Rabu, 17 Juli 2013

Mengapa Kita Masih Pakai Kertas?

Usai buka puasa bersama keluarga, saya duduk santai di ruang tamu sambil mendengarkan lagu Motley Crue yang tenar di tahun 90-an. Lagi asyik-asyiknya goyang kepala ngikutin irama lagu ‘girls girls girls’, anak saya yang paling bontot tiba-tiba duduk di sebelah saya sambil berujar, “pak khan kertas itu dibuat dari pohon ya, padahal nanamnya lama sekali terus dipotong hanya untuk dipakai kertas gitu, mestinya lebih baik kita tidak pakai kertas”.

Saya tertegun sejenak mendengar kicauan anak saya itu. Belum sempat saya menjawab, dia sudah bertanya lagi, “apa kertas itu harus dibuat dari pohon, apa bisa dibuat dari bahan lain?” Saya jelaskan kalau sebetulnya selain dari kayu (pohon) bisa juga dibuat dari pelepah pisang atau merang (batang padi). Ketika saya masih sekolah SD, masih ingat dulu memakai buku tulis yang bahan kertasnya terbuat dari merang. Kertasnya memang tidak bewarna putih bersih, tapi sedikit buram dan terlihat ada seperti seratnya. Setahu saya sih itu kertas buatan pabrik Leces yang ada di Jawa timur. Sayangnya kertas berbahan merang itu kini sudah tidak ditemukan lagi di pasar.

Mungkin karena warnanya yang tidak putih, membuat kertas merang itu tidak diminati oleh masyarakat. Maklum saat ini masyarakat lagi diserang demam “keputihan”. Hal-hal yang berbau putih itu berarti indah, itu cantik. Kertas harus putih bersih, meskipun mungkin pakai zat kimia pemutih yang jelas tidak ramah lingkungan. Wanita itu dibilang cantik kalau kulitnya putih, makanya banyak produk kecantikan pemutih kulit. Saya belum pernah dengar ada produk kecantkan untuk penghitam kulit. Mobil yang lagi diminati juga warna putih. Harganya juga lebih mahal, padahal mestinya lebih murah, karena warna cat putih itu khan warna dasar. Itulah maunya konsumen yang ditangkap dengan cerdas oleh produsen, meskipun seringkali dengan iklan yang membodohi konsumen.

“Daripada pakai kertas, khan lebih baik pakai laptop aja pak di sekolah”, kata Kya, anak saya yang masih sekolah kelas 4 SD itu. Wah keget juga saya mendengar ide-ide cerdas dari anak saya ini. Kamipun jadi terlibat obrolan santai membahas masalah serius, yaitu ketergantungan kita terhadap kertas. Sementara bahan baku kertas itu masih dari kayu yang ditebang dari perkebunan. Dan untuk membuat perkebunan kayu itu harus membabat hutan alami yang penuh dengan sejuta kekayaan. Hutan alami juga jauh lebih punya peran ekologi (lingkungan hidup) dibanding perkebunan yang hanya terdiri dari satu jenis tumbuhan saja.

Mungkin kita di zaman sekarang ini susah untuk tidak memakai kertas. Tapi paling tidak kita bisa menghemat pemakaiannya. Di kantor ProFauna sudah  sejak lama sekali  kitamengharamkan pemakaian kertas untuk laporan bulanan staf. Semua laporan harus dikirim via email dalam bentuk digital. Kami juga memutuskan mem-pensiun-kan majalah Suara Satwa versi cetak, sebagai gantinya kami luncurkan yang versi online di website ProFauna. Pencetakan brosur juga kami tekan jumlahnya, tetap dicetak dengan jumlah terbatas, tidak lagi menghamburkan-hamburkan brosur yang seringkali tidak efesien. Jika membuka lowongan stafpun kami hanya menerima lamaran via email.

Kantor ProFauna telah mencoba melakukan penghematan kertas dengan cara yangsederhana dan justru ternyata murah meriah. Tapi kantor kami tidaklah banyak. Jumlah staffnya juga tidak sampai ratusan orang. Justru saya bermimpi yang bisa mengambil peran penting dalam penghematan kertas itu adalah kampus dan sekolah!

Kenapa kampus dan sekolah? Karena di lembaga pendidikan inilah letak konsumsi kertas terbesar. Ada ribuan orang yang membeli kertas untuk kepentingan pendidikan mereka. Mulai dari catatan kuliah, membuat laporan hingga membuat skripsi. Celakanya, khan dalam membuat skripsi itu pasti tidak sekali jadi, tapi harus bolak-balik mencetak karena dianggap salah oleh dosen pembimbing. Salah huruf satu saja, bisa bisa-bisa harus mencetak satu halaman atau bahkan berpuluh-puluh halaman.

Andai saja laporan mahasiswa itu bisa dibuat dalam bentuk digital. Jadi mahasiswa cukup menyerahkan laporan dengan flash disc atau bahkan lewat email. Konsultasi skripsi atau tugas akhir juga bisa secara digital. Misalnya ada kesalahan di tulisan itu, sang dosen cukup memberi tanda warna merah dan minta mahasiswanya memperbaikinya. Kalau tidak suka warna merah, bisalah dikasih warna hijau, ungu, pink atau apa saja. Yang penting tidak perlu di-print yang boros kertas dan biaya.

Jika dosen sibuk menggarap proyek di luar kampus, mahasiswa mestinya bisa konsultasi lewat email. Tidak perlu bolak-bolik ke kampus mencari dosen yang tak kunjung tampak batang hidupnya, karena lebih asyik menggarap proyek di luar kampus yang lebih punya cantolan uang dibandingkanmengajar yang seharusnya jadi tanggung jawab utamanya itu. Dengan mahasiswa tidak riwa riwi mencari dosen untuk konsultasi itu juga akan jadi penghematan secara ekologi, karena jejak carbonnya semakin kecil.


Usulan anak saya yang masih usia belum genap 10 tahun itu layak kita dengar. Kenapa kita tidak mengganti kertas dengan versi digital? Untuk merubah kebiasaan kuno ini memang susah, dibutuhkan kerendahan hati dan kebesaran jiwa dari sang guru dan dosen untuk melakukan revolusi hijau di kampus atau sekolah. Revolusi tidak berdarah itu adalah dengan cara penghematan kertas! Semoga ada guru dan dosen yang berjiwa ‘revolusioner” untuk membantu penyelamatan alam ini. Sayang saya bukan dosen dan sayang saya juga belum punya sekolah, jadi tidak bisa membuat revolusi itu.