Selasa, 03 Oktober 2017

Aktvis Lingkungan Jadi Hobby?

Menjadi aktivis lingkungan itu sebuah pilihan hidup, mumpung masih hidup. Saya sering sampaikan, “hidup itu sekali, buatlah berarti.” Membuat hidup menjadi berarti itu ada banyak caranya, salah satunya dengan menjadi aktivis lingkungan.

Menjadi aktivis lingkungan itu tidak mengenal usia, status perkawinan, gender, pekerjaan atau jabatan. Tidak ada isitilah tua untuk berbuat bagi lingkungan. Seharusnya juga tidak ada ucapan, “maaf saya tidak bisa aktif lagi karena sekarang sudah menikah”. Karena ucapan ‘menyalahkan’ status pernikahan itu justru mendangkalkan makna sebuah pernikahan yang sakral.

Juga semestinya tidak perlu muncul perkataan, “saya sudah tua, jadi tidak bisa aktif lagi”.

Ketika menjadi aktivis lingkungan disekat oleh paradigma salah kaprah bahwa aktivis itu harus muda, aktivis itu hanya ranah gerakan anak muda atau melakukan kegiatan pelesarian lingkungan hanya ketika ada dana, maka jangan heran jika gerakan pelestarian alam akan berjalan di tempat.

Menjadi aktivis lingkungan itu panggilan hati, bukan panggilan uang yang melambai-lambai atau sekedar mengisi waktu karena lagi menganggur alias tidak punya pekerjaan.

Kalau menjadi aktivis lingkungan itu diposisikan sebagai sebuah hobby, seperti halnya orang hobby bersepeda atau hobby naik gunung, maka tidak akan ada sebuah “keterpaksaan” untuk menjadi aktivis.

Hobby itu pasti mengeluarkan duit, untuk sebuah kepuasan hati yang tidak bisa diukur dengan rupiah. Kalau kita hobby naik gunung misalnya, pasti akan keluar uang untuk membeli tas karier yang terbaik, sepatu trekking yang paling nyaman, peralatan masak lapangan, sleeping bag, matras, dan seabrek peralatan gunung lainnya.

Belum lagi jika mau mendaki masih harus keluar biaya untuk transportasi menuju lokasi, membayar tiket masuk, membeli bahan makanan dan mungkin membayar jasa pemandu.

Mengeluarkan biaya dan tenaga untuk sebuah hobby itu kita tidak pernah mengeluh. Tidak pernah hitung-hitungan tentang materi. Tidak pernah terpaksa melakukan itu. Semuanya dilakukan dengan perasaan senang, dengan penuh semangat, tanpa ada paksaan. Kepuasan hatilah yang ingin diraih. Sebuah kepuasan tanpa batas.

Andai menjadi aktivis lingkungan itu menjadi sebuah hobby, maka tidak ada lagi keterpaksaan. Tidak ada lagi hitung-hitungan soal uang yang dikeluarkan. Tidak ada lagi timbang menimbang soal gaji. Tidak ada lagi putus asa hanya karena tidak ada donor. Tidak ada lagi merasa ‘sok tua’ (karena sering menjumpai orang usia 40 tahun itu sudah merasa tuaaaaa sekali)

Saya mempunyai banyak hobby. Saya hobby riding dengan motor trail: pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Papua sudah saya jelajahi dengan motor trail kesayangan. Saya juga hobby trekking meskipun perut sudah tidak rata lagi.

Saya hobby nonton konser musik rock, hampir semua band rock dari luar negeri yang pentas di Indonesia itu saya hadir. Metallica, Iron Maiden, Scorpion, Skid Row, GnR, Aerosmith dan Steelheart adalah deretan musisi rock yang sudah saya tonton live.

Saya hobby wildlife adventure, ini lumayan menghabiskan tabungan juga. Ada banyak tempat yang sudah saya kunjungi untuk memuaskan hobby melihat satwa liar di alam. 

Saya juga hobby fotografi alam, meskipun tidak pernah jadi tukang foto profesional. Tapi saya puas melihat hasil karya foto saya, meskipun mungkin dipandang orang lain itu sebagai karya picisan. Saya tidak peduli, karena saya puas.

Dari sekian banyak hobby yang saya geluti itu, ada satu hobby yang saya sangat bangga sekali, yaitu hobby jadi aktivis lingkungan. Saya bersyukur hobby yang satu ini sudah saya geluti lebih dari 25 tahun. Usia memang terus bertambah dan rambutpun mulai memutih. Tapi semangat untuk jadi aktivis lingkungan tidak pernah memudar seperti warna rambut saya. Tidak ada kata tua untuk jadi aktivis ligkungan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.