Selasa, 14 Juli 2015

Horee Akhirnya Kami Sampai Kawah Ijen

Bagi sebagian besar orang yang terbiasa berpetualang, mendaki ke Kawah Ijen itu tidaklah berat. Sambil bersiul dan bernyanyipun akan sampai di Kawah Ijen tidak kurang dari 3 jam berjalan kaki. Maklum jalur pendakiannya relatif mudah dan terlihat dengan jelas.

Saya sendiri sudah beberapa kali ke Ijen dan selalu senang pergi ke gunung yang berada di daerah Banyuwangi dan Bondowoso itu. Namun perjalanan ke Kawah Ijen di bulan Juni 2015 ini terbilang istimewa untuk saya karena ini bersama dua anak saya yang masih duduk di bangku SD kelas 6 dan SMA kelas 1.

Pergi ke alam bebas bukanlah sesuatu yang asing bagi kedua anak saya. Sejak mereka belum bisa jalan sendiri juga sudah kami bawa pergi ke hutan sambil digendong dengan tas rangsel. Trekking juga kegiatan rutin yang kami lakukan, minimal sebulan sekali.

Namun kebanyakan jalur trekking yang kami lalui itu datar atau mendaki sedikit saja, karena kami lebih suka trekking di hutan dataran rendah, dibandingkan naik ke puncak gunung. Kami suka gunung, namun lebih suka hutan yang kebanyakan berada di dataran rendah atau di bawah ketinggian 1500 meter dari permukaan laut. Salah satu alasan kami lebih suka hutan karena di hutan itu kami bisa lebih banyak menjumpai satwa liar dan aneka jenis tumbuhan liar, dibandingkan di puncak gunung.

Jadi ketika kami memutuskan akan menghabiskan liburan sekolah dengan trekking ke Kawah Ijen, persiapannya menjadi lebih banyak. Bukan persiapan soal perlengkapan, tapi soal makanan. Soal yang satu ini sangat vital di mata anak saya, untuk menjamin mereka tetap tersenyum ketika mendaki.

Saya sempat kuatir dengan anak saya yang SMA,apakah dia sanggup sampai ke Kawah Ijen? Karena dibandingkan dengan adiknya, anak saya yang satu ini terbilang agak “malas” kalau jalan kaki terlalu jauh, apalagi mendaki!

Sebelum berangkat, saya sudah ‘brifing’ ke anak saya tentang jalur menuju Kawah Ijen. Saya bilang bahwa jalurnya akan naik terus dan memakan waktu 3 jam. Info ini penting saya sampaikan di awal, agar nanti mereka tidak terkaget-kaget.

Sekitar jam 9 pagi kami sampai di Pal Tuding, titik akhir mobil harus parkir dan dilanjutkan dengan jalan kaki menuju bibir Kawah Ijen. Di Pal Tuding beberapa orang pemandu wisata menyapa dan menyalami kami. Mereka melihat sticker Petungsewu Adventure yang tertempel di mobil saya dan ternyata mereka sering membawa tamu ke tempat kami di Petungsewu Adventure.

Setelah membayar tiket masuk, kami mulai berjalan santai diselimuti udara yang sejuk. Kami yang terbiasa dengan udara sejuk di Petungsewu Adveture, membuat cepat beradaptasi dengan udara di Ijen yang oleh sebagian orang dianggap dingin.

Kami berjalan dengan pelan. Di sepanjang jalan kami berpapasan dengan wisatawan yang sebagian besar ‘bule’ dan beberapa wisatawan dari Malaysia. Ketika mereka sudah turun dari Ijen, kami justru baru mulai mendaki. Mereka kebanyakan mendaki di dini hari untuk mengejar fenomena alam "blue fire” yang tersembur dari kawah Ijen dan juga keindahan matahari terbit.

Baru berjalan sekitar 500 meter, anak saya yang gede sudah mulai mengeluh. “Pak, apa masih jauh kawahnya, kurang berapa lama lagi?”

Sepanjang jalan saya terus memotivasi anak saya untuk terus berjalan meskipun lambat kayak siput. Yang penting jalan. Sementara si kecil terus mendaki di depan bersama sang ibu, tanpa banyak keluhan.

Lima puluh meter menjelang Pondok Bunder yang ada warungnya, anak saya yang besar sudah mengibarkan bendera putih. Menyerah untuk melanjutkan perjalanan. “udah pak saya sampai sini saja, bapak dan adik silahkan terus”.

Saya yakinkan kalau sebentar lagi ada warung dan setelah itu jalannya sudah datar. Anak saya itu bangkit lagi, sambil saya tuntun, atau lebih tepatnya saya tarik hingga Pondok Bunder yang berada di ketinggian 2.214 meter dari permukaan laut.

Sesampainya di warung yang ada di Pondok Bunder, kami langsung pesan mie instan untuk sarapan pagi. Mie yang rasanya biasa saja ketika kami di rumah itu terasa begitu nikmat ketika kami santap di Pondok Bunder. Panas kuahnya seperti menyuntik energi baru.

Setelah istirahat sejenak di Pondok Bunder, kami melanjutkan perjalanan ke Kawah Ijen. Jalannya memang sudah tidak terlalu mendaki, namun tetap saja ini terasa berat bagi anak saya yang SMA itu. Beberapa kali dia ‘mogok’, tidak mau melanjutkan perjalanan. Dengan berbagai ‘rayuan’, anak saya yang satu ini akhirnya mau terus berjalan dengan tertatih-tatih.

Setelah satu jam berjalan dari Pondok Bunder, aroma belerang mulai tercium. Ini pertanda Kawah Ijen semakin dekat. Perjumpaan dengan penambang belerang juga semakin sering.
Horee, akhirnya Kawah Ijen terlihat di depan mata kami. Warna biru kawahnya diselimuti asap dan kabut. Wajah kedua anak saya langsung terlihat ceria, horeee!

Kami kemudian sibuk dengan aksi foto diri. Kami harus sabar menunggu momen yang pas untuk mendapatkan gambar yang terbaik, karena siang itu Kawah Ijen tertutup dengan kabut tebal. Bau belerang juga begitu menyengat.


Kami puas bisa sampai di Kawah Ijen. Mungkin bagi kebanyakan petualang, mendaki ke Kawah Ijen itu tidaklah “membanggakan”, dibandingkan kalau “sukses” menapak kaki di puncak Gunung Semeru atau Arjuna misalnya. Tapi bagi saya, ini sangat membanggakan karena kami satu keluarga akhirnya berhasil mendaki hingga Kawah Ijen. Saya kira, tidak banyak keluarga (Indonesia) yang punya kesempatan mendaki gunung bersama anggota keluarga yang lengkap, anak dan istri, seperti yang telah kami lakukan. Puas dan bangga rasanya.

Rabu, 08 Juli 2015

Isu Hutan itu Tidak Sexy


Dalam diskusi Green Day yang diadakan Profauna di hari Minggu awal Juli 2014 di Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC), saya ajak saudara-saudaraku yang hadir untuk ‘mengaji’ tentang isu hutan. Ini penting saya lontarkan di hadapan 25 orang supporter Profauna yang merupakan saudaraku, karena mereka itu keluaga besar Profauna Indonesia, agar mereka tidak salah kaprah menilai Profauna.

Ketika orang mendengar kata Profauna, kebanyakan orang akan berasumsi bahwa Profauna itu organisasi yang bekeja untuk melindungi satwa. Apalagi kalau mereka membacanya “pro” dan “fauna” akan semakin mengkerucut dalam pikiran mereka kalau Profauna itu pembela hak-hak binatang.

Pandangan yang tidak bisa disalahkan, walaupun itu keliru besar. Dalam undang-undang dasarnya Profauna yang didirikan tahun 1994 itu Profauna bukan hanya bekerja untuk melindungi satwa saja, namun juga hutan yang jadi rumah para satwa itu.

Isu hutan atau paling tidak isu habitat satwa liar itu bukan mainan baru di Profauna. Di tahun 1995, Profauna berada dalam barisan terdepan dalam kampanye menolak penggusuran hutan kota Malang. Saudaraku Udin yang kini tinggal di Bali, jadi saksi hidup dia digebukin polisi karena demo bersama Profauna menolak penggusuran hutan itu.

Sayapun mengalami pahitnya ditangkap orang-orang berbaju doreng karena saya dianggap ‘provokator’ dalam gerakan penolakan alih fungsi hutan kota Malang.

Masih di tahun 90-an, Profauna juga lantang menolak latihan militer di Pulau Sempu. Kami menolaknya dengan demonstrasi dan advokasi. Jelas hukumnya wajib bagi Profauna untuk melindungi Pulau Sempu itu, karena itu statusnya cagar alam. Sebuah status konservasi yang bisa dibilang strata yang paling tinggi, paling ketat.

Beberapa kasus hutan yang pernah ditangani Profauna, paling tidak yang saya ingat itu antara lain kasus hutan di Tahura R Soerjo Jawa Timur, kasus penebangan pohon di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, kasus hutan Kapuas dan yang terbaru kasus hutan lindung Wehea di Kalimantan Timur.

Tapi kenapa, isu hutan itu seakan-akan kurang ‘moncer’ di Profauna? Kalau Profauna memposting foto tentang kerusakan hutan di facebook Profauna Indonesia, komentarnya tidak akan heboh. Paling hanya ada 3 atau 5 orang yang komentar. Yang ‘suka’ pun juga tidak terlalu banyak.

Beda kasusnya kalau Profauna memposting foto misalnya tentang orangutan yang dibunuh. Orang langsung heboh, langsung beraksi, langsung marah, menghujat, mengutuk dan macam-macam komentar. Mulai dari komentar yang santun, hingga komentar memakai bahasa ‘rimba belantara’. Postingan itu bisa dilihat 1 juta orang dan disebar ribuan kali.

Saya menduga, kenapa orang begitu bereaksi ‘marah’ ketika melihat foto satwa langka yang dibunuh, dibakar atau dibantai itu. Karena itu terlihat begitu ‘dramatis’, ada darah, ada wajah menderita atau memelas dari mahluk hdup yang kebetulan bernama orangutan, bekantan, beruang, harimau dan lainnya itu. Ada ‘nyawa’ yang tercabut dari satwa yang dibunuh itu.

Sementara ketika melihat hutan yang dibabat habis oleh perusahaan sawit atau tambang, foto itu terlihat ‘mati’. Tidak ada mahluk hidup yang menderita. Tidak ada darah. Tidak ada efek dramatis yang membuat mungkin air mata kita berlinang.

Padahal pohon itu juga mahluk hidup. Ada ribuan atau bahkan jutaan spesies lain yang tergantung terhadap pohon itu.

Mungkin akan lain ceritanya kalau dalam foto pembabatan hutan itu terlihat dengan jelas orangutan yang mati. Atau ada masyarakat lokal yang mati karena hutannya direnggut.
Tentunya tidak mudah mendapatkan foto yang bercerita secara langsung dampak dari hilangnya atau rusaknya hutan bagi satwa itu. Padahal kita pasti tahu dan paham bahwa hutan itu dibutuhkan oleh satwa liar dan tentu saja juga oleh manusia. Tanpa hutan, mau tinggal dimana satwa langka itu?

Dalam kerangka kampanye di dunia maya, sepertinya isu hutan kalah sexy dengan isu satwa liar. Saya juga merasakan di supporter Profaunapun ‘gema’ isu hutan ini belum merasuk ke jiwa. Baru masuk ke telinga, dan bisa jadi keluar ke telinga sebelahnya.

Atau baru pada taraf tahu, tapi kebingungan apa yang harus dilakukan untuk membantu melindungi hutan. Karena mungkin si Nela tinggal di kota Surabaya, si Deta di Denpasar, atau si Anu di Jakarta, itu tinggalnya jauh dari hutan. Jadi ‘spirit’ hutan itu belum merasuk dengan baik. Masih sebatas di angan-angan.

Mungkin Si Joko bilang, “Ah yang rusak khan hutan di Kalimantan, tidak ada hubungannya dengan saya yang tinggal di Jakarta”. Kalau masih berfikiran seperti itu, pertanyaan yang serupa perlu dilontarkan dalam isu satwa langka. Apa ruginya orangutan di Kalimantan punah? Atau harimau di sumatera itu mati dibakar?

Saudaraku yang pecinta satwa liar, baik yang berada dalam rumah besar bernama Profauna ataupun di rumahnya masing-masing, kalau kalian cinta satwa liar, itu hukumnya wajib untuk juga cinta hutan. Wajib ‘jihad’ untuk menjaga kelestarian hutan.

Tanpa hutan yang terjaga dengan baik, apa artinya perjuangan melestarikan satwa liar. Karena satwa itu butuh rumah yang nyaman dan aman.

Saudaraku, di bulan puasa ini, semoga hati kita terketuk atau bahkan digedor oleh malaikat agar kita peduli akan hutan. Munafik rasanya, kalau kita peduli akan satwa liar, tetapi tidak peduli rumah mereka.