Jumat, 10 Januari 2014

Kenapa Ada Kebun Binatang?

Ketika kami sekeluarga sedang siap-siap makan malam, dering telepon di Hp saya membuat kami menghetiksan obrloan santai di petang itu. Ternyata telpon itu dari wartawan yang mewawancarai saya panjang lebar soal kasus kematian satwa di Kebun Binatang Surabaya (KBS) yang lagi heboh. Setelah hampir 20 menit ditelpon saya kembali ke meja makan. “Siapa sih pak yang telpon, koq bahas masalah KBS?” tanya Kya, anak saya yang terkecil. Saya jawab kalau dari wartawan yang konfirmasi tentang kematian beruntun dan tragis satwa-satwa yang ada di KBS.

“Saya juga lihat berita KBS itu di koran, kasihan ada singa yang digantung”, sela Nada, anak saya yang tertua. Kamipun jadi terlibat dalam obrolan hangat soal kasus KBS yang tidak kunjung selesai itu, seperti sinetron khas Indonesia yang terus nyambung, gak ada ujung pangkalnya.

Tiba-tiba Kya bertanya, “kenapa sih pak ada kebun binatang?”

Belum sempat saya jawab, Kya sudah nyerocos lagi, “Khan kasihan satwanya kalau mati gitu, kalau gak bisa ngurus binatang, kenapa ada kebun binatang? Terus kenapa pemerintah koq diam aja?”
“Loh itu KBS sudah diambil alih oleh pemerintah kota Surabaya”, jawab saya.
“Tapi koq masih banyak satwa yang mati pak, masak singa bisa gantung diri?” timpal Nada.

Obrolan dengan anak saya tentang KBS itu mengingatkan saya kasus 13 tahun yang lalu, di tahun 2000 ketika ProFauna dan WSPA mengeluarkan sebuah laporan hasil survey tentang kesejahteraan satwa di kebun binatang Indonesia, termasuk salah satu KBS. Waktu itu kami melakukan dialog dengan pengurus KBS di dalam KBS. Pengurus KBS berang dan ngamuk dengan hasil survey ProFauna yang mengatakan bahwa banyak satwa di KBS yang tidak memenuhi standar kesejahteraan satwa. Pengurus KBS waktu itu mencak-mencak, sibuk membela diri dan membantah. Persis seperti pengelola KBS yang sekarang, selalu membantah dan sibuk menangkal kritik membangun itu. Pokoknya mereka bersikukuh bahwa pengelolaan satwa di KBS itu sudah baik, minimal sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Kalau dilihat dari sejarahnya, kenapa dibangun kebun binatang karena untuk membantu konservasi satwas liar. Kebun binatang juga bisa menjadi sarana pendidikan yang baik, selain rekreasi yang sehat. Asosiasi kebun binatang dunia WAZA menyebutkan salah satu prinsip dasar dari kebun binatang adalah “mempromosikan kepentingan konservasi satwa liar, keanekaragaman hayati dan kesejahteraan satwa kepada para kolega dan masyarakat luas”.  Sayangnya, kebun binatang di Indonesia itu unsur hiburannya masih lebih menonjol dibandingkan unsur pendidikan dan konservasinya. Jangan bicara dulu soal sumbang sih ke konservasi satwa liar di habitatnya. Kita lihat dulu kondisi satwa yang ada di dalam kebun binatang itu, yah kita lihat saja seperti yang terjadi di KBS. Apakah kondisinya sudah baik?

Ingat, bicara soal kebun binatang itu bukan sekedar bicara soal makan dan minuman satwa, namun ada banyak aspek lain yang harus dipenuhi. Aspek itu misalnya kandang yang membuat satwa bisa nyaman, tidak stress dan bisa mengekspresikan perilaku alaminya. Satwa juga harus bebas dari sakit dan penyakit. Apa artinya kalau misalnya satwanya itu tidak kelaparan, namun stress, sakit dan akhirnya berujung pada kematian?

Melihat ruwetnya masalah di KBS, seharusnya pengelola yang ada plus Pemkot Surabaya lebih membuka diri terhadap setiap masukan ataupun kritik sepedas apapun itu. Bukan sibuk membela diri dan ngamuk ketika KBS diberitakan koran asing sebagai kebun binatang terburuk di dunia. Itu akan menghabiskan energi dan membuat masalah semakin ruwet. Di situasi yang ruwet kayak rambut kusut itu, seharusnya KBS justru merangkul sebanyak mungkin kawan, mengandeng semua pihak yang peduli akan KBS. Bukan malah pasang badan, membela diri mati-matian, meskipun tahu memang faktanya ada masalah satwa di KBS.

Saya tidak mau terjebak dalam masalah politik atau sikut-sikutan di manajemen KBS. Saya hanya melihat fakta, ada satwa menderita dan ada banyak satwa mati di KBS. Matinyapun cenderung tidak wajar. Apapun alasannya, berarti itu menunjukan adalah kesalahan dalam pengelolaan satwa (dan manusianya juga) di KBS. Kesalahan itu harus diperbaiki dengan tindakan nyata di lapangan, bukan di perbaiki di level media massa dengan membuat seribu alasan untuk membela diri. Jurus membela diri paling jitu adalah dengan tindakan nyata di lapangan. Tunjukan bahwa satwa kondisinya itu lebih baik, tidak ada lagi satwa menderita dan tidak ada lagi satwa yang mati tidak wajar! Dan satu lagi, tidak ada lagi satwa yang dicuri!

Uppss saya jadi ingat anak saya lagi. Dengan kondisi satwa di kebun binatang Indonesia yang masih buruk itu, saya masih belum minat untuk membawa anak-anak saya ke kebun binatang. Saya tidak mau memberikan pendidikan yang salah kpada anak saya. Ketika anak-anak melihat satwa dalam kondiri buruk di sebuah kebun binatang, mereka akan berfikir memang seperti itulah perlakuan yang benar terhadap satwa. Padahal itu perlakuan yang salah kaprah. Ketika hampir semua teman-teman anak saya di sekolah sudah berkunjung ke KBS, hanya anak-anak saya yang belum pernah ke sana. Mungkin kami akan ke KBS, ketika satwa disana sudah dalam kondisi baik dan sejahtera. Hemmm... tapi, kapan ya itu akan terjadi?

Rabu, 08 Januari 2014

Ayo Rayakan Hari Primata Indonesia! | ProFauna Indonesia

Saatnya negeri kita ini punya hari primata sendiri, kenapa? Karena 70% primata di dunia itu hidup di Indonesia. Permasalahan primata di Indonesia juga begitu rumit dan ini tidak terlepas dari rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia (plus pemerintah) akan kelestarian primata. Jadi tidaklah berlebihan jika kemudian ProFauna mencanangkan Hari Primata Indonesia. ProFauna juga tidak berlebihan jika berani mengusung isu itu, karena ProFauna adalah organisasi yang punya basis kuat di anggotanya. Saya yakin seruan ProFauna itu sedikitnya akan dirayakan di 10 kota di Indonesia. Kalau itu benar-benar tejadi, itu hebat karena perayaan Hari Primata Indonesia yang pertama kali dalam sejarah ini semuanya bersifat relawan alias tidak ada duitnya!

jadi saatnya kita berbangga hati karena kita orang Indonesia yang punya begitu banyak primata, yang menjadi sangat wajar jika kita punya Hari Primata Indonesia. Ayo bersama kita rayakan Hari Primata Indonesia tanggal 30 Januari nanti!

Lebih lanjut, cek saja tentang Hari Primata Indonesia itu di link bawah ini:
Ayo Rayakan Hari Primata Indonesia! | ProFauna Indonesia

Senin, 06 Januari 2014

Berburu Trans 7 yang Mendapat Restu

Pening kepala saya ketika melihat acara Berburu yang ditayangkan di Trans 7. Bagaimana bisa tayangan tidak bermutu itu bisa lestari? Saya katakan ini tidak bermutu karena ini tayangan yang sarat dengan eksploitasi satwa liar. Adegan kekerasan dan kekejaman terhadap satwa menjadi suguhan yang sepertinya wajar untuk dipertontonkan. Sedihnya lagi, di beberapa episode juga ditayangkan tentang metode berburu yang ini rawan untuk ditiru oleh pemirsa.

Payahnya lagi, perburuan satwa liar itu juga dilakukan di dalam kawasan konservasi alam yang semestinya menjadi benteng terakhir untuk perlindungan satwa liar. Lebih parah dan payah lagi, kabarnya acara Berburu itu sudah mendapat "restu" alias "nasehat" dari organisasi internasional yang bekerja untuk konservasi alam, kita sebut saja misalnya dengan nama W. Koq bisa ya organisasi W memberikan rekomendasi acara Berburu yang begitu tipis kadar konservasinya? Yang terasa sekali itu justru kadar eksploitasinya.


Ahh, saya lupa, memang sudah menjadi biasalah organisasi semacam W itu yang tidak peduli akan penderitaan satwa liar. Dalam konsep berfikir mereka itu tolak ukur konservasi satwa langka itu adalah lestarinya satwa itu, dengan parameter adanya penambahan populasi satwa itu. Soal ada perburuan, penderitaan, pembunuhan atau kekejaman terhadap satwa, ahhh mereka tidak akan peduli. Herannya meski mereka tidak peduli terhadap kekejaman terhadap satwa, koq duitnya banyak ya? Masih saja ada banyak donatur yang mau menyumbang mereka. Hemmm yang bodoh itu donaturnya atau karena kelihaian si W itu dalam menjual barang dagangannya ya? Hemmmm, saya hanya bergumam dan prihatin.