Jumat, 21 Agustus 2015

Ini Cara Kami Mencintai Indonesia


Ketika lagu Indonesia Raya berkumandang di lereng Gunung Kawi diringi hembusan angin, ada perasaan haru campur bangga. Kami berdiri tegak memberi hormat kepada sang merah putih yang berkibar di ujung bambu yang kami tancapkan. Pagi itu tanggal 17 Agustus 2015, tepat tujuh puluh tahun negeri ini merdeka.

Upacara bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya di acara PROFAUNA Camp 2015 itu bukan gaya-gayaan atau sekedar seremoni tanpa makna. Itu simbol secara fisik bahwa kami begitu mencintai Indonesia, tanah air tempat kami lahir dan besar. Tempat dimana PROFAUNA lahir dua puluh tahun silam.

Simbol secara fisik yang bisa diwujudkan dengan upacara itu akan menjadi tanpa makna kalau tidak diikuti dengan perasaan dan tindakan nyata terhadap ibu Pertiwi yang dianugrahi beragam suku, budaya dan kekayaan hayati. Kami di PROFAUNA mewujudkan kecintaan kami terhadap Indonesia dengan berjuang membantu upaya kelestarian hutan dan satwa liar.

Kalau kami tidak cinta, ngapain harus susah payah selama 20 tahun berkutat membantu lestarinya alam Indonesia. Apalagi 15 tahun silam itu isu yang kami pilih, yaitu isu satwa liar, tidaklah popular seperti sekarang ini. Sebagian orang mungkin mencibir apa yang telah kami lakukan. Cibiran, “masih banyak orang miskin, kog ngurusin binatang”…, sudah biasa terngiang di telinga kami waktu itu.

Ketika PROFAUNA menunjukan bahwa kami juga bekerja untuk melestarikan hutan bersama masyarakat adat, pasti ada suara minor. “Ah itu karena ada proyek yang dananya gede, makanya mereka bikin proyek untuk hutan”, kata orang yang memang mentalnya mental proyek.

Orang yang tidak tahu PROFAUNA hanya kulitya saja, pasti akan bicara ‘nyinyir’. Pikir mereka PROFAUNA itu organisasi yang kaya raya, organisasi yang cari proyek atau organisasi yang jualan proposal.

Pandangan mereka itu akan runtuh, ketika mereka masuk ke dalam PROFAUNA atau ikut bekerja di PROFAUNA. Sebagian besar staf PROFAUNA itu bekerja secara suka rela alias tidak dibayar! Saudaraku yang ada di PROFAUNA Jawa Barat seperti Bu titin, Rinda dan Radius itu cari uangnya di tempat lain, tapi mengabdinya di PROFAUNA.

Kintan yang mewakili PROFAUNA di Jakarta atau Eka di PROFAUNA Maluku Utara juga tidak mencari uang di PROFAUNA. Mereka semuanya bekerja tanpa bayaran! Mereka bekerja untuk alam bukan karena gajinya besar, tapi karena peduli.

Bahkan staf yang di kantor pusat PROFAUNA-pun juga hanya menerima uang insentif untuk membantu biaya komunikasi dan transportasi. Dengan kecerdasaan seorang Asti yang bekerja di markas besar PROFAUNA, dia bisa saja kerja yang gajinya besar ketika dia lulus sarjana. Tapi dia memilih mengabdi dulu di PROFAUNA.

Saya, mereka dan ribuan supporter PROFAUNA di seluruh negeri ini mau melakukan itu karena kecintaan kami terhadap alam. Kecintaan kami terhadap satwa liar dan hutan. Kecintaan kami terhadap Indonesia. Kalau tidak cinta, kami sudah ‘cerai” dari dulu.

Kami tulus melakukan itu. Makanya kami, begitu sedih ketika ada seorang supporter PROFAUNA yang kebetulan profesinya seorang guru itu mundur jadi supporter PROFAUNA gara-gara “doktrin” yang salah soal nasionalisme. Ketika guru itu mengikuti sebuah diklat kebangsaan, seorang instruktur yang seorang tentara bilang, “hati-hati dengan LSM, karena itu ‘musuh’ negara”.

Waduuh, jaman sekarng masih saja ada doktrin yang salah kaprah seperti itu! Namun kemudian guru itu sepertinya jadi ragu dan mungkin takut dicap sebagai anggota LSM yang musuh Negara. Diapun mundur secara teratur dari barisan PROFAUNA, dan lebih parah lagi berusaha mempengaruhi muridnya juga untuk menjauh dari PROFAUNA, meskipun dia ternyata tidak seratus persen berhasil mempengaruhi muridnya.

Untungnya PROFAUNA itu organisasi besar. Satu orang mundur, seribu orang maju. Satu orang oportunis hilang, seribu orang idealis datang.

Di PROFAUNA Camp 2015 saya bilang dengan tegas di depan peserta, “PROFAUNA itu organisasi yang punya prinsip, misi dan tujuan yang jelas untuk membantu pelestarian hutan dan satwa liar. PROFAUNA itu ada karena cinta Indonesia. Kalau kalian setuju dengan prinsip kami, silahkan gabung, kalau ternyata tidak cocok, jangan ngrecokin, silahkan keluar saja”.
Selamat ulang tahun Indonesia, lestari alamku. Merdeka!

Selasa, 11 Agustus 2015

Saatnya Mudik ke PROFAUNA

Bagi banyak supporter dan aktivis PROFAUNA, ada 3 agenda kegiatan yang ‘sakral' di PROFAUNA karena sebagai wadah untuk silahturahmi, mengasah kepekaan dan menjaga semangat untuk tetap peduli akan pelestarian hutan dan satwa liar. Tiga kegiatan itu adalah Profauna Conference, Profauna Camp dan ulang tahun Profauna yang jatuh setiap bulan Desember.

Meminjam istilah Kintan, aktivis PROFAUNA dan ISAW dari Jakarta, dia merasa perlu ‘mudik’ ke PROFAUNA dengan mengikuti salah satu kegiatan tersebut. Mudik itu dirasa perlu karena untuk “mengisi batere” semangat dan loyalitas ke PROFAUNA. Jika lama tidak “mudik”, ada perasaan yang kurang, mirip ketika momen mudik di lebaran. Kalau gak mudik waktu lebaran, terasa ada yang hambar.

Jika lama tidak ‘mudik’ ke PROFAUNA, batere semangat itu bisa drop, bahkan karatan. Atau lebih parah lagi, bisa jadi ‘murtad’ ke organisasi yang membesarkannya.

Tidak lengkap rasanya rukun “iman” supporter dan aktivis PROFAUNA jika belum mengikuti salah satu tiga kegiatan tersebut. Syukur-syukur jika sudah ‘purna’ dengan mengikuti ketiga momen spesial itu.

Mungkin bagi orang lain yang tidak tahu banyak PROFAUNA, atau sudah mendaftar menjadi supporter PROFAUNA tapi belum pernah mengikuti acara tersebut, perasaan ‘mudik” ke PROFAUNA itu sulit dimengerti. Apalagi oleh orang luar PROFAUNA yang terbiasa berorganisasi  tidak berbasis keanggotaan, pasti susah memahaminya, karena tidak pernah merasakan begitu kentalnya kebersamaan dana kekeluargaan di PROFAUNA.

Ketika Profauna Conferece 2015 yang akan disambung dengan Profauna Camp semakin dekat, saya semakin sulit tidur pulas. Selalu ingin hari cepat berlalu dan bertemu dengan sahabat dan saudaraku dari berbagai daerah yang akan ‘mudik” ke PROFAUNA. Mudik di rumah mereka, di kampung, di rumah bernama PROFAUNA Indonesia yang berada di Malang.

Saya tahu ada banyak sahabat, adik, ibu, bapak dan saudaraku itu harus ‘berjuang’ untuk melakoni ritual ‘mudik’ ke PROFAUNA itu. Maklum mereka datang dengan biaya sendiri, tidak diongkosin oleh PROFAUNA. Ada yang naik sepeda motor, mobil, kapal, kereta api atau pesawat. Ada yang terpaksa membolos kerja demi mudik itu. Semuanya penuh antusias dan semangat untuk ‘mudik’ dan berkumpul dengan keluarga besar PROFAUNA.

Semakin rindu berkumpul dengan mereka….