Kamis, 18 April 2013

Berpetualang ke Pantai Ngantep Malang


Sekitar pukul 12.00 kami meluncur ke Kota Malang untuk menjemput Nada, anak kami yang tertua, di sekolahnya. Kami minta izin ke gurunya agar Nada dapat “dispensasi” pulang lebih awal karena ada acara keluarga. Sekali-kali izin tidak masuk sekolah bolehlah, toh Nada kami jemput jiuga dalam rangka untuk belajar, cuma belajarnya di alam langsung. Setelah urusan ijin anak beres dan disambung dengan mengisi perut sejenak, kami langsung meluncur ke arah Kecamatan Bantur, yang berada di sisi selatan dari Kabupetan Malang. Perjalanan dari Kota Malang ke Bantur lancar jaya, tanpa hambatan berarti.

Setelah dua jam menempuh perjalanan, sekitar jam 14.30 kami mulai memasuki hutan dekat Pantai Kondang Merak. Dari lokasi ini, kami belok ke kiri menuju Pantai Ngantep. Jalanan awalnya berupa tanah yang dilapisi batu karang putih, namun lambat laut mulai offroad. Di beberapa titik ada kubangan lumpur yang cukup dalam. Untungnya kami pakai mobil penggerak roda 4 X 4, jadi rintangan kecil itu bisa dilewati sambil tersenyum.

Setekah 30 menit bergoyang-goyang di atas medan offroad, kami mulai memasuki kawasan Pantai Ngantep. Kedua anak saya langsung bersorak kegirangan, “horee akhirnyanya sampe!”. Pantai Ngantep hari itu terlihat sepi dan bersih. Tidak ada banyak sampah plastik seperti yang biasa dilihat di pantai wisata di Indonesia. Setelah memarkir mobil, saya langsung menuju ke sahabat kami, ibu Tini yang bertugas sebagai pengelola satu-satunya penginapan yang ada di pantai itu. Ibu Tini menyambut kami dengan ramah dan langsung menyiapkan kamar untuk kami.

Penginapan di Pantai Ngantep itu dikelola oleh Perhutani. Penginapannya sederhana, hanya ada kasur di atas karpet, namun bersih. Kamar mandi ada di dalam dengan disain yang semi terbuka. Asyik tempatnya, apalagi harganya sangat bersahabat dengan kantong petualang seperti kami ini.

Kedua anak saya sudah tidak sabar untuk pergi ke pantai yang hanya berjarak 500 meter dari penginapan. “Ayo pak ke pantai!” teriak Kya, anak saya yang kecil. “Sabar dulu, ayo kita masukin barang-barang dulu ke kamar, baru setelah itu main ke pantai”, jawab saya.

Usai memasukan barang-barang ke dalam kamar, kami bergegas ke pantai dengan memakai celana pendek dan sandal lapangan. Tidak sampai lima menit berjalan, pantai yang indah dan bersih sudah berada di hadapan kami. Pantai yang berpasir putih, tidak ada wisatawan lain selain kami berempat. Anak saya lansung lari-lari di atas pasir dan sekali-kali bermain air laut yang disapu ombak menuju bibir pantai. Kedua anak saya mulai basah kuyub terkena cipratan ombak. Mereka dengan cerianya berjalan menyusuri pantai sambil berceloteh tanpa ujung pangkal yang jelas. Tapi yang jelas hari itu kami bergembira ria.

Tak lama kemudian kami tiba di sebuah muara sungai yang tepinya penuh dengan tebing batu bewarna cokelat kehitaman. Disitu terlihat ada dua orang nelayan yang sedang menjala ikan di muara yang tidak terlalu dalam. Kya dan mamanya langsung ikut nyebur ke dalam muara, untuk “membantu” mencari ikan. Tak lama kemudian tiba-tiba ada dua anak perempuan kecil yang telanjang bulat langsung mencebur ke dalam sungai itu. Mereka tertawa gembira, tanpa ada beban apapun, Anak saya merasa dapat “teman” baru, mereka jadi semakin berani main di dalam muara yang kabarnya dulu sempat ada buayanya itu.

Puas bermain di muara sambil membantu mengumpulkan ikan hasil tangkapan nelayan, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. Apalagi hari mulai beranjak gelap. Saya melirik jam di tangan, waktu menunjukan hampir pukul 5 sore. Kami berjalan santai menyusuri pantai lagi menuju penginapan. Sekali-kali terlihat burung air terbang melintas, terasa damai sekali sore itu.

Malam harinya kami makan malam di outdoor, di bawah pepohonan. Di bawah pohon itu diberi meja kayu yang dikeliling 4 kursi, pas dengan jumlah kami. Asyik sekali suasananya. Menu malam itu telur goreng, sambal pedas dan kerupuk. Kami menyantap dengan lahap menu malam itu, maklum perut udah lapar setelah bermain-main di pantai dan muara. Suasana makam malam di alam turut meningkatkan nafsu kami untuk menyikat habis sajian malam itu. Sedapppp!

Puas makan, kami langsung berniat tidur. Namun ada kendala yang membuat kami kurang bisa tidur dengan nyenyak, yaitu cuaca yang panas untuk ukuran kami yang terbiasa hidup di gunung. Kedua, karena nyamuk. Meskipun nyamuknya tidak terlalu banyak, tapi lumayan mengganggu tidur kami. Waktu itu kami lupa membawa kelambu yang seharusnya jadi perlengkapan wajib kalau kita menginap di tepi pantai atau dataran rendah. Maklum bisanya banyak nyamuk nakal yang dapat bonus darah segar orang kota ketika kita tinggal di tempat seperti  itu.

Udara yang cukup panas itu berdampak ke minuman dingin yang kami bawa dalam cool box. Menjelang malam minumannya tinggal 2 botol saja! Hari itu kami jadi rakus untuk meneguk semua minuman yang ada di cool box.

Meskipun malam itu kami tidak bisa tidur dengan nyenyak, namun paginya kami bangun dengan segar bugar. Mungkin suasana alam yang asri membuat kami terasa segar. Anak kami langsung minta ke pantai lagi. “Ayo kita ke pantai lagi, mumpung masih pagi” kata anak saya. Kamipun berjalan kaki ke pantai, kali ini tanpa memakai alas kaki. Katanya untuk pijat refleksi secara alami.

Untuk menuju arah pantai, kami melewati beberapa rumah nelayan yang sangat sederhana. Para nelayan itu menyapa kami dengan ramah. Meskipun baru kenal, terasa akrab, seolah-olah kami sudah kenal lama.
Pagi itu kami menghabiskan waktu bermain di pantai dan muara sungai dengan diriingi musik deburan ombak pantai selatan. Anak saya senang sekali ketika melihat jutaan anak rajungan (semacam kepiting laut) yang ada di sekitar muara. Ini pelajaran biologi buat mereka. Melihat langsung kehidupan satwa yang ada di muara sungai. Apalagi jumlahnya jutaan, wow itu sebuah pengalaman yang sangat mengesankan buat anak-anak saya.

Puas bermain di pantai, kami menyempatkan diri mengunjungi sebuah makam yang di keramatkan oleh penduduk setempat. Makam itu berada di puncak bukit. Menariknya, di atas makam itu ada patung burung rajawali yang tampak gagah. Untuk menuju makam itu kami harus meniti puluhan anak tangga yang membuat anak saya jadi malas untuk naik.

Dari makam itu, kami langsung jalan kaki kembali ke penginapan untuk sarapan pagi. Wah ternya menu pagi itu istimewa, yaitu sambal udang dan rempeyek udang! Udangnya masih fresh, karena baru ditangkap dari laut. Betul-betul nikmat sekali, sampai saya tambah dua kali. Kedua anak saya juga dengan lahap menyantap udang itu, meskipun terasa agak pedas untuk anak saya. Masakan ibu Tini benar-benar istimewa.

Selesai sarapan yang lezat itu, kami mulai berbenah-benah untuk meninggalkan Pantai Ngantep. Sengaja kami meninggalkan pantai sebelum siang, karena kami masih mau melanjutkan perjalanan offroad ke pantai yang lain. Saya bilang ke ibu Tini, “semoga nanti kami akan kembali lagi ke pantai Ngantep yang indah ini,karena kami sangat senang tinggal di pantai yang sepi dan bersih ini”. 

Senin, 08 April 2013

Sumbangan yang Tidak Bau Tengik


Di sela-sela koordinasi peluncuran kampanye Ride for Orangutan, tiba-tiba Ihsan Maulana, seorang supporter ProFauna, mendekati saya. “Pak  ini saya mau nyumbang sedikit untuk Ride for Orangutan, ini saya sisihkan dari keuntungan usaha saya”, ujar Ihsan dengan tulus. Saya kaget dan tidak menyangka Ihsan yang masih status mahasiswa itu mau menyumbang ProFauna. Saya hanya bisa mengatakan dengan terharu, “terima kasih, ini sangat berarti dan luar biasa”.

Usai peluncuran kampanye, saya juga dapat kabar kalau Ida Nurmala, supporter ProFauna asal Sidoarjo, Jawa Timur juga menyumbang sejumlah uang. Wow ini luar biasa, bukan karena nilai uangnya, namun lebih ke kepeduliannya untuk membantu ProFauna. Saya katakan ini luar biasa karena tidak banyak orang Indonesia yang mau menyumbang untuk kepentingan alam, apalagi satwa liar. Kalau menyumbang yang berkaitan dengan agama sih itu sudah biasa, karena seolah-olah kalau sudah nyumbang untuk agama itu pasti dapat tiket akan masuk surga. Padahal urusan surga neraka itu adalah hak kuasa Sang Pencipta, tidak bisa dihitung secara matematis, karena terkait dengan faktor keikhlasan hati. Lha bagaimana bisa dibilang ikhlas, kalau nyumbang untuk anak yatim aja itu diumumkan ke seluruh kecamatan dan kadang masih ada pesan sponsornya yang berbau tengik. Bau tengik itu bisa mengandung unsur politik, pilkada, prestis, atau bahkan status sosial secara keagamaan.

Nah saya bisa katakan sumbangan supporter ProFauna itu tidak berbau tengik. Baunya harum, seperti bunga sedap malam di depan rumah saya yang setiap malam menyebarkan wangi yang kadang-kadang bikin orang yang lewat ketakutan karena dipikir ada pocong. Kadangkadang aneh juga pikiran orang itu, pocong koq bau wangi.

Sebelum Ihsan dan Ida menyumbang, beberapa supporter ProFauna juga ramai-ramai menyumbang ProFauna lewat berbagai cara. Yoes dari Sidoarjo dengan membuat sketsa gambar yang hasil penjualannya diperuntukan ProFauna. Keluarga Rody dan Nyomi yang juga dari Sidoarjo juga aktif nyumbang. Zamroni, suaminya Ida juga jualan kaos di skeolahnya yang keuntungannya masuk ke ProFauna. Bapak dosen Daniel, Pandi dan Indira yang tinggal di kota Malang juga menyumbang ProFauna lewat membeli lelang lukisan. Belum lagi Pak Bambang dari Jakarta yang rajin menyumbang ProFauna setiap bulan.

Kemudian supporter ProFauna yang lainnya membeli kaos edisi khusus “save orangutan” yang memang hasil penjualannya mau disumbangkan ke rehabilitasi orangutan sumatera. Dalam waktu singkat kaos yang dipatok dengan harga minimal Rp 100 ribu untuk ludes diborong supporter ProFauna. Ada banyak lagi supporter yang telah menyumbang yang akan panjang sekali daftarnya jika saya sebutkan satu per satu.

Saya senang dan bangga dengan fenomena supporter ProFauna Indonesia  yang mulai rajin menyumbang uang. Ini bukan semata-mata soal uang yang tentu saja memang diperlukan oleh ProFauna untuk menjalankan progamnya, namun lebih ke soal ini sesuatu yang langka untuk ukuran Indonesia. Kalau bule yang nyumbang sih itu biasa, apalagi kalau yang kasih donasi itu lembaga donor dari luar negeri, itu juga gak mengherankan, meskipun seringkali lembaga donor juga punya kepentingan. Nah ini yang menyumbang orang Indonesia, untuk organisasi asal Indonesia juga! Karena ada juga orang (Indonesia) yang agar kelihatan keren maunya nyumbang ke organisasi yang asalnya dari barat sono, padahal kerjaan organisasi itu di Indonesia sering tidak jelas alias kabur.

Saya masih ingat bagaimana belasan tahun yang lalu begitu sulitnya mengharapkan orang Indonesia untuk menyumbang ProFauna. Karena orang pasti akan bertanya, “kalau saya menyumbang, nanti saya akan dapat apa?” Lha wong mau nyumbang koq malah tanya imbalan, berarti itu tidak tulus dong. Memang beda kalau nyumbang soal agama, karena penyumbang merasa nanti balasannya itu dia akan dimasukan ke dalam surga. Ya kalau sumbangannya itu diterima oleh Sang Maha kuasa, kalau ditolak gimana? Karena mungkin saja sumbangannya itu sarat dengan kepalsuan dan itu sumbangan adalah hasil korupsi!

Saya percaya 100% bahwa membantu mahluk hidup lain itu perbuatan mulia dan juga mendapat “tempat” dimata Tuhan. Itu sangat jelas di berbagai kitab semua agama. Di Islam, ada banyak kisah yang menunjukan bahwa kita harus membantu binatang dan tidak menyakitinya. Seorang pelacur yang memberi minum seekor anjing yang kehausan saja kemudian mendapat anugrah dari Tuhan dengan tempat yang diimpikan banyak orang yaitu surga. Kisah itu sangat dalam sekali pesan yang ingin disampaikan Sang Khalik, yaitu bantulah semua mahluk hidup. Soal anugrah dan imbalan itu bukan urusan manusia, tapi urusan Tuhan. Kalau masih menghitung untung rugi, ya lebih baik tidak usahlah menyumbang.

Terima kasih untuk supporter ProFauna Indonesia yang semakin dahsyat!