Selasa, 18 Februari 2014

ProFauna Dapat Bantuan 3 M untuk Satwa Korban Erupsi Gunung Kelud


Begitu dapat berita Gunung Kelud meletus tanggal 13 Februari 2014 tengah malam, saya langsung hubungi beberapa orang staf dan supporter ProFauna untuk siaga 1. Keesokan paginya, langsung tim yang berjumlah 4 orang itu meluncur ke Kabupaten Kediri dan Malang untuk mendata dampak erupsi Kelud itu ke satwa, baik satwa liar maupun satwa ternak. Singkatnya, tim ProFauna berkesimpulan tidak ada dampak serius terhadap sawa liar, namun justru kondisi terparah adalah satwa ternak yang ada di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang.

Satwa ternak yang kebanyakan sapi perah di Ngantang itu terlihat kelaparan karena sudah ditinggal pemiliknya. Kondisi terparah ada di Dusun Munjung dan Kutut. Pada waktu tim ProFauna berkunjung ke dusun itu, tidak ada satupun penduduk yang tersisa, semuanya sudah mengungsi. Yang ada adalah sapi-sapi perah yang “terjebak” dalam kandang yag sebagian besar atapnya sudah hancur. Sapi itu tidak bisa melarikan diri, karena terikat.

Melihat kondisi sapi yang mengenaskan itu, kami langsung memutuskan untuk menolongnya dengan memberi makan dan minum. Kesulitan terbesar adalah mencari air bersih. Tim harus wira wiri mencari air yang ternyata tidak mudah untuk didapatkan. Pipa-pipa aliran air dari gunung terputus.

Mencari pakan untuk sapi yang berjumlah hampir 1000 ekor itu juga bukan perkara mudah. Tim harus turun ke daerah lain untuk membeli pakan itu. Jalanan yang hacur total, menjadi medan offroad. Ini semakin memperlambat gerak tim untuk pendistribusian pakan ternak. Tim harus bekerja hingga larut malam agar semakin banyak bisa menolong sapi. Tapi semangat membara terkalahkan juga dengan fisik yang drop. Tengah malampun, anggota tim harus terkapar dalam tidur seperti orang mati.

Ketika ProFauna membantu satwa-satwa korban erupsi Kelud itu, kami tidak pernah memikirkan duit alias dana. Yang penting berbuat dulu saja. Kami juga tidak berfikiran, ah buat proposal untuk diajukan ke lembaga donor. Ahhhh itu sih sudah lewat, di ProFauna sudah bertahun-tahun tidak pernah memikirkan lembaga donor. Kami berjuang dengan kemampuan kami sendiri. Kami melakukan sesuatu bukan karena uang, tapi karena kami memang mau melakukan itu. Karena kami senang melakukan itu.

Tanpa diminta, tiba-tiba ada supporter ProFauna yang kirim SMS ke saya. “mas saya baru transfer Rp 500 ribu untuk ProFauna bantu satwa di Kelud”. Alhamdullilah.

Karena semakin banyak sapi-sapi yang perlu dibantu, saya kirim SMS ke beberapa supporter ProFauna untuk meminta bantuan. Eh ternyata sambutanya sangat posisitf. Suporter dan juga advisory board ProFauna ramai-ramai kirim sumbangan. Gila dalam waktu 3 hari terkumpul 3 M. Eitttt sabar dulu, itu bukan Rp 3 milyar, tapi 3 M itu adalah Mantap, Mantap dan Mantap!

Kenapa saya bilang mantap sampai 3 kali? Karena sebagian besar, termasuk aktivitas ProFauna di Kelud itu didukung pendanaannya oleh supporter ProFauna yang kini jumlahnya semakin menggunung. Dalam kondisi darurat, supporter ProFauna selalu menjadi juru selamat.

Sebagian orang selalu berfikir bahwa LSM itu selalu identik dengan buat proposal untuk donor. Atau lebih kejamnya identik dengan meminta-minta ke lembaga donor, meskipun itu harus menjilat atau merendahkan harga diri. Soal etika dan moralpun diabaikan begitu melihat peluang dana gede. Cap jualan proposal atau jualan isu menjadi stempel buruk bagi LSM dalam kaca mata sebagian masyarakat.

Orang yang sinis mungkin juga akan berfikir, “ah ProFauna bantu satwa di Kelud itu juga agar dapat dana dari lembaga donor atau pihak asing”. Itu pikiran wajar, karena mungkin dia melihat hal seperti itu di organisasi lain. Tapi 1000 % saya katakan itu tidak terjadi di ProFauna. Sejak lama ProFauna telah mandiri, karena dukunggan ribuan supporternya.

ProFauna berkembang karena ada dukungan masyarakat lewat wadah supporter ProFauna. Gerakan ProFauna menjadi efektif di tingkat grass root karena melibatkan partsipasi aktif masyarakat lewat supporter ProFauna yang beragam latar belakangnya. Beragam pula asalnya. Ini menjadi kekuatan dahsyat di ProFauna yang membuat ProFauna tidak tergantung kepada lembaga donor.

Ketika berita tentang kondisi satwa korban Kelud mulai muncul di media masssa, beberapa komunitas menelpon saya. Ada komunitas yang juga sahabat saya di Jakarta telpon, “kami mau menggalang dana untuk satwa korban Kelud yang akan disalurkan lewat ProFauna”.  Wah saya sangat senang dan terima kasih dengan kepedulian itu, namun saya jawab, “maaf untuk saat ini kami belum perlu dana, karena kebutuhan pakan satwa mulai dicover oleh pemerintah, kita hanya butuh tenaga untuk distribusinya”.

Nah kalau ProFauna sekedar cari duit atas nama bencana, tawaran donasi itu pasti langsung kami sabet. ProFauna juga tidak pernah mengumumkan secara terbuka bahwa ProFauna menggalang dana untuk korban Kelud. Tapi nyatanya ada banyak orang dan komunitas yang menawarkan bantuan dana. Apa artinya itu? Artinya, mereka percaya ke ProFauna!

Apakah ada logo lembaga donor pada tim ProFauna di Kelud? Tidak ada. Apakah ada orang dari lembaga donor yang ikut tim ProFauna di loaksi bencana Kelud? Tidak ada. Apakah ProFauna pernah mengumumkan penggalangan dana untuk Kelud secara terbuka? Tidak ada. Apakah ProFauna menerima dana dari lembaga donor? Tidak ada.

Yang ada adalah ProFauna terima 3 M (mantap, mantap dan mantap) dari supporter ProFauna!

Selasa, 04 Februari 2014

Ketika Para ‘Suhu’ dan ‘Pendekar’ Turun Gunung

Ketika ProFauna Indonesia melontarkan ide untuk perayaan hari primata Indonesia setiap tanggal 30 Januari, banyak yang menyambut dengan suka cita dan penuh semangat. Suporter ProFauna di berbagai daerah juga penuh antusias untuk menyukseskan kampanye itu. Namun tidak sedikit juga yang mencibir, ‘ah ada-ada saja ProFauna itu, ngapain harus ada hari primata Indonesia?” Ada juga yang nyinyir bilang, “emang siapa ProFauna itu, koq mau bikin hari nasional untuk primata Indonesia, paling-paling hanya akan diikuti segelintir orang aja”.

Saya deg-degan juga menanti tanggal 30 Januari itu. Meski diliputi rasa was-was, namun sejatinya saya 1000 % optimis kampanye itu akan berhasil. Hitung-hitungan saya paling tidak ada dua faktor yang akan jadi kunci suksesnya kampanye hari primata Indonesia itu. Pertama, ProFauna itu punya ribuan relawan yang tergabung dalam suporter ProFauna yang solid dan loyal. Kesolidan mereka itu sudah dibuktikan dengan berbagai kampanye dan aktivitas mereka di berbagai daerah yang dilakukan secara sukarela atas nama ProFauna. Bolehlah ProFauna sedikit sombong kalau bicara soal dukungan masyarakat, selama ini ProFauna eksis dan berkembang karena dukungan anggota-anggota masyarakat yang tergabung dalam suporter ProFauna. Istilahnya, di ProFauna itu gak ada duit, gak ada masalah, kita akan tetap berjuang. ProFauna itu gak ada matinya, ahh kayak judul film terakhir Slank aja.....

Optimisme kedua, ProFauna itu punya rekam jejak yang bagus dan punya nama baik. ProFauna belum pernah (dan semoga tidak akan pernah) terima dana haram. ProFauna tidak pernah korupsi. ProFauna tidak pernah juga terima dana dari perusahaan yang mengeksploitasi alam. Nah dengan rekam jejak yang bagus dan nama bersih itu, selain faktor bukti bahwa ProFauna sudah 20 tahun berkiprah di negeri ini, saya yakin akan ada banyak kelompok atau organisasi lain yang mau turun berpartisipasi dalam hari primata Indonesia.

Akhirnya tanggal 30 Januari 2014 tiba. Pada hari itu saya ikut jadi tukang foto peringatan hari primata Indonesia yang diadakan di kota Malang yang dipimpin oleh Asti. Kampanye di kota Malang menyedot perhatian awak media massa. Koran, majalah dan media elektronik semuanya kumpul di depan balai kota Malang untuk meliput aksi ProFauna yang unik itu. Plong rasanya hati saya, paling tidak kampanye di Malang telah sukses.

Bagaimana dengan hari primata Indonesia di daerah lain? Yeahhhh, sukses berat! Hari primata Indonesia itu diperingati di sedikitnya 30 lokasi yang berbeda. Mantapnya, yang memperingati bukan hanya suporter ProFauna saja, namun juga organisasi mahasiswa, pecinta alam, LSM bahkan juga Slanker! Sore harinya berita online tentang peringatan hari primata Indonesia sudah bermunculan di bernbagai situs, hemm super mantap!

Saya bilang super mantap, karena peringatan hari primata Indonesia ini tidak ada duitnya satu rupiahpun. Semuanya berifat relawan. Jadi peringatan hari primata yang dilakukan mulai dari Aceh hingga Papua itu  dilakukan dengan semangat sukarela dan semangat kepedulian untuk melestarikan primata Indonesia. Terima kasih untuk semua ini!

Dibalik kesuksesan kampanye hari primata Indonesia yang pertama kalinya diperingati tahun ini, tidak terlepas dari para ‘pendekar’ dan ‘suhu’ di ProFauna yang turun gunung untuk menyukseskan kampanye itu. Pendekar dan suhu itu adalah aktivis-aktivis senior ProFauna yang tidak goyang soal komitmen dan loyalitasnya. Hal ini membuktikan ProFauna adalah sebuah organisasi non profit yang solid, tidak tergerus oleh zaman dan tidak luntur oleh gelontoran uang haram.

Pendekar dan suhu yang turun gunung itu muncul dari berbagai ‘padepokan’, mulai dari Jawa timur, Jawa barat, Bali, Kalimantan dan Sulawesi. Kampanye hari primata di Jawa Barat tidak akan sukses besar kalau para suhu seperti Dr. Herlina Agustin yang akrab disapa Bu Titin itu berdiam diri. Bu Titin turut mengkoordinir bersama Radius, sang koordinator ProFauna Jabar. Bu Titin juga dibantu suhu lain seperti Dandi dan Rinda. Kedua orang ini memang profesinya adalah dosen, yang berarti suhu dalam arti sebenarnya. Yahh para dosen di Bandung turun dari kampus, berbaur dengan aktivis ProFauna yang masih muda-muda.

“Suhu’ di kampus lain yang juga turun gunung, bahkan mengkoordinir kampanye hari primata itu adalah Rustam yang ada di Samarinda. Rustam yang seorang dosen di Unmul itu sekuat tenaga menyukseskan kampanye hari primata Indoensia, di sela-sela kesibukannya di dunia kampus, dan kampanye di Samarindapun sukses!

Suhu dari ‘padepokan’ pulau dewata juga gak mau kalah. Drh Wita Wahyudi dan Jatmiko langsung ‘loncat’ dari sarangnya untuk menyukseskan kampanye di Bali. Turunnya kedua suhu ini memberikan andil besar suksesnya kampanye di Bali yang dikomandoi oleh Bayu itu.

Di Malangpun, suhu juga turun gunung. Daniel Stephanus, seorang dosen di universitas Ma Chung, turut memberikan spirit ke suporter ProFauna yang sedang beraksi di Malang. Kehadiran suhu Daniel ini tentunya memberikan suntikan semangat tersendiri buat suporter ProFauna yang muda-muda. Yang sudah gaek saja masih mau turun ke lapangan, masak yang masih muda mau berdiam diri saja.

Gegap gempitanya kampanye hari primata indonesia di Indonesia bagian timur seperti Manokwari dan Kendari itu tidak terlepas dari keluarnya ‘pendekar’ ProFauna yang lama ‘semedi’. Mereka keluar dari sarangnya untuk menyambut seruan ProFauna untuk secara nasional mengkampanyekan hari primata Indonesia. Pendekar ProFauna itu sebut saja Imanche di Kendari dan Ursula di Manokwari.

Kedua orang itu saya sebut pendekar ProFauna karena keseniorannya di ProFauna dan juga loyalitasnya. Imanche adalah aktivis LSM di Sulawesi, sementara Ursula adalah seorang dosen. Imanche dan Ursula menjadi suporter ProFauna sejak mereka masih muda dan ternyata komitmennya tidaklah usang dimakan usia.

Luar biasa! Saya bangga dan terharu dengan dukungan yang dahsyat dari supporter, suhu dan pendekar ProFauna itu. Ini membuat saya semakin semangat membara untuk berjuang bagi alam Indonesia bersama ProFauna, bersama anda semua, para supporter ProFauna! Maju terus!