Jumat, 26 September 2014

Mundur Jadi dosen, Pilih Jadi Relawan Profauna


Teringat sebuah iklan rokok di televisi, “kerja itu tidak harus di kantor, tapi bisa juga sambil pake celana kolor”. Iklan itu secara tidak langsung menyentil orang yang masih menganggap “kemapanan” itu ketika bekerja dalam bidang yang dianggap “mapan”. Bidang itu antara lain PNS, dokter, dan dosen. Tak heran untuk mengejar kemapanan itu atau mungkin juga mengejar gengsi, segala jurus dan upaya dilancarkan untuk mendapatkan posisi impian itu. Menyogok dan menyuap menjadi tindakan yang kemudian dihalalkan secara jamaah. Ahhh itu sudah biasa, kalau kamu mau “sukses”  memang harus begitu– kata seorang teman.

Ada yang harus keluar duit puluhan hingga ratusan juta rupiah untuk diterima dalam zona “kemapanan” PNS. Ada yang rela bertahun-tahun jadi honorer dengan gaji minim karena mengejar mimpi suatu ketika dia diangkat jadi guru atau dosen tetap. Semuanya mengejar mimpi kerja “mapan” dan “nyaman”.

Ketika ribuan atau bahkan jutaan orang berdesak-desakan untuk bekerja di zona “mapan” itu, masih ada segelintir orang yang melawan arus dengan bekerja di luar mainstream. Bagi mereka, lapangan kerja itu tidak sesempit daun kelor. Bagi mereka yang punya jiwa berani, pekerjaan mapan itu bukan semata-mata jadi PNS, dosen, dokter, polisi, pengacara atau bahkan politisi (karena ada yang menganggap jadi politisi itu adalah alternatif lapangan pekerjaan).

Saya punya banyak teman yang “mapan” dan bahagia meskipun bekerja di luar zona kemapanan menurut persepsi umum itu. Ada yang yang sukses bekerja dibidang ekowisata. Ada yang kaya raya dari jualan jeruk. Ada yang bahagia jadi event organizer. Ada yag mendulang rupiah dari jualan parts motor. Ada yang bisa bangun rumah (dan kawin lagi...) dari jualan soto yang laris manis.

Ternyata ada banyak jalan dan peluang di dunia kerja. Asalkan kita tidak terkotak dalam persepsi kemapanan yang sempit  itu dan juga tidak terkukung oleh gengsi. Hanya orang yang dinamis dan punya jiwa petualang yang berani memilih untuk berkarya di bidang yang dianggap diluar zona kemapanan itu.

Salah satu orang yang saya anggap berani dan luar biasa itu adalah Toni. Dia adalah seorang supporter Profauna yang sudah memegang izasah S2 dari sebuah perguruan tinggi ternama di Malang. Berbekal ijasah S2 itu dia melamar jadi dosen di sebuah perguruan tinggi di Jatim, dan ternyata diterima!

Di saat bersamaan ketika dia diumumkan diterima jadi dosen, di Profauna ada pengumuman kalau Profauna butuh relawan selama 3 bulan di tanah Borneo. Toni jadi galau dan bimbang, antara terus berkarir jadi dosen yang dianggap bergengsi ataukah berangkat ke Borneo untuk jadi relawan. Hati kecilnya  berbisik dia ingin melakukan suatu perubahan. Ingin berbuat sesuatu untuk alam, karena dia punya ilmu biologi yang dikenyamnya selama di bangku kuliah. Dia ingin ilmunya itu berguna untuk konservasi alam.

Akhirnya Toni mengambil keputusan berani. Dia mundur jadi dosen dan berangkat ke Borneo! Ini sebuah keputusan besar yang diambil seorang pemuda bernama Toni. Saya angat menghargai dan kagum dengan keputusan itu. Bukan karena Profauna mendapatkan relawan di Borneo, tetapi di zaman sekarang ini tidak banyak orang seperti Toni ini. Meninggalkan zona kenyamanan untuk berjuang!

Sementara di era sekarang ini kita terbiasa dalam keseharian itu dibuat nyaman. Kita jadi malas ke pasar tradisional  karena di dekat rumah kita berjejer indomaret atau tinggal kilik di Hp untuk belanja online. Kita jadi malas silahturahmi dengan bertemu fisik dengan sahabat atau kerabat, karena cukup say hello lewat SMS atau BBM. Kita juga jadi malas untuk berkegiatan sosial, karena terlalu sibuk narsis di FB. Bahkan untuk memindah chanel TV-pun kita malas untuk beranjak dari kursi, karena tinggal pencet tombol remote control. Hemmm semuanya itu membuat kita jadi “malas”.

Makanya ketika Toni mengambil keputusan jadi relawan Profauna di Borneo itu saya menjadi salut. Saya yakin itu pilihan yang sudah direnungkan dengan mendalam oleh Toni. Saya juga yakin itu akan punya hikmah dan makna yang luar biasa bagi Toni. Dan Tonipun bisa nantinya bercerita dengan bangga kepada anak atau cucunya bahwa dia pernah mengambil keputusan berani dalam hidupnya untuk berjuang bagi kelestarian alam!

Rabu, 03 September 2014

Selamatkan Taman Nasional Baluran! | ProFauna Indonesia

Sejak tahun 90-an saya rutin berkunjung ke Taman Nasional Baluran. Kala itu begitu mudah saya menjumpai bermacam satwa liar seperti banteng, ajak, kerbau liar, merak, kijang, rusa dan lain sebagainya. Terasa berada di "surga" margasatwa. Hampir tiap tahun kemudian saya dan keluarga berkunjung ke taman nasional yang aksesnya sangat mudah dijangkau ini.

Namun lambat laun, satwa liar di Baluran semakin sulit dijumpai, Penyebaran tanaman akasia yang menggurita turut memberi andil semakin tergesernya satwa liar terutama banteng. Faktor perburuan liar juga diduga menjadi pemicu menyusutnya populasi satwa itu. Dalam kunjungan saya yang terakhir tahun lalu, saya merasa "surga" itu mulai memudar. Saya merasa gusar.

Kini hati saya semakin gusar, sedih dan panas, ketika muncul isu akan dibangunnya pabrik pengolahan nikel di dekat taman nasional Baluran. Memang lokasinya tidak di dalam kawasan taman nasional, namun tetap saja ini akan menjadi gangguan yang berarti bagi satwa liar disana. Bisa-bisa "surga" margasatwa itu akan berubah menjadi "neraka"! Ayo dukung PROFAUNA untuk membantu melestarikan Ekosistem Taman Nasional Baluran, cek beritanya di link bawah ini:

Selamatkan Taman Nasional Baluran! | ProFauna Indonesia