Senin, 04 Februari 2013

Bromo Semakin Penuh “Sampah”


Mungkin sudah lebih dari 100 kali saya berkunjung ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Kunjungan pertama pada tahun 1996 keRanu Pani untuk bicara tentang konservasi alam di depan puluhan anggota pecinta alam yangsedang ngikutin diklat kepecintaalaman. Waktu itu jalannya setelah lepas dari Desa Gubuk Klakah masih full offroad dan udaranya full AC, dingin banget. Satu-satunya kendaraan yang bisa lewat hanyalah jip hardtop. Sepanjang perjalanan juga terlihat hutan yang masih bagus, menyegarkan mata karena hijau dedaunannya.

Setelah kunjungan pertama itu saya jatuh cinta akan keindahan TNBTS. Berulang kali saya berkunjung ke taman nasional dengan ikon Gunung Bromo dan Semeru itu. Kadang saya naik motor trail, jalan kaki, naik mobil dan seringkali menginap juga. Seiring berjalannya waktu, TNBTS-pun mengikuti perkembangan zaman. Jalan yang semula berupa tanah berdebu kini sudah ganti aspal dan semen mulus.  Kendaraan motor jenis apapun, termasuk motor matik yang lagi booming, sudah bisa naik ke TNBTS. Bahkan di kala musim hujan, bisa sampai tepi Gunung Bromo, karena pasir jadi padat sehingga mudah dilalui kendaraan “kota”.

Perubahan jalan ini turut merubah wajah pengunjung TNBTS. Jika sebelumnya orang yang datang ke TNBTS itu kebanyakan kaum petualang atau kelompok penikmat alam, kini semakin beragam. Cewek-cewek cantik bau wangipun berseliweran menuju Bromo. Kalau dulu ke Bromo selalu pakai celana panjang yang penuh dengan kantung, kini jangan heran kalau banyak cewek bercelana super pendek sambil naik motor matik meluncur ke Bromo sambil mendekap pasangannya dengan mesra. Saya heran saja, koq tidak dingin ya?

Film 5 cm semakin meningkatkan pamor TNBTS. Keinginan anak muda perkotaan berkunjung ke Gunung Semeru dan juga Bromo semakin memuncak. Ramai-ramai mereka berkunjung bahkan mendaki Semeru untuk “membuktikan” keindahan alam yang disuguhkan di film itu. Celakanya banyak yang mendaki itu dengan modal pas-pasan. Bukan soal modal uang, tapi modal pengetahuan dan etika terhadap alam. Hasilnya, sampah semakin meraja lela dan mengerikan.

Di hari Minggu jika kita ke Bromo lewat Tumpang, Kabupaten Malang, jangan heran jika sepanjang jalan akan melihat puluhan pasangan anak muda berjejer di tepi jalan sambil bermesraan. Ada yang duduk di atas jok motor sambil memeluk pasangannya, ada yang berangkulan di bawah pondok dan juga ada yang berasyik ria di balik semak-semak. Parahnya mereka sudah tidak malu lagi dilihat orang lain. Bahkan ada yang bermesraan sambil berjejer-jejer, seperti berlomba “berpacu dalam nafsu”.

Pemandangan pasangan yang bermesum ria di sepanjang jalan menuju TNBTS itu tak ubahnya ‘sampah organik’. Ya ini sampah, karena pengunjung TNBTS bukan hanya kalangan dewasa, tapi juga anak-anak yang akhirnya terpaksa disuguhi adegan dewasa. Itu pemandangan sampah buat anak-anak yang sebetulnya ke TNBTS berniat murni mau melihat keindahan alam, bukan melihat “live show sampah organik”.

Dampak membludaknya pengunjung TNBTS selain “sampah organik” itu adalah sampah non organik alias plastik. Aduh kalau soal sampah plastik ini, memang sangat sulit. Di semua titik pemberhentian wisatawan di TNBTS itu penuh dengan tumpukan sampah plastik. Dimana ada pos atau pondok tempat istirahat, maka di sekitarnya akan penuh dengan sampah. Dimana ada orang jualan bakso atau sejenisnya, maka di sekitarnya akan dikelilingi sampah. Dimana terlihat ada rombongan pengunjung, maka disitulah sampah menumpuk.
Rendahnya kesadaran dan etika masyarakat kita soal sampah membuat tempat-tempat wisata alam seperti TNBTS juga menjadi tempat pembuangan akhir sampah. Lambat laut tempat wisata alam semakin kotor dan menjadi tidak menarik lagi.

Banyak kelompok yang pergi ke TNBTS mengatasnamakan kegiatan “go green” ketika berkegiatan di TNBTS. Aapakah itu kelompok pecinta alam, klub sepeda gowes, klub motor trail atau apapun namanya begitu menggebu mengusung tema “go green”, tapi sayang seribu sayang itu hanya terbatas pada slogan semata. Kenyataan di lapangan, kegiatannya di TNBTS jauh dari etika “go green”. Indikatornya mudah, lihat saja soal sampah yang begitu entengnya dibuang begitu saja di kawasan TNBTS.

Saya yang sudah berulang kali berkunjung ke TNBTS selalu semakin sedih setiap kali berkunjung kesana. Karena bukannya semakin membaik, namun semakin memburuk saja. Bukan saja soal sampah (organik dan non organik), tapi juga soal semakin maraknya penebangan pohon di kawasan yang semestinya dilindungi itu. Pihak pengelola TNBTS plus Pemda sepertinya belum peka dan mau peduli untuk menangani masalah ini dengan serius. Yah mau menangani apa, lha petugasnya saja jarang nongol di dalam kawasan untuk patroli! Hemm sayang dan menyedihkan.