Rabu, 27 Mei 2015

Berani untuk Tidak

Rabu legi saya diundang kawan-kawan pengajian Maiyah Religi, sebuah kelompok pengajian jamaah Cak Nun (Emha Ainun Najib), untuk berbagi pandangan tentang Islam dan pelestarian lingkungan. Tema besar dalam diskusi yang sersan alias serius tapi santai yang diadakan di masjid Polinema Malang itu adalah satu kata saja yaitu ‘Tidak’. Kenapa ‘Tidak’?

Saya ditodong untuk bicara mengapa saya dan saudara-saudara yang di Profauna berani mengatakan ‘Tidak’ terhadap perusakan alam. Mereka melihat Profauna itu sebuah gerakan yang tidak main stream, aneh dan tidak umum. Profauna itu sebuah anomali.

Dalam pengajian yang dihadiri sekitar 50 orang yang kebanyakan mahasiswa itu saya bercerita masa 20 tahun yang lalu, ketika saya menginisiasi sebuah gerakan perlawanan untuk menolak penggusuran hutan kota Malang. Waktu itu saya keliling kampus untuk mengajak kelompok pecinta alam dan kelompok mahasiswa untuk bersama-sama melawan ketidakbenaran. Menolak ahli fungsi hutan kota Malag menjadi perumahan mewah.

Sayangnya mahasiswa yang mengaku dirinya ‘pecinta alam’ atau ‘pecinta lingkungan’ itu tidak banyak yang berani mengatakan ‘tidak’ terhadap penggusuran hutan kota. Mereka memilih jalur aman saja. Kabarnya kalau mereka turut protes, maka mereka akan kesulitan jika mengajukan dana ke pemerintah. Waduh, masih muda saja sudah berpikiran soal uang.

Kondisi terkini, seperti apa kepedulian mahasiswa terhadap pelestarian alam? Saya melihat secara global, setelah era reformasi tahun 1998 itu sepertinya kebanyakan mahasiswa sudah kembali ke ‘zona nyaman’. Zona nyaman ini secara sadar atau tidak juga diperkuat dengan  sistem kuliah yang membuat ruang gerak mahasiswa beraktfitas sosial itu dipersempit.

Jadwal kuliah yang padat, target lulus tidak boleh lebih dari 4 tahun dan segudang tugas dari dosen (yang lebih asyik dengan proyeknya) menjadi faktor pembatas kreatifitas mahasiswa dibidang sosial dan lingkungan. Target cepat lulus dan cepat mengganggur itu menjadi gerakan bawah sadar dari sebagian mahasiswa.

Perkembangan yang dahsyat tehnologi informasi di tanah air juga membuat mahasiswa lebih asyik menjadi ‘aktivis’ facebook, dibandingkan menjadi aktivis lingkungan.

Parahnya, doktrin tua yang mengatakan pekerjaan yang ‘mapan’ itu kalau jadi PNS atau dosen itu dipatuhi secara berjamaah oleh banyak mahasiwa dan sarjana yang baru lulus. Mereka berlomba-lomba dan berdesak-desakan merebut kursi yang lowong dengan jumlah super terbatas.

Lowongan bekerja di lembaga sosial itu menjadi tidak menarik, karena tidak bergengsi dan tidak ada jaminan zona ‘nyaman’. Mereka lebih memilih menjadi honorer selama bertahun-tahun dengan gaji minim, dengan harapan suatu ketika ‘derajat’ mereka diangkat menjadi PNS atau dosen tetap.

Hanya segelintir mahasiswa yang mau menabrak arus ‘main stream’. Bisa dihitung dengan jari sarjana yang memilih bekerja di lembaga sosial, termasuk lingkungan. Mereka ini termasuk dalam golongan orang yang berani mengatakan ‘tidak’.

Generasi muda yang munafik yang tidak berani mengatakan ‘tidak’ semakin banyak ketika mereka lulus kuliah dan dikejar-kejar harus segera bekerja. Ketika yang dimaksud ‘bekerja’ itu hanya menjadi PNS, dosen, atau kerja di perusahaan besar, maka disinilah muncul persaingan super ketat. Lebih ketat dibandingkan persaingan antara Rossi dan March Marquez di ajang lomba Moto GP.

Idealisme akhirnya tergadaikan atau disembunyikan dalam-dalam di kolong tempat tidur. Ketika menjadi mahasiswa dia aktif sebagai pecinta burung sejati. Yang dimaksud sejati ini karena dia mencintai burung yang hidup bebas di alam. Jadi ketika bicara tentang konservasi burung itu sangat berapi-api. Teori dan fakta bahwa burung itu akan semakin banyak keragamanya kalau di tempat yang beragam jenis pohonnya, itu juga sebuah kenyataan yang tidak terbantahkan.

Namun ketika lulus, ujung-ujungnya dia bekerja di sebuah perusahaan yang memangkas habis hutan heterogen untuk menjadi tanaman sejenis. Tanaman sejenis itu bernama sawit. Lebih banyak mana jenis burung yang ada di hutan heterogen dan perkebunan sawit? Anak saya yang masih duduk di bangku SD juga bisa menjawabnya, tidak perlu seorang sarjana atau ilmuan untuk menjelaskannya.

Ada kisah lain ketidakberanian mengatakan ‘tidak’. Ketika masih mahasiswa mereka aktif kampanye pelestarian hutan, termasuk kampanye menolak tambang dan sawit. Suara lantang dan bentangan spanduk yang menolak tambang di hutan menjadi saksi bahwa pada waktu itu mereka masuk golongan orang yang berani mengatakan ‘tidak’ terhadap eksploitasi hutan.

Hemmm, tapi setelah lulus kuliah, ternyata mereka kemudian bekerja di perusahaan sawit atau tambang yang dulu pernah ditentangnya.

Memang sulit untuk bertahan mengatakan ‘tidak’.