Senin, 30 September 2013

Tiga Hari yang Menggairahkan

ProFauna Conference 2013 yang usai digelar tanggal 12-14 September yang lalu meninggalkan kenangan manis dan kemesraan yang enggan berlalu, persis seperti  lirik di lagu ‘kemesraan’ yang dilantunkan band Balance di penutupan acara dua tahunan itu. Selama tiga hari orang-orang hebat dari berbagai daerah kumpul di Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC), Kabupaten Malang, Jawa Timur untuk berbagi pengalaman dan semangat dibidang konservasi alam. Ini menjadi ajang menggali ilmu yang dahsyat karena sang “guru” bukan bicara soal teoritis, tetapi fakta dan realita di lapangan berdasarkan pengalaman panjang bergelut di dunia konservasi alam.

Jadinya acara itu berlangsung dengan penuh gairah, tidak membosankan, seperti jamaknya kuliah-kuliah di kampus yang lebih banyak obral teori, apalagi teorinya itu sudah kuno alias kudet (kurang upate – meminjam istilah anak saya). Karena yang berbicara adalah praktisi yang menjalankan langsung program-program konservasi alam, diskusipun mengalir begitu hangat. Ada Asril dari Medan yang berbicara tentang suka duka bekerja dengan orangutan. Ada Rudy dari Aceh yang berbagi cerita begitu rumitnya bekerja menyelamatkan ekosistem Leuser di Aceh. Ada juga Bayu yang panjang lebar bercerita tentang kampanye penyu di Bali yang penuh dengan rintangan. Masih banyak pembicara lain yang berbagi pengalaman berdasarkan apa yang telah mereka alami, berdasarkan apa yang telah mereka kerjakan di lapangan.

Selama tiga hari mengikuti ProFauna Conference yang dihadiri sekitar 100 orang itu benar-benar menggairahkan saya. Beruntung saya bisa banyak bertemu dengan pejuang-pejuang lingkungan yang hebat, yang bekerja tanpa pamrih. Saya katakan ,mereka itu pejuang, bukan karena mereka telah mendapatkan penghargaan dari pemerintah (yang bagi saya, itu tidaklah penting-penting amat), tetapi karena mereka telah berbuat nyata untuk alam dengan cara mereka. Sebut saja Yasa, seorang guru di Jembrana Bali yang sejak lama berjuang untuk menyebarkan virus konservasi alam di anak didiknya, meskipun seringkali justru pihak sekolah kurang mendukungnya. Atau Zamroni, seorang guru di Sidoarjo, yang juga begitu militannya untuk menyebarkan “ajaran” ProFauna ke generasi muda di Sidoarjo. Semua itu dilakukan dengan dana sendiri, tidak ada sponsornya. Bahkan hebat lagi, malah Zamroni yang rajin kasih sumbangan ke ProFauna!

Saya juga begitu hangat berdiskusi dengan Eka, koordinator supporter ProFauna Chapter Ternate. Eka yang bicara lantang dan penuh semangat itu banyak bercerita tentang situasi terkini di Maluku utara terkait dengan ProFauna dan permasalahan burung paruh bengkok. Saya bersyukur, sejak Eka menjadi koordinator supporter ProFauna di Maluku utara, penambahan supporter jauh lebih cepat. Yang mendaftar jadi suporter ada yang berlkatar belakang dosen, mahasiswa, tokoh Pramuka dan juga aktivis lingkungan. Hemm ini jadi mematahkan kata seseorang yang bilang, “kalau tidak ada saya, pastilah ProFauna di Maluku Utara akan habis”. Ah itu khan pikiran orang sombong, nyatanya penambahan suporter ProFauna di Maluku utara malah begitu pesat. ProFauna itu tidak tergantung satu orang, masih banyak ratusan atau bahkan ribuan supporter ProFauna lainnya yang siap mendukung.

Ada hal yang juga membuat saya terharu namun semakin meningkatkan gairah saya untuk terus berjuang untuk alam Indonesia, yaitu tentang animo suporter ProFauna untuk hadir di ProFauna conference. Dengan dana sendiri (baca: ProFauna tidak mendanai dan juga tidak ada sponsor),suporter ProFauna dari berbagai daerah dan negara hadir dengan berbagai cara. Ada yang naik pesawat, kapal laut, bus, kereta api dan sepeda motor. Patut diacungi jempol buat Pak Mamik, yang rela naik sepeda motor dari Lampung ke Malang untuk menghadiri ProFauna conference! Wow hebat! Ternyata ada banyak jalan menuju Malang, asal ada ketulusan dan komitmen, uang bukanlah menjadi penghambat utama.

Udara dingin di P-WEC terasa hangat karena diselimuti semangat ProFauna, kobaran slogan one spirit benar-benar menghangatkan suasana selama tiga hari itu. Kehadiran aktor Mathias Muchus di tengah-tengah aktivis ProFauna itu semakin membakar api perjuangan.  Saya dan mungkin juga dirasakan oleh banyak supporter lainnya, merasa tiga hari itu cepat sekali berlalu. Ogah rasanya untuk berpisah dari kehangatan persaudaraan yang begitu kental di ProFauna.


Namun setiap pesta pasti berakhir, seperti halnya setiap konser rock pada akhirnya juga akan usai. Demikian juga ProFauna conference 2013, haruslah disudahi di malam minggu 15 September. Sedih memamg harus berpisah dengan sahabat dan saudara seperjuangan. Namun perjuangan masih berlanjut, belum usai. Kita harus kembali ke daerah masing-masing, ke pekerjaaan yang telah menunggu di rumah. Kita masih harus berjuang dengan cara masing-masing, dengan cara yang sederhana, namun bermakna. Perjuangan untuk kelestarian alam itu tidak harus ada duitnya, ada duit atau tidak, yah harus tetap berjuang! Selamat berjuang dan terima kasih telah hadir di ProFauna Conference 2013! I miss you all......

Selasa, 17 September 2013

Mathias Muchus Deklarasikan Pelestarian Hutan | ProFauna Indonesia

Aktor Mathias Muchus menyerukan gerakan pelestarian hutan Indonesia dengan melibatkan segenap komponen masyarakat. Ajakan itu disampaikan Mathias Muchus di acara ProFauna conference yang diadakan di Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC) pada tanggal 12-14 September 2013. Muchus mengatakan bahwa gerakan pelestarian hutan harus dilakukan secara konsisten dan pantang menyerah.

Saya senang sekali bisa bertemu lagi dengan sahabat saya Mathias Muchus yang sejak lama menunjukan kepeduliannya akan pelestarian hutan. Terima kasih telah datang di ProFauna Conference 2013!

Mathias Muchus Deklarasikan Pelestarian Hutan | ProFauna Indonesia

Selasa, 10 September 2013

Asyiknya Bertemu dengan Aktivis ProFauna dari UK

ProFauna Conference 2013 yang diadakan tanggal 12-14 September 2013 di Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC) menjadi sebuah ajang yang menggairahkan buat saya karena bisa bertemu dengan banyak aktivis ProFauna dari berbagai pelosok negeri. Bukan hanya suporter ProFauna dari Indonesia saja yang hadir, tapi juga dari luar negeri. Tercatat yang hadir itu berasal dari 16 propinsi yang ada di Indonesia dan 5 negara antara lain UK, Jerman, Spanyol, USA dan Indonesia sebagai tuan rumah. Ini foto saya bersama Andrew dan Bea yang malah sudah hadir di P-WEC sejak sebulan yang lalu.

Suporter ProFauna dari 15 Propinsi Akan Hadir di ProFauna Conference 2013 | ProFauna Indonesia