Kamis, 13 Desember 2018

Hari Gunung itu Bukan tentang Pendakian Gunung



Tidak banyak yang tahu jika tanggal 11 Desember itu diperingati sebagai hari gunung sedunia. Ada juga yang tahu dan mengekspresikan hari gunung sedunia itu dengan mengunggah foto diinya di media sosial.ketika mendaki gunung.

Sejatinya hari gunung sedunia itu bukanlah tentang pendakian ke gunung, tetapi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gunung. Awalnya badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menetapkan tanggal 11 Desember sebagai hari gunung sedunia pada tahun 2003.

Tema yang diusung dalam hari gunung sedunia tahun 2018 adalah Mountains Matter, yang maksudnya bahwa gunung itu berarti atau punya peran. Gunung bukan sekedar tempat wisata pendakian atau gunung bukan sekedar tempat yang bagus untuk swafoto, tetapi gunung punya fungsi jauh lebih besar dari itu.

Saya mencoba bertanya kepada 10 orang anak muda, “apa yang kau ketahui tentang gunung?” Delapan orang menjawab terkait dengan pendakian dan dua orang menjawabnya bahwa gunung itu tempat wisata.

Ketika saya tanya, “Jika kamu saya kasih uang Rp 500 ribu, apa yang akan kamu lakukan terkait dengan gunung?” Semuanya menjawab, akan mendaki dan camping di gunung.

Saya tidak bisa menyalahkan jawaban anak muda itu yang begitu sederhana, gunung = pendakian. Informasi yang beredar di seputar mereka gunung itu memang identik sebagai tempat yang asyik untuk mendaki, berwisata dan berfoto ria..

Mengutip data FAO, badan yang mengurusi pangan di PBB, sebanyak 60 hingga 80% air segar yag ada di bumi itu berasal dari gunung. Artinya, ternyata gunung begitu penting dalam fungsi hidrologis atau fungsi terkait dengan peredaran air.

Dalam perjalanan saya menjelajah alam ke berbagai tempat, saya selalu menemukan fakta bahwa sumber air yang dipakai penduduk itu sebagian besar berasal dari gunung yang hutannya masih bagus.

Sungai Berantas yang  memanjang melintasi berbagai kabupaten di Jawa Timur itu mata airnya berada di pegunungan yang masuk kawasan Taman Hutan Raya R Soerjo. Sebagian masyarakat di Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang itu tergantung dengan mata air yang ada di Gunung Biru yang jaraknya puluhan kilo meter dari desa mereka.

Bahkan air segar yang ada di Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC) yang saya kelola itu sumbernya berasal dari Gunung Malang yang merupakan bagian dari pegunungan Kawi.

Adanya mata air di gunung itu tentunya  tidak terlepas dengan keberadaan hutan yang terjaga. Hutan rimba di gunung itu yang membuat sumber air tidak mengering. Akan menjadi bencana dahsyat ketika hutan mulai menghilang atau beralih fungsi.

Ada tiga alasan utama kenapa saya suka pergi ke gunung. Bukan karena ingin sampai puncaknya kemudian berfoto ria. Karena justru target saya pergi ke gunung itu bukan untuk mencapai puncaknya, tetapi adalah mengunjungi hutannya yang masih bagus. Begitu jalur pendakian saya sampai pada batas hutan terakhir, saya akan berhenti dan camping di hutan itu. Ini adalah alasan pertama saya suka  pergi ke gunung, yaitu menikmati misteri hutannya yang sering diselimuti kabut.

Alasan kedua, saya suka sekali melihat satwa liar yang ada di pegunungan. Jumlah jenisnya memang tidak sebanyak di hutan dataran rendah, tetapi justru ini tantangannya karena melihat satwanya menjadi tidaklah mudah. Tajuk yang tebal, alam berkabut dan udara dingin, menjadi petualangan tersendiri untuk ‘berburu’ satwa liar di pegunungan.

Ketika saya melihat burung pintar di Pegunungan Arfak, Papua, saya tertegun dengan kepintaran burung itu dalam membuat sarang dan menarik hati pasangannya. Hilang sudah penat mendaki hutan rapat di Pegunungan Arfak, terobati dengan keunikan burung namdur ini.

Alasan terakhir kenapa saya suka ke gunung, karena ini olah raga yang menyenangkan. Jalan di tengah hutan dan udara segar telah menjadi candu bagi saya. Sampai sekarangpun sedikitnya sekali dalam sebulan saya selalu pergi ke gunung yang masih lebat hutannya. Gunung Gundul tanpa hutan, tidak membuat saya rindu untuk kembali.

Namun sayangnya, setiap saya mengunjungi lagi gunung yang pernah saya daki itu eksositemnya sudah berubah. Hutan bukannya semakin rimbun dan meluas, tetapi semakin menyusut oleh perladagangan dan pengembangan wisatwa. Jalur trekking bukan semakin sepi, tetapi semakin ramai dengan bonus sampah plastik yang semakin menumpuk. Burung tidak lagi mudah dilihat, tetapi lebih mudah melihat pemburu menenteng senapan dengan pongahnya.

Butuh perhatian dan tindakan dari kita semua untuk menyelamatkan gunung. Gunung perlu hutan dan hutan perlu gunung. Hutan yang baik akan menjamin tetap mengalirnya air dari sumber di gunung. Adanya air akan memastikan adanya kehidupan hingga kota yang jaraknya ribuan kilometer dari gunung. (Rosek Nursahid, adventurer and traveler)

Selasa, 11 Desember 2018

Jangan Takut Jadi Aktivis Lingkungan



Dalam sebuah diskusi kecil di kaki Gunung Kawi dengan belasan orang supporter PROFAUNA Indonesia pada bulan November 2018, saya bercerita sekelumit sejarah PROFAUNA. Cerita ini menjadi penting dituturkan agar generasi kini dan mendatang tahu cerita sebenarnya dibalik perjalanan PROFAUNA yang menjelang seperempat abad.

Sejarah bukan hanya soal agar kita tahu cerita masa lalu, tetapi dari sejarah kita bisa belajar sebuah kemenangan dan juga kegagalan. Dari sejarah kita bisa mendulang segudang ilmu. Dari sejarah pula kita bisa mendapatkan inspirasi cerdas.

Ini sekelumit potongan sejarah PROFAUNA yang semoga membuat kamu yang masih ragu-ragu jadi aktivis atau masih (sementara) jadi akivis setengah-setengah, bisa meningkat derajatnya dengan jadi aktivis lingkungan sejati setelah membaca tulisan saya ini.

Belasan tahun silam, ketika PROFAUNA sedang gencar melakukan kampanye melawan perdagangan daging penyu hijau di pulau dewata, saya mendapat email dari aktivis PROFAUNA. Isinya kira-kira begini, “kalau terjadi sesuatu kepada kami, siapa yang bisa menjamin keselamatan nyawa kami. Apakah mas Rosek bisa menjaminnya?”

Saya mengerutkan kening membaca email itu.

Memang situasi waktu itu lumayan genting, meskipun tidak bisa dibilang gawat darurat. Waktu itu aparat penegak hukum hendak menangkap  pedagang penyu di Tanjung Benoa, Bali. Ini merespon  dari laporan PROFAUNA dan juga beberapa organisasi internasional lainnya.

Ketakutan dari aktivis itu adalah jika polisi benar-benar melakukan operasi penangkapan pedagang penyu itu, ditakutkan berimbas ke kantor PROFAUNA yang ada di Bali. Karena sejak tahun 2000 hingga 2003 itu PROFAUNA begitu masif kampanye menentang perdagangan penyu di Bali.

PROFAUNA-lah yang mengungkap kembali bukti-bukti masih maraknya perdagangan daging penyu di Bali pada tahun 2000, setelah sebelumnya pada tahun 70-an Greenpeace sempat melaporkan soal pembunuhan penyu itu. Artinya pada tahun 2000-an itu jika bicara tentang perdagangan penyu di Bali akan identik dengan PROFAUNA.

Imajinasi yang terlalu liar tentang efek dari operasi itu membuat aktivis PROFAUNA ‘minggat’ dari kantor dan parahnya itu kantor dinyatakan tutup.

Saya heran dengan ketakutan yang belebih itu, sampai-sampai mereka harus “menghilang”.

Saya sampaikan bahwa saya bukanlah Tuhan yang bisa menjamin keselamatan seseorang. Akan melebihi kuasa Sang Pencipta jika saya berani menggaransi keamanan nyawa seseorang.

Urusan hidup dan mati itu hak kuasa penuh Tuhan. Mau jadi akivis atau tidak, kita akan tetap sama-sama mati. Bahkan kita juga tidak bisa memilih bagaimana cara mati.

Mau jadi aktivis pembela lingkungan atau perusak alam yang paling jahat sekalipun juga akan mati. Tapi kita bisa memilih bagaimana kita mengisi hidup ini sebelum ajal menjemput.

Ketika kita memutuskan menjadi aktivis lingkungan, ini adalah sebuah ibadah. Ini adalah sebuah perbuatan mulia, ketika dilakukan dengan tulus, tidak sekedar mengejar fulus.

Menjadi aktvis lingkungan adalah sebuah pilihan.  Pilihan itu jatuh dengan banyak beragam alasan yang bersifat pribadi, yang kadang kala orang lain tidak akan paham atas pilihan itu.

Seperti halnya ketika kita memutuskan menikahi seseorang wanita atau pria, ini adalah pilihan yang sangat subyektif. Apakah cantik itu diterjemahkan selalu wanita yang berkulit putih, badan langsing, dan rambut lurus? Ahh kalau ini khan hasil karya iklan industri kecantikan.

Buktinya, teman saya itu memutuskan menikahi seorang wanita yang begitu dipujanya dan dianggap menawan. Ketka saya dikenalkan dengan istrinya, dalam hati saya menyimpulkan memang “cantik” atau ‘tampan” itu bersifat subyektif.

Istri teman saya itu berbadan tidak langsing (kalau tidak mau disebut gendut).

“Saya dari dulu begitu bergairah dan senang melihat perempuan yang gemuk, dan ini saya dapatkan di istri saya tercinta,” kata teman saya dengan wajah gembira.

Pilihannya tergantung kepada anda (yang masih berdetak jantungnya). Kalau sudah memilih jadi aktivis lingkungan, janganlah jadi penakut, karena anda sudah luar biasa berani dengan pilihan anda untuk menjadi aktivis itu. (Rosek Nursahid, pendiri PROFAUNA Indonesia)

Selasa, 02 Januari 2018

Apa yang Kamu Cari di PROFAUNA?

Bulan Desember 2017 PROFAUNA Indonesia tepat berusia 23 tahun, sebuah usia yang cukup dewasa bagi sebuah organisasi lingkungan. Kedewasaan itu yang juga membuat PROFAUNA melakukan banyak perubahan kebijakan dalam tiga tahun terakhir ini.

Salah satu kebijakan yang banyak berubah adalah terkait Suporter PROFAUNA, sebutan untuk relawan resmi PROFAUNA. Pada era tahun 1994-1999 adalah masa perjuangan PROFAUNA untuk mencari dukungan masyarakat. Waktu itu saya harus keliling dari kampus satu ke kampus lainnya untuk menebar pesona ke mahasiswa agar mau gabung PROFAUNA yang waktu itu masih bernama Konservasi Satwa Bagi Kehidupan.

Tahun 2000-2005 adalah masa puncak penambahan suporter PROFAUNA secara spektakuler. Waktu itu tercatat ada sekitar 500.000 orang yang menjadii Suporter PROFAUNA. Sebuah angka yang fantastis untuk organisasi Indonesia yang bergerak dibidang perlindungan satwa liar dan habitatnya.

Kenapa pada waktu itu begitu banyak yang mendaftar jadi Suporter PROFAUNA? Karena pendaftarannya waktu itu sempat gratis alias tidak membayar. Ternyata di negeri ini, apapun yang bernilai gratis itu akan diserbu peminat.

Memasuki tahun 2005 hingga 2013, untuk menjadi suporter PROFAUNA dikenakan biaya donasi. Mulai dari awlanya Rp 50.000 per tahun, hingga menjadi Rp 100.000. Ini lumayan menjadi filter untuk orang yang mendaftar jadi suporter PROFAUNA.

Pada tahun 2014 PROFAUNA memasuki babak baru. Selain logonya berganti, PROFAUNA juga memutuskan untuk tidak lagi mengejar jumlah atau kuantitas Suporter, namun lebih ke kualitasnya.

Prinsip bahwa lebih baik jumlahnya sedikit, namun berkualitas dan punya loyalitas tinggi menjadi spirit baru dalam pengelolaan Suporter PROFAUNA. Untuk apa punya ribuan suporter namun tidak ada kontribusinya sama sekali ke organisasi?

Dalam diskusi dengan beberapa aktivis PROFAUNA di akhir tahun 2017, saya melontarkan pertanyaan, “kenapa kamu gabung PROFAUNA, apa yang kamu cari?”

Ternyata setelah didiskusikan dan dianalisa, ada beragam alasan seseorang itu gabung jadi Suporter PROFAUNA. Saya rangkum sedikitnya ada 10 alasan yaitu:
  1. Ingin tambah teman
  2. Ingin dapat sertifikat yang bisa dipakai untuk mencari beasiswa kuliah ke luar negeri
  3. Diajak teman/pacar/keluarga alias ikut-ikutan
  4. Tugas kuliah
  5. Ikut trend peduli alam biar keren
  6. Ingin tahu PROFAUNA
  7. Cari peluang kerja
  8. Cari pengalaman
  9. Peduli
  10. Panggilan hati
Jika kamu gabung PROFAUNA karena alasan nomor 1 hingga 4, pastilah tidak akan bertahan lama. Begitu keinginanmu tercapai, kamu akan meninggalkan PROFAUNA begitu saja tanpa ada perasaan apapun.

Ciri orang yang ikut PROFAUNA karena alasan nomor 1 hingga 4 itu adalah mereka setelah mendaftar jadi Suporter PROFAUNA itu akan bersifat pasif. Bahkan menjawab pesan di WA atau email dari PROFAUNA-pun sudah enggan.

Jika kamu gabung PROFAUNA karena alasan nomor 5 hingga 8. Biasanya akan bertahan lebih lama di PROFAUNA. Mereka masih mau aktif dalam jangka waktu tertentu. Tetapi biasanya jika sudah selesai kuliah (untuk yang mahasiswa) atau sudah menikah (untuk yang bujang) itu mereka sudah tidak mau lagi aktif di PROFAUNA. 

Kalau mendaftar karena alasan nomor 9 dan 10 itu biasanya akan bertahan lama sekali, bertahun-tahun. Perubahan status pendidikan, pekerjaan atau pernikahan tidak akan membuat mereka meninggalkan PROFAUNA.

Yang spesial itu memang yang nomor 10. Orang yang masuk golongan nomor 10 ini merasa tidak cukup hanya peduli, tetapi mau ikut melakukan aksi untuk PROFAUNA tanpa pamrih. Aksi itu bisa dalam bentuk menjadi relawan dalam kegiatan PROFAUNA, jadi pengurus PROFAUNA secarasukarela, memberikan donasi atau rajn membeli merchandise PROFAUNA.

Ada dua pertanyaan mendasar untuk mengukur apakah kamu itu masuk kategori nomor 9 dan 10, yaitu:
  1. Kalau kamu punya waktu (bohong besar kalau dalam 1 tahun kamu tidak punya waktu luang), apakah kamu selalu siap membantu secara fisik kegiatan PROFAUNA secara sukarela?
  2. Kalau kamu sudah punya penghasilan tetap, apakah kamu mau memberikan donasi ke PROFAUNA?
Jika dua petanyaan di atas jawabannya adalah TIDAK, maka maaf memang kamu masih masuk dalam ketegori nomor 1 hingga 8. Dan saya yakin tidak lama lagi kamu juga sudah akan melupakan PROFAUNA.

Saya akan lebih bahagia jika punya 1 orang yang punya loyaltas dan kepedulian tinggi, daripada 1000 orang yang hanya sekedar terdaftar tapi tidak pernah memberikan apapun ke organisasi.

Jangan bertanya apa yang diberikan PROFAUNA? Tetapi bertanyalah kepada hati nuranimu, apa yang telah engkau berikan ke PROFAUNA?

Saya lebih bangga punya 10 orang yang berani berjuang, daripada 1000 orang oportunis. 

Saya lebih senang punya 100 orang yang mau berdiri di samping saya untuk berjuang bersama PROFAUNA, dibandingkan 500.000 orang yang hanya peduli di atas kertas belaka.

ROSEK NURSAHID
Pendiri PROFAUNA Indonesia