Jumat, 13 Februari 2015

Catimor Home stay, Tempat Singgah Warisan Belanda Sebelum Mendaki ke Kawah Ijen


Jika mau mendaki ke Kawah ijen tapi datangnya kesorean, lebih baik istirahat sebentar karena kalau dipaksa naik pemandangan di kawah Ijen akan tertutup oleh kabut. Bisa camping di area Paltuding, tempat terakhir sebelum jalur pendakian, atau jika mau tempat yang lebih nyaman bisa Catmor Home Stay yang berjarak tidak lebih 30 menit di Paltuding dengan kendaraan bermotor.

Catimor Home Stay terletak di Perkebunan Blawan, Kabupaten Bondowoso. Dengan ketinggian 867 meter dari permukaan air laut, membuat udara di Catimor terasa sejuk. Apalagi tempatnya dikelilingi perkebunan kopi dan kayu-kayu cukup besar, membuat suasananya terasa adem.

Catimor Home Stay yang dikelola ole PTPN XII ini bangunan utamanya sudah ada sejak zaman Belanda. Salah satu bagunannya yang juga disewakan untuk menginap itu dibangun tahun 1894. Dinding bangunannya terbuat dari anyaman bambu. Terkesan asri dan kental dengan nuansa zaman Belanda.

Harga kamar di Catimor juga cukup bersahabat, yaitu Rp 150.000 untuk kamar standar. Kamar dilengkapi dengan kasur, selimut dan kamar mandi. Tapi kalau menginap di tempat ini harus bawa handuk dan perlengkapan mandi sendiri, karena pengelola penginapan tidak menyediakannya.

Namun jika hujan, air di kamar mandi sering keruh. Mungkin airnya berasal dari mata air yang ada di bukit sekitarnya, jadi jika hujan deras sebagian tanah longsor dan masuk dalam saluran air menuju penginapan.
Penginapan juga dilengkapi dengan kolam renang dan lapangan tenis. Untuk yang kelaparan, jangan kuatir karena juga ada restoran yang menjual makanan standar seperti nasi  goreng dan soto.

Karena dirancang untuk transit, di Catimor tidak ada sarana hiburan seperti TV misalnya. Saya malah cenderung suka dengan model seperti ini. Penginapan di alam lebih baik tidak perlu ada hiburan modern semacam TV atau karaoke. Kalau mau nonton TV, nonton saja di rumah, tidak perlu jauh-jauh ke perkebunan Blawan.

Pegawai yang ada di Catimor juga ramah. Mereka dengan sopan dan ramah menjawab setiap pertanyaan tamu. Keramahan pegawai itu selalu menjadi pertimbangan penting bagi kami ketika menginap di suatu tempat. Meksipun tempatnya bagus, tapai kalau petugasnya tidak ramah, pasti kami akan kabur alias tidak jadi menginap!

Yang harus waspada adalah jalur menuju penginapan ini, karena jalannya cukup sempit dan berkelok-kelok tajam. Jika anda dari arah Sempol Bondowoso, lurus terus ke arah Kawah Ijen. Kemudian akan ada pertigaan, jika ke arah kanan akan menuju arah Kawah Ijen dan jika lurus akan menuju arah Cartimor.

Tanya saja kepada pendudu atau petani kopi yang ada sepanjang perjalanan, pasti mereka tahu arah ke Catimor.  Cuma jangan kaget, kalau banyak diantara mereka yang tidak bisa bahasa Indonesia dengan baik, kebanyakan berbahasa Madura!

Kamis, 12 Februari 2015

Mengamati Lutung Jawa di Jalur Trekking ke Kawah Ijen


Berulang kali saya lewat Paltuding, tempat terakhir sebelum trekking menju Kawah Ijen, namun belum pernah saya sampai ke Kawah Ijen. Maklum dalam kunjungan-kunjungan sebelumnya saya selalu membawa motor trail yang mengharuskan saya memakai sepatu khusus untuk alasan safety. Susahnya, sepatu untuk riding itu jelas tidak nyaman jika dipakai untuk trekking ke Kawah Ijen.

Keinginan untuk ke bibir kawah Ijen itu akhirnya kesampaian juga di awal Februari 2015 ketika saya dan istri berkunjung kesana dengan membawa mobil 4WD. Mobil kami parkir di Paltuding dan dilanjutkan jalan kaki sepanjang 3 km menuju Kawah ijen. Tentunya setelah kami membayar tiket masuk sebesar Rp 5000 per orang dan parkir mobil Rp 10.0000. Sangat murah untuk ukuran tempat wisata alam yang sudah mendunia.

Jalur trekking ke Kawah Ijen sangat mudah dikenali, karena jalurnya hanya satu dan cukup lebar. Jalurnya menanjak terus, namun tidak terlalu ekstrim. Jika jalannya santai, maksimum 2 jam akan sudah sampai di Kawah Ijen.

Sepanjang perjalanan kami banyak berpapasan dengan penambang belirang yang memikul belirang yang dimasukan dalam keranjang terbuat dari bambu. Otot-otot para penambang itu terlihat kencang, tertempa kerasnya hidup dengan menambang belirang selama bertahun-tahun.

Dalam perjalanan menuju Kawah Ijen itu, saya sangat terkejut ketika melihat sekelompok lutung jawa yang lagi asyik makan pucuk-pucuk daun. Saya hitung jumlahnya ada sekitar 15 ekor. Ada satu ekor yang berwarna oranye.

Saya cek kamera saya yang dilengkapi dengan altimeter. Tercatat kelompok lutung itu berada di ketinggian 1890 meter dari permukaan air laut. Hemm sangat jarang saya melihat lutung jawa berada di ketingggian di atas 1600 meter dpl.

Sayapun terlena dan asyik dengan mengamati perilaku lutung itu. Apalagi lutung-lutung itu terlihat cuek dengan kehadiran saya. Mereka asyik makan dan bermain, tidak menghiraukan kehadiran saya yang hanya berjarak sekitar 5 meter.

Saya selalu senang melihat lutung atau satwa liar lainnya yang hidup bebas di alam Terlihat sekali mereka begitu damai dan bahagia. Beda sekali dengan lutung yang terkurung dalam sangkar atau kandang di rumah orang yang ada kota. Lutung itu terlihat kusam, stress dan pasif.

Puas mengamati lutung jawa, saya melanjutkan perjalanan ke kawah Ijen dengan lebih semangat. Semangat itu muncul karena dipompa rasa senang bisa melihat sekelompok lutung yang hidup bebas di alam, di tengah maraknya perdagangan illegal lutung jawa di kota-kota besar.