Kamis, 08 Oktober 2015

Maaf Kami Tidak Terima Dana dari Perusahaan Sawit

Ketika di media mencuat ada organisasi konservasi yang bergerak dibidang pelestarian orangutan yang menerima dana $500.000 dari perusahaan sawit Kulim Berhad asal Malaysia, saya yang termasuk kena getahnya. Bukan terkena cipratan duitnya, namun kebanjiran email yang menanyakan apakah PROFAUNA juga mendapatkan dana itu, karena mereka tahu PROFAUNA juga bekerja pada isu pelestarian hutan di Kalimantan Timur.

Saya tegaskan bahwa PROFAUNA tidak mendapatkan dana tersebut, jangankan hanya $500.000, dikasih $ 5 juta pun, pasti kita akan tolak mentah-mentah. Sejak tahun 1994 hingga sekarang, PROFAUNA memegang teguh prinsipnya, bahwa kami tidak akan menerima dana dari perusahaan yang mengeksploitasi alam. Salah satu kategori eksploitator alam itu ya perusahaan sawit.

Jelas dan gamblang, anak SD pun tahu bahwa salah satu penyebab semakin berkurangnya hutan di Indonesia adalah ekspansi besar-besaran perusahaan sawit. Perkebunan sawit begitu rakus menggerus hutan Indonesia. Menangis hati saya ketika tahun 2014 keliling Kalimantan untuk menyaksikan deforestasi yang begitu cepat. Yang dulunya hutan rimba, kini luas terbentang perkebunan sawit, termasuk perusahaan dari Malaysia.

Jadi aneh dan munafik, kalau bekerja untuk konservasi hutan dan juga ornagutan, namun menerima dana dari perusahaan sawit. Bisa saja berkilah, ahh perusahaan itu tidak membuka hutan yang jadi habitat orangutan kog. Loh kalau kita bicara satwa liar itu bicara tentang ekosistem, bukan hanya sekedar bicara tentang spesies.

Belum lagi bicara soal etika. Apakah etis, mengaku bekerja untuk konservasi, koar koar bekerja untuk orangutan, tetapi menerima dana dari perusahaan sawit yang jelas itu penyebab berkurangnya luasan hutan kita? Menurut saya itu tidak etis, ini terkesan sangat oportunis.

Sahabat dan ribuan saudaraku yang di PROFAUNA, sebagai pendiri PROFAUNA saya tidak akan rela kalau suatu ketika PROFAUNA menerima dana dari perusahaan yang merusak alam. Hukumnya itu haram di PROFAUNA! Lebih baik punya uang hanya Rp 500 ribu tetapi bahagia, daripada bergelimang uang Rp 5 milyar, tetapi menodai diri sendiri, mengotori prinsip organisasi dan menyakiti hati masyarakat yang mendukung.


Jangan kau gadaikan hati, prinsip dan idealismemu! Masih banyak cara untuk mencari uang, tanpa mengorbankan hati. Maju terus untuk sahabat dan saudaraku yang bekerja untuk hutan dan satwa liar yang tetap bekerja dengan hati nurani.