Kamis, 22 Agustus 2013

Penghoby Elang Membuat Elang Semakin Terancam Punah

Maraknya komunitas penghobby atau kolektor elang semakin membuat elang terancam punah di alam. Bagaimana tidak terancam punah, karena sebagian besar elang yang dijual itu adahal hasil tangkapan dari alam. Kebanyakan elang diambil dari sarangnya ketika masih anakan, karena untuk menangkap elang yang dewasa di alam itu sangatlah sulit. Anakan elang itu kemudian dipelihara sampai agak besar atau langsung dijual di pasar gelap. Parahnya pasar gelap itu kini semakin "terang benderang", karena pedagang satwa mulai menjual elangnya secara terbuka secara online lewat jejaring sosial.

Beberapa orang mengaku pecinta elang dengan mengkoleksi elang itu. Huhh kalau begini sih itu namanya cinta palsu, karena justru akan membuat elang stress dan terancam punah. Elang sebagai top predator alias pemangsa tertinggi dalam jejaring makanan membutuhkan tempat yang luas untuk mengekspresikan perilakunya sebagai sang pemangsa. Elang tidak hanya butuh makanan dan minum belaka, namun butuh menjalankan fungsinya di alam yang digariskan oleh Sang Pencipta.

Coba baca artikel tentang elang di situs Suara-alam.com berikut ini:
Bahaya, Perdagangan Elang Jadi Tren di Malang | Suara-alam.com

ProFauna Dukung Program Konservasi Penyu di Airkuning, Jembrana | ProFauna Indonesia

Saya turut senang ketika ProFauna memutuskan untuk mendukung program konservasi penyu di Airkuning, Kabupaten Jembrana, Bali, karena program penyu di tempat ini dibangun dengan nol melalui proses yang baik. Proses yang baik itu diawali dengan niat baik yaitu untuk melestarikan penyu, bukan semata-mata untuk mencari duit alias bersifat komersil. Kedua, program ini sejak awal didukung oleh aparat desa, tokoh adat dan tokoh agama setempat, karena sebelum diresmikan program penyu di sosialisasikan terlebih dahulu ke masyarakat.

Adalah Gede Sudita yang mecetuskan program konservasi penyu di Airkuning yang kemudian membentuk kelompok bernama 'Segara Urip'. Karena niat dan proses yang baik itulah kemudian saya mewakili ProFauna menyatakan mendukung program konservasi penyu di Airkuning itu. Semoga ini menjadi program penyu yang benar, bukan program yang babak belur karena keasyikan mencari duit dari "jualan" penyu.

ProFauna Dukung Program Konservasi Penyu di Airkuning, Jembrana | ProFauna Indonesia

Senin, 19 Agustus 2013

Indahnyanya Danau Buyan

Ketika kami berkunjung pertama kalinya ke Danau Buyan di bulan Agustus 2013,saya langsung bergumam, “hemm indah sekali dan tenang”. Meskipun waktu itu di Bali sedang musim liburan, namun di Danau Buyan terlihat sepi sekali. Hanya ada tidak lebih dari 5 orang yang terlihat menikmati alam Danau Buyan. Justru kesenyapan itu yang membuat Danau Buyan terlihat indah di mata saya. Sekeliling danau yang berpagar alami hutan dan kabut yang menyelimuti danau itu semakin membuat kesan indah. Dan ada nuansa magis. Hati terasa damai.
Kicauan burung semakin menambah alaminya Danau Buyan itu. Beberapa burung air terlihat asyik bermain air di tepi danau. Sekali-kali terlihat juga burung kuntul putih yang terbang melintas di atas danau yang cukup luas itu. Kami benar-benar menikmati suasana yang asri dibalut dengan sejuknya udara yang membuat kami betah berlama-lama berada di tepi Danau Buyan.
Danau Buyan berada di kawasan Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada,Kabupaten Buleleng, Bali. Danau ini merupakan satu dari tiga danau kembar yang terbentuk di dalam sebuah kaldera besar. Ia diapit oleh dua danau lainnya, yaitu Danau Tamblingan di sebelah barat dan Danau Beratan di sebelah timur. Danau Buyan adalah yang terbesar dari ketiganya.

Di antara Danau Buyan dan Tamblingan yang terpisahkan oleh hutan sepanjang kurang lebih satu kilometer, terdapat sebuah kanal sempit  yang terhubung langsung dengan Danau Buyan. Oleh masyarakat setempat kanal itu dinamakan Telaga Aya. Untuk anda yang ingin menikmati sisi lain dari keindahan Pulau Bali, silahkan coba kunjungi Danau Buyan.

Minggu, 18 Agustus 2013

Berkunjung ke Danau Tamblingan yang Indah, Namun Sayang tidak Terawat

Beberapa kali saya melintas di jalan yang berada di atas Danau Tamblingan, namun kesempatan untuk turun dan berada di tepi Danaui Tambilingan baru kesampaian beberapa waktu yang lalu. Dari jalan raya yang menghubungkan Bedegul dan Desa Munduk itu kalau mau ke Danau Tamblingan ambil arah ke kiri. Jalannya tidak terlalu lebar dan semakin mendekatai danau itu jalannya semakin rusak. Namun sepeda motor masih bisa melewatinya dengan perlahan.

Danau Tamblingan terletak di lereng sebelah utara Gunung Lesung, kawasan Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng,Bali. Danau ini merupakan satu dari tiga danau kembar yang terbentuk di dalam sebuah kaldera besar. Di sebelah timur berturut-turut terdapat Danau Buyan dan Danau Beratan. Danau ini dikelilingi hutan sehingga udaranya terasa sejuksekali, bahkan cendmerung dingin untuk orang yang terbiasa hidup di dataran rendah seperti misalnya Surabaya atau Jakarta.

Nama Tamblingan berasal dari dua kata dalam Bahasa Bali yaitu Tamba berarti obat, dan Elingang berarti ingat atau kemampuan spiritual. Diceritakan dalam Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul bahwa masyarakat di wilayah itu konon pernah terserang wabah penyakit menular.. Kemudian seseorang yang disucikan turun ke danau kecil di bawah desa untuk mengambil air untuk obat. Berkat doa dan kemampuan spiritualnya air itu kemudian dijadikan obat dan mampu menyembuhkan masyarakat desa. Kata Tamba dan Elingang inilah lama kelamaan menjadi Tamblingan.

Di sekitar Danau Tamblingan banyak terdapat pura, bahkan salah satunya berada persis di tepi danau. Sayangnya pura yang berada di tepi danau itu terlihat kurang terawat dengan baik. Di sekitar pura dan juga danau ada banyak sampah plastik yang membuat tidak sedap pemandangan. Sayang sekali, padahal danau ini begitu indah dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing pemburu keindahan alam. Terbukti pada waktu saya berkunjung kesana, setidaknya ada lebih dari 20 wisatawan asing yang terlihat enjoy menikmati alam danau Tamblingan.

Jika ingin keliling Danau Tambilingan, ada banyak persewaan perahu dayung tradisional. Harga sewa perahu itu Rp 140 ribu untuk maksimum 4 orang. Harga segitu sudah termasuk tukang dayungnya.
Menurut salah satu tukang perahu, air di danau Tamblingan itu tidak pernah kering meskipun di musim kemarau. Ada mata air di hutan yang terus tiada henti mengisi air danau lewat aliran bawah tanah. Namun sayangnya danau ini semakin tahun kian dangkal karena longsoran tanah. Airpun semakin meluas, namun kedalaman danaunya semakin dangkal.


Andai saja lingkungan di sekitar Danau Tamblingan itu ditata lebih baik dan tidak ada sampah plastik yang berserakan, hemmm pasti akan lebih indah dan mampu lebih banyak menyedot wisatawan. Semoga pemerintah setempat menyadari hal ini dan segera menyelamatkan keindahan Danau Tamblingan yang punya potensi besar untuk memberikan pendapatan bagi masyarakat lokal itu.

Jumat, 16 Agustus 2013

Desa Munduk,Wisata Desa yang Asri di Pulau Dewata

Bagi anda yang sudah sering ke Bali dan mulai jenuh dengan tujuan wisata yang semakin hiruk pikuk seperti Kuta atau Sanur, coba kunjungi sisi lain dari Bali yang tidak kalah menawannya. Salah satu lokasi wisata yang indah namun jauh dari kesan ramai dan berjubel itu adalah Desa Munduk yang berada di Singaraja. Di kalangan wisatawan domestik memang desa ini kurang terkenal bahkan ketika kami bertanya ke beberapa orang di Denpasar, mereka tidak banyak mengenal tempat ini. Namun di kalangan wisatawan asing khususnya Eropa, nama Munduk sudah tidaklah asing lagi.

Pada bulan Agustus 2013 saya dan istri berkesempatan mengunjungi Desa Munduk, setelah dapat rekomendasi dari Bayu Sandi, aktivis ProFauna yang bekerja di Bali. Kami berangkat dari Negara menuju arah Pekutatan dengan menggunakan dua sepeda motor khusus untuk petualangan. Dari Pekutatan, kami belok kiri menuju arah Singaraja. Beberapa kali kami berhenti untuk bertanya ke penduduk tentang arah menuju Desa Munduk. Mereka semuanya melayani pertanyaan kami dengan ramah, khas keramahan penduduk desa.

Jalan menuju Desa Munduk itu menanjak dan berkelok-kelok, tapi mulus. Sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan segar berupa perkebunan cengkeh, kopi dan persawahan. Begitu indah dan tenang. Sampai di Desa Pucaksari, kami berhenti untuk makan siang di pertigaan desa yang ada warung sate dan gule kambing. Dari pertigaan desa itu, kami mengambil jalan yang lurus karena lebih dekat, meskipun jalannya lebih menanjak dan penuh dengan kelokan tajam.

Sekitar lima belas menit melewati Desa Pucaksari, akan ada pertigaan lagi yang juga ada warung sate kambingnya. Di pertigaan ini, kami mengambil jalan belok kanan yang menurun. Setelah melewatu pertigaan itu, kami memasuki jalan sepi di tengah hutan yang masih bagus. Jalannya masih berupa aspal yang mulus, namun harus ekstra hati-hati karena jalanan menurun tajam dan berkelok-kelok. Waktu kami lewat jalan di tengah hutan ini, kami hanya berpapasan 3 motor saja. Jalannnya memang sepi, tapi justru ini yang mengasyikan buat kami. Seakan-akan kami sedang tidak berada di Bali yang dikenal dengan penuh sesak wisatawan ketika musim liburan.

Di jalan tengah hutan itu kami juga menjumpai beberapa pura, salah satunya pura Kuntul Bumi. Keberadaan pura-pura di tepi jalan inilah yang mengingatkan kami kalau kami masih berada di pulau dewata. Beberapa kali kami juga berhenti di jalan tengah hutan itu untuk mengamati burung-burung liar yang banyak berkicau dengan riangnya. Hemm betul-betul menyegarkan pikiran.

Selepas dari jalan di tengah hutan, kami memasuki jalanan kampung. Lagi-lagi kami bertanya ke penduduk desa tentang arah ke Desa Munduk. Jalanan menuju Desa Munduk ini masih menanjak dan penuh dengan  kelokan tajam. Udaranya sejuk dan cenderung dingin pada waktu itu.

Tak lama kemudian kami memasuki Desa Munduk yang ternyata benar-benar asri dan indah. Desa ini berupa perbukitan yang berada di ketinggian sekitar 900 meter dari permukaan laut . Tak heran kalau udaranya terasa segar sekali. Pemandangan di Desa Munduk didominasi perkebunan cengkeh dan kopi dengan latar belakang gunung dan perbukitan.

Salah satu obyek wisata yang terkenal di Desa Munduk adalah air terjun Munduk dengan tinggi sekitar 100 m. Obyek wisata alam lain yang terkenal di sekitar Munduk adalah beberapa danau seperti Danau Tamblingan, Bratan dan Buyan. Agak jauh lagi, kita bisa berkunjung ke Bedugul yang terkenal dengan kebun rayanya itu.

Di Desa Munduk juga banyak penginapan dengan harga mulai Rp 200 ribu hingga jutaan. Kebanyakan model penginapannya berupa home stay dan bungalow. Jika mau lebih murah, bisa juga menginap di home stay yang berada luar Desa Munduk. Kami sempat ditawari penduduk untuk menginap di rumahnya dengan harga Rp 100 ribu per kamar.


Wisatawan di Desa Munduk yang berada di Kabupaten Buleleng itu kebanyakan adalah wisatawan asing. Sangat sedikit sekali wisatawan domestik yang berjunjung apalagi tinggal di Desa Munduk yang relatif sepi itu. Untuk anda yang gemar trekking dengan suasana alam yang segar, Desa
Munduk akan memuaskan dahaga anda. Keramahtamahan penduduk desanya juga menambah betah untuk berlama-lama tinggal di desa ini. Apalagi harga makanan di warung-warung di Munduk juga tidak terlalu mahal, tidak jauh beda dengan harga di warung yang ada di Malang. Kami yang memang gemar berpetualang benar-benar terpuaskan dengan keindahan alam Munduk dan danau-danau yang ada di sekitarnya. Selama kami di Munduk juga bertemu dengan beberapa bule yang ternyata tahu tentang ProFauna, semakin menambah senang saja berada di desa ini.

Jumat, 09 Agustus 2013

Lebaran ke Nongkojajar Lewat Gunung Tunggangan

Kebanyakan orang dari arah Kota Malang jika mau ke Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur itu lewat Purwodadi. Resikonya akan terjebak macet di beberapa titik seperti Karanglo, Singosari dan Lawang. Jika ingin menghindari macet, cobalah lewat jalur alternatif menyisiri gunung Tunggangan. Jalurnya sepi dan asyik untuk yang hobi berpetualangan karena bisa menikmati suasana pedesaan dan ladang petani.

Untuk menuju Nongkojajar lewat Tunggangan itu dari Kota Malang menuju arah wisata pemandian Wendit di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Dari Wendit terus menuju arah ke Pasar Pakis, kemudian setelah Pasar Pakis ada pertigaan, ambil arah belok kiri menuju Jabung. Setelah melewatiPasar Jabung, terus ambil jalan lurus ke arah Nongkojajar.

Jalan menuju Nongkojajar lewat Tunggangan itu sudah aspal, walaupun di beberapa titik sudah berlubang, Jalannya menanjak dan cukup berkelok-kelok. Tanjakan paling ekstrim ada di Tunggangan. Harus hati-hati ketika memasuki Gunung Tunggangan, karena selain banyak  kelokan tajam dan menanjak, juga sering ada banyak motor atau mobil yang tersendat-sendat bahkan mogok di daerah itu.

Setelah melewati Tunggangan, terus saja mengikuti jalan aspal menuju arah Nongkojajar. Dari Nongkojajar jika anda ingin terus ke gunung Bromo, tinggal mengikuti jalan besar saja. Jalannya akan terus menanjak hingga sampai di pertigaan menuju Pananjakan dan lautan pasir Gunung Bromo.


Saya dan keluarga sudah berkali-kali ke Nongkojajar lewat Tunggangan ini baik bawa sepeda motor ataupun mobil. Terakhir kesana di musim lebaran tahun ini yang ternyata beberapa jalan yang berlubang itu sudah ditutupi oleh masyarakat dengan kerikil campur tanah. Jalannya lebih enak, meskipun harus tetap ekstra hati-hati. Silahkan coba jalur Tunggangan yang asyik untuk light adventure!

Senin, 05 Agustus 2013

Sponsor Tunggal ProFauna Conference 2013

ProFauna Conference yang diadakan setiap dua tahun sekali itu adalah hajatan besar bagi ProFauna. Gimana tidak gede, karena itu melibatkan ratusan supporter ProFauna dari berbagai daerah dan negara yang meluangkan waktu untuk datang ke Malang yang jadi markas besar ProFauna Indonesia. Mereka selama tiga hari akan berbagi pengalaman, pengetahuan, semangat dan hasrat tentang pelestarian alam. Total dana yang dibutuhkan untuk hajatan itu sekitar Rp 100 juta kalau dihitung pengeluaran untuk konsumsi, penginapan dan transportasi peserta atau pembicara.

Uang Rp 100 juta lumayan gede untuk ukuran ProFauna yang boleh dibilang “miskin” soal dana, namun “kaya” soal aksi. Mencari sponsor untuk mendanai acara seperti konferensi bukanlah pekerjaan mudah, karena itu tidak “seksi” dimata sponsor. Tidak ada nilai komersilnya gitu. Terus dari mana dong ProFauna mendapatkan dana untuk menutupi pengeluaran ProFauna conference itu?

Untungnya kami mendapatkan sponsor tunggal yang mau mendanai semua pengeluaran ProFauna conferensen itu. Sponsor tunggal itu bukan pertama kali ini mendanai ProFauna conference, tapi sudah berulang kali sejak pertama kali ProFauna Conference diadakan tahun 2000. Asyiknya, sponsor tunggal ini tidak menuntut kompensasi apapun. Tidak menuntut ada logo perusahaannya dan juga tidak menuntut adanya publikasi. Hemm anak sekali ya.

Sponsor tunggal ProFauna conference itu adalahSuporter ProFauna! Ya, Suporter ProFauna-lah yang mendanai 100% acara ProFauna conference itu. Tidak seperti acara konferensi lainnya yang biasanya justru peserta setelah selesai acara dikasih amplop berisi uang, justru di ProFauna conference itu peserta “wajib” untuk kasih donasi. Donasinya sih tidak terlalu besar, minimal Rp 100.000 sudah akan dapat fasilitas makan, penginapan dan makalah. Namun hebatnya, meski diberi batasan minimal Rp 100 ribu, namun ternyata banyaksekali Suporter ProFauna yang menyumbang lebih dari nilai minimum itu, bahkan banyak yang menyumbang diatas Rp 1 juta.

Sehari setelah undangan untuk menghadiri ProFauna conference dikirim ke suporter ProFauna yang terpilih, masuk SMS dari Niar yang mengurusi acara itu. Bunyinya, “pak ini ada suporter yang nyumbang Rp 2 juta untuk ProFauna conference”. Wah dahsyat, baru sehari undangan dikirim, langsung ada yang menyumbang diatas Rp 1 juta!

Supporter ProFauna yang datang dari USA, Jerman, Medan, Aceh, Maluku Utara, Sulawesi, Bali, Jakarta, Kalimantan dan lain-lain itu semuanya juga datang dengan biaya transportasi masing-masing. Berapa tuh nilai uangnya kalau dihitung biaya transportasinya. Mereka sukarela dan dengan senang hati membiayai dirinyasendiri untuk menghadiri ProFauna conference. Apa tidak hebat tuh.

Saya bersyukur dan bangga dengan suporter ProFauna yang jadi sponsor tunggal ProFauna conference itu. Ini bukan sekedar soal uang, namun soal komitmen, loyalitas dan kepedulian. Saya hanya bisa berdoa semoga mereka para Suporter ProFauna itu semakin dibuka lebar rejekinya, karena mereka telah beramal. Dalam Islam, sejatinya bahwa membantu mahluk hidup lain termasuk binatang itu adalah juga sebuah amal ibadah. Amin.


Sampai ketemu di ProFauna conference tanggal 12-14 September 2013!