Senin, 01 Mei 2017

Semangat Sulawesi untuk Konservasi Alam

Dua hari sebelum acara Pelatihan Dasar Konservasi Alam (PDKA) Sulawesi Selatan 2017, Uni, sang ketua pelaksana, kirim pesan lewat WA. Isi pesannya, “pak untuk fee narasumber itu berapa, biar kami siapkan."

Saya jawab, “jangan memikirkan fee narasumber, ini gratis karena kegiatan sosial”

“Oh begitu pak, sambil garuk-gruk kepala,” jawab Uni.

Sejak awal memang PDKA itu dirancang untuk sosial, untuk menyebarluaskan prinsip-prinsip konservasi alam. Kegiatan ini tidak ada sponsor atau donornya. Semua dilaksanakan secara swadaya.

Justru yang luar biasa adalah Uni dan suporter PROFAUNA Chapter Makassar yang menjadi panitia pelaksananya. Dengan dana swadaya, mereka bekerja keras untuk menyukseskan acara yang diadakan di Hutan Bengo-Bengo Kabupaten Maros itu.

Dengan jumlah panitia hanya 3 orang yaitu Uni, Marsudi dan Gusti, boleh dibilang PDKA Sulsel ini terlaksana dengan sangat baik. Peserta juga menampakan rasa kagum dan kepuasannya dengan kinerja panitia yang hanya segelintir itu. Padahal dalam acara sejenis yang biasa diadakan oleh kampus atau pemerintah itu daftar panitianya panjang sekali, bisa-bisa jumlah pantia lebih banyak dibandingkan pesertanya.

“Biasanya pelatihan-pelatihan seperti ini panitia akan sering dapat komplain dari peserta, tapi PDKA ini tanpa komplain sama sekali dan pantia banyak memberikan kejutan yang membuat kami menjadi kagum,” kata Munatsir, salah satu peserta PDKA Susel.

Ketika Uni menyatakan kesiapannya untuk menjadi host PDKA Sulsel dan siap menanggung biaya trasportasi narasumber, saya langsung kontak pak Rustam dan bu Titin. 

Mereka adalah calon narasumber yang berbeda lokasi tempat tinggalnya. Rustam di Samarinda, sedangkan bu Titin di Bandung.

Saya kirim pesan ke kedua narasumber itu, “PROFAUNA akan adakan PDKA Sulsel tanggal 14-16 April, mohon kesediannya untuk menjadi narasumber, tetapi ini tanpa honor karena besifat sosial.”.

Keduanya langsung menjawab, “siap!”

Itulah hebatnya aktivis PROFAUNA, tidak semuanya itu dinilai dengan uang atau materi. Kepedulian kuat dan loyalitas tinggi membuat mereka mau “berkorban” untuk kegiatan PROFAUNA.

Semangat jiwa sosial untuk alam yang dibangun PROFAUNA sejak tahun 1994 itu meresap di banyak aktivis PROFAUNA. Banyak sekali aktivis dan suporter PROFAUNA yang melakukan berbagai kegiatan di berbagai daerah dengan dana sendiri, tanpa ada donor dan tidak tergantung donor.

Ternyata kehadiran kami untuk  berbagai pengalaman di PDKA Sulsel tidaklah sia-sia. Peserta PDKA yang berasal dari kalangan aktivis LSM dan mahasiswa itu penuh antusias dan semangat. Semangat ini terjadi sepanjang hari selama 3 hari.

Saya kagum dengan semangat peserta yang terlihat haus akan informasi terkait konservasi alam itu. Semangat peserta itu semakin menyulut semangat saya, Made, Rustam dan bu Titin untuk memberikan yang terbaik dalam pelatihan yang menyenangkan itu.

Mungkin banyak peserta yang tidak tahu bahwa 3 orang yang jadi panitia itu bekerja keras untuk kelancaran PDKA Sulsel. Ketika yang lain masih tidur di pagi hari, panitia itu membersihkan sendiri ruang pertemuan. Menata lagi meja-meja yang tidak beraturan dan membersihkan sampah-sampah yang tertinggal.

Ketika lampu listrik sempat padam dalam sesi materi ruangan, Uni langsung sigap menyewa genset.

Ketika peserta harus bangun pagi-pagi untuk praktek lapangan, panitia sudah menyediakan sarapan pagi. Meskipun sebelumnya telah diinformasikan peserta akan masak sendiri, ternyata pantia juga menyediakan makanan dalam beberapa sesi.

Wah luar biasa sekali. Saya terenyuh dan kagum.

Melihati semangat peserta dan panitia PDKA Sulsel yang begitu luar biasa, saya melihat ada semangat konsevasi alam yang akan terus menyala di Sulawesi. Apalagi alumni PDKA Susel masih aktif berkomnuikasi lewat grup media sosial.

Terima kasih Uni, Marsudi, Gusti, Rustam, Made, bu Titin dan semua peserta PDKA Sulsel. Sem....sem....semangat...Ihiiii. (Rosek Nursahid, founder PROFAUNA Indonesia)