Rabu, 28 September 2016

Bukan Zamannya Lagi NATO

Pada tahun 2016 ini organisasi Protection of Forest & Fauna (PROFAUNA) Indonesia berusia 22 tahun. Usia yang cukup matang untuk sebuah organisasi lingkungan yang bukan saja mampu bertahan, namun juga berkembang. Ketika ada banyak organisasi lingkungan seangkatan PROFAUNA yang berdiri di era 1990-an mati suri atau bahkan disuntik mati, PROFAUNA justru semakin bertaji.

Kunci sukses PROFAUNA adalah konsistensi dan dukungan kuat dari individu-individu yang menjadi relawan PROFAUNA dalam bentuk suporter atau simpatisan PROFAUNA. Konsistensi PROFAUNA bekerja dibidang perlindungan hutan dan satwa liar, tanpa tergoda iming-iming uang proyek untuk pindah haluan, semakin memperkokoh PROFAUNA di tanah air.

Dengan usia 22 tahun menjadi wajar jika PROFAUNA mempunyai ribuan suporter, tersebar mulai dari Papua hingga Aceh. Bahkan suporter PROFAUNA ini juga merambah ke luar negeri, masuk ke benua Eropa, USA dan Australia.

Sebagai organisasi grassroots, PROFAUNA tidak mengandalkan kekuatan uang. PROFAUNA itu organisasi “miskin” dibandingkan dengan organisasi raksasa asal luar negeri yang masuk ke Indonesia. Andalan PROFAUNA adalah dukungan masyarakat yang tergabung dalam Suporter PROFAUNA.

Pada zaman yang memasuki era digital dan dunia gaib (baca: dunia maya), semakin banyak orang yang lebih asyik dengan perangkat gadget-nya. Media sosial menjadi ajang eksistensi diri. Sekarang kita tak heran melihat pemandangan sekelompok orang yang duduk dalam satu meja, namun tidak saling sapa karena asyik dengan layar Hp-nya masing-masing.

Tertawa sendiri sambil memandangi benda kecil di genggaman tangan juga menjadi pemandangan yang biasa kita temukan di rumah, kampus, kantor atau mall. Ini pemandangan langka di tahun 90-an, bisa-bisa anda dianggap gila karena tertawa ha ha hi hi sendirian.

Kegilaan terhadap media sosial ini berdampak positif dan negatif untuk konservasi alam. Sisi negatifnya, perdagangan satwa langka menjadi kian mudah karena diperjualbelikan secara online dan disebarluaskan lewat media sosial.

Sisi positifnya, isu-isu konservasi alam juga lebih mudah diakses informasinya, termasuk disebarluaskan. Kekejaman terhadap binatang yang tejadi di pelosok Kalimantan timur misalnya, bisa dengan cepat mendunia gara-gara kekuatan media sosial.

Aktivis Dunia Maya

Menyebarluaskan isu konservasi alam, termasuk hutan dan satwa liar lewat media sosial atau dunia maya itu bagus. Teriak-teriak di dunia maya seperti, “sikat habis perusak hutan!”, “tolak sawit yang merusak hutan”, atau “lawan perusakan alam!” itu juga bagus. Paling tidak anda sudah peduli. Dan semoga kepedulian itu tulus, bukan hanya sekedar agar anda tampak keren karena peduli alam.

Namun apakah cukup hanya seperti itu?

Untuk PROFAUNA ke depan, kita akan dorong suporter dan simpatisan PROFAUNA untuk tidak sekedar menjadi aktivis dunia maya. Bukan sekedar aktivis facebook atau twitter. Tetapi menjadi aktivis lingkungan sejati, yang melakukan aksi nyata untuk alam ini.

Aksi nyata itu sebenarnya tidak berat, karena ada banyak tindakan-tindakan kecil yang bisa dilakukan asal punya kemauan. Aktivis lingkungan itu bukan sekedar yang maki-maki atau teriak di media sosial, tapi yang mau terjun ke lapangan dengan tindakan.

Aksi nyata itu beragam, tergantung kita mau mengambil porsi yang mana. Bisa edukasi ke sekolah, pesantren, kelompok pemuda, komunitas atau karang taruna. Edukasi ini murah meriah, tidak perlu buat proposal ke donor untuk melakukan edukasi. Bahkan materi untuk edukasi sudah disediakan oleh PROFAUNA, sehingga anda tinggal meluangkan waktu untuk beraksi dengan edukasi.

Yang punya waktu lebih luang bisa terlibat langsung dalam kegiatan PROFAUNA di lapangan, seperti jadi Ranger. Yang tidak punya waktu, bisa beraksi dengan donasi. Jangan selalu beranggapan untuk donasi itu harus bernilai besar, bukan. Bahkan donasi sebesar Rp 20.000-pun akan sangat berarti bagi PROFAUNA yang punya kode etik tidak boleh menerima dana dari pemerintah itu.

Peduli Saja Tidak Cukup, Butuh Aksi

Dalam beberapa bulan ini PROFAUNA akan menata ulang manajemen suporter dan simpatisannya, karena akan lebih didorong melakukan aksi. Kalau sekedar kata peduli, semua orang juga bisa. Dengan kondisi alam Indonesia yang semakin darurat, itu kita butuh aksi.

Kini bukan saatnya sekedar No Action, Talk Only (NATO) alias omdo (omong doang). Ngomong soal konservasi alam itu boleh dan harus, tetapi akan lebih dahsyat lagi jika omongan itu diikuti dengan tindakan.

Ini yang menjadi spirit PROFAUNA saat ini, semangat beraksi. PROFAUNA memang punya ribuan suporter dan simpatisan, tetapi dari ribuan orang tersebut berapa persen yang telah melakukan aksi untuk PROFAUNA? Aksi untuk alam? Jawabannya adalah tidak banyak.

Bukan berarti PROFAUNA gagal dalam “menyadarkan” Suporternya untuk beraksi. Karena faktanya masih banyak orang yang penuh dedikasi yang beraksi di lapangan tanpa dibayar.
Di Jawa barat ada Bu titin dan bu Rinda, dosen yang terjun jadi aktivis PROFAUNA. Mereka bukan omdo, tapi bertindak. Aksinya pun gak main-main, padahal ini tidak ada duitnya. Mereka melakukan edukasi, kampanye dalam bentuk demo, advokasi dan juga donasi.

Di Maluku utara ada Eka yang bertahun-tahun menjadi perwakilan PROFAUNA tanpa dibayar. Di Kaltim ada Pak Rustam yang bukan sekedar seorang peneliti hutan, namun juga beraksi untuk PROFAUNA melalui edukasi dan advokasi.

Di Jakarta ada Kintan yang aktif di PROFAUNA sejak mahasiswa hingga jadi ibu-ibu. Kintan juga tidak canggung terjun ke lapangan dengan melakukan edukasi dan advokasi kasus-kasus kejahatan satwa liar.

Dan ada banyak lagi aktivis-aktivis PROFAUNA lainnya yang penuh dedikasi berjuang di lapangan yang akan panjang sekali jika saya sebutkan satu per satu di tulisan ini.
Intinya adalah aksi di lapangan tanpa dibayar itu bukan sebuah mimpi. Ini sebuah kenyataan yang bisa kita lakukan, karena ada banyak aktivis PROFAUNA yang telah membuktikannya.

Kini tergantung anda, suporter dan simpatisan PROFAUNA, apakah anda mau melakukan aksi atau sekedar peduli saja? (Rosek Nursahid, Founder PROFAUNA Indonesia).