Minggu, 19 Oktober 2014

Catatan Perjalanan ke Makassar: Semangat untuk Maju dari Sulawesi Selatan


Jam di tangan menunjukan pukul 11.30 wita ketika saya mendarat di Bandara Hasanudin, Makassar di pertengahan Oktober 2014. Bandaranya terlihat wah, sangat beda jauh dengan sepuluh tahun silam ketika terakhir kali saya berkunjung ke Makassar.

Di pintu keluar bandara, saya disambut Ipank, salah satu supporter PROFAUNA yang bergelar sarjana biologi. Ipank dengan hangat menyambut saya dan langsung meluncur ke kampus Universitas Hasanudin (Unhas). Siang itu saya direncanakan untuk memberikan kuliah umum di depan mahasiswa Unhas.

Tidak sampai satu jam, kami tiba di kampus Fakultas Kehutanan Unhas yang cukup asri karena penuh dengan rimbunnya pepohonan di sepanjang tepi jalan. Begitu saya turun dari mobil, langsung disambut hangat oleh Hamka, sosok supporter PROFAUNA yang berada dibalik hajat kuliah umum ini. Hamka dan sang istri selama bertahun-tahun tidak pernah berhenti mendukung PROFAUNA. Makanya saya begitu gembira dan bangga bisa ketemu Hamka dan istrinya di Makassar.

Tak lama kemudian saya ketemu dengan beberapa supporter PROFAUNA lainnya, yang selama ini hanya kenal di dunia maya. Akhirnya bisa juga copy darat, bertemu dengan mereka. Senang sekali rasanya. Walaupun jujur, saya tidak bisa mengenali namanya satu per satu…

Setelah bercakap-cakap sebentar dengan beberapa dosen yang hadir, kuliah umumpun dimulai. Saya kaget, ternyata yang hadir sangat banyak sekali. Mahasiswa yang memadati aula bukan saja dari fakultas kehutanan, namun juga dari  jurusan lain seperti kedokteran hewan, biologi dan komunitas lainnya. Saya perkirakan yang hadir sekitar 200 orang. Kursi yang disediakan sampai tidak cukup. Saya tidak menyangka begitu antusiasnya mahasiswa di Unhas untuk mengikuti kuliah umum saya ini.

Mahasiswa yang hadir di kuliah umum itu juga sangat aktif sekali dalam sesi diskusi. Mereka begitu penuh semangat mengajukan pertanyaan dan pendapat. Banyak juga diantara mereka yang kemudian tertarik gabung  menjadi Suporter PROFAUNA.

Pertemuan Supporter PROFAUNA Sulawesi Selatan

Usai kuliah umum, kami langsung meluncur ke sebuah café yang tidak terlalu jauh dari kampus Unhas. Di Café Celebes, ternyata sudah banyak berkumpul supporter PROFAUNA daru berbagai daerah yang ada di Sulawesi selatan. Yang bikin kaget, Yayat supporter senior ternyata hadir juga! Yayat yang bergabung di PROFAUNA lebih dari 10 tahun silam itu tampak tidak ada perubahan, masih tetap kurus.

Saya langsung berpelukan dengan Yayat, karena sudah 10 tahun tidak bertemu. Yayat ini punya sejarah istimewa di PROFAUNA, karena dia pernah jadi relawan selama 3 bulan di pusat penddikan koservasi alam yang dikelola PROFAUNA di Malang untuk menggambar media edukasi.  Karya Yayat itu hingga sekarang masih bisa dinikmati di Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC).

Yayat yang seorang seniman itu kini menjadi guru. Dia menempuh perjalanan 6 jam menuju Makassar untuk bertemu dengan saya. Hemm luar biasa!

Puas kangen-kangenan dengan Yayat, saya menyapa rombongan suporter PROFAUNA dari Palopo. Ada delapan orang dari Palopo yang menempuh perjalanan lebih dari 10 jam dengan mobil menuju Makassar. Di hari itu juga saya bisa ketemu langsung dengan Rahmat yang selama ini kami hanya saling celoteh di Facebook saja.

Di hari yang panas menurut ukuran tubuh saya itu, saya merasa bahagia bisa bertemu banyak suporter PROFAUNA asal Sulawesi selatan. Tercatata ada 22 orang yang hadir. Saya melihat ada gairah dan semangat di mata mereka untuk melakukan sesuatu bagi kelestarian alam Sulawesi bersama PROFAUNA.

Meski terhambat satu jam karena adalah masalah tehnis di LCD proyektor, presentasi saya tentang PROFAUNA tuntas saya sampaikan. Saya buka semua “dapur” PROFAUNA dihadapan supporter dari Sulawesi selatan itu. Soal dana, kebijakan, prinsip dan program, semuanya saya beberkan dengan gamblang.
Harapan saya mereka tahu dengan sebenarnya tentang PROFAUNA. Bahwa PROFAUNA itu dibangun bukan untuk cari duit. Bahwa PROFAUNA itu memakai prinsip sukarelawan, bukan prinsip oportunis. Bahwa PROFAUNA itu membutuhkan orang yang jujur dan tidak bermental korupsi.

Selama dua hari di Makassar saya merasa puas. Puas bisa ketemu Hamka, Fita, Rahmat, Yayat, Ipank dan supporter PROFAUNA lainnya. Terima kasih untuk suporter PROFAUNA di Makassar yang telah membuat kuliah umum di Unhas dan pertemuan supporter PROFAUNA yang begitu terasa bermakna.

Jumat, 26 September 2014

Mundur Jadi dosen, Pilih Jadi Relawan Profauna


Teringat sebuah iklan rokok di televisi, “kerja itu tidak harus di kantor, tapi bisa juga sambil pake celana kolor”. Iklan itu secara tidak langsung menyentil orang yang masih menganggap “kemapanan” itu ketika bekerja dalam bidang yang dianggap “mapan”. Bidang itu antara lain PNS, dokter, dan dosen. Tak heran untuk mengejar kemapanan itu atau mungkin juga mengejar gengsi, segala jurus dan upaya dilancarkan untuk mendapatkan posisi impian itu. Menyogok dan menyuap menjadi tindakan yang kemudian dihalalkan secara jamaah. Ahhh itu sudah biasa, kalau kamu mau “sukses”  memang harus begitu– kata seorang teman.

Ada yang harus keluar duit puluhan hingga ratusan juta rupiah untuk diterima dalam zona “kemapanan” PNS. Ada yang rela bertahun-tahun jadi honorer dengan gaji minim karena mengejar mimpi suatu ketika dia diangkat jadi guru atau dosen tetap. Semuanya mengejar mimpi kerja “mapan” dan “nyaman”.

Ketika ribuan atau bahkan jutaan orang berdesak-desakan untuk bekerja di zona “mapan” itu, masih ada segelintir orang yang melawan arus dengan bekerja di luar mainstream. Bagi mereka, lapangan kerja itu tidak sesempit daun kelor. Bagi mereka yang punya jiwa berani, pekerjaan mapan itu bukan semata-mata jadi PNS, dosen, dokter, polisi, pengacara atau bahkan politisi (karena ada yang menganggap jadi politisi itu adalah alternatif lapangan pekerjaan).

Saya punya banyak teman yang “mapan” dan bahagia meskipun bekerja di luar zona kemapanan menurut persepsi umum itu. Ada yang yang sukses bekerja dibidang ekowisata. Ada yang kaya raya dari jualan jeruk. Ada yang bahagia jadi event organizer. Ada yag mendulang rupiah dari jualan parts motor. Ada yang bisa bangun rumah (dan kawin lagi...) dari jualan soto yang laris manis.

Ternyata ada banyak jalan dan peluang di dunia kerja. Asalkan kita tidak terkotak dalam persepsi kemapanan yang sempit  itu dan juga tidak terkukung oleh gengsi. Hanya orang yang dinamis dan punya jiwa petualang yang berani memilih untuk berkarya di bidang yang dianggap diluar zona kemapanan itu.

Salah satu orang yang saya anggap berani dan luar biasa itu adalah Toni. Dia adalah seorang supporter Profauna yang sudah memegang izasah S2 dari sebuah perguruan tinggi ternama di Malang. Berbekal ijasah S2 itu dia melamar jadi dosen di sebuah perguruan tinggi di Jatim, dan ternyata diterima!

Di saat bersamaan ketika dia diumumkan diterima jadi dosen, di Profauna ada pengumuman kalau Profauna butuh relawan selama 3 bulan di tanah Borneo. Toni jadi galau dan bimbang, antara terus berkarir jadi dosen yang dianggap bergengsi ataukah berangkat ke Borneo untuk jadi relawan. Hati kecilnya  berbisik dia ingin melakukan suatu perubahan. Ingin berbuat sesuatu untuk alam, karena dia punya ilmu biologi yang dikenyamnya selama di bangku kuliah. Dia ingin ilmunya itu berguna untuk konservasi alam.

Akhirnya Toni mengambil keputusan berani. Dia mundur jadi dosen dan berangkat ke Borneo! Ini sebuah keputusan besar yang diambil seorang pemuda bernama Toni. Saya angat menghargai dan kagum dengan keputusan itu. Bukan karena Profauna mendapatkan relawan di Borneo, tetapi di zaman sekarang ini tidak banyak orang seperti Toni ini. Meninggalkan zona kenyamanan untuk berjuang!

Sementara di era sekarang ini kita terbiasa dalam keseharian itu dibuat nyaman. Kita jadi malas ke pasar tradisional  karena di dekat rumah kita berjejer indomaret atau tinggal kilik di Hp untuk belanja online. Kita jadi malas silahturahmi dengan bertemu fisik dengan sahabat atau kerabat, karena cukup say hello lewat SMS atau BBM. Kita juga jadi malas untuk berkegiatan sosial, karena terlalu sibuk narsis di FB. Bahkan untuk memindah chanel TV-pun kita malas untuk beranjak dari kursi, karena tinggal pencet tombol remote control. Hemmm semuanya itu membuat kita jadi “malas”.

Makanya ketika Toni mengambil keputusan jadi relawan Profauna di Borneo itu saya menjadi salut. Saya yakin itu pilihan yang sudah direnungkan dengan mendalam oleh Toni. Saya juga yakin itu akan punya hikmah dan makna yang luar biasa bagi Toni. Dan Tonipun bisa nantinya bercerita dengan bangga kepada anak atau cucunya bahwa dia pernah mengambil keputusan berani dalam hidupnya untuk berjuang bagi kelestarian alam!

Rabu, 03 September 2014

Selamatkan Taman Nasional Baluran! | ProFauna Indonesia

Sejak tahun 90-an saya rutin berkunjung ke Taman Nasional Baluran. Kala itu begitu mudah saya menjumpai bermacam satwa liar seperti banteng, ajak, kerbau liar, merak, kijang, rusa dan lain sebagainya. Terasa berada di "surga" margasatwa. Hampir tiap tahun kemudian saya dan keluarga berkunjung ke taman nasional yang aksesnya sangat mudah dijangkau ini.

Namun lambat laun, satwa liar di Baluran semakin sulit dijumpai, Penyebaran tanaman akasia yang menggurita turut memberi andil semakin tergesernya satwa liar terutama banteng. Faktor perburuan liar juga diduga menjadi pemicu menyusutnya populasi satwa itu. Dalam kunjungan saya yang terakhir tahun lalu, saya merasa "surga" itu mulai memudar. Saya merasa gusar.

Kini hati saya semakin gusar, sedih dan panas, ketika muncul isu akan dibangunnya pabrik pengolahan nikel di dekat taman nasional Baluran. Memang lokasinya tidak di dalam kawasan taman nasional, namun tetap saja ini akan menjadi gangguan yang berarti bagi satwa liar disana. Bisa-bisa "surga" margasatwa itu akan berubah menjadi "neraka"! Ayo dukung PROFAUNA untuk membantu melestarikan Ekosistem Taman Nasional Baluran, cek beritanya di link bawah ini:

Selamatkan Taman Nasional Baluran! | ProFauna Indonesia

Selasa, 18 Februari 2014

ProFauna Dapat Bantuan 3 M untuk Satwa Korban Erupsi Gunung Kelud


Begitu dapat berita Gunung Kelud meletus tanggal 13 Februari 2014 tengah malam, saya langsung hubungi beberapa orang staf dan supporter ProFauna untuk siaga 1. Keesokan paginya, langsung tim yang berjumlah 4 orang itu meluncur ke Kabupaten Kediri dan Malang untuk mendata dampak erupsi Kelud itu ke satwa, baik satwa liar maupun satwa ternak. Singkatnya, tim ProFauna berkesimpulan tidak ada dampak serius terhadap sawa liar, namun justru kondisi terparah adalah satwa ternak yang ada di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang.

Satwa ternak yang kebanyakan sapi perah di Ngantang itu terlihat kelaparan karena sudah ditinggal pemiliknya. Kondisi terparah ada di Dusun Munjung dan Kutut. Pada waktu tim ProFauna berkunjung ke dusun itu, tidak ada satupun penduduk yang tersisa, semuanya sudah mengungsi. Yang ada adalah sapi-sapi perah yang “terjebak” dalam kandang yag sebagian besar atapnya sudah hancur. Sapi itu tidak bisa melarikan diri, karena terikat.

Melihat kondisi sapi yang mengenaskan itu, kami langsung memutuskan untuk menolongnya dengan memberi makan dan minum. Kesulitan terbesar adalah mencari air bersih. Tim harus wira wiri mencari air yang ternyata tidak mudah untuk didapatkan. Pipa-pipa aliran air dari gunung terputus.

Mencari pakan untuk sapi yang berjumlah hampir 1000 ekor itu juga bukan perkara mudah. Tim harus turun ke daerah lain untuk membeli pakan itu. Jalanan yang hacur total, menjadi medan offroad. Ini semakin memperlambat gerak tim untuk pendistribusian pakan ternak. Tim harus bekerja hingga larut malam agar semakin banyak bisa menolong sapi. Tapi semangat membara terkalahkan juga dengan fisik yang drop. Tengah malampun, anggota tim harus terkapar dalam tidur seperti orang mati.

Ketika ProFauna membantu satwa-satwa korban erupsi Kelud itu, kami tidak pernah memikirkan duit alias dana. Yang penting berbuat dulu saja. Kami juga tidak berfikiran, ah buat proposal untuk diajukan ke lembaga donor. Ahhhh itu sih sudah lewat, di ProFauna sudah bertahun-tahun tidak pernah memikirkan lembaga donor. Kami berjuang dengan kemampuan kami sendiri. Kami melakukan sesuatu bukan karena uang, tapi karena kami memang mau melakukan itu. Karena kami senang melakukan itu.

Tanpa diminta, tiba-tiba ada supporter ProFauna yang kirim SMS ke saya. “mas saya baru transfer Rp 500 ribu untuk ProFauna bantu satwa di Kelud”. Alhamdullilah.

Karena semakin banyak sapi-sapi yang perlu dibantu, saya kirim SMS ke beberapa supporter ProFauna untuk meminta bantuan. Eh ternyata sambutanya sangat posisitf. Suporter dan juga advisory board ProFauna ramai-ramai kirim sumbangan. Gila dalam waktu 3 hari terkumpul 3 M. Eitttt sabar dulu, itu bukan Rp 3 milyar, tapi 3 M itu adalah Mantap, Mantap dan Mantap!

Kenapa saya bilang mantap sampai 3 kali? Karena sebagian besar, termasuk aktivitas ProFauna di Kelud itu didukung pendanaannya oleh supporter ProFauna yang kini jumlahnya semakin menggunung. Dalam kondisi darurat, supporter ProFauna selalu menjadi juru selamat.

Sebagian orang selalu berfikir bahwa LSM itu selalu identik dengan buat proposal untuk donor. Atau lebih kejamnya identik dengan meminta-minta ke lembaga donor, meskipun itu harus menjilat atau merendahkan harga diri. Soal etika dan moralpun diabaikan begitu melihat peluang dana gede. Cap jualan proposal atau jualan isu menjadi stempel buruk bagi LSM dalam kaca mata sebagian masyarakat.

Orang yang sinis mungkin juga akan berfikir, “ah ProFauna bantu satwa di Kelud itu juga agar dapat dana dari lembaga donor atau pihak asing”. Itu pikiran wajar, karena mungkin dia melihat hal seperti itu di organisasi lain. Tapi 1000 % saya katakan itu tidak terjadi di ProFauna. Sejak lama ProFauna telah mandiri, karena dukunggan ribuan supporternya.

ProFauna berkembang karena ada dukungan masyarakat lewat wadah supporter ProFauna. Gerakan ProFauna menjadi efektif di tingkat grass root karena melibatkan partsipasi aktif masyarakat lewat supporter ProFauna yang beragam latar belakangnya. Beragam pula asalnya. Ini menjadi kekuatan dahsyat di ProFauna yang membuat ProFauna tidak tergantung kepada lembaga donor.

Ketika berita tentang kondisi satwa korban Kelud mulai muncul di media masssa, beberapa komunitas menelpon saya. Ada komunitas yang juga sahabat saya di Jakarta telpon, “kami mau menggalang dana untuk satwa korban Kelud yang akan disalurkan lewat ProFauna”.  Wah saya sangat senang dan terima kasih dengan kepedulian itu, namun saya jawab, “maaf untuk saat ini kami belum perlu dana, karena kebutuhan pakan satwa mulai dicover oleh pemerintah, kita hanya butuh tenaga untuk distribusinya”.

Nah kalau ProFauna sekedar cari duit atas nama bencana, tawaran donasi itu pasti langsung kami sabet. ProFauna juga tidak pernah mengumumkan secara terbuka bahwa ProFauna menggalang dana untuk korban Kelud. Tapi nyatanya ada banyak orang dan komunitas yang menawarkan bantuan dana. Apa artinya itu? Artinya, mereka percaya ke ProFauna!

Apakah ada logo lembaga donor pada tim ProFauna di Kelud? Tidak ada. Apakah ada orang dari lembaga donor yang ikut tim ProFauna di loaksi bencana Kelud? Tidak ada. Apakah ProFauna pernah mengumumkan penggalangan dana untuk Kelud secara terbuka? Tidak ada. Apakah ProFauna menerima dana dari lembaga donor? Tidak ada.

Yang ada adalah ProFauna terima 3 M (mantap, mantap dan mantap) dari supporter ProFauna!

Selasa, 04 Februari 2014

Ketika Para ‘Suhu’ dan ‘Pendekar’ Turun Gunung

Ketika ProFauna Indonesia melontarkan ide untuk perayaan hari primata Indonesia setiap tanggal 30 Januari, banyak yang menyambut dengan suka cita dan penuh semangat. Suporter ProFauna di berbagai daerah juga penuh antusias untuk menyukseskan kampanye itu. Namun tidak sedikit juga yang mencibir, ‘ah ada-ada saja ProFauna itu, ngapain harus ada hari primata Indonesia?” Ada juga yang nyinyir bilang, “emang siapa ProFauna itu, koq mau bikin hari nasional untuk primata Indonesia, paling-paling hanya akan diikuti segelintir orang aja”.

Saya deg-degan juga menanti tanggal 30 Januari itu. Meski diliputi rasa was-was, namun sejatinya saya 1000 % optimis kampanye itu akan berhasil. Hitung-hitungan saya paling tidak ada dua faktor yang akan jadi kunci suksesnya kampanye hari primata Indonesia itu. Pertama, ProFauna itu punya ribuan relawan yang tergabung dalam suporter ProFauna yang solid dan loyal. Kesolidan mereka itu sudah dibuktikan dengan berbagai kampanye dan aktivitas mereka di berbagai daerah yang dilakukan secara sukarela atas nama ProFauna. Bolehlah ProFauna sedikit sombong kalau bicara soal dukungan masyarakat, selama ini ProFauna eksis dan berkembang karena dukungan anggota-anggota masyarakat yang tergabung dalam suporter ProFauna. Istilahnya, di ProFauna itu gak ada duit, gak ada masalah, kita akan tetap berjuang. ProFauna itu gak ada matinya, ahh kayak judul film terakhir Slank aja.....

Optimisme kedua, ProFauna itu punya rekam jejak yang bagus dan punya nama baik. ProFauna belum pernah (dan semoga tidak akan pernah) terima dana haram. ProFauna tidak pernah korupsi. ProFauna tidak pernah juga terima dana dari perusahaan yang mengeksploitasi alam. Nah dengan rekam jejak yang bagus dan nama bersih itu, selain faktor bukti bahwa ProFauna sudah 20 tahun berkiprah di negeri ini, saya yakin akan ada banyak kelompok atau organisasi lain yang mau turun berpartisipasi dalam hari primata Indonesia.

Akhirnya tanggal 30 Januari 2014 tiba. Pada hari itu saya ikut jadi tukang foto peringatan hari primata Indonesia yang diadakan di kota Malang yang dipimpin oleh Asti. Kampanye di kota Malang menyedot perhatian awak media massa. Koran, majalah dan media elektronik semuanya kumpul di depan balai kota Malang untuk meliput aksi ProFauna yang unik itu. Plong rasanya hati saya, paling tidak kampanye di Malang telah sukses.

Bagaimana dengan hari primata Indonesia di daerah lain? Yeahhhh, sukses berat! Hari primata Indonesia itu diperingati di sedikitnya 30 lokasi yang berbeda. Mantapnya, yang memperingati bukan hanya suporter ProFauna saja, namun juga organisasi mahasiswa, pecinta alam, LSM bahkan juga Slanker! Sore harinya berita online tentang peringatan hari primata Indonesia sudah bermunculan di bernbagai situs, hemm super mantap!

Saya bilang super mantap, karena peringatan hari primata Indonesia ini tidak ada duitnya satu rupiahpun. Semuanya berifat relawan. Jadi peringatan hari primata yang dilakukan mulai dari Aceh hingga Papua itu  dilakukan dengan semangat sukarela dan semangat kepedulian untuk melestarikan primata Indonesia. Terima kasih untuk semua ini!

Dibalik kesuksesan kampanye hari primata Indonesia yang pertama kalinya diperingati tahun ini, tidak terlepas dari para ‘pendekar’ dan ‘suhu’ di ProFauna yang turun gunung untuk menyukseskan kampanye itu. Pendekar dan suhu itu adalah aktivis-aktivis senior ProFauna yang tidak goyang soal komitmen dan loyalitasnya. Hal ini membuktikan ProFauna adalah sebuah organisasi non profit yang solid, tidak tergerus oleh zaman dan tidak luntur oleh gelontoran uang haram.

Pendekar dan suhu yang turun gunung itu muncul dari berbagai ‘padepokan’, mulai dari Jawa timur, Jawa barat, Bali, Kalimantan dan Sulawesi. Kampanye hari primata di Jawa Barat tidak akan sukses besar kalau para suhu seperti Dr. Herlina Agustin yang akrab disapa Bu Titin itu berdiam diri. Bu Titin turut mengkoordinir bersama Radius, sang koordinator ProFauna Jabar. Bu Titin juga dibantu suhu lain seperti Dandi dan Rinda. Kedua orang ini memang profesinya adalah dosen, yang berarti suhu dalam arti sebenarnya. Yahh para dosen di Bandung turun dari kampus, berbaur dengan aktivis ProFauna yang masih muda-muda.

“Suhu’ di kampus lain yang juga turun gunung, bahkan mengkoordinir kampanye hari primata itu adalah Rustam yang ada di Samarinda. Rustam yang seorang dosen di Unmul itu sekuat tenaga menyukseskan kampanye hari primata Indoensia, di sela-sela kesibukannya di dunia kampus, dan kampanye di Samarindapun sukses!

Suhu dari ‘padepokan’ pulau dewata juga gak mau kalah. Drh Wita Wahyudi dan Jatmiko langsung ‘loncat’ dari sarangnya untuk menyukseskan kampanye di Bali. Turunnya kedua suhu ini memberikan andil besar suksesnya kampanye di Bali yang dikomandoi oleh Bayu itu.

Di Malangpun, suhu juga turun gunung. Daniel Stephanus, seorang dosen di universitas Ma Chung, turut memberikan spirit ke suporter ProFauna yang sedang beraksi di Malang. Kehadiran suhu Daniel ini tentunya memberikan suntikan semangat tersendiri buat suporter ProFauna yang muda-muda. Yang sudah gaek saja masih mau turun ke lapangan, masak yang masih muda mau berdiam diri saja.

Gegap gempitanya kampanye hari primata indonesia di Indonesia bagian timur seperti Manokwari dan Kendari itu tidak terlepas dari keluarnya ‘pendekar’ ProFauna yang lama ‘semedi’. Mereka keluar dari sarangnya untuk menyambut seruan ProFauna untuk secara nasional mengkampanyekan hari primata Indonesia. Pendekar ProFauna itu sebut saja Imanche di Kendari dan Ursula di Manokwari.

Kedua orang itu saya sebut pendekar ProFauna karena keseniorannya di ProFauna dan juga loyalitasnya. Imanche adalah aktivis LSM di Sulawesi, sementara Ursula adalah seorang dosen. Imanche dan Ursula menjadi suporter ProFauna sejak mereka masih muda dan ternyata komitmennya tidaklah usang dimakan usia.

Luar biasa! Saya bangga dan terharu dengan dukungan yang dahsyat dari supporter, suhu dan pendekar ProFauna itu. Ini membuat saya semakin semangat membara untuk berjuang bagi alam Indonesia bersama ProFauna, bersama anda semua, para supporter ProFauna! Maju terus!

Jumat, 10 Januari 2014

Kenapa Ada Kebun Binatang?

Ketika kami sekeluarga sedang siap-siap makan malam, dering telepon di Hp saya membuat kami menghetiksan obrloan santai di petang itu. Ternyata telpon itu dari wartawan yang mewawancarai saya panjang lebar soal kasus kematian satwa di Kebun Binatang Surabaya (KBS) yang lagi heboh. Setelah hampir 20 menit ditelpon saya kembali ke meja makan. “Siapa sih pak yang telpon, koq bahas masalah KBS?” tanya Kya, anak saya yang terkecil. Saya jawab kalau dari wartawan yang konfirmasi tentang kematian beruntun dan tragis satwa-satwa yang ada di KBS.

“Saya juga lihat berita KBS itu di koran, kasihan ada singa yang digantung”, sela Nada, anak saya yang tertua. Kamipun jadi terlibat dalam obrolan hangat soal kasus KBS yang tidak kunjung selesai itu, seperti sinetron khas Indonesia yang terus nyambung, gak ada ujung pangkalnya.

Tiba-tiba Kya bertanya, “kenapa sih pak ada kebun binatang?”

Belum sempat saya jawab, Kya sudah nyerocos lagi, “Khan kasihan satwanya kalau mati gitu, kalau gak bisa ngurus binatang, kenapa ada kebun binatang? Terus kenapa pemerintah koq diam aja?”
“Loh itu KBS sudah diambil alih oleh pemerintah kota Surabaya”, jawab saya.
“Tapi koq masih banyak satwa yang mati pak, masak singa bisa gantung diri?” timpal Nada.

Obrolan dengan anak saya tentang KBS itu mengingatkan saya kasus 13 tahun yang lalu, di tahun 2000 ketika ProFauna dan WSPA mengeluarkan sebuah laporan hasil survey tentang kesejahteraan satwa di kebun binatang Indonesia, termasuk salah satu KBS. Waktu itu kami melakukan dialog dengan pengurus KBS di dalam KBS. Pengurus KBS berang dan ngamuk dengan hasil survey ProFauna yang mengatakan bahwa banyak satwa di KBS yang tidak memenuhi standar kesejahteraan satwa. Pengurus KBS waktu itu mencak-mencak, sibuk membela diri dan membantah. Persis seperti pengelola KBS yang sekarang, selalu membantah dan sibuk menangkal kritik membangun itu. Pokoknya mereka bersikukuh bahwa pengelolaan satwa di KBS itu sudah baik, minimal sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Kalau dilihat dari sejarahnya, kenapa dibangun kebun binatang karena untuk membantu konservasi satwas liar. Kebun binatang juga bisa menjadi sarana pendidikan yang baik, selain rekreasi yang sehat. Asosiasi kebun binatang dunia WAZA menyebutkan salah satu prinsip dasar dari kebun binatang adalah “mempromosikan kepentingan konservasi satwa liar, keanekaragaman hayati dan kesejahteraan satwa kepada para kolega dan masyarakat luas”.  Sayangnya, kebun binatang di Indonesia itu unsur hiburannya masih lebih menonjol dibandingkan unsur pendidikan dan konservasinya. Jangan bicara dulu soal sumbang sih ke konservasi satwa liar di habitatnya. Kita lihat dulu kondisi satwa yang ada di dalam kebun binatang itu, yah kita lihat saja seperti yang terjadi di KBS. Apakah kondisinya sudah baik?

Ingat, bicara soal kebun binatang itu bukan sekedar bicara soal makan dan minuman satwa, namun ada banyak aspek lain yang harus dipenuhi. Aspek itu misalnya kandang yang membuat satwa bisa nyaman, tidak stress dan bisa mengekspresikan perilaku alaminya. Satwa juga harus bebas dari sakit dan penyakit. Apa artinya kalau misalnya satwanya itu tidak kelaparan, namun stress, sakit dan akhirnya berujung pada kematian?

Melihat ruwetnya masalah di KBS, seharusnya pengelola yang ada plus Pemkot Surabaya lebih membuka diri terhadap setiap masukan ataupun kritik sepedas apapun itu. Bukan sibuk membela diri dan ngamuk ketika KBS diberitakan koran asing sebagai kebun binatang terburuk di dunia. Itu akan menghabiskan energi dan membuat masalah semakin ruwet. Di situasi yang ruwet kayak rambut kusut itu, seharusnya KBS justru merangkul sebanyak mungkin kawan, mengandeng semua pihak yang peduli akan KBS. Bukan malah pasang badan, membela diri mati-matian, meskipun tahu memang faktanya ada masalah satwa di KBS.

Saya tidak mau terjebak dalam masalah politik atau sikut-sikutan di manajemen KBS. Saya hanya melihat fakta, ada satwa menderita dan ada banyak satwa mati di KBS. Matinyapun cenderung tidak wajar. Apapun alasannya, berarti itu menunjukan adalah kesalahan dalam pengelolaan satwa (dan manusianya juga) di KBS. Kesalahan itu harus diperbaiki dengan tindakan nyata di lapangan, bukan di perbaiki di level media massa dengan membuat seribu alasan untuk membela diri. Jurus membela diri paling jitu adalah dengan tindakan nyata di lapangan. Tunjukan bahwa satwa kondisinya itu lebih baik, tidak ada lagi satwa menderita dan tidak ada lagi satwa yang mati tidak wajar! Dan satu lagi, tidak ada lagi satwa yang dicuri!

Uppss saya jadi ingat anak saya lagi. Dengan kondisi satwa di kebun binatang Indonesia yang masih buruk itu, saya masih belum minat untuk membawa anak-anak saya ke kebun binatang. Saya tidak mau memberikan pendidikan yang salah kpada anak saya. Ketika anak-anak melihat satwa dalam kondiri buruk di sebuah kebun binatang, mereka akan berfikir memang seperti itulah perlakuan yang benar terhadap satwa. Padahal itu perlakuan yang salah kaprah. Ketika hampir semua teman-teman anak saya di sekolah sudah berkunjung ke KBS, hanya anak-anak saya yang belum pernah ke sana. Mungkin kami akan ke KBS, ketika satwa disana sudah dalam kondisi baik dan sejahtera. Hemmm... tapi, kapan ya itu akan terjadi?

Rabu, 08 Januari 2014

Ayo Rayakan Hari Primata Indonesia! | ProFauna Indonesia

Saatnya negeri kita ini punya hari primata sendiri, kenapa? Karena 70% primata di dunia itu hidup di Indonesia. Permasalahan primata di Indonesia juga begitu rumit dan ini tidak terlepas dari rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia (plus pemerintah) akan kelestarian primata. Jadi tidaklah berlebihan jika kemudian ProFauna mencanangkan Hari Primata Indonesia. ProFauna juga tidak berlebihan jika berani mengusung isu itu, karena ProFauna adalah organisasi yang punya basis kuat di anggotanya. Saya yakin seruan ProFauna itu sedikitnya akan dirayakan di 10 kota di Indonesia. Kalau itu benar-benar tejadi, itu hebat karena perayaan Hari Primata Indonesia yang pertama kali dalam sejarah ini semuanya bersifat relawan alias tidak ada duitnya!

jadi saatnya kita berbangga hati karena kita orang Indonesia yang punya begitu banyak primata, yang menjadi sangat wajar jika kita punya Hari Primata Indonesia. Ayo bersama kita rayakan Hari Primata Indonesia tanggal 30 Januari nanti!

Lebih lanjut, cek saja tentang Hari Primata Indonesia itu di link bawah ini:
Ayo Rayakan Hari Primata Indonesia! | ProFauna Indonesia

Senin, 06 Januari 2014

Berburu Trans 7 yang Mendapat Restu

Pening kepala saya ketika melihat acara Berburu yang ditayangkan di Trans 7. Bagaimana bisa tayangan tidak bermutu itu bisa lestari? Saya katakan ini tidak bermutu karena ini tayangan yang sarat dengan eksploitasi satwa liar. Adegan kekerasan dan kekejaman terhadap satwa menjadi suguhan yang sepertinya wajar untuk dipertontonkan. Sedihnya lagi, di beberapa episode juga ditayangkan tentang metode berburu yang ini rawan untuk ditiru oleh pemirsa.

Payahnya lagi, perburuan satwa liar itu juga dilakukan di dalam kawasan konservasi alam yang semestinya menjadi benteng terakhir untuk perlindungan satwa liar. Lebih parah dan payah lagi, kabarnya acara Berburu itu sudah mendapat "restu" alias "nasehat" dari organisasi internasional yang bekerja untuk konservasi alam, kita sebut saja misalnya dengan nama W. Koq bisa ya organisasi W memberikan rekomendasi acara Berburu yang begitu tipis kadar konservasinya? Yang terasa sekali itu justru kadar eksploitasinya.


Ahh, saya lupa, memang sudah menjadi biasalah organisasi semacam W itu yang tidak peduli akan penderitaan satwa liar. Dalam konsep berfikir mereka itu tolak ukur konservasi satwa langka itu adalah lestarinya satwa itu, dengan parameter adanya penambahan populasi satwa itu. Soal ada perburuan, penderitaan, pembunuhan atau kekejaman terhadap satwa, ahhh mereka tidak akan peduli. Herannya meski mereka tidak peduli terhadap kekejaman terhadap satwa, koq duitnya banyak ya? Masih saja ada banyak donatur yang mau menyumbang mereka. Hemmm yang bodoh itu donaturnya atau karena kelihaian si W itu dalam menjual barang dagangannya ya? Hemmmm, saya hanya bergumam dan prihatin.