Selasa, 26 Maret 2013

Kerusakan Hutan di Taman nasional Tesso Nilo Semakin Parah, Apa yang Salah?

Kerusakan hutan di Taman Nasional Tesso Nilo di Riau semakin parah. Menurut analisis citra landsat, dalam kurun satu dekade terakhir, setidaknya 46.960 hektare hutan kaya karbon dan rumah bagi satwa eksotis, gajah dan harimau Sumatera di taman nasional itu sudah rusak. Padahal kawasan taman nasional itu selain dikelola oleh Departemen Kehutanan juga dibantu oleh WWF yang dikenal sebagai LSM raksana yang banyak duitnya. Lho tapi koq malah jadi semakin parak kerusakannya? Apa ada yang salah ya?

Menariknya, beberapa LSM lokal justru rama-ramai mendesak agar WWFF cabut dari Taman Nasional Tesso Nillo. Memang ini bukan pertama kalinya WWF ":berbenturan" dengan LSM lokal. Ini menjadi aneh dan seharusnya menjadi evaluasi juga bagi WWF secara internal tentang kinerja mereka di Indonesia dan tata etika berhubungan dengan masyarakat lokal (termasuk LSM lokal).

Lebih lanjut, silahkan baca artikel di bawah ini:

Deforestasi Tesso Nilo parah, WWF dievaluasi | Suara-alam.com

Minggu, 17 Maret 2013

Membuat Anak Tidak Bosan Dalam Menjelajah Alam


Kami sekeluarga rutin pergi ke alam, untuk menanamkan rasa respect terhadap alam kepada anak-anak kami. Selain itu kebersamaan kami sekeluarga menjadi semakin erat ketika kami sama-sama bermain di alam. Anak-anak saya selalu menyambut gembira ketika diajak pergi ke alam, namun ketika mulai trekking alias jalan kaki menyusuri jalan-jalan setapak lebih dari 30 menit biasanya mereka mulai bosan. Kalau sudah bosan, biasanya akan muncul ‘penyakit’ capek. Ujung-ujungnya anak saya yang terkecil  mulai ogah berjalan, maunya minta gendong saja.

Anak-anak memang cenderung cepat bosan, termasuk kalau diajak pergi jalan-jalan ke alam. Apalagi kalau sepanjang perjalanan tidak ada sesuatu yang istimewa untuk dilihat. Kalau ada aneka jenis satwa liar itu akan menjadi atraksi yang menarik perhatian bagi anak-anak. Nah kalau hanya ada pepohonan saja, apa ya yang mesti kita lakukan? Coba deh ikutin pengalaman saya berikut ini yang akhirnya membuat anak-anak saya betah melakukan trekking tanpa dilanda rasa bosan.

Sebelum trekking yang harus disiapkan  terlebih dahulu adalah  makanan ringan dan minuman yang cukup. Anak-anak itu cenderung suka ngemil dan permen, ini harus kita sediakan. Jangan sampai di tengah hutan anak-anak kita jadi ngambek karena pingin kue.  Kita tidak bisa memaksa anak-anak kita untuk hidup ala ‘survival’ di hutan, kalau pergi ke alam bisa nyaman dan enak kenapa harus berusasah payah membuat kita kelaparan? Memang bawaan kita akan sedikit lebih banyak, tapi khan tidak masalah demi anak-anak.

Setelah makanan dan minuman, perlu diperhatikan tentang pakaian dan sepatu anak. Pilih sepatu trekking yang nyaman, karena kalau pakai sepatu yang tidak nyaman akan membuat anak cepat capek dan lecet kakinya, akibatnya mereka juga jadi malas untuk jalan. Kenakan pakaian yang menyerap keringat dan sedikit longgar. Jangan lupa untuk membawa pakaian ganti, siapa tahu anak-anak kita akan bergumul dengan lumpur atau bebasah ria di sungai. Namanya juga anak-anak pasti suka bermain, biarkan mereka bereskpresi menikmati alam. Tidak perlu takut untuk kotor dan basah!

Tantangan terbesar dalam trekking bersama anak-anak itu ketika kita sudah mulai jalan, apalagi kalau jaraknya lumayan jauh, karena mereka cepat bosan. Untungnya saya akhirnya menemukan resep untuk membunuh rasa bosan anak-anak saya ketika mereka melakukan trekking. Sepanjang perjalanan saya buat semacam “kuis” berhadiah. Kuisnya itu tentang nama-nama tanaman yang kami jumpai sepanjang perjalanan. Tidak harus tanaman langka, tapi bisa juga tanaman-tanaman ladang seperti singkong, tomat, cabe, dan lain-lain. Ketika masuk hutan, saya tanyakan juga nama-nama pohon yang umum seperti pinus, beringin, kaliandra dan jati. Kalau anak saya bisa menebak dengan benar tentang nama pohon itu akan saya kasih poin yang nanti bisa ditukar uang. Poinnya bernilai Rp 500 hingga Rp 2000, tergantung tingkat kesulitan pertanyaannya.

Selain kuis tebak nama tanaman, saya juga sekali-kali melontarkan pertanyaan yang berhubungan dengan alam. Misalnya, “apakah fungsi hutan bagi manusia?” Atau pertanyaan, “kalau misalnya hutan ini ditebang,  apa yang akan terjadi?”

Dengan kuis berhadiah itu, anak-anak saya jadi penuh semangat menelusuri jalan setapak yang kami lalui. Jika mereka salah dalam menjawabnya, kami akan meluruskannya. Ini juga menjadi media pendidikan pengenalan keragaman hayati secara praktis dan menyenangkan, daripada hanya baca di buku saja. Jadi ini berpetualang sambil mengenal alam. Karena begitu semangatnya mengikuti kuis sambil trekking ini anak saya yang terkecil, Kya, nyeletuk, “pak jangan berhenti, ayo terus jalan, apa next question-nya?”.