Minggu, 19 Oktober 2014

Catatan Perjalanan ke Makassar: Semangat untuk Maju dari Sulawesi Selatan


Jam di tangan menunjukan pukul 11.30 wita ketika saya mendarat di Bandara Hasanudin, Makassar di pertengahan Oktober 2014. Bandaranya terlihat wah, sangat beda jauh dengan sepuluh tahun silam ketika terakhir kali saya berkunjung ke Makassar.

Di pintu keluar bandara, saya disambut Ipank, salah satu supporter PROFAUNA yang bergelar sarjana biologi. Ipank dengan hangat menyambut saya dan langsung meluncur ke kampus Universitas Hasanudin (Unhas). Siang itu saya direncanakan untuk memberikan kuliah umum di depan mahasiswa Unhas.

Tidak sampai satu jam, kami tiba di kampus Fakultas Kehutanan Unhas yang cukup asri karena penuh dengan rimbunnya pepohonan di sepanjang tepi jalan. Begitu saya turun dari mobil, langsung disambut hangat oleh Hamka, sosok supporter PROFAUNA yang berada dibalik hajat kuliah umum ini. Hamka dan sang istri selama bertahun-tahun tidak pernah berhenti mendukung PROFAUNA. Makanya saya begitu gembira dan bangga bisa ketemu Hamka dan istrinya di Makassar.

Tak lama kemudian saya ketemu dengan beberapa supporter PROFAUNA lainnya, yang selama ini hanya kenal di dunia maya. Akhirnya bisa juga copy darat, bertemu dengan mereka. Senang sekali rasanya. Walaupun jujur, saya tidak bisa mengenali namanya satu per satu…

Setelah bercakap-cakap sebentar dengan beberapa dosen yang hadir, kuliah umumpun dimulai. Saya kaget, ternyata yang hadir sangat banyak sekali. Mahasiswa yang memadati aula bukan saja dari fakultas kehutanan, namun juga dari  jurusan lain seperti kedokteran hewan, biologi dan komunitas lainnya. Saya perkirakan yang hadir sekitar 200 orang. Kursi yang disediakan sampai tidak cukup. Saya tidak menyangka begitu antusiasnya mahasiswa di Unhas untuk mengikuti kuliah umum saya ini.

Mahasiswa yang hadir di kuliah umum itu juga sangat aktif sekali dalam sesi diskusi. Mereka begitu penuh semangat mengajukan pertanyaan dan pendapat. Banyak juga diantara mereka yang kemudian tertarik gabung  menjadi Suporter PROFAUNA.

Pertemuan Supporter PROFAUNA Sulawesi Selatan

Usai kuliah umum, kami langsung meluncur ke sebuah café yang tidak terlalu jauh dari kampus Unhas. Di Café Celebes, ternyata sudah banyak berkumpul supporter PROFAUNA daru berbagai daerah yang ada di Sulawesi selatan. Yang bikin kaget, Yayat supporter senior ternyata hadir juga! Yayat yang bergabung di PROFAUNA lebih dari 10 tahun silam itu tampak tidak ada perubahan, masih tetap kurus.

Saya langsung berpelukan dengan Yayat, karena sudah 10 tahun tidak bertemu. Yayat ini punya sejarah istimewa di PROFAUNA, karena dia pernah jadi relawan selama 3 bulan di pusat penddikan koservasi alam yang dikelola PROFAUNA di Malang untuk menggambar media edukasi.  Karya Yayat itu hingga sekarang masih bisa dinikmati di Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC).

Yayat yang seorang seniman itu kini menjadi guru. Dia menempuh perjalanan 6 jam menuju Makassar untuk bertemu dengan saya. Hemm luar biasa!

Puas kangen-kangenan dengan Yayat, saya menyapa rombongan suporter PROFAUNA dari Palopo. Ada delapan orang dari Palopo yang menempuh perjalanan lebih dari 10 jam dengan mobil menuju Makassar. Di hari itu juga saya bisa ketemu langsung dengan Rahmat yang selama ini kami hanya saling celoteh di Facebook saja.

Di hari yang panas menurut ukuran tubuh saya itu, saya merasa bahagia bisa bertemu banyak suporter PROFAUNA asal Sulawesi selatan. Tercatata ada 22 orang yang hadir. Saya melihat ada gairah dan semangat di mata mereka untuk melakukan sesuatu bagi kelestarian alam Sulawesi bersama PROFAUNA.

Meski terhambat satu jam karena adalah masalah tehnis di LCD proyektor, presentasi saya tentang PROFAUNA tuntas saya sampaikan. Saya buka semua “dapur” PROFAUNA dihadapan supporter dari Sulawesi selatan itu. Soal dana, kebijakan, prinsip dan program, semuanya saya beberkan dengan gamblang.
Harapan saya mereka tahu dengan sebenarnya tentang PROFAUNA. Bahwa PROFAUNA itu dibangun bukan untuk cari duit. Bahwa PROFAUNA itu memakai prinsip sukarelawan, bukan prinsip oportunis. Bahwa PROFAUNA itu membutuhkan orang yang jujur dan tidak bermental korupsi.

Selama dua hari di Makassar saya merasa puas. Puas bisa ketemu Hamka, Fita, Rahmat, Yayat, Ipank dan supporter PROFAUNA lainnya. Terima kasih untuk suporter PROFAUNA di Makassar yang telah membuat kuliah umum di Unhas dan pertemuan supporter PROFAUNA yang begitu terasa bermakna.