Kamis, 08 Oktober 2015

Maaf Kami Tidak Terima Dana dari Perusahaan Sawit

Ketika di media mencuat ada organisasi konservasi yang bergerak dibidang pelestarian orangutan yang menerima dana $500.000 dari perusahaan sawit Kulim Berhad asal Malaysia, saya yang termasuk kena getahnya. Bukan terkena cipratan duitnya, namun kebanjiran email yang menanyakan apakah PROFAUNA juga mendapatkan dana itu, karena mereka tahu PROFAUNA juga bekerja pada isu pelestarian hutan di Kalimantan Timur.

Saya tegaskan bahwa PROFAUNA tidak mendapatkan dana tersebut, jangankan hanya $500.000, dikasih $ 5 juta pun, pasti kita akan tolak mentah-mentah. Sejak tahun 1994 hingga sekarang, PROFAUNA memegang teguh prinsipnya, bahwa kami tidak akan menerima dana dari perusahaan yang mengeksploitasi alam. Salah satu kategori eksploitator alam itu ya perusahaan sawit.

Jelas dan gamblang, anak SD pun tahu bahwa salah satu penyebab semakin berkurangnya hutan di Indonesia adalah ekspansi besar-besaran perusahaan sawit. Perkebunan sawit begitu rakus menggerus hutan Indonesia. Menangis hati saya ketika tahun 2014 keliling Kalimantan untuk menyaksikan deforestasi yang begitu cepat. Yang dulunya hutan rimba, kini luas terbentang perkebunan sawit, termasuk perusahaan dari Malaysia.

Jadi aneh dan munafik, kalau bekerja untuk konservasi hutan dan juga ornagutan, namun menerima dana dari perusahaan sawit. Bisa saja berkilah, ahh perusahaan itu tidak membuka hutan yang jadi habitat orangutan kog. Loh kalau kita bicara satwa liar itu bicara tentang ekosistem, bukan hanya sekedar bicara tentang spesies.

Belum lagi bicara soal etika. Apakah etis, mengaku bekerja untuk konservasi, koar koar bekerja untuk orangutan, tetapi menerima dana dari perusahaan sawit yang jelas itu penyebab berkurangnya luasan hutan kita? Menurut saya itu tidak etis, ini terkesan sangat oportunis.

Sahabat dan ribuan saudaraku yang di PROFAUNA, sebagai pendiri PROFAUNA saya tidak akan rela kalau suatu ketika PROFAUNA menerima dana dari perusahaan yang merusak alam. Hukumnya itu haram di PROFAUNA! Lebih baik punya uang hanya Rp 500 ribu tetapi bahagia, daripada bergelimang uang Rp 5 milyar, tetapi menodai diri sendiri, mengotori prinsip organisasi dan menyakiti hati masyarakat yang mendukung.


Jangan kau gadaikan hati, prinsip dan idealismemu! Masih banyak cara untuk mencari uang, tanpa mengorbankan hati. Maju terus untuk sahabat dan saudaraku yang bekerja untuk hutan dan satwa liar yang tetap bekerja dengan hati nurani.

Jumat, 21 Agustus 2015

Ini Cara Kami Mencintai Indonesia


Ketika lagu Indonesia Raya berkumandang di lereng Gunung Kawi diringi hembusan angin, ada perasaan haru campur bangga. Kami berdiri tegak memberi hormat kepada sang merah putih yang berkibar di ujung bambu yang kami tancapkan. Pagi itu tanggal 17 Agustus 2015, tepat tujuh puluh tahun negeri ini merdeka.

Upacara bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya di acara PROFAUNA Camp 2015 itu bukan gaya-gayaan atau sekedar seremoni tanpa makna. Itu simbol secara fisik bahwa kami begitu mencintai Indonesia, tanah air tempat kami lahir dan besar. Tempat dimana PROFAUNA lahir dua puluh tahun silam.

Simbol secara fisik yang bisa diwujudkan dengan upacara itu akan menjadi tanpa makna kalau tidak diikuti dengan perasaan dan tindakan nyata terhadap ibu Pertiwi yang dianugrahi beragam suku, budaya dan kekayaan hayati. Kami di PROFAUNA mewujudkan kecintaan kami terhadap Indonesia dengan berjuang membantu upaya kelestarian hutan dan satwa liar.

Kalau kami tidak cinta, ngapain harus susah payah selama 20 tahun berkutat membantu lestarinya alam Indonesia. Apalagi 15 tahun silam itu isu yang kami pilih, yaitu isu satwa liar, tidaklah popular seperti sekarang ini. Sebagian orang mungkin mencibir apa yang telah kami lakukan. Cibiran, “masih banyak orang miskin, kog ngurusin binatang”…, sudah biasa terngiang di telinga kami waktu itu.

Ketika PROFAUNA menunjukan bahwa kami juga bekerja untuk melestarikan hutan bersama masyarakat adat, pasti ada suara minor. “Ah itu karena ada proyek yang dananya gede, makanya mereka bikin proyek untuk hutan”, kata orang yang memang mentalnya mental proyek.

Orang yang tidak tahu PROFAUNA hanya kulitya saja, pasti akan bicara ‘nyinyir’. Pikir mereka PROFAUNA itu organisasi yang kaya raya, organisasi yang cari proyek atau organisasi yang jualan proposal.

Pandangan mereka itu akan runtuh, ketika mereka masuk ke dalam PROFAUNA atau ikut bekerja di PROFAUNA. Sebagian besar staf PROFAUNA itu bekerja secara suka rela alias tidak dibayar! Saudaraku yang ada di PROFAUNA Jawa Barat seperti Bu titin, Rinda dan Radius itu cari uangnya di tempat lain, tapi mengabdinya di PROFAUNA.

Kintan yang mewakili PROFAUNA di Jakarta atau Eka di PROFAUNA Maluku Utara juga tidak mencari uang di PROFAUNA. Mereka semuanya bekerja tanpa bayaran! Mereka bekerja untuk alam bukan karena gajinya besar, tapi karena peduli.

Bahkan staf yang di kantor pusat PROFAUNA-pun juga hanya menerima uang insentif untuk membantu biaya komunikasi dan transportasi. Dengan kecerdasaan seorang Asti yang bekerja di markas besar PROFAUNA, dia bisa saja kerja yang gajinya besar ketika dia lulus sarjana. Tapi dia memilih mengabdi dulu di PROFAUNA.

Saya, mereka dan ribuan supporter PROFAUNA di seluruh negeri ini mau melakukan itu karena kecintaan kami terhadap alam. Kecintaan kami terhadap satwa liar dan hutan. Kecintaan kami terhadap Indonesia. Kalau tidak cinta, kami sudah ‘cerai” dari dulu.

Kami tulus melakukan itu. Makanya kami, begitu sedih ketika ada seorang supporter PROFAUNA yang kebetulan profesinya seorang guru itu mundur jadi supporter PROFAUNA gara-gara “doktrin” yang salah soal nasionalisme. Ketika guru itu mengikuti sebuah diklat kebangsaan, seorang instruktur yang seorang tentara bilang, “hati-hati dengan LSM, karena itu ‘musuh’ negara”.

Waduuh, jaman sekarng masih saja ada doktrin yang salah kaprah seperti itu! Namun kemudian guru itu sepertinya jadi ragu dan mungkin takut dicap sebagai anggota LSM yang musuh Negara. Diapun mundur secara teratur dari barisan PROFAUNA, dan lebih parah lagi berusaha mempengaruhi muridnya juga untuk menjauh dari PROFAUNA, meskipun dia ternyata tidak seratus persen berhasil mempengaruhi muridnya.

Untungnya PROFAUNA itu organisasi besar. Satu orang mundur, seribu orang maju. Satu orang oportunis hilang, seribu orang idealis datang.

Di PROFAUNA Camp 2015 saya bilang dengan tegas di depan peserta, “PROFAUNA itu organisasi yang punya prinsip, misi dan tujuan yang jelas untuk membantu pelestarian hutan dan satwa liar. PROFAUNA itu ada karena cinta Indonesia. Kalau kalian setuju dengan prinsip kami, silahkan gabung, kalau ternyata tidak cocok, jangan ngrecokin, silahkan keluar saja”.
Selamat ulang tahun Indonesia, lestari alamku. Merdeka!

Selasa, 11 Agustus 2015

Saatnya Mudik ke PROFAUNA

Bagi banyak supporter dan aktivis PROFAUNA, ada 3 agenda kegiatan yang ‘sakral' di PROFAUNA karena sebagai wadah untuk silahturahmi, mengasah kepekaan dan menjaga semangat untuk tetap peduli akan pelestarian hutan dan satwa liar. Tiga kegiatan itu adalah Profauna Conference, Profauna Camp dan ulang tahun Profauna yang jatuh setiap bulan Desember.

Meminjam istilah Kintan, aktivis PROFAUNA dan ISAW dari Jakarta, dia merasa perlu ‘mudik’ ke PROFAUNA dengan mengikuti salah satu kegiatan tersebut. Mudik itu dirasa perlu karena untuk “mengisi batere” semangat dan loyalitas ke PROFAUNA. Jika lama tidak “mudik”, ada perasaan yang kurang, mirip ketika momen mudik di lebaran. Kalau gak mudik waktu lebaran, terasa ada yang hambar.

Jika lama tidak ‘mudik’ ke PROFAUNA, batere semangat itu bisa drop, bahkan karatan. Atau lebih parah lagi, bisa jadi ‘murtad’ ke organisasi yang membesarkannya.

Tidak lengkap rasanya rukun “iman” supporter dan aktivis PROFAUNA jika belum mengikuti salah satu tiga kegiatan tersebut. Syukur-syukur jika sudah ‘purna’ dengan mengikuti ketiga momen spesial itu.

Mungkin bagi orang lain yang tidak tahu banyak PROFAUNA, atau sudah mendaftar menjadi supporter PROFAUNA tapi belum pernah mengikuti acara tersebut, perasaan ‘mudik” ke PROFAUNA itu sulit dimengerti. Apalagi oleh orang luar PROFAUNA yang terbiasa berorganisasi  tidak berbasis keanggotaan, pasti susah memahaminya, karena tidak pernah merasakan begitu kentalnya kebersamaan dana kekeluargaan di PROFAUNA.

Ketika Profauna Conferece 2015 yang akan disambung dengan Profauna Camp semakin dekat, saya semakin sulit tidur pulas. Selalu ingin hari cepat berlalu dan bertemu dengan sahabat dan saudaraku dari berbagai daerah yang akan ‘mudik” ke PROFAUNA. Mudik di rumah mereka, di kampung, di rumah bernama PROFAUNA Indonesia yang berada di Malang.

Saya tahu ada banyak sahabat, adik, ibu, bapak dan saudaraku itu harus ‘berjuang’ untuk melakoni ritual ‘mudik’ ke PROFAUNA itu. Maklum mereka datang dengan biaya sendiri, tidak diongkosin oleh PROFAUNA. Ada yang naik sepeda motor, mobil, kapal, kereta api atau pesawat. Ada yang terpaksa membolos kerja demi mudik itu. Semuanya penuh antusias dan semangat untuk ‘mudik’ dan berkumpul dengan keluarga besar PROFAUNA.

Semakin rindu berkumpul dengan mereka….

Selasa, 14 Juli 2015

Horee Akhirnya Kami Sampai Kawah Ijen

Bagi sebagian besar orang yang terbiasa berpetualang, mendaki ke Kawah Ijen itu tidaklah berat. Sambil bersiul dan bernyanyipun akan sampai di Kawah Ijen tidak kurang dari 3 jam berjalan kaki. Maklum jalur pendakiannya relatif mudah dan terlihat dengan jelas.

Saya sendiri sudah beberapa kali ke Ijen dan selalu senang pergi ke gunung yang berada di daerah Banyuwangi dan Bondowoso itu. Namun perjalanan ke Kawah Ijen di bulan Juni 2015 ini terbilang istimewa untuk saya karena ini bersama dua anak saya yang masih duduk di bangku SD kelas 6 dan SMA kelas 1.

Pergi ke alam bebas bukanlah sesuatu yang asing bagi kedua anak saya. Sejak mereka belum bisa jalan sendiri juga sudah kami bawa pergi ke hutan sambil digendong dengan tas rangsel. Trekking juga kegiatan rutin yang kami lakukan, minimal sebulan sekali.

Namun kebanyakan jalur trekking yang kami lalui itu datar atau mendaki sedikit saja, karena kami lebih suka trekking di hutan dataran rendah, dibandingkan naik ke puncak gunung. Kami suka gunung, namun lebih suka hutan yang kebanyakan berada di dataran rendah atau di bawah ketinggian 1500 meter dari permukaan laut. Salah satu alasan kami lebih suka hutan karena di hutan itu kami bisa lebih banyak menjumpai satwa liar dan aneka jenis tumbuhan liar, dibandingkan di puncak gunung.

Jadi ketika kami memutuskan akan menghabiskan liburan sekolah dengan trekking ke Kawah Ijen, persiapannya menjadi lebih banyak. Bukan persiapan soal perlengkapan, tapi soal makanan. Soal yang satu ini sangat vital di mata anak saya, untuk menjamin mereka tetap tersenyum ketika mendaki.

Saya sempat kuatir dengan anak saya yang SMA,apakah dia sanggup sampai ke Kawah Ijen? Karena dibandingkan dengan adiknya, anak saya yang satu ini terbilang agak “malas” kalau jalan kaki terlalu jauh, apalagi mendaki!

Sebelum berangkat, saya sudah ‘brifing’ ke anak saya tentang jalur menuju Kawah Ijen. Saya bilang bahwa jalurnya akan naik terus dan memakan waktu 3 jam. Info ini penting saya sampaikan di awal, agar nanti mereka tidak terkaget-kaget.

Sekitar jam 9 pagi kami sampai di Pal Tuding, titik akhir mobil harus parkir dan dilanjutkan dengan jalan kaki menuju bibir Kawah Ijen. Di Pal Tuding beberapa orang pemandu wisata menyapa dan menyalami kami. Mereka melihat sticker Petungsewu Adventure yang tertempel di mobil saya dan ternyata mereka sering membawa tamu ke tempat kami di Petungsewu Adventure.

Setelah membayar tiket masuk, kami mulai berjalan santai diselimuti udara yang sejuk. Kami yang terbiasa dengan udara sejuk di Petungsewu Adveture, membuat cepat beradaptasi dengan udara di Ijen yang oleh sebagian orang dianggap dingin.

Kami berjalan dengan pelan. Di sepanjang jalan kami berpapasan dengan wisatawan yang sebagian besar ‘bule’ dan beberapa wisatawan dari Malaysia. Ketika mereka sudah turun dari Ijen, kami justru baru mulai mendaki. Mereka kebanyakan mendaki di dini hari untuk mengejar fenomena alam "blue fire” yang tersembur dari kawah Ijen dan juga keindahan matahari terbit.

Baru berjalan sekitar 500 meter, anak saya yang gede sudah mulai mengeluh. “Pak, apa masih jauh kawahnya, kurang berapa lama lagi?”

Sepanjang jalan saya terus memotivasi anak saya untuk terus berjalan meskipun lambat kayak siput. Yang penting jalan. Sementara si kecil terus mendaki di depan bersama sang ibu, tanpa banyak keluhan.

Lima puluh meter menjelang Pondok Bunder yang ada warungnya, anak saya yang besar sudah mengibarkan bendera putih. Menyerah untuk melanjutkan perjalanan. “udah pak saya sampai sini saja, bapak dan adik silahkan terus”.

Saya yakinkan kalau sebentar lagi ada warung dan setelah itu jalannya sudah datar. Anak saya itu bangkit lagi, sambil saya tuntun, atau lebih tepatnya saya tarik hingga Pondok Bunder yang berada di ketinggian 2.214 meter dari permukaan laut.

Sesampainya di warung yang ada di Pondok Bunder, kami langsung pesan mie instan untuk sarapan pagi. Mie yang rasanya biasa saja ketika kami di rumah itu terasa begitu nikmat ketika kami santap di Pondok Bunder. Panas kuahnya seperti menyuntik energi baru.

Setelah istirahat sejenak di Pondok Bunder, kami melanjutkan perjalanan ke Kawah Ijen. Jalannya memang sudah tidak terlalu mendaki, namun tetap saja ini terasa berat bagi anak saya yang SMA itu. Beberapa kali dia ‘mogok’, tidak mau melanjutkan perjalanan. Dengan berbagai ‘rayuan’, anak saya yang satu ini akhirnya mau terus berjalan dengan tertatih-tatih.

Setelah satu jam berjalan dari Pondok Bunder, aroma belerang mulai tercium. Ini pertanda Kawah Ijen semakin dekat. Perjumpaan dengan penambang belerang juga semakin sering.
Horee, akhirnya Kawah Ijen terlihat di depan mata kami. Warna biru kawahnya diselimuti asap dan kabut. Wajah kedua anak saya langsung terlihat ceria, horeee!

Kami kemudian sibuk dengan aksi foto diri. Kami harus sabar menunggu momen yang pas untuk mendapatkan gambar yang terbaik, karena siang itu Kawah Ijen tertutup dengan kabut tebal. Bau belerang juga begitu menyengat.


Kami puas bisa sampai di Kawah Ijen. Mungkin bagi kebanyakan petualang, mendaki ke Kawah Ijen itu tidaklah “membanggakan”, dibandingkan kalau “sukses” menapak kaki di puncak Gunung Semeru atau Arjuna misalnya. Tapi bagi saya, ini sangat membanggakan karena kami satu keluarga akhirnya berhasil mendaki hingga Kawah Ijen. Saya kira, tidak banyak keluarga (Indonesia) yang punya kesempatan mendaki gunung bersama anggota keluarga yang lengkap, anak dan istri, seperti yang telah kami lakukan. Puas dan bangga rasanya.

Rabu, 08 Juli 2015

Isu Hutan itu Tidak Sexy


Dalam diskusi Green Day yang diadakan Profauna di hari Minggu awal Juli 2014 di Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC), saya ajak saudara-saudaraku yang hadir untuk ‘mengaji’ tentang isu hutan. Ini penting saya lontarkan di hadapan 25 orang supporter Profauna yang merupakan saudaraku, karena mereka itu keluaga besar Profauna Indonesia, agar mereka tidak salah kaprah menilai Profauna.

Ketika orang mendengar kata Profauna, kebanyakan orang akan berasumsi bahwa Profauna itu organisasi yang bekeja untuk melindungi satwa. Apalagi kalau mereka membacanya “pro” dan “fauna” akan semakin mengkerucut dalam pikiran mereka kalau Profauna itu pembela hak-hak binatang.

Pandangan yang tidak bisa disalahkan, walaupun itu keliru besar. Dalam undang-undang dasarnya Profauna yang didirikan tahun 1994 itu Profauna bukan hanya bekerja untuk melindungi satwa saja, namun juga hutan yang jadi rumah para satwa itu.

Isu hutan atau paling tidak isu habitat satwa liar itu bukan mainan baru di Profauna. Di tahun 1995, Profauna berada dalam barisan terdepan dalam kampanye menolak penggusuran hutan kota Malang. Saudaraku Udin yang kini tinggal di Bali, jadi saksi hidup dia digebukin polisi karena demo bersama Profauna menolak penggusuran hutan itu.

Sayapun mengalami pahitnya ditangkap orang-orang berbaju doreng karena saya dianggap ‘provokator’ dalam gerakan penolakan alih fungsi hutan kota Malang.

Masih di tahun 90-an, Profauna juga lantang menolak latihan militer di Pulau Sempu. Kami menolaknya dengan demonstrasi dan advokasi. Jelas hukumnya wajib bagi Profauna untuk melindungi Pulau Sempu itu, karena itu statusnya cagar alam. Sebuah status konservasi yang bisa dibilang strata yang paling tinggi, paling ketat.

Beberapa kasus hutan yang pernah ditangani Profauna, paling tidak yang saya ingat itu antara lain kasus hutan di Tahura R Soerjo Jawa Timur, kasus penebangan pohon di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, kasus hutan Kapuas dan yang terbaru kasus hutan lindung Wehea di Kalimantan Timur.

Tapi kenapa, isu hutan itu seakan-akan kurang ‘moncer’ di Profauna? Kalau Profauna memposting foto tentang kerusakan hutan di facebook Profauna Indonesia, komentarnya tidak akan heboh. Paling hanya ada 3 atau 5 orang yang komentar. Yang ‘suka’ pun juga tidak terlalu banyak.

Beda kasusnya kalau Profauna memposting foto misalnya tentang orangutan yang dibunuh. Orang langsung heboh, langsung beraksi, langsung marah, menghujat, mengutuk dan macam-macam komentar. Mulai dari komentar yang santun, hingga komentar memakai bahasa ‘rimba belantara’. Postingan itu bisa dilihat 1 juta orang dan disebar ribuan kali.

Saya menduga, kenapa orang begitu bereaksi ‘marah’ ketika melihat foto satwa langka yang dibunuh, dibakar atau dibantai itu. Karena itu terlihat begitu ‘dramatis’, ada darah, ada wajah menderita atau memelas dari mahluk hdup yang kebetulan bernama orangutan, bekantan, beruang, harimau dan lainnya itu. Ada ‘nyawa’ yang tercabut dari satwa yang dibunuh itu.

Sementara ketika melihat hutan yang dibabat habis oleh perusahaan sawit atau tambang, foto itu terlihat ‘mati’. Tidak ada mahluk hidup yang menderita. Tidak ada darah. Tidak ada efek dramatis yang membuat mungkin air mata kita berlinang.

Padahal pohon itu juga mahluk hidup. Ada ribuan atau bahkan jutaan spesies lain yang tergantung terhadap pohon itu.

Mungkin akan lain ceritanya kalau dalam foto pembabatan hutan itu terlihat dengan jelas orangutan yang mati. Atau ada masyarakat lokal yang mati karena hutannya direnggut.
Tentunya tidak mudah mendapatkan foto yang bercerita secara langsung dampak dari hilangnya atau rusaknya hutan bagi satwa itu. Padahal kita pasti tahu dan paham bahwa hutan itu dibutuhkan oleh satwa liar dan tentu saja juga oleh manusia. Tanpa hutan, mau tinggal dimana satwa langka itu?

Dalam kerangka kampanye di dunia maya, sepertinya isu hutan kalah sexy dengan isu satwa liar. Saya juga merasakan di supporter Profaunapun ‘gema’ isu hutan ini belum merasuk ke jiwa. Baru masuk ke telinga, dan bisa jadi keluar ke telinga sebelahnya.

Atau baru pada taraf tahu, tapi kebingungan apa yang harus dilakukan untuk membantu melindungi hutan. Karena mungkin si Nela tinggal di kota Surabaya, si Deta di Denpasar, atau si Anu di Jakarta, itu tinggalnya jauh dari hutan. Jadi ‘spirit’ hutan itu belum merasuk dengan baik. Masih sebatas di angan-angan.

Mungkin Si Joko bilang, “Ah yang rusak khan hutan di Kalimantan, tidak ada hubungannya dengan saya yang tinggal di Jakarta”. Kalau masih berfikiran seperti itu, pertanyaan yang serupa perlu dilontarkan dalam isu satwa langka. Apa ruginya orangutan di Kalimantan punah? Atau harimau di sumatera itu mati dibakar?

Saudaraku yang pecinta satwa liar, baik yang berada dalam rumah besar bernama Profauna ataupun di rumahnya masing-masing, kalau kalian cinta satwa liar, itu hukumnya wajib untuk juga cinta hutan. Wajib ‘jihad’ untuk menjaga kelestarian hutan.

Tanpa hutan yang terjaga dengan baik, apa artinya perjuangan melestarikan satwa liar. Karena satwa itu butuh rumah yang nyaman dan aman.

Saudaraku, di bulan puasa ini, semoga hati kita terketuk atau bahkan digedor oleh malaikat agar kita peduli akan hutan. Munafik rasanya, kalau kita peduli akan satwa liar, tetapi tidak peduli rumah mereka. 

Rabu, 27 Mei 2015

Berani untuk Tidak

Rabu legi saya diundang kawan-kawan pengajian Maiyah Religi, sebuah kelompok pengajian jamaah Cak Nun (Emha Ainun Najib), untuk berbagi pandangan tentang Islam dan pelestarian lingkungan. Tema besar dalam diskusi yang sersan alias serius tapi santai yang diadakan di masjid Polinema Malang itu adalah satu kata saja yaitu ‘Tidak’. Kenapa ‘Tidak’?

Saya ditodong untuk bicara mengapa saya dan saudara-saudara yang di Profauna berani mengatakan ‘Tidak’ terhadap perusakan alam. Mereka melihat Profauna itu sebuah gerakan yang tidak main stream, aneh dan tidak umum. Profauna itu sebuah anomali.

Dalam pengajian yang dihadiri sekitar 50 orang yang kebanyakan mahasiswa itu saya bercerita masa 20 tahun yang lalu, ketika saya menginisiasi sebuah gerakan perlawanan untuk menolak penggusuran hutan kota Malang. Waktu itu saya keliling kampus untuk mengajak kelompok pecinta alam dan kelompok mahasiswa untuk bersama-sama melawan ketidakbenaran. Menolak ahli fungsi hutan kota Malag menjadi perumahan mewah.

Sayangnya mahasiswa yang mengaku dirinya ‘pecinta alam’ atau ‘pecinta lingkungan’ itu tidak banyak yang berani mengatakan ‘tidak’ terhadap penggusuran hutan kota. Mereka memilih jalur aman saja. Kabarnya kalau mereka turut protes, maka mereka akan kesulitan jika mengajukan dana ke pemerintah. Waduh, masih muda saja sudah berpikiran soal uang.

Kondisi terkini, seperti apa kepedulian mahasiswa terhadap pelestarian alam? Saya melihat secara global, setelah era reformasi tahun 1998 itu sepertinya kebanyakan mahasiswa sudah kembali ke ‘zona nyaman’. Zona nyaman ini secara sadar atau tidak juga diperkuat dengan  sistem kuliah yang membuat ruang gerak mahasiswa beraktfitas sosial itu dipersempit.

Jadwal kuliah yang padat, target lulus tidak boleh lebih dari 4 tahun dan segudang tugas dari dosen (yang lebih asyik dengan proyeknya) menjadi faktor pembatas kreatifitas mahasiswa dibidang sosial dan lingkungan. Target cepat lulus dan cepat mengganggur itu menjadi gerakan bawah sadar dari sebagian mahasiswa.

Perkembangan yang dahsyat tehnologi informasi di tanah air juga membuat mahasiswa lebih asyik menjadi ‘aktivis’ facebook, dibandingkan menjadi aktivis lingkungan.

Parahnya, doktrin tua yang mengatakan pekerjaan yang ‘mapan’ itu kalau jadi PNS atau dosen itu dipatuhi secara berjamaah oleh banyak mahasiwa dan sarjana yang baru lulus. Mereka berlomba-lomba dan berdesak-desakan merebut kursi yang lowong dengan jumlah super terbatas.

Lowongan bekerja di lembaga sosial itu menjadi tidak menarik, karena tidak bergengsi dan tidak ada jaminan zona ‘nyaman’. Mereka lebih memilih menjadi honorer selama bertahun-tahun dengan gaji minim, dengan harapan suatu ketika ‘derajat’ mereka diangkat menjadi PNS atau dosen tetap.

Hanya segelintir mahasiswa yang mau menabrak arus ‘main stream’. Bisa dihitung dengan jari sarjana yang memilih bekerja di lembaga sosial, termasuk lingkungan. Mereka ini termasuk dalam golongan orang yang berani mengatakan ‘tidak’.

Generasi muda yang munafik yang tidak berani mengatakan ‘tidak’ semakin banyak ketika mereka lulus kuliah dan dikejar-kejar harus segera bekerja. Ketika yang dimaksud ‘bekerja’ itu hanya menjadi PNS, dosen, atau kerja di perusahaan besar, maka disinilah muncul persaingan super ketat. Lebih ketat dibandingkan persaingan antara Rossi dan March Marquez di ajang lomba Moto GP.

Idealisme akhirnya tergadaikan atau disembunyikan dalam-dalam di kolong tempat tidur. Ketika menjadi mahasiswa dia aktif sebagai pecinta burung sejati. Yang dimaksud sejati ini karena dia mencintai burung yang hidup bebas di alam. Jadi ketika bicara tentang konservasi burung itu sangat berapi-api. Teori dan fakta bahwa burung itu akan semakin banyak keragamanya kalau di tempat yang beragam jenis pohonnya, itu juga sebuah kenyataan yang tidak terbantahkan.

Namun ketika lulus, ujung-ujungnya dia bekerja di sebuah perusahaan yang memangkas habis hutan heterogen untuk menjadi tanaman sejenis. Tanaman sejenis itu bernama sawit. Lebih banyak mana jenis burung yang ada di hutan heterogen dan perkebunan sawit? Anak saya yang masih duduk di bangku SD juga bisa menjawabnya, tidak perlu seorang sarjana atau ilmuan untuk menjelaskannya.

Ada kisah lain ketidakberanian mengatakan ‘tidak’. Ketika masih mahasiswa mereka aktif kampanye pelestarian hutan, termasuk kampanye menolak tambang dan sawit. Suara lantang dan bentangan spanduk yang menolak tambang di hutan menjadi saksi bahwa pada waktu itu mereka masuk golongan orang yang berani mengatakan ‘tidak’ terhadap eksploitasi hutan.

Hemmm, tapi setelah lulus kuliah, ternyata mereka kemudian bekerja di perusahaan sawit atau tambang yang dulu pernah ditentangnya.

Memang sulit untuk bertahan mengatakan ‘tidak’.

Jumat, 13 Februari 2015

Catimor Home stay, Tempat Singgah Warisan Belanda Sebelum Mendaki ke Kawah Ijen


Jika mau mendaki ke Kawah ijen tapi datangnya kesorean, lebih baik istirahat sebentar karena kalau dipaksa naik pemandangan di kawah Ijen akan tertutup oleh kabut. Bisa camping di area Paltuding, tempat terakhir sebelum jalur pendakian, atau jika mau tempat yang lebih nyaman bisa Catmor Home Stay yang berjarak tidak lebih 30 menit di Paltuding dengan kendaraan bermotor.

Catimor Home Stay terletak di Perkebunan Blawan, Kabupaten Bondowoso. Dengan ketinggian 867 meter dari permukaan air laut, membuat udara di Catimor terasa sejuk. Apalagi tempatnya dikelilingi perkebunan kopi dan kayu-kayu cukup besar, membuat suasananya terasa adem.

Catimor Home Stay yang dikelola ole PTPN XII ini bangunan utamanya sudah ada sejak zaman Belanda. Salah satu bagunannya yang juga disewakan untuk menginap itu dibangun tahun 1894. Dinding bangunannya terbuat dari anyaman bambu. Terkesan asri dan kental dengan nuansa zaman Belanda.

Harga kamar di Catimor juga cukup bersahabat, yaitu Rp 150.000 untuk kamar standar. Kamar dilengkapi dengan kasur, selimut dan kamar mandi. Tapi kalau menginap di tempat ini harus bawa handuk dan perlengkapan mandi sendiri, karena pengelola penginapan tidak menyediakannya.

Namun jika hujan, air di kamar mandi sering keruh. Mungkin airnya berasal dari mata air yang ada di bukit sekitarnya, jadi jika hujan deras sebagian tanah longsor dan masuk dalam saluran air menuju penginapan.
Penginapan juga dilengkapi dengan kolam renang dan lapangan tenis. Untuk yang kelaparan, jangan kuatir karena juga ada restoran yang menjual makanan standar seperti nasi  goreng dan soto.

Karena dirancang untuk transit, di Catimor tidak ada sarana hiburan seperti TV misalnya. Saya malah cenderung suka dengan model seperti ini. Penginapan di alam lebih baik tidak perlu ada hiburan modern semacam TV atau karaoke. Kalau mau nonton TV, nonton saja di rumah, tidak perlu jauh-jauh ke perkebunan Blawan.

Pegawai yang ada di Catimor juga ramah. Mereka dengan sopan dan ramah menjawab setiap pertanyaan tamu. Keramahan pegawai itu selalu menjadi pertimbangan penting bagi kami ketika menginap di suatu tempat. Meksipun tempatnya bagus, tapai kalau petugasnya tidak ramah, pasti kami akan kabur alias tidak jadi menginap!

Yang harus waspada adalah jalur menuju penginapan ini, karena jalannya cukup sempit dan berkelok-kelok tajam. Jika anda dari arah Sempol Bondowoso, lurus terus ke arah Kawah Ijen. Kemudian akan ada pertigaan, jika ke arah kanan akan menuju arah Kawah Ijen dan jika lurus akan menuju arah Cartimor.

Tanya saja kepada pendudu atau petani kopi yang ada sepanjang perjalanan, pasti mereka tahu arah ke Catimor.  Cuma jangan kaget, kalau banyak diantara mereka yang tidak bisa bahasa Indonesia dengan baik, kebanyakan berbahasa Madura!

Kamis, 12 Februari 2015

Mengamati Lutung Jawa di Jalur Trekking ke Kawah Ijen


Berulang kali saya lewat Paltuding, tempat terakhir sebelum trekking menju Kawah Ijen, namun belum pernah saya sampai ke Kawah Ijen. Maklum dalam kunjungan-kunjungan sebelumnya saya selalu membawa motor trail yang mengharuskan saya memakai sepatu khusus untuk alasan safety. Susahnya, sepatu untuk riding itu jelas tidak nyaman jika dipakai untuk trekking ke Kawah Ijen.

Keinginan untuk ke bibir kawah Ijen itu akhirnya kesampaian juga di awal Februari 2015 ketika saya dan istri berkunjung kesana dengan membawa mobil 4WD. Mobil kami parkir di Paltuding dan dilanjutkan jalan kaki sepanjang 3 km menuju Kawah ijen. Tentunya setelah kami membayar tiket masuk sebesar Rp 5000 per orang dan parkir mobil Rp 10.0000. Sangat murah untuk ukuran tempat wisata alam yang sudah mendunia.

Jalur trekking ke Kawah Ijen sangat mudah dikenali, karena jalurnya hanya satu dan cukup lebar. Jalurnya menanjak terus, namun tidak terlalu ekstrim. Jika jalannya santai, maksimum 2 jam akan sudah sampai di Kawah Ijen.

Sepanjang perjalanan kami banyak berpapasan dengan penambang belirang yang memikul belirang yang dimasukan dalam keranjang terbuat dari bambu. Otot-otot para penambang itu terlihat kencang, tertempa kerasnya hidup dengan menambang belirang selama bertahun-tahun.

Dalam perjalanan menuju Kawah Ijen itu, saya sangat terkejut ketika melihat sekelompok lutung jawa yang lagi asyik makan pucuk-pucuk daun. Saya hitung jumlahnya ada sekitar 15 ekor. Ada satu ekor yang berwarna oranye.

Saya cek kamera saya yang dilengkapi dengan altimeter. Tercatat kelompok lutung itu berada di ketinggian 1890 meter dari permukaan air laut. Hemm sangat jarang saya melihat lutung jawa berada di ketingggian di atas 1600 meter dpl.

Sayapun terlena dan asyik dengan mengamati perilaku lutung itu. Apalagi lutung-lutung itu terlihat cuek dengan kehadiran saya. Mereka asyik makan dan bermain, tidak menghiraukan kehadiran saya yang hanya berjarak sekitar 5 meter.

Saya selalu senang melihat lutung atau satwa liar lainnya yang hidup bebas di alam Terlihat sekali mereka begitu damai dan bahagia. Beda sekali dengan lutung yang terkurung dalam sangkar atau kandang di rumah orang yang ada kota. Lutung itu terlihat kusam, stress dan pasif.

Puas mengamati lutung jawa, saya melanjutkan perjalanan ke kawah Ijen dengan lebih semangat. Semangat itu muncul karena dipompa rasa senang bisa melihat sekelompok lutung yang hidup bebas di alam, di tengah maraknya perdagangan illegal lutung jawa di kota-kota besar.

Kamis, 29 Januari 2015

NOT FOR SALE

Banyak yang mengaku sebagai pecinta monyet atau kera yang mewujudkan kecintaannya itu dengan memelihara monyet itu d rumahnya sebagai satwa "kesayangan". Tidak heran jika ada orang yang bangga menunjukan di media sosial kalau dia punya kukang, lutung jawa atau bahkan orangutan. Tanpa sadar bahwa hobby mereka memelihara kera dan monyet yang sering disebut primata itu turut andil dalam terancam punahnya primata di alam.

Makanya ketika PROFAUNA kembali mengkumandangkan hari pimata Indonesia yang diperingati setiap tanggal 30 Januari itu saya mendukung total ketika temanya diputuskan "jangan beli primata". Primata yang secara biologi  merupakan "kerabat dekat" kita itu memang sudah sepatunya tidak untuk diperdagangkan. It's not for sale!

Cek aksi wanita-wanita cantik dalam menyuarakan perlindungan primata di lini ini:
Hari Primata Indonesia 2015 Diperingati Sedikitnya di 50 Lokasi | ProFauna Indonesia