ramah dan langsung menyiapkan kamar untuk kami.

Penginapan di Pantai Ngantep itu dikelola oleh Perhutani. Penginapannya sederhana, hanya ada kasur di atas karpet, namun bersih. Kamar mandi ada di dalam dengan disain yang semi terbuka. Asyik tempatnya, apalagi harganya sangat bersahabat dengan kantong petualang seperti kami ini.

Kedua anak saya sudah tidak sabar untuk pergi ke pantai yang hanya berjarak 500 meter dari penginapan. “Ayo pak ke pantai!” teriak Kya, anak saya yang kecil. “Sabar dulu, ayo kita masukin barang-barang dulu ke kamar, baru setelah itu main ke pantai”, jawab saya.

Usai memasukan barang-barang ke dalam kamar, kami bergegas ke pantai dengan memakai celana pendek dan sandal lapangan. Tidak sampai lima menit berjalan, pantai yang indah dan bersih sudah berada di hadapan kami. Pantai yang berpasir putih, tidak ada wisatawan lain selain kami berempat. Anak saya lansung lari-lari di atas pasir dan sekali-kali bermain air laut yang disapu ombak menuju bibir pantai. Kedua anak saya mulai basah kuyub terkena cipratan ombak. Mereka dengan cerianya berjalan menyusuri pantai sambil berceloteh tanpa ujung pangkal yang jelas. Tapi yang jelas hari itu kami bergembira ria.

Tak lama kemudian kami tiba di sebuah muara sungai yang tepinya penuh dengan tebing batu bewarna cokelat kehitaman. Disitu terlihat ada dua orang nelayan yang sedang menjala ikan di muara yang tidak terlalu dalam. Kya dan mamanya langsung ikut nyebur ke dalam muara, untuk “membantu” mencari ikan. Tak lama kemudian tiba-tiba ada dua anak perempuan kecil yang telanjang bulat langsung mencebur ke dalam sungai itu. Mereka tertawa gembira, tanpa ada beban apapun, Anak saya merasa dapat “teman” baru, mereka jadi semakin berani main di dalam muara yang kabarnya dulu sempat ada buayanya itu.

Puas bermain di muara sambil membantu mengumpulkan ikan hasil tangkapan nelayan, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. Apalagi hari mulai beranjak gelap. Saya melirik jam di tangan, waktu menunjukan hampir pukul 5 sore. Kami berjalan santai menyusuri pantai lagi menuju penginapan. Sekali-kali terlihat burung air terbang melintas, terasa damai sekali sore itu.

Malam harinya kami makan malam di outdoor, di bawah pepohonan. Di bawah pohon itu diberi meja kayu yang dikeliling 4 kursi, pas dengan jumlah kami. Asyik sekali suasananya. Menu malam itu telur goreng, sambal pedas dan kerupuk. Kami menyantap dengan lahap menu malam itu, maklum perut udah lapar setelah bermain-main di pantai dan muara. Suasana makam malam di alam turut meningkatkan nafsu kami untuk menyikat habis sajian malam itu. Sedapppp!

Puas makan, kami langsung berniat tidur. Namun ada kendala yang membuat kami kurang bisa tidur dengan nyenyak, yaitu cuaca yang panas untuk ukuran kami yang terbiasa hidup di gunung. Kedua, karena nyamuk. Meskipun nyamuknya tidak terlalu banyak, tapi lumayan mengganggu tidur kami. Waktu itu kami lupa membawa kelambu yang seharusnya jadi perlengkapan wajib kalau kita menginap di tepi pantai atau dataran rendah. Maklum bisanya banyak nyamuk nakal yang dapat bonus darah segar orang kota ketika kita tinggal di tempat seperti  itu.

Udara yang cukup panas itu berdampak ke minuman dingin yang kami bawa dalam cool box. Menjelang malam minumannya tinggal 2 botol saja! Hari itu kami jadi rakus untuk meneguk semua minuman yang ada di cool box.

Meskipun malam itu kami tidak bisa tidur dengan nyenyak, namun paginya kami bangun dengan segar bugar. Mungkin suasana alam yang asri membuat kami terasa segar. Anak kami langsung minta ke pantai lagi. “Ayo kita ke pantai lagi, mumpung masih pagi” kata anak saya. Kamipun berjalan kaki ke pantai, kali ini tanpa memakai alas kaki. Katanya untuk pijat refleksi secara alami.

Untuk menuju arah pantai, kami melewati beberapa rumah nelayan yang sangat sederhana. Para nelayan itu menyapa kami dengan ramah. Meskipun baru kenal, terasa akrab, seolah-olah kami sudah kenal lama.
Pagi itu kami menghabiskan waktu bermain di pantai dan muara sungai dengan diriingi musik deburan ombak pantai selatan. Anak saya senang sekali ketika melihat jutaan anak rajungan (semacam kepiting laut) yang ada di sekitar muara. Ini pelajaran biologi buat mereka. Melihat langsung kehidupan satwa yang ada di muara sungai. Apalagi jumlahnya jutaan, wow itu sebuah pengalaman yang sangat mengesankan buat anak-anak saya.

Puas bermain di pantai, kami menyempatkan diri mengunjungi sebuah makam yang di keramatkan oleh penduduk setempat. Makam itu berada di puncak bukit. Menariknya, di atas makam itu ada patung burung rajawali yang tampak gagah. Untuk menuju makam itu kami harus meniti puluhan anak tangga yang membuat anak saya jadi malas untuk naik.

Dari makam itu, kami langsung jalan kaki kembali ke penginapan untuk sarapan pagi. Wah ternya menu pagi itu istimewa, yaitu sambal udang dan rempeyek udang! Udangnya masih fresh, karena baru ditangkap dari laut. Betul-betul nikmat sekali, sampai saya tambah dua kali. Kedua anak saya juga dengan lahap menyantap udang itu, meskipun terasa agak pedas untuk anak saya. Masakan ibu Tini benar-benar istimewa.

Selesai sarapan yang lezat itu, kami mulai berbenah-benah untuk meninggalkan Pantai Ngantep. Sengaja kami meninggalkan pantai sebelum siang, karena kami masih mau melanjutkan perjalanan offroad ke pantai yang lain. Saya bilang ke ibu Tini, “semoga nanti kami akan kembali lagi ke pantai Ngantep yang indah ini,karena kami sangat senang tinggal di pantai yang sepi dan bersih ini”. 

Senin, 08 April 2013

Sumbangan yang Tidak Bau Tengik


Di sela-sela koordinasi peluncuran kampanye Ride for Orangutan, tiba-tiba Ihsan Maulana, seorang supporter ProFauna, mendekati saya. “Pak  ini saya mau nyumbang sedikit untuk Ride for Orangutan, ini saya sisihkan dari keuntungan usaha saya”, ujar Ihsan dengan tulus. Saya kaget dan tidak menyangka Ihsan yang masih status mahasiswa itu mau menyumbang ProFauna. Saya hanya bisa mengatakan dengan terharu, “terima kasih, ini sangat berarti dan luar biasa”.

Usai peluncuran kampanye, saya juga dapat kabar kalau Ida Nurmala, supporter ProFauna asal Sidoarjo, Jawa Timur juga menyumbang sejumlah uang. Wow ini luar biasa, bukan karena nilai uangnya, namun lebih ke kepeduliannya untuk membantu ProFauna. Saya katakan ini luar biasa karena tidak banyak orang Indonesia yang mau menyumbang untuk kepentingan alam, apalagi satwa liar. Kalau menyumbang yang berkaitan dengan agama sih itu sudah biasa, karena seolah-olah kalau sudah nyumbang untuk agama itu pasti dapat tiket akan masuk surga. Padahal urusan surga neraka itu adalah hak kuasa Sang Pencipta, tidak bisa dihitung secara matematis, karena terkait dengan faktor keikhlasan hati. Lha bagaimana bisa dibilang ikhlas, kalau nyumbang untuk anak yatim aja itu diumumkan ke seluruh kecamatan dan kadang masih ada pesan sponsornya yang berbau tengik. Bau tengik itu bisa mengandung unsur politik, pilkada, prestis, atau bahkan status sosial secara keagamaan.

Nah saya bisa katakan sumbangan supporter ProFauna itu tidak berbau tengik. Baunya harum, seperti bunga sedap malam di depan rumah saya yang setiap malam menyebarkan wangi yang kadang-kadang bikin orang yang lewat ketakutan karena dipikir ada pocong. Kadangkadang aneh juga pikiran orang itu, pocong koq bau wangi.

Sebelum Ihsan dan Ida menyumbang, beberapa supporter ProFauna juga ramai-ramai menyumbang ProFauna lewat berbagai cara. Yoes dari Sidoarjo dengan membuat sketsa gambar yang hasil penjualannya diperuntukan ProFauna. Keluarga Rody dan Nyomi yang juga dari Sidoarjo juga aktif nyumbang. Zamroni, suaminya Ida juga jualan kaos di skeolahnya yang keuntungannya masuk ke ProFauna. Bapak dosen Daniel, Pandi dan Indira yang tinggal di kota Malang juga menyumbang ProFauna lewat membeli lelang lukisan. Belum lagi Pak Bambang dari Jakarta yang rajin menyumbang ProFauna setiap bulan.

Kemudian supporter ProFauna yang lainnya membeli kaos edisi khusus “save orangutan” yang memang hasil penjualannya mau disumbangkan ke rehabilitasi orangutan sumatera. Dalam waktu singkat kaos yang dipatok dengan harga minimal Rp 100 ribu untuk ludes diborong supporter ProFauna. Ada banyak lagi supporter yang telah menyumbang yang akan panjang sekali daftarnya jika saya sebutkan satu per satu.

Saya senang dan bangga dengan fenomena supporter ProFauna Indonesia  yang mulai rajin menyumbang uang. Ini bukan semata-mata soal uang yang tentu saja memang diperlukan oleh ProFauna untuk menjalankan progamnya, namun lebih ke soal ini sesuatu yang langka untuk ukuran Indonesia. Kalau bule yang nyumbang sih itu biasa, apalagi kalau yang kasih donasi itu lembaga donor dari luar negeri, itu juga gak mengherankan, meskipun seringkali lembaga donor juga punya kepentingan. Nah ini yang menyumbang orang Indonesia, untuk organisasi asal Indonesia juga! Karena ada juga orang (Indonesia) yang agar kelihatan keren maunya nyumbang ke organisasi yang asalnya dari barat sono, padahal kerjaan organisasi itu di Indonesia sering tidak jelas alias kabur.

Saya masih ingat bagaimana belasan tahun yang lalu begitu sulitnya mengharapkan orang Indonesia untuk menyumbang ProFauna. Karena orang pasti akan bertanya, “kalau saya menyumbang, nanti saya akan dapat apa?” Lha wong mau nyumbang koq malah tanya imbalan, berarti itu tidak tulus dong. Memang beda kalau nyumbang soal agama, karena penyumbang merasa nanti balasannya itu dia akan dimasukan ke dalam surga. Ya kalau sumbangannya itu diterima oleh Sang Maha kuasa, kalau ditolak gimana? Karena mungkin saja sumbangannya itu sarat dengan kepalsuan dan itu sumbangan adalah hasil korupsi!

Saya percaya 100% bahwa membantu mahluk hidup lain itu perbuatan mulia dan juga mendapat “tempat” dimata Tuhan. Itu sangat jelas di berbagai kitab semua agama. Di Islam, ada banyak kisah yang menunjukan bahwa kita harus membantu binatang dan tidak menyakitinya. Seorang pelacur yang memberi minum seekor anjing yang kehausan saja kemudian mendapat anugrah dari Tuhan dengan tempat yang diimpikan banyak orang yaitu surga. Kisah itu sangat dalam sekali pesan yang ingin disampaikan Sang Khalik, yaitu bantulah semua mahluk hidup. Soal anugrah dan imbalan itu bukan urusan manusia, tapi urusan Tuhan. Kalau masih menghitung untung rugi, ya lebih baik tidak usahlah menyumbang.

Terima kasih untuk supporter ProFauna Indonesia yang semakin dahsyat!

Selasa, 26 Maret 2013

Kerusakan Hutan di Taman nasional Tesso Nilo Semakin Parah, Apa yang Salah?

Kerusakan hutan di Taman Nasional Tesso Nilo di Riau semakin parah. Menurut analisis citra landsat, dalam kurun satu dekade terakhir, setidaknya 46.960 hektare hutan kaya karbon dan rumah bagi satwa eksotis, gajah dan harimau Sumatera di taman nasional itu sudah rusak. Padahal kawasan taman nasional itu selain dikelola oleh Departemen Kehutanan juga dibantu oleh WWF yang dikenal sebagai LSM raksana yang banyak duitnya. Lho tapi koq malah jadi semakin parak kerusakannya? Apa ada yang salah ya?

Menariknya, beberapa LSM lokal justru rama-ramai mendesak agar WWFF cabut dari Taman Nasional Tesso Nillo. Memang ini bukan pertama kalinya WWF ":berbenturan" dengan LSM lokal. Ini menjadi aneh dan seharusnya menjadi evaluasi juga bagi WWF secara internal tentang kinerja mereka di Indonesia dan tata etika berhubungan dengan masyarakat lokal (termasuk LSM lokal).

Lebih lanjut, silahkan baca artikel di bawah ini:

Deforestasi Tesso Nilo parah, WWF dievaluasi | Suara-alam.com

Minggu, 17 Maret 2013

Membuat Anak Tidak Bosan Dalam Menjelajah Alam


Kami sekeluarga rutin pergi ke alam, untuk menanamkan rasa respect terhadap alam kepada anak-anak kami. Selain itu kebersamaan kami sekeluarga menjadi semakin erat ketika kami sama-sama bermain di alam. Anak-anak saya selalu menyambut gembira ketika diajak pergi ke alam, namun ketika mulai trekking alias jalan kaki menyusuri jalan-jalan setapak lebih dari 30 menit biasanya mereka mulai bosan. Kalau sudah bosan, biasanya akan muncul ‘penyakit’ capek. Ujung-ujungnya anak saya yang terkecil  mulai ogah berjalan, maunya minta gendong saja.

Anak-anak memang cenderung cepat bosan, termasuk kalau diajak pergi jalan-jalan ke alam. Apalagi kalau sepanjang perjalanan tidak ada sesuatu yang istimewa untuk dilihat. Kalau ada aneka jenis satwa liar itu akan menjadi atraksi yang menarik perhatian bagi anak-anak. Nah kalau hanya ada pepohonan saja, apa ya yang mesti kita lakukan? Coba deh ikutin pengalaman saya berikut ini yang akhirnya membuat anak-anak saya betah melakukan trekking tanpa dilanda rasa bosan.

Sebelum trekking yang harus disiapkan  terlebih dahulu adalah  makanan ringan dan minuman yang cukup. Anak-anak itu cenderung suka ngemil dan permen, ini harus kita sediakan. Jangan sampai di tengah hutan anak-anak kita jadi ngambek karena pingin kue.  Kita tidak bisa memaksa anak-anak kita untuk hidup ala ‘survival’ di hutan, kalau pergi ke alam bisa nyaman dan enak kenapa harus berusasah payah membuat kita kelaparan? Memang bawaan kita akan sedikit lebih banyak, tapi khan tidak masalah demi anak-anak.

Setelah makanan dan minuman, perlu diperhatikan tentang pakaian dan sepatu anak. Pilih sepatu trekking yang nyaman, karena kalau pakai sepatu yang tidak nyaman akan membuat anak cepat capek dan lecet kakinya, akibatnya mereka juga jadi malas untuk jalan. Kenakan pakaian yang menyerap keringat dan sedikit longgar. Jangan lupa untuk membawa pakaian ganti, siapa tahu anak-anak kita akan bergumul dengan lumpur atau bebasah ria di sungai. Namanya juga anak-anak pasti suka bermain, biarkan mereka bereskpresi menikmati alam. Tidak perlu takut untuk kotor dan basah!

Tantangan terbesar dalam trekking bersama anak-anak itu ketika kita sudah mulai jalan, apalagi kalau jaraknya lumayan jauh, karena mereka cepat bosan. Untungnya saya akhirnya menemukan resep untuk membunuh rasa bosan anak-anak saya ketika mereka melakukan trekking. Sepanjang perjalanan saya buat semacam “kuis” berhadiah. Kuisnya itu tentang nama-nama tanaman yang kami jumpai sepanjang perjalanan. Tidak harus tanaman langka, tapi bisa juga tanaman-tanaman ladang seperti singkong, tomat, cabe, dan lain-lain. Ketika masuk hutan, saya tanyakan juga nama-nama pohon yang umum seperti pinus, beringin, kaliandra dan jati. Kalau anak saya bisa menebak dengan benar tentang nama pohon itu akan saya kasih poin yang nanti bisa ditukar uang. Poinnya bernilai Rp 500 hingga Rp 2000, tergantung tingkat kesulitan pertanyaannya.

Selain kuis tebak nama tanaman, saya juga sekali-kali melontarkan pertanyaan yang berhubungan dengan alam. Misalnya, “apakah fungsi hutan bagi manusia?” Atau pertanyaan, “kalau misalnya hutan ini ditebang,  apa yang akan terjadi?”

Dengan kuis berhadiah itu, anak-anak saya jadi penuh semangat menelusuri jalan setapak yang kami lalui. Jika mereka salah dalam menjawabnya, kami akan meluruskannya. Ini juga menjadi media pendidikan pengenalan keragaman hayati secara praktis dan menyenangkan, daripada hanya baca di buku saja. Jadi ini berpetualang sambil mengenal alam. Karena begitu semangatnya mengikuti kuis sambil trekking ini anak saya yang terkecil, Kya, nyeletuk, “pak jangan berhenti, ayo terus jalan, apa next question-nya?”.

Senin, 04 Februari 2013

Bromo Semakin Penuh “Sampah”


Mungkin sudah lebih dari 100 kali saya berkunjung ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Kunjungan pertama pada tahun 1996 keRanu Pani untuk bicara tentang konservasi alam di depan puluhan anggota pecinta alam yangsedang ngikutin diklat kepecintaalaman. Waktu itu jalannya setelah lepas dari Desa Gubuk Klakah masih full offroad dan udaranya full AC, dingin banget. Satu-satunya kendaraan yang bisa lewat hanyalah jip hardtop. Sepanjang perjalanan juga terlihat hutan yang masih bagus, menyegarkan mata karena hijau dedaunannya.

Setelah kunjungan pertama itu saya jatuh cinta akan keindahan TNBTS. Berulang kali saya berkunjung ke taman nasional dengan ikon Gunung Bromo dan Semeru itu. Kadang saya naik motor trail, jalan kaki, naik mobil dan seringkali menginap juga. Seiring berjalannya waktu, TNBTS-pun mengikuti perkembangan zaman. Jalan yang semula berupa tanah berdebu kini sudah ganti aspal dan semen mulus.  Kendaraan motor jenis apapun, termasuk motor matik yang lagi booming, sudah bisa naik ke TNBTS. Bahkan di kala musim hujan, bisa sampai tepi Gunung Bromo, karena pasir jadi padat sehingga mudah dilalui kendaraan “kota”.

Perubahan jalan ini turut merubah wajah pengunjung TNBTS. Jika sebelumnya orang yang datang ke TNBTS itu kebanyakan kaum petualang atau kelompok penikmat alam, kini semakin beragam. Cewek-cewek cantik bau wangipun berseliweran menuju Bromo. Kalau dulu ke Bromo selalu pakai celana panjang yang penuh dengan kantung, kini jangan heran kalau banyak cewek bercelana super pendek sambil naik motor matik meluncur ke Bromo sambil mendekap pasangannya dengan mesra. Saya heran saja, koq tidak dingin ya?

Film 5 cm semakin meningkatkan pamor TNBTS. Keinginan anak muda perkotaan berkunjung ke Gunung Semeru dan juga Bromo semakin memuncak. Ramai-ramai mereka berkunjung bahkan mendaki Semeru untuk “membuktikan” keindahan alam yang disuguhkan di film itu. Celakanya banyak yang mendaki itu dengan modal pas-pasan. Bukan soal modal uang, tapi modal pengetahuan dan etika terhadap alam. Hasilnya, sampah semakin meraja lela dan mengerikan.

Di hari Minggu jika kita ke Bromo lewat Tumpang, Kabupaten Malang, jangan heran jika sepanjang jalan akan melihat puluhan pasangan anak muda berjejer di tepi jalan sambil bermesraan. Ada yang duduk di atas jok motor sambil memeluk pasangannya, ada yang berangkulan di bawah pondok dan juga ada yang berasyik ria di balik semak-semak. Parahnya mereka sudah tidak malu lagi dilihat orang lain. Bahkan ada yang bermesraan sambil berjejer-jejer, seperti berlomba “berpacu dalam nafsu”.

Pemandangan pasangan yang bermesum ria di sepanjang jalan menuju TNBTS itu tak ubahnya ‘sampah organik’. Ya ini sampah, karena pengunjung TNBTS bukan hanya kalangan dewasa, tapi juga anak-anak yang akhirnya terpaksa disuguhi adegan dewasa. Itu pemandangan sampah buat anak-anak yang sebetulnya ke TNBTS berniat murni mau melihat keindahan alam, bukan melihat “live show sampah organik”.

Dampak membludaknya pengunjung TNBTS selain “sampah organik” itu adalah sampah non organik alias plastik. Aduh kalau soal sampah plastik ini, memang sangat sulit. Di semua titik pemberhentian wisatawan di TNBTS itu penuh dengan tumpukan sampah plastik. Dimana ada pos atau pondok tempat istirahat, maka di sekitarnya akan penuh dengan sampah. Dimana ada orang jualan bakso atau sejenisnya, maka di sekitarnya akan dikelilingi sampah. Dimana terlihat ada rombongan pengunjung, maka disitulah sampah menumpuk.
Rendahnya kesadaran dan etika masyarakat kita soal sampah membuat tempat-tempat wisata alam seperti TNBTS juga menjadi tempat pembuangan akhir sampah. Lambat laut tempat wisata alam semakin kotor dan menjadi tidak menarik lagi.

Banyak kelompok yang pergi ke TNBTS mengatasnamakan kegiatan “go green” ketika berkegiatan di TNBTS. Aapakah itu kelompok pecinta alam, klub sepeda gowes, klub motor trail atau apapun namanya begitu menggebu mengusung tema “go green”, tapi sayang seribu sayang itu hanya terbatas pada slogan semata. Kenyataan di lapangan, kegiatannya di TNBTS jauh dari etika “go green”. Indikatornya mudah, lihat saja soal sampah yang begitu entengnya dibuang begitu saja di kawasan TNBTS.

Saya yang sudah berulang kali berkunjung ke TNBTS selalu semakin sedih setiap kali berkunjung kesana. Karena bukannya semakin membaik, namun semakin memburuk saja. Bukan saja soal sampah (organik dan non organik), tapi juga soal semakin maraknya penebangan pohon di kawasan yang semestinya dilindungi itu. Pihak pengelola TNBTS plus Pemda sepertinya belum peka dan mau peduli untuk menangani masalah ini dengan serius. Yah mau menangani apa, lha petugasnya saja jarang nongol di dalam kawasan untuk patroli! Hemm sayang dan menyedihkan.

Rabu, 30 Januari 2013

Aduh kog Pohon di TNBTS Ditebangi Sih?

Ketika saya trekking ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) lewat jalur Tutukan yang tembus Kecamatan Senduro, rasanya sedih sekali ketika melihat banyak pohon yang ditebang secara ilegal. Bahkan dalam perjalanan itu saya melihat 5 orang pencuri kayu yang mengangkut kayu dengan sepeda motor. Mereka tenang dan santai saja menebangi kayu itu, karena memang tidak ada petugas TNBTS yang patroli ke jalur ini. Aduh bahaya ini, kalau diteruskan bisa merusak ekosistem di TNBTS, apalagi di kawasan itu juga menjadi habitat lutung jawa dan satwa lainnya.

Semoga saja petugas TNBTS segera menangani masalah ini, sebelum semuanya terlambat dan terlanjur menjadi masalah besar.

ProFauna: Penebangan Pohon di TNBTS Harus Dihentikan | Suara-alam.com

Rabu, 09 Januari 2013

Ayo Partisipasi di Ride for Orangutan

ProFauna Indonesia bikin hajatan seru, kampanye pelestarian orangutan dengan cara keliling Sumatera dengan menggunakan motor trail. Kampanye yang diberi nama Ride for Orangutan ini akan dilakukan 4 orang aktivis ProFauna, termasuk saya. Mantapnya, kampanye ini akan melibatkan komunitas otomotif, pecinta alam, supporter ProFauna dan juga LSM di kota-kota yang akan dikunjungi tim Ride for orangutan.

Lebih lanjut tentang kam[anye Ride for Orangutan ini, cek saja di link bawah ini:
Tentang Ride for Orangutan | ProFauna Indonesia